Undangan Reuni

736 Kata
"Oh, Yura," sambut Karen walau masih tak ingat. ia berusaha terlihat akrab seperti sikapnya yang ditampilkan sosok itu padanya. "Apa kabar Yura?" "Hmm, sekarang udah ingat? Mentang-mentang gak pernah satu kelas, aku dilupain ya?" "Hehe, gak kok, lupa sedikit." Karen menggaruk kepala. "Kamu keren ya, sudah jadi pengusaha rumah makan," puji Yura sambil melarikan pandangan ke seisi kedai. "Alhamdulillah, cuma usaha kecil-kecilan kok, duduk yuk, icip-icip menu di sini," Karen mempersilahkan Yura kembali menempati kursi. "Kamu ini merendah ya, biasanya emang gitu, orang yang sukses beneran itu gak suka sombong." Yura meraih buku menu di meja. "Nih, ayam bakar ini di i********: udah terkenal sekali. Kamu juga punya cabang lain kan? Salut lah pokoknya." "Jangan terlalu memuji lah Ra," ucap Karen sambil memberi kode pada pelayan. "Tolong siapkan menu ayam bakar spesial untuk ibu Yura ya," perintahnya pada pelayan yang bekerja di kedai ini. "Baik Mbak," pelayan itu berlalu. "Kamu kok repot-repot suguhin menu spesial segala? Aku udah langganan kok beli ayam bakar kamu. Jadi rasanya gak usah diragukan lagi." "Oh ya? Kamu suka beli di sini?" "Iya, tapi seringnya suamiku yang belikan sekalian pulang kantor." "Oh gitu, kalau kamu sendiri sebelumnya belum pernah ke sini?" "Belum, nah sekarang kesini karena ada tujuan khusus." "Apa itu?" Meski sudah sempat mendengar dari Fidya, Karen ingin mendengar langsung lebih jelas dari Yura. "Jadi gini Ren, adik sepupuku mau nikah, nah aku pengen salah satu menu di resepsi nanti itu ayam bakar dari rumah makan ini." jelas Yura sesuai dugaan. "Alhamdulillah, boleh kok, mau untuk kapan?" "Minggu depan bisa?" "Minggu depan?" Karen sedikit terkejut. Biasanya orang memesan dalam jumlah besar tidak pernah dalam waktu mepet begini. "Bisa kan?" Wajah Yura penuh harap. Mana tega Karen mengatakan tak bisa. Apalagi untuk teman lama yang baru berjumpa. "Insya Allah bisa," jawab Karen sambil memutar otak agar semua bisa berjalan tanpa mengecewakan. "Alhamdulillah, lega banget aku dengarnya. Aku udah coba beberapa kali pesan lewat telepon ditolak. Kata admin kamu kalau mau pesan buat hajatan minimal harus satu bulan sebelum hari H." Yura melayangkan protes secara halus. "Oh, maaf ya, bukan adminku yang salah. Dia hanya menjalankan tugas. Peraturannya memang begitu. Tapi khusus buat teman lama, akan aku usahakan." "Wah, terimakasih ya Ren, gak salah deh aku sempatkan datang buat ketemu langsung sama kamu." ucapnya tampak gembira. "Sama-sama," Tak berapa lama menu ayam bakar spesial terhidang di meja bersama minuman spesial yang menjadi menu favorit kedai ini. "Nah, silahkan dimakan dulu, ini jamuan dari aku buat kamu yang belum pernah makan langsung di kedai ini." Karen mempersilahkan Yura menikmati hidangannya. "Aku tinggal sebentar ke belakang ya," pamitnya. "Makasih banget ya," Yura mulai menikmati hidangannya. Beberapa menit Karen berbicara dengan Fidya, memeriksa hasil penjualan sekaligus memeriksa stok bahan yang hampir habis agar bisa segera disiapkan lagi. "Kalau bu Yura besok-besok telpon lagi, kamu suruh bicara langsung sama saya aja ya. Kita terima pesanan dia, gak enak dia teman lamaku." Ucap Karen pada Fidya sebelum kembali menemui Yura. "Iya maaf Mbak, tapi pesanan bu Yura banyak lho Mbak," "Berapa porsi?" "Seribu lima ratus." "Hah?" terpaksa Karen memutar otak lebih agar tidak mengecewakan. "Sudah saya terima, ya sudah biar nanti saya yang pikirkan caranya." Kembali Karen menemui Yura di mejanya. Terselip rasa penuh syukur melihat meja-meja lain terisi penuh pengunjung. "Maaf ya lama," ucap Karen. Tampak piring Yura sudah kosong. Gelas minumannya pun sama. "Gak apa-apa, ternyata nyaman ya makan langsung di sini, besok-besok aku ajak keluarga buat makan di sini ah," Karen tersenyum mendengarnya. "Eh iya, hampir kelupaan." Yura mendadak mengeluarkan selembar kertas berwarna cerah. "Undangan reuni." Ia sodorkan kertas itu pada Karen. "Reuni?" "Iya reuni SMA, kamu pasti belum dengar ya? Makannya jangan sibuk bisnis terus, nanti aku masukin grup WA boleh?" "Eng …." "Bolehlah buat silaturahmi." Tanpa menunggu jawaban Yura langsung meraih ponsel. "Udah kumasukan grup ya," "Tapi itu nomor yang khusus untuk pesanan Ra, bukan nomor pribadi." "Oh gitu? Kalau gitu aku minta nomor pribadi kamu." Karen tak bisa berkelit. Ia menyebutkan nomor lalu Yura mencatatnya. "Nah, gini dong, aku ganti ya yang di grup. Pokoknya kamu harus ikut. Gak ada salahnya kan silaturahmi sama teman lama. Udah lama banget lho kamu ngilang," Karen hanya tersenyum simpul. ‘Aku tak paham ini apa, bolehkah jika kuanggap semua kebetulan ini adalah kode kalau pilihan hatiku tidak salah?’ dalam hati Karen bicara sendiri. Meyakinkan dirinya kalau semua kebetulan ini adalah kode yang ia yakini akan manis kelanjutannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN