MEMINTA TOLONG KEPADA MONSTER

1235 Kata
Kelopak mata Lopita bergetar perlahan, terbangun dari pekat malam yang kali ini memberinya setitik napas lega. Setelah kepergian Elson yang bagai iblis menghilang ditelan kegelapan, tak ada lagi langkah kaki mengusik ketenangannya yang rapuh. Meski tubuhnya terasa remuk redam berbaring di atas dinginnya lantai, sebuah paradoks aneh menyeruak dalam benaknya. Tidur di atas kerasnya ubin terasa jauh lebih nyaman dan damai ketimbang terlelap di kasur empuk yang hanya menjadi saksi bisu dan alat pemuas nafsu b***t. Dengan sisa-sisa tenaga yang nyaris terkuras habis, Lopita terduduk perlahan. Wajahnya lebam membiru dan membengkak, jejak air mata yang tak tertahankan kini mengering, meninggalkan rasa perih yang menyayat. Tangisan tanpa suara itu rupanya telah membawanya ke dalam kedamaian sesaat, sebuah jeda singkat dari siksaan yang tak berujung. Matanya yang sayu menyapu setiap sudut ruangan yang terasa asing dan mengurungnya. Ia tak tahu pukul berapa kini, waktu di tempat ini terasa begitu lambat dan menyiksa, setiap detik bagai jarum yang menusuk-nusuk hatinya. Kemudian, matanya menangkap seberkas cahaya samar yang merayap masuk dari celah pintu balkon. Dengan langkah tertatih, ia bangkit dan berjalan mendekat, mengintip hiruk pikuk kehidupan di bawah sana. Pemandangan itu bagai oase di tengah gurun keputusasaan. Ia melihat betapa indahnya dunia di luar sana, meski ia tahu tekanan biaya hidup mungkin mencekik, namun setidaknya jiwa mereka terasa bebas dan lepas, tidak seperti dirinya yang terperangkap di neraka meski berada di bawah langit yang sama. "Kakak," desisnya lirih, sebuah bisikan kerinduan yang mendalam pada keluarganya yang entah bagaimana keadaannya kini. Baru saja setitik tenaga mulai merayapi tubuhnya yang lelah, suara pintu yang berderit terbuka membuyarkan kedamaian semu itu. Detak jantung Lopita berhenti sesaat, membeku dalam ketakutan yang seketika menyeruak. Kepalanya menoleh perlahan ke sumber suara, setiap sel tubuhnya merapal doa agar tidak ada lagi hal buruk yang menimpanya, agar siksaan ini segera berakhir. "Hallo darling," suara khas Jackson menyapa, sebuah sapaan dingin yang justru terasa bagai secercah harapan kecil di tengah kegelapan yang melingkupinya. Tanpa berpikir panjang, Lopita berlari menghambur seperti anak kecil yang merindukan pelukan ibunya, merengek pada pria yang berdiri di ambang pintu itu. "Mr. Jackson, saya mohon lepaskan saya ..., saya ingin pulang ..., saya ingin pulang ...," rengek Lopita dengan suara parau dan bergetar, air mata kembali membanjiri pipinya yang lebam. Namun, permohonannya yang penuh keputusasaan itu diabaikan oleh Jackson, tatapannya dingin dan tanpa emosi. "Sebaiknya kamu makan, karena Mr. Elson ingin kamu menemani tamunya setelah ini," ucapnya acuh tak acuh, seolah Lopita hanyalah sebuah objek yang bisa diperintah sesuka hati. Ia memberi isyarat kepada seorang pelayan yang membawa table tray penuh makanan lezat yang kontras dengan perut Lopita yang keroncongan namun tak berselera. Bersamaan dengan itu, dua wanita lain masuk dengan langkah ringan, membawa peralatan rias dan pakaian mewah, siap untuk mendandani Lopita sesuai perintah. Mendengar kalimat itu, tubuh Lopita tiba-tiba bereaksi ngeri. Gelombang penolakan yang kuat menghantam dirinya, membuatnya menggelengkan kepala dengan cepat dan panik, seolah menolak mentah-mentah takdir yang kembali dihadapkan padanya. "Ti-tidak, saya tidak mau ..., saya mohon ...," lirihnya tercekat di antara isakan, "saya hanya ingin pulang, saya tidak akan menceritakan kepada siapapun, saya mohon ...," rengeknya lagi, suaranya semakin melemah dan putus asa. Jackson terdiam sejenak, menatap Lopita dengan sorot mata penuh ancaman yang tersirat. Ia memperhatikan wanita yang telah ia bawa ke tempat ini, kini terlihat begitu menyedihkan dengan rambut kusut masai dan pakaian compang-camping yang belum diganti. "You are so bad," gumamnya dingin, lebih memperdulikan penampilan Lopita yang berantakan daripada penderitaan yang jelas terpancar dari matanya. Kemudian, ia bertepuk tangan sekali, sebuah isyarat tanpa emosi kepada kedua wanita yang akan mendandani Lopita. "Girls, look at her," matanya menyiratkan rasa jijik saat menatap Lopita dari atas hingga bawah, "lakukan pekerjaan kalian dengan benar, jangan kecewakan tamu Mr. Elson, kalian akan tahu akibatnya jika gagal." Kemudian Jackson mengalihkan tatapan tajamnya pada Lopita, "and you," "Bersikap baiklah, daripada kamu akan melihat mayat keponakanmu di tempat ini," kecamnya dengan suara dingin dan menusuk, sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan Lopita dalam ketakutan yang mencengkeram. Tak lama berselang, dua pria berbadan besar dengan wajah tanpa ekspresi masuk ke dalam kamar, berdiri di kedua sisi pintu bagai patung penjaga, mengawasi setiap gerak-gerik Lopita. Ancaman itu sungguh menyesakkan jiwa Lopita, meremukkan harapan terakhirnya. Jika ia berani melawan, nyawa keluarganya menjadi taruhannya, sebuah beban yang terlalu berat untuk dipikul. Melihat betapa kejamnya mereka memperlakukan dirinya sendiri, Lopita tidak meragukan bahwa ucapan Jackson bisa saja menjadi kenyataan yang mengerikan. Tidak. Ia tidak akan membahayakan nyawa keluarganya, satu-satunya hal berharga yang tersisa dalam hidupnya yang kelam ini. Setelah dua jam lamanya mereka menyiapkan Lopita, merias wajahnya yang lebam dan memakaikannya gaun mewah yang terasa seperti rantai tak kasatmata, kini wanita itu menjelma menjadi sesosok bidadari dengan kecantikan alami yang terpancar meski di tengah kesedihan. Karisma yang begitu elegan memabukkan setiap mata yang memandangnya, sebuah ironi yang menyakitkan. Untuk pertama kalinya setelah malam kelam yang merenggut kebebasannya, Lopita keluar dari kamar hotel yang telah mengubah kehidupannya menjadi neraka yang nyata. Dengan dikawal ketat oleh dua pria berbadan besar yang berjalan di sisi kanan dan kirinya bagai bayangan gelap, pandangannya menyebar ke setiap sudut ornamen hotel yang mewah namun terasa dingin dan mengasingkan. Ia mengingat kembali bagaimana dirinya masuk ke hotel ini dengan hati riang dan penuh suka cita, dan kini harus keluar dalam keadaan yang menyedihkan, bahkan terikat oleh ancaman yang membungkam suaranya. Ketika pintu lift terbuka dengan bunyi denting yang memilukan, mata Lopita melebar, jantungnya berdebar kencang dengan harapan yang tiba-tiba menyeruak, berharap mendapat pertolongan dari sesosok pria dingin yang pernah memperingatkannya untuk kabur sebelum semuanya terlambat. Leon. Mata Leon dan Lopita bertemu, saling memandang dalam keheningan yang tak terbaca. Leon sudah berdiri kokoh di dalam lift bersama seorang pria kepercayaannya yang berwajah datar. Karena Lopita tak kunjung melangkah masuk, salah satu pengawalnya berbisik lirih namun terdengar mengancam di telinganya, "masuk." Lopita menelan saliva dengan susah payah, tenggorokannya terasa tercekat. Dengan langkah berat, ia mematuhi perintah itu dan berdiri membelakangi Leon, merasakan kehadiran pria itu bagai bara api yang membakar punggungnya. Entah ini sebuah pertolongan yang dinantikannya atau justru langkah masuk ke jurang yang lebih dalam, Lopita sudah tak mampu lagi membedakan antara harapan dan keputusasaan. Pintu lift pun perlahan mulai tertutup, membawa mereka menuju lobi karena tujuan mereka ternyata sama. Suasana di dalam lift begitu senyap dan tegang, namun tidak dengan hati Lopita yang terus merapal doa dalam diam, memohon agar pria yang berdiri tepat di belakangnya mau menolongnya sekali lagi. Sedangkan Leon, tanpa menunjukkan emosi apapun, diam-diam hanya memperhatikan penampilan Lopita yang begitu memikat, matanya mengamati setiap detail dari ujung kaki hingga helai rambutnya dengan rasa penasaran yang bercampur dengan ingatan akan malam penuh gairah yang pernah mereka lalui bersama. Saat pintu lift terbuka di lobi yang ramai dan berkilauan, tiba-tiba tubuh Lopita limbung dan ia pingsan, ambruk menimpa tubuh Leon yang dengan sigap menahannya. Kedua pengawalnya panik dan berniat mengangkat Lopita dari tubuh Leon, namun karena Leon bukanlah pria lemah, ia dengan entengnya mengangkat tubuh Lopita dan membawanya keluar dari lift, membaringkannya dengan hati-hati di atas sofa lobi yang panjang dan mewah. Ketika tubuhnya pelan-pelan diletakkan di atas sofa, Lopita berbisik lirih di telinga Leon, suaranya hampir tak terdengar, "Tolong saya," singkatnya, sebelum kedua pengawal itu menyadari kebohongannya yang pura-pura pingsan. Leon menghela napas panjang setelah berdiri tegap, menatap kepura-puraan wanita itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tak lama kemudian, petugas hotel datang dengan tergesa-gesa, membawakan air minum dan minyak telon untuk memberikan pertolongan pertama, sembari mengecek kondisi Lopita yang terbaring lemah di sofa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN