Sarapan di Medan Perang

1290 Kata

Lopita membalikkan tubuhnya, menatap sisi ranjang Leonor yang kosong. Bayangan pria itu, dengan tatapan tajam namun kadang tersirat sesuatu yang tak terpecahkan, kini terasa lebih rumit, lebih kompleks dari yang ia bayangkan. Kegelisahannya bukan lagi karena benci yang membakar, melainkan karena ketidakpastian yang dingin menusuk. Jantungnya berdebar, bukan karena amarah yang memuncak, melainkan karena pertanyaan yang menuntut jawaban, sebuah eksplorasi ke dalam relung hati yang tak pernah ia duga akan terjadi. Malam itu, untuk pertama kalinya, Lopita tidak membenci Leonor. Ia hanya ... tidak mengerti. Dan ketidakmengertian itu, sebuah wilayah baru yang belum terjamah, jauh lebih menakutkan dan mengusik daripada kebencian yang sudah dikenalnya dengan baik. Ketika fajar menyingsing, mewarn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN