Pulang-pulang dari rumah sakit, Sagi merasa harus terkejut. Cara kerja jantungnya meningkat dadakan. Tidak bisa di samakan dengan apapun ketika bibirnya bertubrukan dengan milik Barella. Inisiatif tanpa rencana seperti ini patutnya ada pengaruh dari pasutri Radit-Senja.
“Ayo bikin aku hamil.”
Begitu saja Sagi tercengang. Mulutnya menganga sedang Barella pergi entah ke mana. Istrinya itu—doa Sagi—semoga tidak tertempel setan yang membuat otaknya berpindah tempat.
Lalu, ketika ucapan yang Barella lontarkan adalah candaan semata. Fakta mengejutkan menghampiri di kala mentari tergelincir ke peraduannya. Sagi ingat, jarum jam pendek belum di angka tujuh tepat, tapi Barella berdandan dengan sangat cantik. Pakaiannya juga minim menambah keseksian. Ingin dirinya katai bahwa itu bahan belum jadi yang terjual dengan nominal mahal. Sayangnya juga, itu lingerie seksi yang melekukkan setiap inci tubuhnya.
“Katanya aku harus hamil. Dan kamu mau di panggil Papi.”
Demi kepiting merah yang sinting! Wajah Sagi sudah tak berbentuk ganteng seperti aslinya. Hawanya panas. Kedua pipinya memberi respon di luar dugaan dan telinganya mengeluarkan asap. Sialan! Istrinya luar biasa seksi dengan pakaian seperti tak seharusnya.
“Ada peraturannya.”
“Apa?” jawaban Barella cepat melaju. Pun dengan tubuhnya yang sudah duduk di atas pangkuan Sagi.
“Jangan berani melangkah dari batas pintu itu.” Barella mengangguk patuh. Di kecupnya hidung bangir Sagi yang mendesah tertahan di bawahnya. “Aku yang memimpin.”
Untuk yang ini Barella demokan penolakannya. Di baringkannya tubuh atletis sang suami—tidak peduli pada protes lewat matanya yang melotot. Barella terus melancarkan aksinya. Mengecup rahang Sagi yang tegas hingga mengetat, menjilat dagunya yang tajam dan melumat bibir merahnya dengan panas.
“Manis,” ujarnya tanpa bersalah. Dan aksi-aksi selanjutnya benar-benar Barella yang mengawali. Barella yang seutuhnya memulai hingga akhir.
***
Sisa-sisa percintaan semalam masih melekat. Di otak Sagi sepenuhnya terkendali pada bagaimana cara Barella yang memuaskannya. Pada setiap desahan dan desakan yang Barella lakukan untuk memenuhi ruangan kamarnya. Memberikan saksi bahwa satu kali saja tidaklah cukup. Bahwa Barella candu yang selama ini dirinya puja-puja.
“Tanda tangan di sini.”
Sagi tidak menghiraukan. Membuat perempuan yang menjabat HRD keuangan mendengus.
“Pikirmu ini akan selesai dengan senyum menjijikkan seperti ini, huh!”
Baba kesal. Melihat tingkah atasan sekaligus teman yang edan entah karena apa. Tapi ayolah ini kantor. Bukan tempat untuk melamun yang menghasilkan pundi-pundi rupiah milyaran setiap menitnya.
“Astaga.” Baba jitak kepala Sagi hingga kesadaran lelaki itu tertarik ke dunia nyata. “Jangan bodoh. Tanda tangani proyekmu di sini.”
“Menurut lo, berapa kali b******a buat bikin cewek hamil?”
Bukan hanya jitakan yang Baba layangkan. Serangan-serangan kecil untuk memukul tubuh Sagi mulai terjadi. Meskipun interaksi keduanya terbilang unik. Sekali pun omelan demi omelan keduanya lontarkan, dengan sabar akan Baba hadapi. Berlaku juga untuk Sagi yang menandatangani berkasnya setelah membaca ulang dengan teliti.
“Dan lo masih bisa sefokus ini setelah pertanyaan e****s lo ajuin!”
Kedua bahu Sagi yang menjadi jawaban. Baba ingin membelah kedua tubuhnya—lebay. Perempuan berkulit kuning langsat itu selalu memhiperbolakan sesuatu secara berlebihan.
“Berapa kali?” Sagi mendesak membuat Baba hilang kesabaran dan hengkang dari tempatnya. “Dia itu kenapa, sih?”
***
“Kamu sudah hamil belum?”
Astaga. Apa gegar otak bisa terjadi hanya dengan sebuah pukulan? Barella heran pada tingkah suaminya yang konyol.
“Cek pakai ini Sayang.”
Tuhan … rasanya Barella ingin tenggelam di rawa-rawa. Percintaan mereka baru terjadi satu kali semalam—walau beberapa ronde mereka lakukan. Tapi tetap saja s****a suaminya tidak segesit itu untuk jatuh cinta pada sel telurnya.
“Kamu lama deh.” Sagi berdecak, menggerutu dan misuh-misuh sendiri. Separuh dari setengah otaknya sepertinya tertinggal entah di mana. Sedang Barella hanya bisa mengamati tingkah aneh suaminya.
Kedua mata Barella tidak berhenti mengikuti tiap gerakan langkah kaki suaminya. Pantatnya bisulan, mungkin, sehingga membuatnya tidak betah untuk duduk.
“Aku bakal hamil di waktu yang tepat.”
“Kapan?” responnya cepat sekali. Satu kali tarikan napas dan Sagi mendengus. “Kenapa sel telurmu sulit sekali jatuh cinta pada spermaku?”
Barella benar-benar membulatkan tekadnya untuk mencekik leher Sagitarius.
***
“Damika … Kita sudah sepakat untuk ini.” Suara Liana terdengar menuntut. “Kita harus bekerja sama untuk bisa mengambil alih semuanya.”
Liana bersiteguh pada kembalinya dirinya di sini. Bukan untuk menuntaskan dendamnya semata namun merebut apa yang semestinya menjadi miliknya.
“Nggak segampang itu Liana. Sagitarius Yudantha punya pengaruh kuat nggak di bidang bisnis aja. Bisa aja seluruh jajaran kepolisian dia yang pegang.”
Yang Damika tahu, Liana sangatlah licik. Perempuan yang memiliki darah seperti Barella jauh berbeda perangainya. Jika Barella terlampau pendiam dan terkesan mengalah, maka Liana sebaliknya. Hidupnya sudah pasti sangat keras. Dendam yang menggerogoti jiwanya terlalu membutakan putihnya awan di langit.
“Kenapa nggak kita putar balikkan aja.”
“Maksudnya?”
Hanya senyum yang Liana tampilkan.
***
Bumi bekerja. Matahari juga bekerja. Pun dengan jajaran galaksi lainnya.
Awalnya, berita semenggemparkan ini tak ingin Sagi percayai. Dua minggu bayangkan. Itu waktu yang sebentar—seperti baru terjadi kemarin sore dan pagi ini menjadi kenyataan. Meski kejadian yang sesungguhnya menunggu bukanlah hal yang enak.
“Kamu hamil?” Sudah di katakan bahwa Sagi tidak percaya pada stik biru putih bergaris dua merah yang Barella sodorkan.
“Dua minggu.” Barella sudah mengulang untuk ketujuh kalinya dan semu-semu kemerahan terus menjalar di kedua pipi tirusnya.
“Serius? Wah, daebak!”
“Yes, Papi.”
Dalam sedetik satu kali tarikan napas, Sagi sudah jatuh cinta pada janin di perut Barella. Entah karena dirinya yang sangat menanti atau memang perasaan aneh ini yang terus membuatnya memikirkan hal selain bayinya saja. Sagi kecupi perut Barella yang masih terlihat rata. Di dalam sini, ada makhluk yang tumbuh. Binar kelam matanya memancarkan kelebat bahagia tanpa bisa di tutup-tutupi.
“Aku sudah pantas, 'kan jadi seorang Papi?”
Barella mengangguk mendukung apa yang suaminya tanyakan. Tidak salah lagi dalam dirinya memilih dan menjatuhkan pilihan hatinya. Sagitarius sungguh membuatnya penuh damba dan di inginkan secara utuh.
“Oke. Aku harus lebih siaga mulai sekarang. s**u, makanan bergizi dan sayang kamu harus di sisiku dua puluh empat jam penuh.”
Sungguh lebay ucapan Sagi. Yang sayangnya Barella senyumi dengan penuh persetujuan. Katakan saja ia berubah menjadi bucin. Sebelum mengetahui jika dirinya hamil, kondisi hati Barella sempat awut-awutan.
“Karena terkadang, hidup nggak sesuai seperti apa yang kita harapkan. Jadi husband …” Barella rangkum wajah ganteng Sagi yang bersimpuh di hadapannya. Menyematkan ciuman-ciuman kecil di tiap inci wajahnya dan berbisik, “Aku mau berbagi hidup bareng kamu. Merangkai masa depan yang sebenar-benarnya dan besarin anak-anak kita bareng-bareng.”
Tentu. Sagi tidak punya pilihan untuk menolak. Yang ia jawab dengan anggukan semangat dan ciuman panas yang berlanjut erangan gairah di ruang kerjanya.
***
Yang malamnya ketika sudah Sagi siapkan satu gelas s**u cokelat hamil, di tolak mentah-mentah oleh Barella. Rasanya jika bukan karena cinta, kedua tangannya hampir khilaf mencekik leher istrinya sendiri. Bujuk rayu bahkan sudah Sagi keluarkan. Tapi Barella tetaplah Barella; keras kepala. Lantas rapalannya dalam doa hanya satu, teruntuk jabang bayinya agar jangan menuruni kekeraskepalaan Barella.
“Kamu saja yang minum!”
Sikap Barella berubah manja. Sagi mengakui suka. Terasa sangat di butuhkan dan di puja. Tapi tetap saja, s**u kehamilan bagian terpenting untuk nutrisi bayinya.
“Mumpung masih anget loh Sayang.”
Siapa yang peduli? Meliriknya saja Barella enggan. Perutnya bergejolak lagi tiap bau s**u menyambangi penciumannya.
Kenapa sih mode sensitif perempuan hamil ngalah-ngalahin harimau kurang kawin? Sagi ingin guling-guling saja di hutan.
Hingga pagi pun Barella masih ngambek perkara s**u. Sagi bekerja ekstra keras untuk tidur malamnya agak nyenyak. Tidak memeluk Barella sama dengan menahan napas selama terlelap.
“Kamu bau!” Vokal Barella yang berteriak terlalu kencang. Tangannya menutupi hidungnya serta menjaga jarak dari jangkauan Sagitarius.
“Aku sudah mandi Sayang, suer. Sini.” Jelas penolakan yang Sagi dapatkan sebagai jawaban.
Sudahlah! Menyerah saja!
Sayangnya, meskipun aksi ngambek sedang Barella demokan, perasaan asing menelusup. Secara mendadak menerobos keinginannya yang gila. Rasanya sangat memualkan—melihat suaminya menenggak hingga tandas s**u hamilnya—sampai ia ingin memuntahkan seluruh isi lambungnya. Lebih gila lagi sejak kemarin perutnya tak terisi apa pun selain air putih. Seluruh asupan yang melewati kerongkongannya akan kembali keluar dan membuat tubuhnya lemas tak beralasan.
“Sagi …” nada suaranya melemah. “Usapin perut aku.”
Lantas apa yang bisa Sagi lakukan selain tercengang? Di samping raut wajah istrinya yang kuyu pucat pasi, suara lembutnya terkesan seksi. Mendebarkan jantung Sagi yang berdetak layaknya di tabuh.
“Sakit.” Barella meringis. Sagi bertindak serius.
Mendekati posisi di mana istrinya berada dan mengusap perut ratanya. Oh … gugup. Itu saja yang di sergap relung hatinya. Tangannya bahkan sudah bergetar dan hawa dingin melingkupi area tubuhnya.
Menakjubkan.
Itu yang pertama kali Sagi rasakan begitu telapak tangannya menyentuh perut istrinya. Tersadar akan sikapnya, ternyata Sagi sangat menyayangi janin di dalam perut Barella.
***
Liana sedang sakit hati. Sepertinya, sejak lahir ke dunia pun, dirinya di takdirkan untuk mengecap rasa sakit dan memelihara dendam dalam hati.
Perkataan Sagitarius Yudantha tempo hari boleh saja sudah kelewat waktu. Tapi tohokan sakitnya masih terasa hingga detik ini. Layaknya luka yang di guyur air garam, denyut nyeri di d**a Liana kian menganga.
Benci. Itu saja yang bisa Liana simpulkan. Dari sekian banyak kata, ia memilih benci sebagai satu senjata. Tidak ingin jatuh, tapi menjatuhkan. Tidak ingin sakit, tapi menyakiti. Tidak suka di rebut, tapi suka merebut. Yang bukan miliknya, bukan haknya, jika Liana suka maka harus menjadi miliknya. Entah dari mana didikan macam itu, satu yang pasti; sembunyi selama bertahun-tahun bukan kabar baik untuk dunia. Karena Liana sangat egois, ia ingin menguasai apa yang seharusnya menjadi miliknya, patut dirinya condongkan tubuh bahwa dunia harus mengenalnya.
Terkadang, jika sedang sendiri seperti saat ini, Liana semakin tahu bahwa dunia sangat tidak mengharapkan kehadirannya. Dirinya yang selalu diabaikan membuat Liana berkecil hati dan terus merenung. Bagian mana dari dirinya yang salah? Bagian mana yang membuat dirinya diacuhkan? Ucapan apa yang harus dirinya bangun untuk sebuah obrolan? Awalan mana untuk bisa dirinya ambil sebuah pengakhiran yang bagus. Semua itu tak pernah luput dari pikiran-pikiran kalutnya sehingga dendam merajai jiwanya. Apakah salah?
Layaknya anak manusia lainnya, Liana membutuhkan pengakuan. Bukan di sia-siakan apalagi dibuang. Kita permudah saja. Karena setiap orang memiliki definisi yang berbeda dalam memandang sesuatu, maka sama halnya dengan Liana yang memudahkan segala cara untuk mencapai impiannya.
Lagi pula, ia perempuan modern dengan berpikir logis. Ada yang mudah, kenapa mencari yang sulit. Ada kebahagiaan di depan mata, lantas mengapa meraih yang jauh di atas langit sana. Cinta … mudah saja bagi mereka yang sudah memaknai artinya. Itu kenapa menjudge lebih mudah dilakukan manusia—selain sudah wajar menjadi sifat dasarnya. Toh tak banyak yang sudi memahami yang sebenarnya.
“Hm, gue mau Sagi. Dia harus jadi milik gue.”
Tidak ada yang salah dalam sebuah cara seseorang menyampaikan dan mencintai. Liana hanya ingin terjun langsung, bertindak secara nyata agar dunia mau melihatnya. Agar dunia mau menganggap kehadirannya benar adanya.
Rasanya, terlalu lama bersembunyi hingga kehilangan jati dirinya, Liana mengobarkan untuk tidak pusing memikirkan kehidupan orang lain. Egois? Tentu.
“Di bikin gampang saja. Kalau gue nggak bisa dapatin Sagi, Bare juga nggak boleh nyentuh apa yang bukan miliknya.”