JKJI 10

1277 Kata
*** Digo dilarutkan di atas kursi kebesarannya. Hari ini ia datang terlambat karena harus mengantar Sisi datang Niki dan Ibunya. Digo harus memberikan kesan baik pada pertemuan pertama. Ia mengacak-acak rambutnya sambil memekik pelan. Berkali-kali usahanya gagal saat ingin Sisi. Ada saja penyebabnya. Padahal Digo ingin sekali memiliki Sisi seutuhnya. Digo menyandarkan pengaruh di kursi, pandangannya menerawang jauh. Mengingat kenangan beberapa tahun yang lalu. Kenangan yang membuat ia terjatuh pada pesona seorang wanita cantik dengan tubuh mungil. Sejak saat itu Digo memantabkan kemenangan akan terus menghargai wanita itu. Tapi harapannya seakan pupus saat mengetahui wanita itu telah memiliki tambatan hati. Mengambil hal itu membuat Digo mengepalkan yang diambil. Amarahnya semakin naik saat ia memahami Nikilah yang menjadi pilihan hati wanita pujaannya. Cinta yang tulus akhirnya berubah menjadi obsesi. Dan obsesinya saat ini sudah disetujui. Digo menyunggingkan senyumnya saat menyadari wanita pujaannya dulu kini sudah menjadi miliknya. "Tak ada hal yang tidak bisa kudapat." ucapnya sambil menyeringai lebar. *** Sisi tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Digo. Hampir setiap malam ia membawa wanita pulang ke rumah dan bukan wanita yang sama setiap membawa. Kalaupun tidak bersama wanita, Digo kadang larut malam dengan menginap. Sisi hanya bisa apa? Mau protespun ia tak menantang. Apa yang ia lakukan di sini hanyalah menjadi istri Digo agar semua hutang Niki lunas. Tapi apa hubungan mereka layak di panggil suami? Mereka tidak pernah tidur satu kamar. Digo selalu membawa wanita bayaran dan menghabiskan malam dengannya. Sisi merasa ia seperti seorang asisten pribadi untuk Digo. Menyiapkan segala kebutuhan Digo mulai dari Digo bangun sampai kembali tidur di malam hari. Tapi Sisi tidak pernah mengeluh. Apa yang dilakukannya saat ini semata-mata untuk menebus semua hutang Niki. Hatinya tetap ia labuhkan pada satu nama. Niki Abimanyu. *** 2 minggu setelah pernikahan mereka, Sisi mendapat kabar buruk tentang keadaan Niki. Dokter sudah angkat tangan dan menyarankan Niki untuk dibawa berobat ke Luar Negeri. Harapan Sisi hanya Digo. Hanya Digo yang bisa membantunya. Pagi itu setelah dari Rumah Sakit, Sisi langsung meluncur ke tempat kerja Digo. Tujuannya hanya satu, meminta pertolongan Digo. "Jam makan siang masih lama, kenapa bisa ada disini?" tanya Digo saat melihat Sisi masuk ke dalam ruangannya. Sisi melangkah pelan mendekati Digo yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Sisi menghentikan langkahnya dan berdiri di samping meja Digo dengan posisi kepala menunduk. Kedua tangannya saling bertautan. "Aku--aku mau minta tolong sama kamu." ucap Sisi lirih. Alis Digo terlihat saling bertautan. "Minta tolong? Soal apa?" "Soal---soal Niki." Digo mendengus pelan lalu menyandarkan punggungnya di kursi. Ia memainkan pulpen di tangannya dengan mengetukkan ke dagunya. "Bukankah aku sudah menanggung semua biaya pengobatannya? Masih kurang apa lagi?" "Niki--Niki kritis dan perlu dibawa ke Luar Negeri." Hening. Tak ada jawaban dari mulut Digo tapi sedetik kemudian tawa Digo pecah, menggema memenuhi ruangan. "Kau bercanda?" Kedua mata Sisi memanas dan akhirnya luruh juga airmatanya. "Aku mohon. Tolong Niki." pinta Sisi. Tawa Digo mereda perlahan. Ia menghentikan ketukan pulpen di dagunya dan menatap tajam ke arah Sisi. "Apa aku tidak salah dengar? Hutang yang kemarin saja belum lunas dan sekarang kau mau menambah lagi? Gila." "Aku akan lakukan apapun untuk membayarnya." seru Sisi tiba-tiba. Pandangan mata Digo semakin tajam. Raut wajahnya berubah serius. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di depan Sisi. "Kau tau? Dari awal aku bahkan belum menyentuhmu. Ada saja halangan dan kau terus menghindar. Apa aku harus mempercayaimu?" Sisi menganggukkan kepalanya sekali. "Aku akan tepati janjiku. Aku akan---akan menyerahkan semuanya untukmu." Salah satu sudut bibir Digo terangkat ke atas. Masih belum percaya dengan janji Sisi. "Sayangnya aku tidak bisa percaya dengan mudah. Mungkin aku akan berubah pikiran kalau kamu bisa membuktikannya padaku sekarang." Kepala Sisi terangkat seketika. Mulutnya menganga mendengar ucapan Digo. "Aku serius. Aku membutuhkan pertolonganmu saat ini juga. Ini soal nyawa Niki---" "Aku juga serius," potong Digo. "Ini menyangkut hasrat--" PLAK! Tanpa sadar Sisi melayangkan tangannya dan menampar keras pipi kiri Digo. "Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang tak mempunyai hati sepertimu? Di saat seperti ini kau lebih memikirkan hubungan seks daripada nyawa orang lain. Apa karena malammu selalu di kelilingi oleh wanita panggilan?" Airmata Sisi jatuh berderai. Ia berkali-kali mengusapnya dengan punggung tangannya. Pucuk hidungnya terlihat memerah. Digo diam sambil meraba pipinya yang terasa panas. Dengan gerakan tiba-tiba, Digo menarik pinggang ramping Sisi dan mengunci tubuhnya. "Digo lepasin!" Sisi mendorong d**a bidang Digo dengan sekuat tenaga. Sisi terus meronta walaupun tubuhnya sama sekali tak bisa terlepas dari kaitan tangan Digo yang melingkar di pinggangnya. "Sebuah tamparan dan kau akan membayar mahal karena itu." Digo langsung mencium bibir Sisi dengan kasar. Sementara Sisi berusaha mengelak. Kedua tangannya mendorong keras d**a Digo. Digo tak tinggal diam. Tangannya beralih mencengkram lengan Sisi dan menyatukannya di balik punggung Sisi. "Sakit, Digo. Lepasin!" teriak Sisi lagi. Digo sama sekali tak mempedulikan teriakan Sisi bahkan Digo mendorong tubuh Sisi dan mendarat di sofa sudut ruangan. Posisi tubuh Sisi yang tertindih membuat Sisi tak bisa bergerak banyak. Ia hanya bisa menangis dan memohon agar Digo melepaskannya. Agar tak lepas dari cengkramannya, Digo duduk di atas perut Sisi. Tangan kirinya masih mengunci kedua tangan Sisi dan meletakkannya di atas kepala. Sementara tangan kanan Digo berusaha melepas ikat pinggangnya. "Aku sudah sabar menantimu. Dan inilah saatnya." Digo melempar ikat pinggangnya begitu saja. Dasi yang membelit kerah bajunya juga ia lepaskan. Sisi terus meronta dalam cengkraman Digo. Berteriak dan kadang memaki. Tapi akal sehat Digo sudah dipengaruhi oleh nafsu. Digo tak memikirkan keadaan Sisi yang terus menangis. Digo kembali mencium bibir Sisi dengan ganas dan tangannya mulai bergerilya menjamah tubuh Sisi. "Digo aku mohon, hentikan!" lirih Sisi. Airmatanya terus berderai. "Aku--aku mohon." pinta Sisi saat bibir merah Digo mengeksplor leher mulusnya dan menggigitnya kecil. Sisi merasakan sesuatu yang beda, yang selama ini belum pernah ia rasakan. "Stop. Please!" ucap Sisi lagi. Digo menghentikan aktifitasnya dan menatap wajah Sisi yang penuh dengan airmata. "Aku suamimu. Aku berhak mengambil hakku. Bukan hanya Niki saja yang berhak atas dirimu. Dan aku tidak mau ada benih Niki di dalam rahimmu." Sisi menggeleng pelan. "Kau salah. Bahkan Niki belum pernah menyentuhku." jelas Sisi di sela isak tangisnya. Digo seketika terdiam, mencerna ucapan Sisi. "Apa maksudmu?" "Niki--Niki memang suamiku tapi dia belum pernah menyentuhku." "Apa itu artinya kau masih----" Digo tak melanjutkan ucapannya. Dan ia menemukan jawabannya saat Sisi menganggukan kepalanya pelan. Seketika cengkraman tangan Digo terlepas. Ia bangkit dari atas tubuh Sisi dan menjauhi Sisi. Bagaimana mungkin aku akan merenggut kesucian wanita yang aku cintai dengan cara seperti itu? Walaupun dia adalah istriku? Batin Digo berperang. Ia menoleh menatap Sisi yang masih saja menangis sambil membenarkan bajunya yang berantakan. "Sekarang kau sudah tau kan? Aku akan melakukan apapun kalau kamu mau membantuku. Selamatkan Niki maka aku akan menyerahkan diriku sepenuhnya, untukmu." Digo mengalihkan pandangannya lalu menatap ke arah hpnya yang tergeletak di atas mejanya. Digo menyambarnya dan langsung menelpon seseorang. "Siapkan pesawat dan beberapa tenaga medis. Siang ini juga kita akan terbang ke Denmark." Sisi tersenyum tipis mendengar Digo menelpon seseorang. Akhirnya usahanya berhasil. Digo menutup sambungan telponnya, bersamaan dengan itu hp Sisi berdering nyaring. Nama Lani terpampang di layar hp milik Sisi. "Ya, Ma--" sapa Sisi, tangannya sibuk menyeka airmatanya yang masih tersisa. Tapi sedetik kemudian pergerakannya terhenti. Mulut Sisi menganga lebar dengan kedua mata melotot sempurna. Bibirnya bergetar kala menyebut nama Niki dan tak lama kemudian tubuh Sisi limbung. Digo yang berdiri tak jauh dari sisi dengan gesit yang digeser sisi tubuh yang paling saja tergeletak di lantai. Digo tak tau apa yang terjadi dengan Sisi. Sisi yang sulit ia menbangunkan dengan pipi Sisi yang lambat. Tidak ada respons dari Sisi, kedua mata itu masih terpejam rapat tetapi Digo dapat mendengarkan dengan jelas Sisi menyebut sebuah nama. "Ni - ki" *** Sby 08 Januari 2018
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN