⚠warning: konten dewasa
***
Lani sesekali menoleh ke arah daun pintu kamar rawat inap Niki. Wajahnya terlihat cemas dan sesekali Lani terlihat menghela nafas panjang. Selamat hari ini Sisi datang dan menemuinya. Menjelaskan semuanya.
Lani benar-benar tak menyangka jika Sisi akan melangkah melampaui itu. Satu hari sebelum Sisi menikah dengan Digo, Digo menyuruh orang kepercayaannya untuk meminta Lani. Mengabarkan tentang berita pernikahannya dengan Sisi.
Hal itu tentu saja membuat Lani syok. Lani berpikir hubungan Sisi dengan Niki baik-baik saja. Awalnya Lani sempat marah dan akan mengambil Sisi ke rumah Digo. Tapi Niki menjelaskan semuanya. Alasan ia melepaskan Sisi untuk Digo.
"Sisi berhak bahagia, Ma. Dan Sisi akan bahagia jika hidup bersama Digo. Sisi tidak akan memiliki anak jika terus bersamaku. Aku tidak akan menerima istri dan anakku karena satu penyakit yang bersarang dalam tubuhku."
Lani ingat betul apa yang diminta Niki kemarin. Digo memiliki segalanya dan Sisi hidup akan dijamin jika bersama Digo. Tapi ada satu hal yang tak bisa Niki ungkapkan, tentang utang itu.
Sangat sulit rasanya menjelaskan kepada Lani. Biarlah rahasia itu ia simpan. Pernah, Niki puas putus asa dan ingin dibantu semuanya. Tapi Sisi selalu menerima semangat. Yakin jika semua ini akan berakhir dengan indah.
"Tunggu aku, Nik. Saat semuanya berakhir, aku akan kembali sama kamu. Kita akan memulai hidup seperti pasangan lain."
Niki tersenyum tipis mengingat kata-kata Sisi terakhir.
***
Hari pertama Sisi menjadi istri seorang konglomerat. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menyambar jepit rambutnya yang tergeletak di atas nakas.
Sisi duduk merenung di tepi tempat tidurnya. Setelah melewati malam yang menegangkan itu akhirnya Digo membiarkan Sisi keluar dari kamarnya.
"Keluarlah. Pelajaran Bab pertama sudah selesai. Untuk Bab selanjutnya tunggu tanggal mainnya!"
Sisi memejamkan matanya rapat-rapat sambil menggeleng pelan saat mengingat Digo mengusirnya. Ia lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Bab pertama sangat berat untuknya, apa yang akan terjadi Bab selanjutnya?
Tak mau terpuruk dalam pemikirannya, Sisi langsung mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower kamar mandi.
***
Langkah kaki Sisi terhenti saat tiba di depan pintu kamar Digo. Tangannya sudah melayang dan hampir saja mengetuk daun pintu itu. Tapi Sisi menghentikan pergerakannya.
Kejadian semalam masih terekam jelas dalam memorinya. Dan pagi ini ia tak ingin melihat Digo bersama wanita itu. Sisi membalikkan badannya dan melangkah menuju dapur. Membuat sarapan untuk Digo.
Sisi berkali-kali membuka tutup pintu kulkas raksasa itu. Sisi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berpikir apa yang akan ia lakukan dengan beberapa bahan mentah di depannya.
"Bisa di bantu, Nyonya?"
Sapaan seorang wanita paruh baya membuat kepala Sisi menoleh cepat. "Eh Bibi. Sisi bingung mau masak apa. Biasanya Digo makan apa ya kalo pagi gini?"
"Mister Digo biasanya sarapan roti bakar isi coklat keju dan segelas s**u coklat, Nyah." Sisi menganggukkan kepalanya lalu mulai menyiapkan sarapan untuk Digo. "Saya ikut bahagia, akhirnya Mister Digo menikah."
Sisi hanya tersenyum tipis. Mereka hanya melihat luarnya saja tanpa tau kenyataan yang sebenarnya. "Jangan panggil saya Nyonya ya, Bi. Panggil Non aja."
"Aduh Nyah. Saya takut nanti Mister Digo marah."
"Digo nggak akan marah kok, Bi. Bibi tenang aja." Sisi menyahut sambil tersenyum lembut.
"Coba kalau Mister Digo sudah menikah dari dulu, pasti rumah ini tidak akan sepi. Saya ingin sekali melihat Mister Digo menggendong seorang anak kecil."
Senyum lembut Sisi hilang seketika. Anak kecil? Sisi mengentikan aktifitasnya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Tujuan orang menikah adalah mempunyai keturunan tapi tujuan ia menikah dengan Digo untuk melunasi semua hutang Niki.
"Non Sisi menangis? Maafkan saya Non. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Non Sisi." Bibi Santi terlihat panik. Buru-buru ia mengambil selembar tisu yang ada di kotak tisu dan memberikannya ke arah Sisi.
Sisi meraihnya sambil tersenyum lembut. "Nggak apa-apa kok, Bi. Sisi cuman kangen aja sama suasana rumah." elak Sisi.
"Bibi benar-benar minta maaf ya, Non. Bibi tidak ada niatan seperti itu. Bibi mohon, Non Sisi jangan bilang sama Mister Digo soal ini."
Kening Sisi mengernyit melihat raut wajah Bi Santi yang tampak ketakutan. "Tenang aja Bi. Bibi nggak perlu takut gitu. Lagian Sisi juga nggak mungkin cerita sama Digo."
"Makasih Non Sisi. Non Sisi baik sekali. Beruntungnya Mister Digo punya istri secantik dan sebaik Non Sisi." puji Bi Santi membuat Sisi tersipu malu.
"Makasih ya, Bi."
Sisi kembali tenggelam dalam aktifitasnya. Roti bakar sudah tersaji di atas piring dan kini Sisi beralih membuatkan segelas s**u coklat panas untuk Digo.
Aktifitas Sisi terhenti saat matanya menangkap dua sosok keluar dari kamar Digo. Wanita itu tampak bermuka masam dan sesekali menghentakkan kakinya ke lantai.
Bi Santi ikut terpaku dengan pemandangan pagi itu. Kepalanya lalu menoleh pelan menatap wajah Sisi. Tak menyangka akan seperti ini. Bi Santi mengira jika tadi malam adalah malam paling bahagia bagi pasangan pengantin baru itu. Tapi perkiraannya salah saat ia melihat seorang wanita keluar dari kamar Tuan Besarnya.
"Pergi. Jangan tunjukkan lagi wajahmu di depan mataku." usir Digo sambil melempar beberapa lembar uang warna merah ke arah wanita itu. Entah berapa banyak uang itu, yang pasti wanita itu tampak memungut uang-uang itu dengan gerakan cepat. Wajahnya yang masam seketika berubah jadi cerah.
"Aku akan merasa terhormat jika kau mau mengundangku lagi." ucap wanita itu pelan lalu pergi meninggalkan Digo.
Sedetik kemudian mata Sisi dan Digo saling bertatap. Jantung Sisi rasanya berhenti berdetak. Tatapan mata Digo sungguh tajam dan terasa mengulitinya. Buru-buru Sisi memalingkan wajahnya dan kembali sibuk dengan s**u di tangannya.
Digo melangkah pelan menuju ruang makan dan langsung duduk di kursi. "Mana sarapanku!" serunya lantang.
Sisi langsung mengambil piring berisikan roti itu dan membawa s**u coklat panas untuk Digo. Meletakkannya di meja makan dengan sangat pelan. Kepalanya menunduk agar tak terjadi kontak mata lagi dengan Digo. Sisi hendak melangkah pergi tapi Digo menahannya.
"Tunggu sampai aku selesai memakan ini semua." titah Digo. Sisi hanya mengangguk tanpa menjawabnya. Digo langsung memakan roti di depannya. Mengunyahnya pelan sambil menatap ke arah wajah Sisi. "Siapa yang menyuruhmu membuat roti bakar isi coklat keju?"
"Ta-tadi Bibi yang bilang kalau kamu biasanya makan itu." jawab Sisi pelan.
Digo mendengus kasar lalu meletakkannya kembali roti itucdi atas piring. "Hari ini aku ada meeting penting. Biasanya pagi aku akan makan nasi agar bisa konsen saat meeting nanti. Sebelum membuat sarapan harusnya kamu tanya dulu jadwalku di kantor karena itu akan mempengaruhi kinerjaku nantinya."
Sisi hanya mengucapkan kata maaf yang sangat lirih. Sama sekali tak berani mengangkat kepalanya.
"Kenapa tadi pagi kamu tidak membangunkanku?"
"Ak-aku takut mengganggu waktumu dengannya."
"Lain kali aku tidak mau terima alasan apapun. Kau istriku, sudah seharusnya membangunkan suami saat pagi."
Sisi berucap maaf lagi dengan sangat lirih. Tangan Digo lalu meraih gelas porselen bergagang itu. s**u coklat favoritnya. Digo menyesapnya pelan tapi kemudian ia menyemburnya dan tepat mengenai wajah Sisi. Sisi sempat memejamkan matanya saat s**u itu mengenai matanya.
"Mau membunuhku?" bentak Digo membuat mata Sisi semakin terpejam rapat. "Ini panas sekali. Aku biasanya minum s**u hangat. Kemari!"
Sisi mendongak dan menatap manik mata Digo.
"Kau tuli? Aku bilang kemari." ulang Digo.
Sisi melangkah ragu mendekati Digo. Tiba-tiba Digo menarik tangan Sisi membuat tubuh Sisi lebih dekat dengan Digo. Tanpa Sisi duga, Digo langsung mencelupkan jemari Sisi ke dalam s**u coklat panas itu.
"AAAAWSSSH. PANAS!!" rintih Sisi. Airmatanya langsung merebak keluar.
Digo melepaskan genggaman tangannya dan langsung berdiri dari tempat duduknya, mengabaikan suara rintihan Sisi. "Hari ini kau benar-benar membuatku kacau. Nanti siang antarkan makan siangku ke kantor."
Setelah itu Digo melenggang pergi. Sisi kembali menatap tangannya yang kemerahan. Rasanya panas dan terbakar. Bi Santi yang mengetahui kejadian itu langsung berlari menghampiri Sisi sambil membawa kotak obat.
"Ampun, Non. Maafkan saya. Saya benar-benar lupa kalau Mister Digo tidak suka s**u panas." seru Bi Santi sambil menuntun Sisi untuk duduk. Bi Santi dengan gesit membuka kotak obat dan langsung mengoles salep ke tangan Sisi. Setelah itu Bi Santi mengambil perban dan membalut jemari Sisi yang kemerahan.
"Nggak apa-apa kok, Bi. Bukan salah Bibi juga. Tadi akunya aja yang nggak tanya sama Bibi." Sisi mencoba tersenyum walaupun perih di tangannya terasa mengaduk-aduk perutnya.
Ia harus bisa. Ia harus kuat. Semua untuk Niki dan orangtuanya.
***
Sisi menginjakkan kakinya di kantor Digo. Semua orang yang bertatap muka dengannya langsung memberi hormat dan salam. Mereka semua tau jika di depannya ini adalah istri dari Aldigo Fahrezi. Konglomerat di kota ini.
Sisi menaiki lift bersama satu pengawal kepercayaan Digo. Pengawal itu menuntun langkah Sisi menuju ruang kerja Digo.
"Silahkan Nona Sisi. Mister Digo ada di dalam." ucap pengawal itu sambil membukakan pintu untuk Sisi.
Sisi mengangguk pelan lalu melangkah masuk. Yang Sisi lihat bukanlah sebuah meja lengkap dengan komputernya dan beberapa tumpukan berkas seperti ruang kerja pada umumnya. Sisi melihat ada sebuah tv berukuran besar dan sederet sofa memanjang di depannya.
Kepala Sisi menoleh mencari dimana Digo berada. Matanya lalu menangkap sebuah pintu coklat tak jauh dari tempatnya. Sisi melangkah cepat karena tak ingin Digo menunggunya.
Dengan gerakan cepat ia memutar knop pintu dan mendorongnya. Seketika mata Sisi membulat saat menatap dua sosok di depannya.
Digo bersama seorang wanita. Bukan wanita yang menemani tidurnya semalam.
"Siapa dia, Digo?" tanya wanita itu sambil menatap sinis ke arah Sisi.
Digo dengan kasar melepaskan kaitan tangan wanita itu yang mengalung di lehernya lalu menghampiri Sisi, berdiri di belakangnya dan langsung memeluk pinggang ramping Sisi.
Sisi sempat berjengkit kaget karena perlakuan Digo yang tiba-tiba. Digo meletakkan dagunya di atas pundak Sisi dan menatap remeh ke arah wanita itu. "Dia istriku, Prisi Fahrezi. Tapi aku lebih suka memanggilnya Sisi. Itu nama kesayangan yang aku berikan untuknya. Cantik bukan?"
Seketika raut wajah wanita itu berubah masam. Tanpa mengatakan apa-apa lagi wanita itu melenggang pergi meninggalkan ruangan Digo.
Setelah kepergian wanita itu, Digo melepaskan kaitan tangannya dan melangkahkan kakinya menjauhi Sisi. Berdiri sambil menyandarkan dirinya di sebuah meja. Tangannya bersedekap. "Kau telat 5 menit."
Sisi menelan salivanya pelan. Perubahan sikap Digo begitu ekstrim. Kali ini Digo kembali ke Digo yang ia kenal. Dingin dan membahayakan. "Maaf. Tadi macet---"
"Kau bisa berangkat lebih awal kan? Aku sudah muak dengan wanita-w*************a itu." Digo melemparkan pandangnya ke arah lain.
Sisi lalu melangkah menuju sofa di sudut ruangan. Meletakkan bekal di meja dan dengan telaten Sisi menyiapkan makan siang untuk Digo. Bau masakan yang harum membuat Digo beranjak dari tempatnya dan menghampiri Sisi.
Digo lalu mengambil duduk di sebelah Sisi. Matanya terus mengawasi setiap pergerakan Sisi.
"Ini. Makanlah." Sisi menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya ke arah Digo. Dari aromanya saja Digo sudah bisa menebak jika makanan itu sangat lezat.
"Kau yang membuatnya?" tanya Digo tak percaya.
Sisi mengangguk pelan. "Iya. Makanlah." jawabnya dengan pandangan menunduk.
Digo terdiam sambil mengamati wajah Sisi. Jika di lihat secara dekat seperti ini wajah Sisi tidak seburuk yang Digo pikirkan. Bulu mata lentik dan bibir tipis. Digo tersenyum miring. Tangannya terulur menyentuh dagu Sisi membuat Sisi mendongak dan menatapnya.
"Laparku sudah hilang 5 menit yang lalu. Bagaimana kalau aku makan menu yang lain saja?"
Mata Sisi melebar saat dengan gerakan cepat tangan Digo menyambar piring di tangannya dan meletakkannya di meja. Lalu dalam hitungan detik saja Digo mampu membuat tubuh Sisi berpindah tempat.
Sisi duduk di atas pangkuan Digo, kedua tangannya sudah mengalung di leher Digo. Sementara kedua tangan Digo melingkar di pinggang Sisi. "Kau takut padaku?"
Sisi menggeleng pelan membuat Digo tersenyum culas. Sebenarnya Sisi takut. Takut karena ini pengalaman pertamanya. Semenjak menikah dengan Niki, mereka belum pernah seintim ini.
Tangan Digo merembet naik mengusap punggung Sisi. Sisi sedikit menggeliatkan tubuhnya saat ia merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya.
Digo adalah orang pertama yang menyentuhnya. Dan Sisi semakin bergerak gelisah saat tangan Digo menelusup masuk ke dalam baju yang Sisi pakai. Hangat telapak tangan Digo menyentuh kulit mulus Sisi. Sisi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan desahan yang mendesak ingin keluar.
"Rupanya nafsumu tinggi juga. Baru seperti ini saja kau sudah kelimpungan."
Wajah Sisi memerah karena menahan malu juga birahinya yang tiba-tiba memuncak. Pantas saja tak ada wanita yang menolak tidur dengan Digo. Sentuhan Digo sangat memabukkan.
"Aaaaakh," Sisi sudah tidak kuat lagi menahannya. Desahan itu keluar saat jemari tangan Digo menyentak kaitan bra Sisi. Membuatnya terlepas. Tangan Digo yang satunya bekerja juga. Mengelus pelan kaki mungil Sisi. Menyentuhnya perlahan dari bawah ke atas, begitu seterusnya.
Sisi semakin menggeliatkan tubuhnya. Tanpa malu Sisi langsung menyambar bibir merah Digo. Menciumnya dengan penuh nafsu. Sisi tak tau kenapa ia bisa berbuat sejauh itu. Mungkin efek rangsangan yang diberikan oleh Digo.
Digo tersenyum tipis di sela-sela ciumannya. Tidak susah membuat wanita takluk akan sentuhannya. Digo memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Sisi. Tangannya yang tadinya mengusap kaki Sisi kini berpindah tempat.
Telapak tangan hangat itu meremas pelan gundukan yang ada di balik baju Sisi. Membuat si empunya mendesah tertahan. Tangan Digo semakin nakal dan bahkan sudah menelusup masuk ke dalam baju Sisi.
Sisi sedikit terlonjak kaget saat tangan Digo yang besar dan hangat itu meremas payudaranya. Tanpa halangan kain ataupun benda sejenisnya.
Digo melepas pagutan bibirnya dan beralih menyesap leher mulus Sisi. Meninggalkan beberapa kissmark di sana. Sisi semakin terbuai akan perlakuan Digo. Tangannya meremas rambut belakang Digo dan sesekali mendesah.
Kedua mata Sisi terpejam rapat. Saat muncul bayangan wajah Niki muncul. Ia juga teringat akan kejadian tadi pagi. Dengan mudahnya Digo membuang wanita yang sudah menghabiskan malam untuk membantunya.
Sisi dibuka balik lebar-lebar. Tidak. Aku bukan mereka dan aku tidak akan menyerahkan mahkotaku untuk laki-laki seperti b******k Digo.
Sisi mendorong keras d**a Digo lalu bangkit dari pangkuan Digo. Digo yang masih mengubah hawa nafsu terlihat syok atas tindakan tiba-tiba Sisi.
"Maaf. Aku harus pulang." putus Sisi setelah membenarkan bajunya yang rusak karena ulah Digo.
Sisi langsung keluar meninggalkan Digo. Sungguh ia belum siap jika harus melakukan itu dengan Digo. Sisi tidak ingin nasibnya sama seperti wanita yang selama ini menemani Digo tidur.
***
Sbya 06 Januari 2018