JKJI 11

1475 Kata
*** Apa yang di takutkan Sisi yang terjadi. Niki meninggalkannya untuk selamanya. Tangan Sisi gemetar memegang surat terakhir dari Niki. Beberapa bercak darah. Hati Sisi Semakin perih. Ia terlambat menolong Niki. Andai saja ia bergerak cepat mungkin Niki tidak akan berakhir seperti ini. Terlalu sakit. Sisi menangis sesenggukan di depan pusara Niki. Tangan kirinya memegang erat batu nisan Niki. Sementara tangan kanannya masih memegang surat dari Niki. Pusara Niki mulai sepi dari peziarah. Tersisa Sisi dan Lani yang memerlukan enggan beranjak dari tempat. Sisi terus menangis dan Lani terus menenangkannya. "Kenapa Niki harus pergi, Ma?" lirih Sisi. Lani terus mengusap punggung Sisi dengan lembut. "Mungkin ini memang yang terbaik untuk Niki, Si. Sabar dan ikhlas ya." "Sisi gak bisa, Bu. Sisi gak bisa." Lani menghela nafas panjang dan membuangnya dengan pelan. "Sebenarnya ada hal yang pengen Mama sampein sama kamu, Si," Sisi menoleh ke arah Lani dengan pandangan sendu. "Selama ini Niki gak pernah meminum obatnya ---" "Apa?" pekik Sisi lirih. Lani mengangguk pelan. "Suster nemuin beberapa obat yang ada di bawah tempat tidur Niki. Mama juga gak percaya tapi yang menyebabkan masalah Niki menurun." Sisi menundukkan. Kenyataan yang benar-benar pahit. Untuk apa Niki melakukan hal itu? "Udah hampir sakit. Ayo pulang. Kamu pasti pasti kuatir, kamu segera pulang." Lani membantu Sisi berdiri. Sisi diam tanpa bersuara lagi. Ia terus bertanya-tanya kenapa Niki bisa senekat itu. Atau mungkin Niki sudah disetujuinya? *** Sisi merenung di dalam kamarnya. Semangat hidupnya sudah hilang bersama perginya Niki. Lalu untuk apa ia masih bertahan di sini? Pintu kamar Sisi terbuka lebar. Sisi menoleh pelan. Digo melangkah masuk dengan angkuhnya. Berdiri tak jauh dari tempat tidur Sisi. Sisi mengalihkan pandangannya dari wajah Digo. "Siang ini kenapa kamu tidak ke kantor? Lupa kalau harus mengantar makan siangku?" "Maaf aku gak bisa. Aku masih di pemakaman." jawab Sisi lesu. "Kamu harus profesional. Urusan kita jangan di campur adukkan dengan urusan luar. Kalau aku mati kelaparan bagaimana?" Sisi tak menanggapi dan memilih diam. Suasana hatinya sedang kacau dan ia tak ingin semakin kacau jika berdebat dengan Digo. "Tidak perlu menangisi orang yang sudah mati. Tidak ada gunanya. Dia tidak akan hidup lagi walaupun tujuh hari tujuh malam kamu menangis." Sisi menoleh cepat dan menatap Digo dengan pandangan penuh amarah. "Kamu manusia bukan sih? Punya hati gak? Sedikit aja kamu gak bisa ngertiin aku? Suami aku meninggal---" "Suami?" sela Digo cepat. "Aku suami kamu dan Niki hanya mantan suami kamu. Kalau dia meninggal berarti memang takdir. Aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan. Aku membiayai pengobatan dia. Lalu, apa seperti ini balasanmu?" Sisi menangis terisak. Sesekali ia menyeka airmatanya. Ternyata manusia di depannya ini memang tidak mempunyai hati. "Kalau begitu ceraikan aku." ucap Sisi kemudian. Sejurus pandangan mata Digo menatap manik mata hazel itu. "Apa, cerai?" Digo terkekeh pelan. "Setelah kamu menguras uangku untuk membiayai Niki dan sekarang kamu minta cerai? Kamu pikir uangku uang mainan?" Digo melangkah mendekati Sisi yang tampak terdiam. Airmatanya terlihat terus menetes. "Untuk hari ini kamu boleh menangisi mantan suamimu sepuasnya. Tapi esok dan seterusnya, jangan pernah tunjukkan airmata sialan itu di depanku." Digo membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan kamar Sisi. "Ingat Digo. Suatu saat nanti kamu akan merasakan seperti apa yang aku rasakan. Kamu akan kehilangan orang yang kamu cintai. Saat itu kamu akan sadar, seperti apa rasanya kehilangan." Langkah Digo terhenti tapi ia tak menatap ke arah Sisi. Digo hanya tersenyum tipis. "Di dunia ini tak ada yang bisa lepas dari genggamanku. Semuanya bisa aku dapatkan dan karena uangku, semua bisa aku pertahankan. Simpan saja sumpah serapahmu itu karena tak akan berpengaruh dalam hidupku." BLAM! Pintu kamar Sisi tertutup dengan sangat keras membuat tubuh Sisi sedikit terlonjak karena kaget. Sisi kembali menangis dan menumpahkan kesedihannya. Sesekali bibirnya memanggil nama Niki. *** Sisi bangun pagi dengan wajah sembab dan mata bengkak. Semalaman ia menangis. Ia bergegas membersihkan dirinya sebelum membangunkan Digo dan menyiapkan kebutuhannya. Tanpa Sisi ketahui, Digo ternyata sudah bangun sejak beberapa jam yang lalu. Semalaman ia juga tidak bisa tidur. Pikirannya melayang memikirkan Sisi. Ingin sekali ia memeluk tubuh wanita itu tapi rasa egonya tinggi, membuat ia malah berlaku kasar. Hatinya tak bisa terima jika Sisi masih mencintai Niki. Padahal sudah jelas, Niki sudah tidak ada lagi di dunia ini. Saat langkah kakinya tiba di ambang pintu kamar mandi, saat itu juga daun pintu kamarnya terbuka perlahan. Digo menoleh dan mendapati Sisi muncul dari balik daun pintu. Ia melangkah pelan masuk ke dalam kamar Digo. "Aku kira kamu belum bangun. Apa hari ini ada jadwal meeting?" tanya Sisi langsung. Digo tak langsung menjawab. Matanya menelusuri wajah Sisi yang terlihat sembab, mata yang merah dan kantung mata yang menghitam. Digo menelan salivanya pelan. Rasa sakit itu kembali menjalar di dalam rongga dadanya. Sebesar itukah rasa cintamu padanya? batin Digo. "Digo, apa kamu denger aku?" tanya Sisi lagi. Kedua mata Digo mengerjap pelan. Ia berdehem pelan sebelum menjawabnya. "Aku ada urusan ke Bali. Kau segera siap-siap. Siapkan bajuku juga. Jam 9 pesawat sudah berangkat." Digo tak menunggu jawaban dari Sisi. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Lalu menyandarkan tubuhnya di daun pintu kamar mandi. Mungkin dengan mengajaknya ke Bali bisa membuat Sisi lupa akan nama Niki. *** Digo membuka pintu villanya dan langsung melangkah masuk di ikuti Sisi yang melangkah di belakangnya. Sisi mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. "Kamarmu ada di ujung." jelas Digo singkat sebelum ia masuk ke dalam kamarnya. Sisi tak langsung masuk ke kamarnya tapi ia merobohkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Perjalanan yang melelahkan. Bukan masalah waktu karena Digo memakai pesawat pribadinya tapi ulah Digo yang membuat Sisi kewalahan dan hampir tak bisa istirahat. Di dalam pesawat ada saja permintaan Digo. Mulai dari makanan, minuman dan hal-hal kecil lainnya. Tanpa Sisi ketahui, Digo melakukannya agar Sisi tidak tenggelam dalam kesedihannya. "Cepat mandi setelah itu buatkan aku makan. Aku lapar." teriak Digo dari dalam kamar. Sisi menghela nafas kasar sambil memutar bola matanya. Dengan malas ia beranjak dari sofa dan menarik kopernya menuju kamar ujung sesuai petunjuk Digo. Sisi harus segera menyiapkan makan siang untuk Digo sebelum gorila milyarder itu mengamuk. *** Setelah acara makan siang itu, Digo langsung keluar. Bahkan ia tak memberitahu Sisi akan keluar kemana. Hingga pukul 7 malam Digo belum pulang juga. Sisi hanya bisa diam di dalam Villa dan menunggu Digo. Sisi menyandarkan punggungnya di sofa. Perutnya sudah lapar tapi ia selalu mendahulukan Digo, baru setelah itu ia akan makan. Sisi tak mengindahkan perutnya yang mulai keroncongan, ia memilih memejamkan matanya. Mengusir penatnya. *** Suara pintu terbuka membuat Sisi terbangun dari tidurnya. Sisi menoleh ke arah pintu dan mendapati Digo melangkah masuk sambil memeluk wanita asing. Langkah Digo terlihat sempoyongan. Sisi langsung berdiri dari kursinya dan meraih tubuh Digo. "Biar aku saja." ucap Sisi kepada wanita yang kini ada di pelukan Digo. "Tak apa. Aku tidak keberatan--" "Biar aku saja. Aku istrinya." potong Sisi tegas. Perlahan wanita itu melepaskan diri dari pelukan Digo. Sisi langsung memapah Digo dan membawanya ke kamar. Sementara wanita itu tampak kecewa dan memilih keluar dari rumah Digo. Dengan usaha yang keras Sisi membaringkan tubuh Digo di atas tempat tidur. Ia lalu melepas sepatu dan kaos kaki yang Digo pakai. Melonggarkan dasi yang masih membelit kerah kemejanya lalu tangannya beralih membuka kancing baju Digo. "Dasar gorila besar. Kenapa selalu bikin aku kesel?" gerutu Sisi pelan. Berharap Digo tak mendengarnya. "Sampai kapan kamu akan bermain wanita terus? Apa kamu tidak takut mereka akan hamil anak kamu lalu minta tanggung jawab sama kamu?" Sisi menghentikan aktifitasnya dan menatap wajah Digo. Matanya terpejam rapat tapi bibirnya terus bergerak, meracau tidak jelas. Entah apa yang Digo katakan,sama sekali tak bisa ia dengar. "b******k kau!" umpatan Digo sebelum akhirnya kesadarannya hilang. "Pingsan aja nyusahin, apalagi sadar?" dumel Sisi lagi. Sisi bangkit dari tempat tidur Digo setelah membungkus tubuh Digo dengan selimut tebal. Malam ini akhirnya ia memakan sendiri hasil karyanya. Perut yang sudah konser dari beberapa jam yang lalu membuat Sisi tak bisa tidur. *** "SISI! SISI!" Teriakan Digo membuat Sisi berlari cepat menuju kamar Digo dan langsung masuk. Wajah Digo kusut karena baru bangun tidur. "Ya. Ada apa?" jawab Sisi datar. "Dimana teman wanitaku?" "Teman wanita?" cicit Sisi. "Seingatku semalam aku pulang bersama Vanny. Dimana dia?" Ooh jadi namanya Vanny? Gumam Sisi dalam hati. "Aku suruh pulang---" "APA?" pekik Digo histeris, seolah-olah ia kehilangan uang ratusan juta rupiah. "Kenapa kau mengusirnya? Aku sudah membayarnya mahal untuk menemaniku malam ini. Kau tau tidak berapa uang yang aku keluarkan agar bisa membawanya pulang? Tapi dengan seenaknya sendiri kau malah mengusirnya. Apa kau sanggup mengganti semua kerugianku?" Sisi terdiam sambil menunduk. Airmatanya sudah menggenang. Kedua tangannya saling berkaitan. Digo terdengar terkekeh pelan. "Aku lupa. Hutangmu yang kemarin saja belum lunas, mana yang bisa kamu bayar kerugianku semalam?" Digo beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti saat Sisi dibuka suaranya. "Setelah semua hutangku lunas, aku ingin kita bercerai." *** Sby 09 Januari 2018
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN