JKJI 6

1374 Kata
*** Dengan tangan gemetar Niki menanda tangani berkas diijinkan. Airmatanya menitik dan jatuh di atas kertas putih itu. Sisi hanya terdiam di tempat. Airmatanya ikut menetes kala melihat Niki tampak tak berdaya. Laki-laki berbaju putih tadi mengambil kertas itu dari tangan Niki lalu mengirimkan ke Arah Sisi. Sisi tak bergeming. Matanya penuh dengan airmata menatap ke arah Niki yang sekarang malah tersenyum ke arahnya. Sisi mengusap kedua pipinya dengan punggung diperoleh lalu dengan kasar meraih kertas itu. "Bawa aku bertemu Digo. Sekarang!" titah Sisi dan langsung pergi dari kamar rawat inap Niki. "Sisi, tunggu!" cegah Niki tapi langkah Sisi sudah menjauh. Dua orang asing tanpa berpamitan langsung keluar dan diambil langkah Sisi. Apapun dengan sigap langsung membukakan pintu mobil untuk Sisi dengan tubuh sedikit membungkuk. "Silakan Nona Sisi." serunya pelan. Sisi melengos dan langsung masuk ke dalam mobil. Dia harus bicara empat mata dengan Digo. *** Sisi bergerak cepat menuju ruang kerja Digo. Hanya sekali masuk ke rumah ini tetapi Sisi hafal betul di mana letak ruangan itu. Pengawal Digo dihindari Sisi saat dia ingin menerobos masuk ke dalam ruang kerja Digo. "Kenapa kau melupakan jalanku. Minggir atau aku cenderung berhargamu aset itu." ancam Sisi sambil melirik ke arah celana pengawal berkepala botak itu. "Ma-maafkan aku Nona Sisi, tapi Mister Digo ---" "Biarkan saja dia masuk!" Sisi dan pengawal itu menoleh ke arah pintu yang masih tertutup. Sisi mendengus kasar dan kasar dibuka. Melihat kedatangan Sisi, Digo langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Sisi. Digo memutari tubuh Sisi dan berdiri di belakangnya. "Kau telat hampir 3 jam, Sayang." bisiknya dengan suara parau tepat di telinga kanan Sisi. Sisi berjengit kaget dan langsung menjauhkan tubuhnya dari Digo. Tangan kanannya refleks meremas kertas putih itu sebelum Ia melemparkan kertas itu tepat mengenai wajah Digo. Digo tak bereaksi apapun. Ia hanya melirik kertas itu yang jatuh perlahan dan mendarat tepat di depannya. "Apa masalahmu?" Alis Digo terangkat sebelah kala mendengar suara Sisi. Senyumnya tersungging walaupun sangat tipis. "Di sini kau yang bermasalah kenapa tanya padaku?" "Untuk apa surat cerai itu?" tanya Sisi lagi. Nafasnya naik turun seiring dengan emosinya yang kian memuncak. Digo kembali tersenyum. Langkahnya perlahan mendekati Sisi. "Ku harap aku tidak salah memilih calon istri. Kau tidak punya penyakit pikun kan?" Sisi sempat membuka mulutnya sebentar. "Bukankah sudah aku jelaskan sebelumnya? Kau akan menikah denganku dan aku akan menganggap semuanya lunas." "Aku tidak akan menikah denganmu. Ingat itu." Sisi melangkah hendak keluar tapi dengan cepat Digo mencengkram lengan atas Sisi. "Aaawsh. Lepaskan!" "Kau pikir kau bisa keluar dari rumah ini dengan mudah? Bahkan kau tidak akan bisa keluar dari ruangan ini tanpa seizinku." ancam Digo. Airmata Sisi perlahan merebak dan meleleh melewati kedua pipinya. Dengan kasar Digo melepaskan cengkramannya. "Jangan harap aku akan luluh hanya melihat air asin itu." "Kenapa kau lakukan ini?" lirih Sisi. Digo yang melangkah menuju kursinya langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sisi. "Apa maksudmu? Melakukan apa? Jangan berkata seperti itu. Seolah-olah aku peran antagonis dalam cerita ini," Digo terkekeh pelan. Ia lalu bersandar di meja kerjanya. Tangannya bersedekap dan matanya menatap lurus ke wajah Sisi. "Ada asap pasti ada api. Kau tau maksudku?" Sisi tak menjawab. Ia sibuk menyeka airmatanya. "Niki yang mendatangiku. Dia meminjam uangku dan aku bertanya apa jaminannya jika dia tidak bisa mengembalikannya. Dan kau tau apa jawabannya?" Digo terkekeh sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali mengingat kejadian lalu. "Dia bilang dia akan bekerja keras agar dapat mengembalikan semua uangku." Airmata Sisi semakin deras mengalir melihat tawa Digo. Matanya menatap lurus ke arah Digo. Bibir tipisnya mengatup rapat dan kedua tangannya mengepal. "Aku menolaknya karena aku yakin, sampai kapanpun dia tidak akan bisa melakukan hal itu," tawa Digo mereda dan wajahnya kembali dingin seperti semula. "Kalau kau menolak tawaranku, sama saja kau membunuh suamimu perlahan. Dengan apa kau akan membiayai pengobatan Niki? Apa kau akan membiarkan Niki sekarat di depan matamu sementara kau hanya diam padahal sebenarnya ada cara untuk bisa menyelamatkannya?" "Aku tidak pernah memberikan tawaran dua kali kepada orang dalam hal uang. Menikahlah denganku dan aku akan menjamin biaya untuk pengobatan Niki juga kebutuhan orang tuamu." Pandangan mata Sisi menunduk. Menatap lantai ruang kerja Digo. Jika memang ini jalannya, maka Sisi akan menerimanya. Asalkan orang yang Ia cintai bisa hidup bahagia. "Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Bisa saja tanpa sepengetahuanku kau mengingkari janjimu. Kau membunuh Niki dan membuat hidup orang tuaku menderita." Senyum Digo melebar. Ia menarik tubuhnya dan melangkah pelan mendekati Sisi. Berdiri tepat di depannya. Tangannya terulur menyentuh pipi chubby Sisi dan mengusapnya perlahan. Sisi sempat memejamkan matanya kala kulit jemari Digo menyentuh kulit mulusnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah apa penyebabnya. Mungkin takut. Takut Digo akan bertindak lebih. "Aku akan memberimu ijin seminggu sekali untuk keluar menemui mereka. Selasa pagi kau pulang dan Selasa sore jam 5 tepat kau sudah harus kembali ke sini. Bagaimana?" Digo mengucapkan kalimat terakhir setengah berbisik. "Ak-akan aku pikirkan nanti---" "Aku tidak akan menunggu lagi," potong Digo. Ia membungkuk dan mengambil kertas putih yang sempat dilempar Sisi tadi. "Tanda tangan di sini dan permainan akan dimulai." Perlahan tangan Sisi terulur meraih kertas itu. Digo mengeluarkan sebuah pulpen dari saku kemeja. "Mungkin kau butuh sesuatu?" Senyum Digo merekah saat Sisi meraih pulpen itu. Digo tak bicara lagi tapi matanya terus menatap ke arah Sisi. Mata hitam itu seolah berkata 'cepat lakukan' membuat tubuh Sisi sedikit gemetar. Ia lalu menorehkan tanda tangannya di atas kertas putih itu. "Bagus," Digo langsung menyambar kertas itu dan meletakkannya di meja kerjanya. Pandangan matanya kembali menatap Sisi yang terlihat menundukkan wajahnya. "Besok kita akan menikah dan seterusnya kau akan tinggal disini. Kau yang akan menyiapkan semua kebutuhanku. Pagi kau sudah harus menyiapkan sarapan untukku. Siang kau mengantarkan makan siangku ke kantor. Sore saat aku pulang semua makanan sudah tertata rapi dimeja. Aku tidak mau melihat pelayan di sini membantumu dalam menyiapkan kebutuhanku. Dan satu hal lagi." Digi semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Sisi. Digo menghirup aroma wangi tubuh Sisi dengan mata terpejam. "Kau tau kan apa tugas seorang istri? Melayani suami." Sisi semakin menunduk saat Digo menampilkan seringaiannya. "Ada hal yang ingin kau tanyakan?" tanya Digo saat Ia sudah menarik tubuhnya, menjauh dari Sisi. Sisi menggeleng dengan wajah tetap menunduk. "Baiklah. Keluar dari ruanganku dan pergilah ke kamarmu. Seorang pelayan nanti akan menunjukkan dimana kamarmu." Tak perlu menjawab lagi Sisi langsung memutar tubuhnya dan melangkah cepat menuju pintu. Seperti sudah terpasang remote kontrol, pintu itu terbuka lebar walaupun Sisi belum menyentuh knopnya. Mungkin pengawal diluar yang membukakan pintu untuknya. Sisi di giring menuju suatu tempat. Pelayan wanita itu membuka pintu kamar dan mempersilahkan Sisi masuk. Begitu masuk pintu langsung di tutup dan Sisi ditinggalkan seorang diri. Sisi mengedarkan pandangannya menatap seisi kamar. Sangat luas dan mewah. Sisi bahkan tak berani menyentuh semua perabot di dalamnya. Harga perabot itu pasti sangat mahal dan Sisi tak mau menambah beban hidupnya. Langkahnya terhenti saat berada di sisi tempat tidur dengan ukuran yang sangat besar. Sisi menghela nafas panjang lalu duduk di tepinya. Ingatannya langsung tertuju ke sosok Niki yang kini masih terbaring di Rumah Sakit. "Mungkin dengan cara seperti ini aku akan mendapatkan kunci Surga itu." gumamnya lirih. Sisi sudah membulatkan tekadnya untuk berkorban demi Niki. Demi Ibunya. Walau pada akhirnya mereka akan sama-sama tersakiti. Sisi yakin ini bukan keinginan Niki, menjaminkan dirinya untuk melunasi hutang. Sisi yakin ini semua rencana Digo. "Oke. Setelah hutang ini lunas. Aku akan pergi. Tak akan ada satu orangpun yang bisa menemukan aku. Tunggu aku, Nik. Kita sama-sama berjuang. Aku akan berjuang demi kamu dan kamu harus bisa melawan sakit itu." *** Digo keluar dari ruang kerjanya dengan wajah kusut. Beberapa pengawal rumahnya sempat terkejut melihat raut wajah Digo. Tak biasanya Bos Besarnya berpenampilan seperti ini. Salah satu pengawal membungkukkan badannya saat Digo lewat di depannya. Digo tak merespon dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintunya dan langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Digo berdiri diam di depan wastafel sambil mengatur nafasnya yang naik turun. Wajahnya memerah. "s**t," umpatnya kesal. Dengan gerakan cepat Digo membuka kemeja dan juga celana kainnya. Digo langsung diguyur di bawah pancuran. Air dingin langsung menusuk kulitnya. Digo mendongakkan lalu lalu sedetik kemudian Ia menunduk. Menatap satu benda yang tampak tegang di bawah sana. "Hanya dengan mencium aroma parfumnya saja sudah bisa membuat Juniorku bangun." ucapnya lirih. *** Sby, 03 Januari 2018
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN