Leon membawa Lopita dalam gendongan ala pengantin menuju kamar mereka. Tubuh Lopita terasa ringan dalam pelukan Leon, seolah ia adalah bulu yang lembut. Leon merebahkan Lopita perlahan ke atas ranjang, menatap lekat mata wanita itu yang memancarkan kebingungan dan sekaligus kebahagiaan. "Tugasmu tidak akan pernah berakhir, Lopita," ucap Leon, suaranya dalam dan tegas, "karena kau adalah rumahku, dan rumahku adalah tempatmu berada." Lopita menatapnya tak percaya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa perannya di samping Leon hanyalah sementara, sebuah kesepakatan yang akan berakhir setelah ancaman teratasi. Namun, kata-kata Leon malam ini menghancurkan semua asumsinya. Leon menyeka air mata Lopita dengan ibu jarinya, lalu mencium lembut ken

