***
Sisi menunggu kepulangan Digo dengan cemas. Cemas karena kejadian tadi siang. Apa yang akan terjadi nanti saat Digo pulang? Apa Digo akan marah disetujui? Dihabiskan siang lalu meninggalkan Digo begitu saja.
Sisi duduk di kursi sambil makan menyangga dagunya. Sudah hampir jam 8 malam tapi Digo belum pulang juga.
"Non Sisi, lebih baik Non istirahat di kamar saja. Nanti kalau Mister Digo sudah pulang aku panggil." Bi Santi datang dari arah dapur sambil membawa segelas teh hangat untuk sisi dan meletakkannya di meja.
"Makasih ya, Bi. Aku nunggu di sini aja. Takutnya nanti aku malah ketiduran kalo nunggu di kamar."
"Di minum dulu, Non. Biar anget."
Sisi menganggukkan menyambut dan meraih secangkir teh hangat di disambut. Meminumnya sedikit. "Berapa kali Digo pulang jam berapa, Bi?"
"Biasanya jam 5 sudah sampai di rumah, Non dan jam 6 Mister Digo sudah mulai makan malam."
Sisi menganggukkan diaktifkan beberapa kali. Kira-kira kemana perginya Digo?
Perhatian Sisi dan Bi Santi teralihkan karena mendengar suara langkah kaki seseorang. Bi Santi langsung buru-buru pamit ke belakang.
Sisi berdiri dari kursinya saat mendapati Digo melewati ruang tengah sambil memeluk seorang wanita.
Wanita lagi? Gumam Sisi dalam hati.
Malam ini apa Digo akan dihabiskan malam dengan wanita bayaran lagi? Pandangan mata Digo menuju wajah Sisi. Datar dan tak ada ekspresi apapun.
"Bawakan makan malamku ke kamar. Sekarang juga." titah Digo sambil berlalu dari pertemuan Sisi. Membawa masuk wanita itu ke kamarnya.
Sisi langsung menyiapkan makan malam untuk Digo. Meletakkannya di atas nampan dan membawanya ke kamar Digo. Sisi terdiam di depan pintu kamar Digo. Bingung, antara masuk atau tidak.
Di dalam sana ada seorang wanita. Mungkin saja saat ini Digo sedang melakukan 'itu' lagi dengan wanita itu. Sisi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kalau tidak masuk Digo pasti akan marah juga.
Sisi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum ia memutar knop pintu kamar Digo. Tangannya sedikit gemetar saat daun pintu itu perlahan terbuka. Kakinya terasa berat melangkah.
Kepala Sisi mendongak dan mendapati wanita itu duduk di atas tempat tidur Digo sambil membaca sebuah majalah. Beberapa detik pandangan mereka saling bertemu lalu dengan cepat Sisi mengalihkan pandangannya.
Sisi meletakkan makanan itu di atas meja di sudut kamar. Digo tidak ada di dalam kamar tapi Sisi bisa mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Dengan tergesa Sisi melangkah hendak keluar kamar.
"Tunggu," suara wanita itu membuat langkah Sisi terhenti. "Digo menyuruhmu untuk menunggu."
Sisi menelan ludahnya perlahan. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian dan bermaksud mengambilkan baju ganti untuk Digo. Sebuah piyama warna hitam sudah ada di tangan Sisi.
Bau sabun dan shampoo seketika menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Sisi. Sisi menoleh dan mendapati Digo keluar dari kamar mandi hanya dengan membelitkan handuk putih di bagian bawah tubuhnya.
Cengkraman tangan Sisi di piyama Digo semakin mengerat saat langkah kaki Digo mendekat ke arahnya. Sisi mundur tapi hanya beberapa langkah karena punggungnya menubruk pintu lemari. Digo semakin mendekat dan berdiri di depan Sisi.
Air dari ujung rambut Digo menetes pelan membuat Sisi tanpa sadar menelan salivanya. Di mata Sisi, Digo begitu sexy dan menarik. Pesona yang ia miliki memang begitu kuat. Apalagi d**a polos Digo dan perutnya yang terlihat seperti roti sobek.
Salah satu sudut bibir Digo tertarik ke atas, mencetak senyum miring yang mengerikan. "Sudah puas melihatnya?" tanya Digo pelan. "Kau akan menerima hukuman atas perbuatanmu tadi siang." bisik Digo lirih.
Untuk kesekian kalinya Sisi menelan salivanya. Entah apa yang terjadi selanjutnya, Sisi tidak bisa menebak. Dan Sisi semakin bingung saat Digo melangkah menjauhinya. Tangannya malah terulur ke arah wanita yang kini sudah berdiri di sebelah tempat tidur Digo. Wanita itu melangkah mendekati Digo dan menyambut uluran tangan Digo.
Tangan Digo langsung melingkar di pinggang wanita itu. Memeluknya sangat erat dan di balas oleh wanita itu dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Digo.
Kedua bola mata Digo masih menatap Sisi. Tapi senyumnya semakin lebar. "Ini adalah pelajaran Bab Kedua. Simak baik-baik agar suatu saat nanti kau bisa melakukannya dengan baik."
Setelah mengatakan itu Digo langsung melumat bibir wanita yang kini berada di pelukannya. Mata Sisi membulat dan mulutnya menganga. Masih tidak percaya dengan apa yang Digo lakukan.
Tangan Digo menarik handuk yang di pakainya dan melemparnya ke arah Sisi. Bersamaan dengan itu Sisi membalikkan badannya sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Ia sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Suara-suara itu kembali terdengar oleh Sisi. Suara yang sangat menyakitkan bagi Sisi.
***
Hari Selasa adalah jadwal Sisi untuk menemui keluarganya. Setelah membersihkan dirinya, Sisi langsung menuju kamar Digo.
Mereka sudah menikah tapi tidur mereka terpisah. Digo tidak meminta Sisi untuk tidur satu kamar dengannya dan Sisi juga tidak berharap semua itu terjadi.
Sisi membuka pintu kamar Digo perlahan. Mengetukpun percuma karena Digo tidak akan mendengar panggilannya. Ia hanya berharap jika saat ini Digo tengah tidur sendirian di kamarnya.
Sisi menghela nafas lega saat tak melihat wanita asing di dalam kamar Digo. Ia lalu menutup pintu kamar Digo dan melangkah menghampiri Digo yang masih bergelung di balik selimut tebalnya.
Tangan Sisi terulur perlahan. Ia bingung dengan cara apa ia membangunkan Digo. Akhirnya Sisi menarik lagi tangannya dan sedikit membungkukkan badannya.
"Digo. Bangun!" panggil Sisi dengan suara pelan. Tak ada gerakan dari tubuh Digo bahkan matanya masih terpejam rapat. "Digo. Bangun!" ulang Sisi.
Sisi menunggu beberapa detik dan tetap hening. Kening Sisi mengernyit. Haruskah ia membangunkan Digo dengan cara menyentuhnya. Sisi jadi flashback ke kejadian kemarin. Insiden di kantor Digo.
Sisi kembali menatap wajah Digo yang tampak tenang. Tak ada raut wajah mengesalkan. Sifat dingin dan arogannya seakan hilang yang ada hanyalah wajah imut dengan bulu mata lentik.
Sisi tersenyum tipis menatap wajah Digo. "Kalo tidur gini, sebenarnya muka kamu nggak nyeremin." gumam Sisi pelan. Sisi lalu duduk di tepi tempat tidur dan mencoba kembali membangunkan Digo.
"Digo. Bangun!" kali ini Sisi menyentuh lengan Digo dan menggoyangkannya pelan. Digo hanya bergumam pelan dengan kedua mata tertutup rapat. "Kebo banget ternyata." gerutu Sisi.
Sisi beranjak dari duduknya dan melangkah menuju jendela kamar Digo. Sisi menyibak gorden berwarna abu-abu itu. Seketika cahaya matahari masuk menerangi kamar Digo.
Digo refleks mengangkat tangannya dan menutupi wajahnya. Matanya terbuka sedikit dan menyipit menatap seseorang yang kini tengah berjalan ke arahnya.
"Sudah pagi. Hari ini ada jadwal meeting tidak?" tanya Sisi langsung. Ia tak mau mengulangi kesalahannya seperti kemarin. Dengan mengetahui jadwal Digo maka ia bisa membuat menu sarapan untuk Digo.
Digo tidak menjawab, ia hanya menggeleng pelan. "Tutup lagi gorden itu. Kepalaku pusing!" titah Digo. Sisi mendengus pelan lalu kembali menutup gorden abu-abu itu.
"Hari ini hari Selasa. Aku akan pulang menemui Niki dan Ibuku." pamit Sisi sambil melangkah keluar kamar.
"Tunggu!" cegah Digo. Sisi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Digo. "Aku antar." putus Digo sambil beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi. "Siapkan baju casual!" teriak Digo dari dalam kamar mandi.
Sisi memutar bola matanya malas. Ia lalu melangkah menuju lemari pakaian Digo dan mengambil baju casual sesuai perintah Digo.
"Jangan keluar dari kamar sebelum aku selesai mandi!" Digo berteriak lagi. Sisi mendengus pelan. Padahal ia berencana menyiapkan sarapan untuk Digo.
Sisi mulai jenuh menunggu Digo. Akhirnya ia memutuskan untuk membereskan tempat tidur Digo dan beberapa baju yang tergeletak tak sesuai tempatnya. Beberapa tumpukan buku juga sedikit berantakan. Sesekali ia menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Mandi atau pingsan?" gerutunya pelan saat Sisi menyadari Digo berada di kamar mandi sudah hampir setengah jam.
"Apa kamu masih lama? Aku akan keluar dan menyiapkan sarapan untukmu---"
"Kau akan tau akibatnya kalau selangkah saja meninggalkan kamar ini." ancam Digo.
***
Sisi mendengus kasar karena merasa bosan menunggu. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Tangannya sudah memegang knop pintu dan hampir memutarnya.
"Apa telingamu perlu diperbaiki?"
Sisi terlonjak kaget saat mendengar suara itu. Digo berdiri diambang pintu kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah. Dadanya polos tanpa sehelai benangpun. Digo hanya memakai handuk untuk menutupi bagian intimnya.
Kenapa Digo suka bertelanjang d**a? Pikir Sisi.
Sisi kembali terdiam di tempatnya dan menunggu Digo untuk ganti baju. Sesekali Sisi memejamkan matanya saat Digo memakai celananya di depan Sisi.
Digo hanya tersenyum miring melihat ekspresi Sisi melihat dirinya telanjang.
***
Setelah sarapan Digo mengantar Sisi ke Rumah Sakit. Niki masih di rawat di sana dan keadaannya masih sama. Sisi sudah tidak kuat lagi menahan emosi di dadanya saat melihat Niki masih saja terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
"Jangan nangis. Aku nggak pa-pa kok." hibur Niki sambil menyeka airmata yang meleleh di pipi Sisi.
Digo berdehem keras saat melihat Niki menyentuh Sisi. Ia menyilangkan tangannya dan sengaja memperlihatkan jari manisnya yang terpasang cincin pernikahan dirinya dan Sisi. "Hormati milik orang lain." ucap Digo dingin.
Niki tersenyum tipis dan langsung menarik tangannya. Ia tau, ia sudah tidak berhak atas Sisi. "Selamat ya atas pernikahannya. Maaf aku nggak bisa dateng waktu itu."
Sisi tersenyum dengan airmata yang terus terurai. "Gimana keadaan kamu?" tanya Sisi, mengabaikan ucapan Niki yang membahas tentang pernikahannya dengan Digo.
"Lumayan. Aku harus banyak istirahat. Kamu---"
Ucapan Niki terputus karena suara deritan pintu kamar Niki yang terbuka. Lani muncul dan mulutnya terbuka lebar saat mendapati Sisi ada di dalam kamar Niki.
"Sisi / Mama!" pekik keduanya hampir bersamaan. Sisi langsung beranjak dari duduknya dan berlari menubruk tubuh Lani. Memeluknya sangat erat.
"Mama kangen banget sama kamu, sayang. Kamu sehat kan?" Lani mengurai pelukannya. Tangannya mengelus lembut rambut Sisi. Sisi hanya mengangguk sambil menyeka airmatanya. "Itu--suami kamu?" tanya Lani sambil menatap ke arah Digo.
"Iya, Ma. Maaf kemarin aku nggak bisa nengokin Mama dan maaf acara pernikahannya terkesan dadakan." jelas Sisi.
Lani tersenyum lembut dan kembali membelai rambut Sisi. "Iya nggak apa-apa. Mama ngerti kok. Dia baik kan?" bisik Lani di telinga Sisi. Sisi hanya mengangguk.
Suara deringan hp Digo membuat semua kepala menoleh ke arahnya. Digo mengernyit sebelum menerima panggilan itu. "Apa lagi? Aku sudah bilang dari awal, aku tidak mau menanam saham di sana."
Digo memutuskan untuk keluar dari kamar Niki. Suaranya tenggelam bersamaan dengan pintu kamar Niki yang tertutup. Sisi menghela nafas panjang dengan raut wajah yang masam.
"Apa Digo kasar padamu?" tanya Niki saat melihat wajah kusut Sisi. Seketika Sisi menggeleng sambil tersenyum.
"Digo baik kok. Baik banget malahan," ucap Sisi sambil tersenyum paksa. "Tapi sepertinya aku nggak bisa cinta sama dia." Wajah Sisi kembali lesu.
Lani ikut menghela nafas panjang melihat putri semata wayangnya. Niki menepuk punggung tangan Sisi, memberinya semangat. "Bukan nggak bisa, Si. Tapi belum bisa."
Melihat Niki tersenyum membuat Sisi ikut menyunggingkan senyumnya. Sisi lalu meraih jemari tangan Niki dan menggenggamnya. "Aku percaya pada takdir. Sejauh apapun aku melangkah, nanti pada akhirnya aku juga akan kembali padamu."
Lani hanya bisa tersenyum pahit melihat Sisi dan Niki. Airmata Lani berdesakan ingin keluar. Akhirnya ia memilih untuk pergi keluar dari kamar Niki.
Niki tersenyum dan tangannya membelai lembut pipi chubby Sisi. "Jujur. Aku kangen banget sama kamu."
Lagi dan lagi airmata Sisi berlinang. Sisi menarik tangan Niki yang di berada dalam genggamannya lalu menciumnya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi gerak gerik mereka berdua.
Digo berdiri di ambang pintu kamar Niki dengan kedua tangan mengepal rapat. Amarahnya tiba-tiba memuncak saat melihat kemesraan antara Sisi dan Niki.
"Sudah selesai. Ayo kita pulang." Digo menarik tangan Sisi dan menyeretnya keluar.
"Digo. Lepasin!" Sisi berontak tapi sambil memukul lengan Digo. Tapi Digo tak mempedulikan teriakan Sisi dan membawa Sisi pergi. Niki hanya bisa diam dan berusaha meredam emosinya. Sebenarnya dalam hati ia ingin marah melihat perlakuan kasar Digo. Tapi Niki tak berdaya. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk Sisi.
***
Digo melempar tubuh Sisi hingga Sisi terpelanting dan akhirnya mendarat di tempat tidurnya. Digo membawa Sisi pulang ke rumah.
"Digo sakit." rintih Sisi sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
"Sadar tidak apa kesalahanmu?" hardik Digo. Sisi mengkeret dan memilih diam. Kalau di jawab tidak mungkin bisa membuat Digo diam dan melupakan kemarahannya. "Kau sudah punya suami. Apa pantas bermesra-mesraan dengan laki-laki lain?"
Seketika Sisi mendongak dan menatap Digo. Entah keberanian darimana Sisi bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Digo. "Lalu apa bedanya sama kamu?"
Kening Digo mengernyit menatap ke arah Sisi.
"Kamu sudah menikah tapi apa yang kamu lakukan itu lebih gila. Apa pantas seorang suami membawa wanita lain masuk ke dalam kamarnya dan melakukan 'itu' di depan mata istrinya?"
Bukannya marah tapi Digo malah tersenyum miring. "Melakukan apa maksudmu?" tanya Digo.
Seringaian di wajah Digo membuat Sisi sadar. Ia sekarang sedang menghadapi seorang laki-laki dingin dan arogan. Bisa saja saat ini keadaan Sisi yang terancam. "Ma-maksud aku. Mela--melakukan---"
"Kenapa gugup begitu? Apa kamu juga ingin melakukannya?" tawar Digo. Sisi menggeleng cepat dan melangkah mundur. Digo terus mengikuti langkahnya. "Bilang saja kalau sebenarnya kau juga ingin melakukan itu denganku."
Sisi kembali menggeleng dan ia memekik kencang saat Digo mendorong tubuhnya dan mendarat di atas tempat tidurnya. Dalam hitungan detik saja tubuh Digo sudah berada di atas tubuh Sisi.
"Sudah paham dengan pelajaran yang aku berikan? Bagaimana kalau kita praktekkan sekarang?"
Sisi panik dan menggeleng cepat. Tapi tangan Digo langsung mencengkram dagu Sisi dan bibir merahnya menyambar cepat bibir tipis Sisi. Sisi terus meronta dan mendorong d**a Digo.
"Diamlah!" titah Digo sambil mencekal lengan Sisi. "Ini akan berlangsung cepat jika kau tidak berontak." Digo kembali menghujani Sisi dengan ciuman panasnya.
Habis sudah kesabaran Digo kali ini dan ia akan menghabisi Sisi saat ini juga. Dua malam bersama dengan seorang wanita bayaran sama sekali tidak membuat Digo puas. Entah kenapa wajah Sisi yang Digo bayangkan saat bercinta dengan wanita-wanita itu.
Wajah yang menghantui pikirannya beberapa tahun ini. Prisi Revalina.
Tok!
Tok!
Tok!
Digo memalingkan wajahnya menatap daun pintu kamar Sisi dan disana berdiri seorang pengawal kepercayaannya. "Maaf Mister Digo. Ada masalah darurat di kantor. Anda harus segera pergi ke sana." jelas pengawal itu sambil menundukkan pandangannya.
"Sial!!" umpat Digo sambil menjauhkan dirinya dari tubuh Sisi. Digo lupa jika pintu kamar Sisi masih terbuka. Andai saja ia tidak lupa mengunci pintu itu, sudah dipastikan Sisi akan habis di tangannya. "Siapkan mobil. Aku akan segera menyusul."
"Baik Mister Digo." pengawal itu pamit undur diri dan tidak lupa menutup pintu kamar Sisi.
Digo kembali menatap Sisi yang kini tengah duduk di tepi tempat tidur sambil membenarkan bajunya yang sedikit berantakan.
"Kali ini kau selamat. Tapi tidak untuk lain waktu."
Digo melenggang pergi. Sisi hanya bisa terdiam sambil menyeka airmatanya.
Ya Hari ini ia memang bisa selamat. Tapi bagaimana dengan esok dan seterusnya?
***
Sbya 07 Januari 2018