⚠ Peringatan: konten dewasa
***
Airmata Sisi kembali tumpah saat mendengar suara lemah Niki. Mulai malam ini ia sudah tinggal di rumah Digo dan mulai bekerja untuk Digo. Suara isak tangis Sisi membuat Niki diam dan tak banyak bicara.
"Maaf aku memilih jalan ini karena cuman ini satu-satunya cara," sesal Sisi. "Aku nggak mau kehilangan kamu atau Mama. Bagiku, kalian berdua sangat berarti."
"Aku yang harusnya minta maaf, Si. Kalau saja aku nggak minta tolong sama Digo, mungkin kita gak akan kayak gini"
Sisi menggelengkan sisa beberapa kali. Tangannya terus bekerja menyeka airmatanya yang terus mengalir. "Aku nggak akan menyesal ngambil jalan ini asalkan aku bisa liat kamu dan Mama hidup tenang."
"Aku berasa gagal jadi suami yang baik buat kamu, Si," ucap Niki lirih. Sisi kembali menggeleng dan terus menyeka airmatanya. "Tapi kamu jangan pernah berpikiran kalo aku ngumpanin kamu buat Digo. Itu salah besar. Aku cuman pengen kamu hidup bahagia. Dan aku pikir Digo orang yang tepat untuk jadi suami kamu. Dia sebenarnya baik. Tapi nggak tau kenapa dia sekarang berubah. Digo berharap Digo yang dulu. "
Sisi mengangguk pelan sambil menyeka airmatanya. "Digo maksa aku nikah sama dia," airmata Sisi Kembali berderai. Sekuat Tenaga Sisi memegang isak tangisnya agar tidak didengar oleh Niki. "Setiap Selasa aku akan pulang. Digo cuman ngasih aku satu hari buat ketemu sama kalian."
"Semoga kamu bahagia, Si. Dan semoga Digo senang kamu dengan tulus ---"
"Dan selamanya cintaku cuman buat kamu, Nik." sela Sisi.
"Sudah selesai edisi curhatnya?"
Kepala Sisi seketika menoleh dan Digo sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Seingat Sisi, tadi ia sudah mengunci pintu kamarnya.
"Nanti aku telpon lagi, jaga diri kamu, Nik." Sisi tak menunggu jawaban dari Digo. Ia langsung menutup panggilannya. Tangannya bergerak dengan cepat menyeka kedua pipinya. "Tolong hargai privasi orang lain." seru Sisi ketus.
Digo tersenyum tipis lalu kakinya melangkah mendekati Sisi. "Bukannya tidak ada kata privasi dalam pernikahan? Sebentar lagi kau akan menjadi istriku--"
"Besok, Digo. Bukan sekarang," potong Sisi cepat. "Malam ini aku masih milik Niki."
Ucapan Sisi membuat emosi Digo tiba-tiba muncul. Rahangnya terkatup rapat dan tangannya mengepal kuat. Dengan langkah lebar ia menghampiri Sisi dan mendorong tubuh Sisi. Membuat Sisi terpelanting dan mendarat di tempat tidurnya.
Digo langsung menerjang Sisi dan mengunci pergerakan Sisi. Digo mendaratkan dirinya di atas tubuh mungil Sisi. Kedua tangan Sisi dicengkram erat oleh Digo. "Kuingatkan sekali lagi. Kau dan Niki sudah bercerai. Kalian sudah menanda tangani berkas itu. Apa kau lupa?"
Airmata Sisi kembali mengalir. Tapi Sisi tak ingin terlihat lemah di depan Digo. Mata hazelnya menatap nyalang ke bola mata hitam Digo. "Dan perlu ku tekankan. Malam ini aku bukan milikmu. Pernikahan kita di laksanakan esok hari. Jadi malam ini aku bebas melakukan apapun, termasuk menghubungi Niki--"
"Persetan dengan status. Malam ini ataupun besok sama saja bagiku. Kau akan tetap menjadi istriku." kemarahan Digo mulai memuncak. Deru nafasnya semakin cepat.
Sisi melemparkan senyum remehnya membuat kening Digo mengernyit. "Aku sekarang tau kenapa sampai sekarang kau belum menikah. Ternyata seperti ini caramu memperlakukan wanita. Pantas saja tidak ada yang mau dekat denganmu---"
"DIAM!" teriak Digo. Nyali Sisi langsung menciut mendengarnya. "Aku bahkan bisa membeli semua wanita di dunia ini. Dan kau lihat, salah satu dari mereka saat ini sudah ada di depanku." Digo menyeringai lebar.
Tangan Sisi rasanya gatal sekali ingin menampar Digo tapi cengkraman tangan Digo begitu kuat. "Kau memang bisa membeli tubuhnya tapi tidak dengan cintanya."
"Cinta? Aku bahkan tidak memerlukan hal itu. Mereka datang padaku, menawarkan tubuh mereka hanya demi uang. Lalu untuk apa aku mencari cinta? Cinta hanya akan mempersulit diriku."
"Niki benar, ternyata kau berubah. Kau bukan Digo yang dulu."
"Berhenti menyebut namanya di depanku." desis Digo.
Sisi kembali tersenyum, kali ini semakin lebar. "Kenapa? Nggak suka? Tutup saja telingamu dan keluar dari kamarku!"
Kali ini Digo yang tersenyum, membuat Sisi sedikit takut. "Buat apa aku menutup telingaku? Yang kulakukan hanyalah menutup mulutmu agar tak banyak bicara."
Sisi membelalak lebar saat tiba-tiba Digo mencium bibirnya. Sangat kasar dan tak ada kelembutan sama sekali. Kepala Sisi menoleh kesana kemari, mencoba menghindari serangan Digo.
Digo melepas ciumannya lalu menyatukan kedua tangan Sisi di atas kepala. Menggenggamnya erat. Satu tangannya lagi ia pakai untuk mencengkram dagu Sisi. Digo kembali melumat bibir Sisi dengan penuh nafsu.
Sisi berusaha tak membalas dan terus meronta. Mencoba menendang Digo tapi percuma saja. Bahkan kedua kakinya sudah di apit oleh Digo. Airmata Sisi menetes semakin deras saat ciuman Digo turun ke lehernya dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.
Srakk!
Tanpa sadar tangan Digo menarik piyama Sisi hingga robek di bagian pundak kirinya. Sisi terus berteriak dan meronta. Tapi siapa yang akan mau menolongnya?
Digo semakin brutal dengan aksinya. Isakan tangis Sisi mulai terdengar saat tangan Digo mendarat di salah satu dadanya. Sisi memejamkan matanya rapat-rapat dan bayangan wajah Niki terlintas begitu saja dalam benaknya.
"Niki---" panggil Sisi lirih di sela isak tangisnya.
Mendengar Sisi menyebut nama itu membuat Digo menghentikan aktifitasnya. Dengan gerakan cepat ia melepaskan cengkraman tangannya dan menarik dirinya. Matanya mengerjap beberapa kali dan menatap ke arah Sisi yang kini tampak menangis sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
Digo langsung beranjak dari tempat tidur Sisi dan tanpa berkata-kata lagi Ia keluar dari kamar Sisi.
"Niki." panggil Sisi lagi sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Digo terus-terusan mengumpat di dalam kamarnya. Nafasnya terlihat naik turun dan sesekali ia menjambak rambutnya.
Ia tak tau kenapa saat melihat wajah Sisi yang sedang menangis, keinginannya untuk meniduri wanita itu jadi hilang. Apalagi saat ia mendengar Sisi menyebut nama Niki.
Selama ini tak ada satupun wanita yang menolak cumbuannya. Mereka akan datang dan dengan senang hati menyerahkan tubuh mereka.
Digo berteriak frustasi. Pandangan matanya lalu beralih menatap hp yang tergeletak di atas nakas. Digo menyambarnya dan langsung menghubungi orang kepercayaannya.
"Kirim satu padaku. Yang masih virgin. Malam ini juga."
Digo langsung membanting hpnya ke lantai hingga tak berbentuk. Lagi dan lagi ia menjambak rambutnya sambil berteriak.
Malam ini ia akan menghabiskan malam dengan seorang wanita bayaran. Kebiasaan Digo selama ini. Dengan mudah Digo bisa mendapatkan wanita dan akan mencampakkannya sesuka hatinya.
***
Sisi menatap nanar ke arah jari manisnya. Sebuah cincin emas bertahtakan berlian melingkar di sana. Haruskah ia bahagia atau bersedih?
Menikah dengan Digo adalah satu-satunya cara melunasi hutang Niki. Satu-satunya cara menyelamatkan nyawa Niki.
Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah cermin. Menatap wajahnya yang tampak beda. Make up masih melekat di wajahnya.
Setelah acara sakral itu berlangsung, Sisi langsung di giring oleh beberapa pelayan Digo dan masuk ke dalam sebuah kamar. Kamar pengantin.
Kamar Digo yang sudah di sulap sedemikian rupa. Sisi jadi teringat kejadian semalam. Hampir saja Digo merenggut benda berharga miliknya. Semalam ia mungkin bisa lolos tapi bagaimana dengan kali ini?
Digo sudah sah menjadi suaminya dan Digo bisa berbuat lebih terhadap dirinya. Tak kan ada larangan karena mereka sudah terikat.
Pintu yang terbuka secara tiba-tiba membuat Sisi menoleh dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
Digo berdiri di ambang pintu dengan angkuhnya. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana. "Selamat datang di duniaku Prisi Revalina. Apa kau siap menjadi bagian dari hidupku?"
Sisi tak menjawab. Jemarinya terlihat meremas gaun yang ia pakai saat ini. Takut dan cemas campur jadi satu. Apakah malam ini ia bisa lolos? Hanya itu yang ada dalam pikiran Sisi saat ini.
Tanpa menutup pintu kamarnya Digo melangkah pelan menghampiri Sisi dan berdiri di depannya. Digo perlahan membuka jasnya di depan Sisi dan melemparnya asal. Melipat lengan bajunya hingga ke siku lalu bersedekap menatap Sisi yang masih saja menundukkan wajahnya.
Melihat Sisi tampak ketakutan membuat Digo semakin ingin berbuat lebih terhadapnya. "Apa kau takut?" bisik Digo tepat di depan wajah Sisi.
Sisi masih saja menunduk dan sesekali memejamkan matanya rapat-rapat. Airmatanya terasa ingin keluar.
Digo terkekeh pelan lalu melangkah memutari tubuh Sisi dan berdiri tepat di belakangnya. "Asal kau tau. Dalam urusan ranjang aku paling tidak suka ada perlawanan. Aku lebih suka seseorang menyerahkan tubuhnya untukku, tanpa paksaan. Apa kau bisa?"
Sisi tak menjawab. Tubuhnya semakin gemetar dan cengkraman tangannya semakin kuat meremas gaun pengantinnya.
"Diam tandanya kau belum siap. Oke. Aku akan memberimu sedikit pelajaran." Digo bertepuk sebanyak tiga kali dan sedetik kemudian seorang wanita muncul dan langsung masuk ke dalam kamar.
Wanita itu berjalan menghampiri Digo sambil meliuk-liukkan tubuhnya. Digo langsung menyambutnya dan memeluknya. "Kau wangi sekali malam ini." puji Digo membuat wanita itu tersipu malu.
Kepala Sisi terangkat dan menatap wanita yang kini ada di pelukan Digo. Digo menatap remeh ke arah Sisi lalu melepaskan kaitan tangannya di pinggang wanita itu.
Tangan Digo beralih memeluk pinggang Sisi dari belakang. Meletakkan dagunya di atas pundak Sisi dan membisikkan kata yang mampu membuat airmata Sisi lolos begitu saja.
"Malam ini akan ada pertunjukkan. Ku harap kau tidak melangkahkan kakimu keluar dari kamar ini. Ini pelajaran penting untukmu."
Setelahnya Digo melepaskan kaitan tangannya dan kembali menghampiri wanita itu. Tangan Digo dengan lihainya membelai tubuh wanita itu dan sesekali menciumnya. Wanita itupun dengan senang hati merespon Digo.
Bahkan kini wanita itu dengan beraninya melepas kemeja yang Digo pakai dan juga celana kain hitam itu.
Sisi rasanya sudah tidak kuat lagi melihat pemandangan di keindahan. Saat Digo mengangkat tubuh wanita yang sudah polos dan naik ke atas tempat tidur, Sisi memejamkan wajah kuat-kuat. Rasanya ia ingin lari dari sana. Tapi ia akan mengingat ancaman Digo.
Sisi terus memejamkan suara tetapi telinganya mampu mendengar dengan jelas suara-suara desahan dari mulut wanita itu juga suara desahan Digo.
Sisi baru tau, artinya ini yang dimaksud dengan pelajaran untuknya. Malam pertama mereka, Digo dihabiskan bersama wanita lain di sisi depan.
***
Sbya 05 Januari 2018