Grup Chat

355 Kata
Setelah Yura pamit pulang, ponsel banyak pesan masuk di ponsel Karen. Pesan dari grup 'Reuni SMA' yang salah satu panitianya adalah Yura. Karen memilih tetap berada di kedai miliknya. Duduk di ruang belakang sambil mendengar kesibukan pegawainya melayani orang-orang yang datang memesan. Sudah sangat lama. Bahkan sejak awal kuliah, Karen tidak lagi berkomunkasi dengan teman SMA nya. Hanya ada hitugan jari yang satu kampus dengan Karen. Itupun beda fakultas. "Mbak Karen, belum mau pulang?" Fidya tiba-tiba menghampiri. Sejenak Karen mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Nanti aja Fid, saya masih pengen di sini." Fidya paham Karen sepertinya tak ingin diganggu. Ia hanya mengangguk lalu kembali ke meja kasir. Kedua sudut bibir Karen sedikit terangkat. Senyum itu terukir kala melihat wajah-wajah yang dulu berseragam putih abu-abu bersama kini sudah berubah menjadi wajah-wajah penuh pesona dan wibawa. Yang dulu belum ken skib care dan make up, sekarang semua glowing menawan. Yang dulu kucel, sekarang penuh kharisma. Semua sudah berubah. Karen adalah pribadi yang ceria hanya dengan orang-orang terdekat yang ia rasa nyaman untuk dijadikan teman. Pendiam, pemalu dan tertutup pada orang-orang banyak. Ia bukan orang yang terlalu mudah bergaul. Lingkar pertemanannya juga tidak banyak. Jemari Karen asik menyentuh layar ponselnya. Ia buka satu persatu foto profil nama yang ia kenal dahulu. Mendadak chat dalam grup itu menyebut-nyebut namanya. [Hai, kasih salam dong sama yang baru gabung, Karenina Ramadhani ….] tulis Yura. Membacanya saja Karen merasa gugup. Ada seratus orang lebih dalam grup di aplikasi chat ini. Isinya orang-orang yang satu angkatan dengan Karen. [Hai Karen, lama ngilang? Masih ingat aku gak?] [Hai Ren, apa kabar? Udah jadi pengusaha sukses ya gak pernah nongol? Sini dong gabung] Kurang lebih seperti itu sapaan dari teman-teman Karen yang tidak semuanya ia ingat. Beberapa detik Karen terdiam. Ia amati wajah-wajah pemilik nomor yang menyapa. [Hai, apa kabar semua?] Hanya kalimat itu yang berani Karen kirim sebagai balasan. Ingatan Karen mulai berlarian. Sekilas cerita-cerita manis jaman putih abu-abu dulu terlintas. Terbersik sedikit asa. Andai reuni ini bukan hanya satu angkatan. Andai reuni akbar semua angkatan. Mungkinkah bisa menemukan Aga di sana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN