10

1361 Kata
Hari-hari selanjutnya, Sagi semakin liar bergerak. Ia tidak peduli apakah Barella akan mengoceh setelahnya dan melotot seharian penuh. Hal-hal kecil seperti sentuhan—selama ada kesempatan—Sagi melakukannya. “Ke sana dikit!” Barella berteriak. Kesal setengah mati dengan tindakan Sagi yang terus memepet tubuhnya. Di lihat lebih jeli lagi, ukuran ranjang mereka tidaklah sempit—terlampau luas bahkan diisi dua orang sekali pun. Namun Sagi sungguh membuatnya jengkel. “Kenapa, sih?” balasnya bertanya. Tubuhnya belum beranjak menjauh dari memeluk Barella. “Aku kedinginan.” Alasan saja membuat Barella mendengkus. “Karepmu lah!” Tentu Sagi tersenyum puas sekali. Di balik punggung Barella dan kepalanya kian melesak masuk ke tengkuk istrinya. “Kamu tau, surga dan nerakanya istri ada di suami.” “Jangan ceramah.” Meski begitu Barella membenarkan. Ia ingat status yang sudah tidak lajang lagi. Melainkan memiliki pemimpin dan pembimbing. “Ck! Dikasih tau ngeyel.” Sagi eratkan pelukan pada tubuh Barella yang mungil. Sedikit mengeluarkan suara dengkuran meski otaknya terus berjalan. Ia tah, hukum alam akan selalu mengiringi. Suka tidak suka dalam mencapai suatu keinginan, ada yang harus Sagi korbankan. Mengejar dengan sungguh-sungguh saja tidaklah cukup. Dunia suka sekali bercanda. Maka, menjamin segala hak istimewa untuk kehidupan Bare serta anak-anaknya nanti, di mulai dari sekarang, Sagi harus lebih giat dalam berusaha. “Selamat malam.” Sesuatu yang sama berharganya. Dan bisikan yang Barella ucapkan cukup membuat Sagi ternyenyak di mala mini. *** Pagi-pagi sekali Barella di buat kisruh. Suaminya berkali-kali lipat menyebalkan akhir-akhir ini. Mulai dari desakannya memiliki anak, bermanja ria menyoal mengancingkan baju dan memakai dasi serta t***k bengek lainnya yang menyibukan aktivitas Bare. “Aku suka kamu pakai kemeja navy, paham nggak, sih?!” Barella merengut di tempat. Tidak peduli dengan decakan Sagi, nyatanya tangannya terus bergerak memasukan kancing-kancing kemeja ke dalam lubangnya. “Hari ini aja. Aku pengen warna item.” “Buat apa?” “Lebih manly.” “Nggak ingat semalam ngomong apa?” Alis Sagi menukik. “Surga dan neraka istri ada di suami, berarti neraka dan surga suami ada di istri. Nurut!” Ya? Teori dari mana itu. “Nggak usah banyak cing-cong,” protesan Sagi terhalang. Suara Bare pagi ini benar-benar lain dari hari biasanya. “Makan!” Tapi Sagi patuh. Ia menunduk dan berjalan keluar kamar dengan tenang. Menuju dapur, duduk di meja makan dengan secangkir kopi panas mengepul dan koran pagi yang sudah tersaji. Tak lama, barulah Barella muncul. Pakaiannya sudah berganti. Lebih rapi dan Sagi melotot terkejut. Kenapa—agaknya—pakaian istrinya pagi ini telihat berbeda juga? Oh benar. Barella mengenakan kemeja warna hitam dengan rok selutut—catat selutut—berwarna putih dan heels cantik yang mempertontonkan kaki jenjangnya. Bagus. Sekarang Sagi tahu artinya balas dendam. “Kemarin …” Sagi menyeruput kopi hitamnya. “Istri temanku ada yang kurang patuh sama perkataan suami. Nggak lama setelahnya kena tulah.” Bare nampak tidak terpengaruh. Jadi Sagi pikir butuh kerja ekstra untuk terus mempengaruhi. “Aku bukan ngekang kamu, sih semisal mau pakai baju kayak gini juga. Tapi ingat, 'kan sama posisi ‘istri’ yang nggak main-main maknanya.” Barulah Bare mengangkat kepalanya. Sejak tadi asik menunduk dan memotong sarapannya dengan khidmat. “Aku juga punya teman. Suaminya nggak mau patuh sama keinginan istrinya—padahal nuntut ini itu juga. Cuma perkara baju, loh, sayang.” Dan entah kenapa panggilan sayang dari Bare memperburuk kondisi bulu kuduk Sagi. “Jadi, apa pun yang dilakuin sama suaminya, temanku ini ikutin. Istri kayak gitu yakin mau diomelin?” “Fine!” teriakan Sagi diiringi dengan derit kursi yang terdorong ke belakang. Beberapa orang yang sedang membersihkan area ruangan ikut terkikik—mengejek. *** Sagi menyerah. Bukan pada rasa cintanya untuk Barella tapi usahanya yang menginginkan anak. Menurut Bare, permintaannya terlalu aneh. Menginginkan anak bagi Sagi sudah sangat benar sebagai suatu tindakan tapi Barella menanggapi dengan: kamu ngomong pengen punya anak berasa beli kaos kaki sepuluh ribu dapet tiga. Paham maksud aku? Siapa yang tidak KO di respons seperti itu. Tentu Sagi langsung mundur. Akan ia berikan ruang bagi istrinya berpikir secara jernih. Toh percuma memaksa ketika belum ada rasa untuk memiliki. Mungkin nanti, jika Barella sudah sangat keterlaluan, tindakan Sagi yang memberi jawaban. Sagi jadi mengingat hari-hari di mana ia sangat mencintai Barella. Barella yang anggun. Barella yang penurut. Barella yang keras kepala meski memiliki kelembutan yang tiada ujung. Dan segala bentuk akan kecintaannya pada Barella. Bukan ingin menyesal pada fakta atau keputusan yang telah dirinya ambil. Perbedaannya jelas kentara. Barella yang selalu bersamanya dua puluh empat jam berubah drastis. Tidak hanya penampilannya saja atau wajahnya yang kian berpancar penuh sinar namun juga karakternya. Jauh dari sikap aslinya. Katakanlah Sagitarius Yudantha sedang cemburu. Cintanya pada Barella yang sudah merajalela berubah obsesi membutakan segala hal baik dihadapannya. “Kamu bisa memutuskan.” Suara Sagi yang terlampau tenang dirungu Damika amatlah menusuk. Lelaki berpakaian dongker sebagai seragam tahanan menunjukkan status yang sebenarnya. Dan makna ucapan Sagi adalah: Kamu tidak pantas untuk Barella. “Kenapa harus ketika aku dan Ella saling mencintai.” Decihan yang Sagi berikan. Pernah tidak Sagi jelaskan jika ia sulit meletakkan tingkah bibirnya? Tepat sekali. Hari ini, bibir kirinya menyungging ke atas yang berarti penghinaan sedang ia lakukan. Sagi bahkan tidak bisa tersenyum dengan seharusnya. “Kamu tidak tau apapun tentang Barella.” Karena Barellanya tidak suka dipanggil Ella. Tapi lelaki di depannya ini sungguh luar biasa. “Aku tau segalanya. Kamu … masa lalunya.” Tertohok, itu yang pertama Sagi rasakan. Tapi bentuk bibirnya sungguh tersimpul dengan kejam. “Aku sudah sangat jauh bersama Ella yang sayangnya tidak kamu ketahui.” Haruskah Sagi percaya? “Ella tidak menyukai bayi, anak-anak dan sejenis t***k bengek perkara bocah.” Kejutan. Sagi tercengang. Mungkinkah ini alasannya? “Dan aku bisa mewujudkannya. Karena kita sama.” Bukti nyata kesempurnaan Tuhan ada pada ciptaannya. Dua mata yang berfungsi untuk melihat kebenaran tidak hanya sepihak. Namun membutuhkan sudut pandang luas agar sebuah hubungan terjaga dengan baik. Dua telinga untuk mendengarkan penjelasan agar tidak terjadi salah paham. Maka Sagi simpulkan, ia perlu menyelidiki lelaki ini dengan saksama. Dan badan tegapnya yang berdiri meninggalkan seulas senyum licik di mata Damika. *** Begitu memasuki ruangannya dengan ponsel menempel di telinga kirinya dan perintah keras yang Sagi keraskan, wajah keruh Barella semakin gelap saja. Tidak tanggung-tanggung penantiannya hingga bekal yang dirinya masak dingin tak berselera untuk di lirik. Tapi Sagitarius Yudantha makna suami sempurna yang harus Barella umpati dengan kata-k********r. “Lakukan saja kataku.” Bentakan suara Sagi tak menggentarkan tajamnya elang di mata Barella. “Ya lakukan! Cepat, tanpa pengulangan.” Selesai dan barulah tersenyum. “Sayangku.” Eksistensi Barella di perhatikan. Tapi Barella terlanjur kesal. “Kenapa nggak ngomong kalo mau ke sini?” “Kenapa?” Barella sinis sekali dalam menjawab. Sagi tersenyum. Berjalan mendekat dan memeluk Barella. “Aku kangen kamu.” Bibir Barella membentuk huruf o kecil dan diam saja ketika Sagi menciumi rambut belakangnya. “Kamu masak apa? Kebetulan aku laper.” Sepulangnya dari tahanan, Sagi tidak sempat mampir sekedar membeli roti. Otaknya sibuk berpikir. Rencananya sudah tersusun rapi di dalam otak. Dengan rincian serta strategi tepat, sebentar lagi semuanya akan terkendali. “Kalo pacarana inget waktu!” Ini Barella yang misuh-misuh. Tanggapan Sagi terkekeh kecil. Ia tahu istrinya sedang menyindir. Sejatinya Barella sangat mengenal dirinya yang tidak suka bermain perempuan. “Mau pake yang mana?” Apa Sagi bilang? Perhatian Sagi teralih pada menu masakan yang Barella jejerkan dengan rapi. Semuanya terlihat lezat dan mata Sagi berbinar. Jarinya menunjuk mana saja masakan yang ingin dirinya makan. “Bilang aja semuanya!” Sikap semena-mena Barella yang suka salam paham pun tetap Sagi sukai. Baginya, cinta dan mencintai apapun pengertiannya, jika itu Barella tidak akan pernah dirinya sesali. Ia sudah cukup menyesal delapan tahun ini. “Oh, aku dapet proyek baru di Jakarta. Gimana menurut kamu?” “Nggak salah.” Ketus Barella. Ia sodorkan gelas minum Sagi dan di terima dengan cengiran. Sejengkel apapun perasaan Barella, ia tahu, suaminya tidak akan bisa jauh dari air ketika sedang makan. “Kita pindah ke sana soalnya. Aku nggak mungkin ninggalin kamu.” Tubuh Barella kaku mendadak. Wajahnya juga lesu. Sagi tahu alasannya. Ini awal dari rencananya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN