Tidak banyak muluk-muluk yang Barella sematkan. Cukup dengan dirinya jauh dari jangkauan keluarganya dan mengikuti semua keputusan sang suami. Baginya, itu sudah lebih dari rasa aman yang Sagitarius Yudantha berikan.
“Duhh mereka lucu-lucu banget. Liat deh Yang.”
Sagi menyodorkan ponselnya yang menampilkan potret dua bayi kembar terlelap. Barella mengakui kelucuan yang ada di dalamnya. Kedua bayi itu mirip—identik—jenis kelaminnya saja yang membedakan. Mereka juga terlelap dengan posisi unik di mana tangan salah satunya terlihat merangkul bayi di sebelahnya.
Senyum Barella terbit.
“Mereka lucu,” bisiknya rendah yang terdengar di rungu Sagi.
“Kita harus jengukin mereka.” Sagi tidurkan kepalanya di atas perut Barella. Meniup-niupnya iseng yang tepat berada di depan wajahnya. “Aku mau punya mereka. Satu atau dua atau tiga atau berapa pun Tuhan akan ngasih.”
Lanjutannya sarat akan kepasrahan. Barella mendadak gugup. Keringat dingin mengucur dari sela-sela kulitnya. Ini sulit. Dirinya belum becus menjadi seorang ibu.
“Gimana menurut kamu Sayang?”
Yang sangat Barella ketahui bahwasannya Sagi sangat ingin memiliki anak dari dirinya. Hanya dari dirinya. Dan penuntutan itu berubah menjadi beban untuk Barella.
“Aku belum siap.” Lidahnya lancar saat berkata. Remasan sakit yang mengepal jantungnya jauh lebih terasa perihnya. “Aku belum sempurna jadi istri kamu dan kita …”
Jeda yang Barella ambil mengukir senyuman buruk di bibir Sagi. Meski begitu ia menahannya. Ia coba hargai kejujuran istrinya meski kenyataannya sama; Barella memang tidak menyukai anak kecil. Sialan! Si b******k itu menang.
“Kita bisa memulai semuanya dari awal.” Putus Sagi. “Kamu harus lihat Raja dan Ratu, mereka lucu. Kamu apa nggak pengen dipanggil Mami? Itu lucu.”
Tawa Sagi menular pada bibir Barella. Tangannya beranjak mengusapi kepala Sagi seraya berbisik, “Pasti senang punya satu kayak mereka.”
***
Akhir-akhir ini Sagi rutin mendatangi lapas. Entah dengan tujuan dan maksud tertentu, dirinya ingin memastikan satu hal saja. Karena Sagi egois dan menjunjung tinggi gengsi setinggi langit, kalah dari Damika bukan daftar dalam kamusnya. Garis bawahi, Sagi tidak suka kekalahan.
“Satu yang nggak pernah lo tahu.” Damika berujar. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa dan seringainya. “Ella bukan satu-satunya sulung dari Yudhistira.”
Sagitarius Yudantha seorang manipulatif yang pandai menyembunyikan raut terkejut di wajahnya. Bibirnya tetap diam, otaknya bekerja. Fakta ini tidak terlalu membuatnya kaget. Karena delapan tahun selama dirinya belajar dan memulai membangun perusahaannya yang bangkrut, info tentang Barella selalu dirinya kantongi.
“Ella itu sakit … jiwa.” Kalimat penuh penekanan itu jelas membuat Sagi meradang. Namun lagi-lagi pengendalian diri dalam dirinya masih menguasai. “Harusnya Ella dirawat. Bukan lo ajak nikah.”
Kekasih macam apa yang justru menjerumuskan perempuannya?
“Itu pengobatan.”
Damika terkekeh. Mendengus dan berkata, “jangan gila! Pasangan gila nggak akan pernah berhasil buat bersama.”
Kenapa terdengar seperti Damika yang putus asa?
Senyuman Sagi terlampau meremehkan. “Gue bukan orang yang mudah lo kalahin. Mau bukti?”
***
Hati yang sudah patah, tidak mungkin bisa merekat lagi.
Sama halnya dengan Barella. Kenyataan bahwa dirinya bukanlah sulung yang sebenarnya, kehancuran pada hidupnya mulai menyambangi. Entah pada rangkaian masa depan yang sudah dirinya susun atau pada kepercayaan yang jatuh bangun dirinya bangun. Semuanya hancur lebur tak bersisa.
Dan sore ini, seolah semesta pun mendukung rasa sakitnya, kebenaran datang menghampiri. Kedua kaki Barella kaku selayaknya di semen—menancap kuat.
“Ella …”
Belum-belum Barella hendak jatuh di tempatnya berdiri.
“Kita ketemu …” Ada jeda yang di sengaja. Senyum di bibir si lawan menohok relung Barella. Benar-benar mirip. Sedang dirinya? “Akhirnya.”
Begitu saja Barella membenci hadirnya dirinya di dunia. Tapi siapa yang patut di salahkan?
Seseorang mengatakan. Katanya anak adalah titipan Ilahi. Bentuk kepercayaan dari Tuhan untuk kita. Tapi … bolehkah Barella meminta untuk jangan dirinya? Berada di posisi seperti ini bukan kehendaknya. Menjadi bukan yang pertama jelas pukulan telak untuk hidupnya.
“Kamu dingin.”
Tahu apa dia tentang dirinya? Yang sudah terlampau kuat dengan rasa sakit. Yang terlalu diam untuk mengendalikan.
“Kita satu ayah. Itu masih satu saudara meski memiliki ibu yang berbeda.”
Benar. Barella akan mengakui itu. Keluarga Yudhistira—terutama ayahnya—menyimpan borok semenjijikkan ini.
“Dan aku berbeda,” jawaban Barella mengangetkan objek di hadapannya. “Aku tidak pernah mengakui apapun alasannya.”
Kekehan yang terdengar layaknya cambuk untuk dadanya yang teremas. Barella sakit berkali-kali lipat saat ini.
“Siapa?” Suara Sagi menginterupsi. “Wife, ada tamu?”
Yang terkejut hanya perempuan yang tidak Sagi ketahui namanya. Namun sikapnya yang merengkuh pinggang Barella mengartikan gerakan defensif yang langsung di pahami si perempuan tak bernama.
“Anak sulung Papa.”
Sagi tersenyum lebar pada jawaban Barella. Fokus matanya mengisyaratkan torehan luka.
“Kita harus berangkat. Aku ada rapat.”
Dunia boleh saja kejam. Tapi teruntuk Sagitarius Yudantha—lelaki dengan sejuta kejutan—tak akan dirinya biarkan istrinya terluka. Mengabaikan, menyakiti dan bertingkah tidak sesuai semestinya menjadi kebiasaan Sagi.
“Satu lagi.” Langkahnya terhenti. Jarak sudah terlihat menjauh. Dengan meremas pinggang Barella lembut, bibirnya tergaris semili. “Jangan datang lagi. Jangan juga muncul. Jangan pernah usik sesuatu yang udah kita coba lupain. Liana … Kamu nggak lebih berharga dari Barella-ku. Tolong, enyahlah.”
***
“Kamu tahu namanya?” Sagi berdeham. Kedua matanya terus menari di atas tumpukan file kertas. Membosankan juga menyebalkan di saat yang bersamaan. “Aku nggak pernah cerita soal ini.”
“Dan kamu pikir aku bodoh?” Barella mendengus. Cuma dan hanya dirinya yang terlalu berani melawan kuasa seorang Sagitarius. “Aku nemu banyak info tentang dia. Termasuk alasan kenapa dia datang.”
Barella penasaran. Sayangnya, eksistensi Andang—asisten dari perusahaan yang akan bekerja sama mengalihkan topik bahasan. Jadi, helaan napas kasar yang Barella embuskan. Berjalan menuju ruang kecil di sudut lantas belajar di dalamnya. Mendengarkan obrolan bisnis yang akan Sagi angkat bukan perkara mudah bagi dirinya.
Awalnya, konsentrasi Barella berada penuh pada layar laptop yang menampilkan sederet kalimat untuk bahan latihan menuju ujian pertengahan semester. Memeras sekuat yang dirinya bisa untuk dilakukan dan menulis jawaban di kertas yang sudah dirinya siapkan. Perlahan namun pasti ada topik yang bermunculan di kepalanya.
“Apa alasannya? Apa keuntungannya? Apa maunya?”
Seperti itu dan berlalu hingga satu kecupan manis mampir di pelipisnya. Si biang kerok sedang tersenyum manis.
“Otak kecil kamu ini.” Telunjuk Sagi menempel di kepala cantik dan menguseknya perlahan. Aduhan yang Barella suarakan bukan menjadikan sebuah rasa untuk bersalah justru menyambungnya, “nggak bisa buat mikir berat. Jadi, kerjain aja soal latihan ujiannya terus makan siang.”
“Aku penasaran.” Barella mendumel misuh-misuh. “Untungnya buat dia apa?”
“Sayang. Kamu harus belajar buat patuh. Udah aku bilang, otak kamu kecil segini.” Sagi satukan telunjuk dan jempolnya—mengejek Barella yang makin memerahkan wajahnya. “Dia bukan sesuatu yang bahaya buat kita. Seseorang harus belajar berjalan sebelum berlari.”
Maksudnya apa, sih? Barella bingung sendiri.
***
Karena seorang manipulatif, beberapa sifat dan sikap aslinya pasti tertata rapi di sebuah persembunyian. Kegelapan yang biasa membelenggu bukan hal sulit bagi seorang manipulatif untuk mengungkung jiwanya. Begitu yang terjadi pada Sagi.
Mulutnya boleh saja berkata ‘itu bukan hal penting’ yang artinya ‘sangat berbahaya’ untuk keberlangsungan hidupnya. Tapi uang yang Sagi miliki mampu dirinya kendalikan tiap-tiap kekuasaan yang berperan penting di belakangnya.
“Ini baru saja datang.” Arsen memberikan amplop cokelat yang di bawanya. “Sepertinya benar. Perempuan ini di jadikan alat oleh Yudhistira untuk menggertak Barella.”
Sagi anggukkan kepalanya mengerti. Berhentinya penjelasan Arsen, dirinya dapati satu lembar foto di mana sulung yang sebenarnya sedang mengobrol akrab dengan Damika.
“Menarik.”
“Benar. Liana dan Damika berpacaran. Di belakang Barella.”
“Setelah mencoba menggodaku?”
Arsen mengiyakan lewat anggukan. “Gencatan senjata segera dimulai.” Hiperbolanya sungguh berlebihan. Sagi tertawa di buatnya.
“Makasih Arsen. Ini berarti untuk Barella.”
“Dia sahabatku. Aku memang nggak tau yang sebenarnya tapi Bare penting buat aku. Dan untuk Damika, aku serahin ke kamu.”
***
“Cerita ini bakal garing kalau kalian nggak cepet-cepet punya anak.”
Barella tersenyum. Sagitarius mendengus. Di cibir seperti oleh papi baru jelas membuat keduanya menampilkan raut yang berbeda-beda.
“Aku siap. Dia belum.”
Selalu Barella yang di pojokkan. Tapi jika di pikir-pikir itu benar juga. Dirinya yang terlalu kolot.
“Kenapa belum siap?”
Senja Anggoro namanya. Suaranya halus dan lembut sehingga Barella wajib tertegun sebentar. Ia pandangi penuh saksama perempuan berambut kelam bermata gelap jernih di hadapannya. Umurnya boleh saja masih muda namun cara pikirnya mengalahkan Barella. Perempuan ini hebat.
“Entah.” Barella kedikkan kedua bahunya. “Rasanya masih jauh dari kata siap di saat kuliah aku belum ada hilal untuk lulus.”
“Alasan!” Sagi mendumel. Sekali pun mulutnya sibuk menciumi bayi dalam gendongannya, dumelannya tidak berkurang.
“Kalau sudah jadi rejeki jangan di tolak. Maaf, bukan mau menggurui, tapi menjadi Ibu itu sempurna. Bisa merasakan sensasi mengandung. Sensasi mendebarkan saat mereka menendang perut kita. Sakit saat kontraksi. Dan bahagia ketika melihat mereka lahir.”
Permasalahan sesungguhnya yang membuat Barella belum siap bukan itu. Melainkan urusan keluarga yang tiada ujung pengakhiran. Baiknya Barella mundur, namun sesuatu yang lain menariknya untuk bertahan dan maju. Liana contohnya. Sulung yang sebenarnya datang di saat Barella tak pernah membayangkan.
“Apa pun kondisinya, pikirkan hal positif.”
Bohong jika Barella memakai alasan ketidaksiapannya. Dasar hatinya jauh lebih siap. Sudut hatinya terus berharap. Menumpukan secercah cita-cita di mana Sagi yang menjadi satu-satunya dan membuat dirinya utuh satu-satunya. Sadar atau tidaknya, doanya selalu terngiang pada bagian di mana hatinya telah jatuh pada sosok Sagitarius Yudantha. Yang Barella pandangi dengan cermat dan senyum semili di bibirnya terbit.