17. Ketiga Saudara

1359 Kata
Anggi sedang menatap tepat ke arahnya, membuat Torro luar biasa keheranan. Selama sedetik ia mengira Anggi sedang bicara melantur, atau dirinya hanya berhalusinasi dan Anggi sebetulnya berkata pada orang lain. Namun, Torro melirik ke belakang dan hanya menemukan tembok padat di sana. Tak ada orang lain di kamar selain ia dan adiknya. Lagi pula, ada berapa orang di rumah ini yang Angi panggil dengan sebutan Mas Torro? Hanya ia seorang. Tak mungkin telinga hantunya salah mendengar, kan? Torro beranikan melangkah mendekat pada adiknya yang masih membelalakan mata. Hanya satu langkah. Torro tak mau membuat adiknya ini ketakutan jika ia entah kenapa memang bisa melihatnya. “Anggi?” Torro bertanya, selembut mungkin. Mulut Anggi jadi ikutan menganga, ekspresinya seperti seseorang yang baru saja melihat hantu---yang bisa saja benar. Torro mencoba lagi, agak tak percaya. “Lo bisa lihat gue? Maksunya, kamu bisa lihat Mas?” Dengan perlahan, Anggi menganggukkan kepalanya. Dan entah kenapa bisa terjadi, Torro merasa merinding. “Tunggu---” katanya masih ragu, sejak kesadarannya kemarin muncul tak ada seorang pun yang menunjukkan tanda-tanda bisa melihat atau mendengarnya. Apa yang terjadi kini tak pernah diduganya sama sekali. “Anggi bisa lihat Mas? Dan bisa denger Mas ngomong apa?” Lagi-lagi Anggi mengangguk. “Gimana bisa?” Torro terkesima. Wajah adiknya hanya menunjukkan raut terkejut, bukan rasa takut. Padahal adik kecilnya ini pasti tahu bahwa orang yang sedang dilihatnya sekarang telah meninggal seminggu lalu. “Anggi udah lama nunggu-nunggu Mas Torro muncul!” kata Anggi berhasil menguasai diri. “Sama kayak nenek dulu waktu baru meninggal.” Semakin terperangahlah Torro. Nenek? Otaknya berkerja cepat. Yang dimaksud Anggi pasti adalah nenek dari pihak Puspa ibu tirinya, meninggal dua tahun lalu. Nenek dari pihak ayah dan ibu kandung Torro sudah meninggal sejak Torro masih anak-anak. Dicernanya apa yang sedang terjadi, kata-kata Anggi dan keberanian yang ditampakannya. Ketenangannya saat berbicara dengan roh orang mati … kesimpulan pun didapat dalam waktu sepersekian detik. “Anggi bisa lihat hantu?” tanya Torro membungkukkan punggung, mengatakannya seolah itu adalah rahasia. Adik perempuannya mengiyakan. “Sejak kapan kamu bisa …?” “Udah lama,” jawab Anggi. “Sejak dulu Anggi bisa lihat orang-orang yang baru meninggal, atau orang-orang yang mukanya nyeremin.” Mulut Torro terkatup, bagaimana bisa ia tak mengetahui kondisi istimewa adik bungsunya ini? Hati kecil Torro pun segera menjawab dalam benaknya: karena lo gak pernah perduli. Semasa hidup lo selalu mementingkan urusan sendiri, jarang merhatiin keluarga. Sebentuk perasaan bersalah pun melanda hatinya untuk kesekian kali. “Anggi,” Torro memulai, dengan cepat memikirkan bagaimana cara memanfaatkan kondisi ini untuk mencapai tujuannya. “Yang tahu soal kemampuan kamu ini siapa aja? Mamah, Papah, Rendy, mereka tahu?” Anggi menggeleng sedih. “Yang tahu cuman beberapa teman Anggi di sekolah. Anggi udah coba ngasih tahu Mas Rendy … tapi Mas Rendy kayaknya enggak percaya. Mas Rendy gak suka kalau Anggi ngomongin itu. Nyeremin katanya. Mamah sama Papah juga ….” Kalimat itu terpotong di tengah-tengah, dan Torro bisa mengerti kenapa. Pasti susah bagi adiknya berada dalam kondisi seperti ini. Ia masih kecil, jadi kata-katanya bakalan sulit dipercaya orang dewasa. Di sisi lain Torro juga tak menyalahkan ayah, ibu dan adik lelakinya. Jika seseorang di keluarganya mengaku bisa melihat hantu dan berkomunikasi dengan roh orang mati … Torro sekali pun bakalan enggan meresponnya dengan serius jika ia masih hidup. “Jadi … Anggi udah tahu kalau Mas bakalan muncul?” tanya Torro mencoba mengalihkan topik. Ia tak mau terlalu menekan mental adiknya. “Iya, sejak hari pertama Mas meninggal, Anggi udah nungguin,” kata Anggi, raut sendu di wajahnya makin menjadi-jadi. Kedua matanya berair. “Anggi kangen sama Mas Torro.” Air mata mulai menuruni pipi adiknya, dan Torro yakin ia akan ikutan menangis seandainya bisa. Hubungan persaudaraan antara Torro dengan Rendy dan Anggi tak pernah berjalan mulus, tapi tak bisa disangkal bahwa jauh di lubuh hati, Torro pun menyayangi kedua adiknya. Melihat Anggi menangis, Torro lagi-lagi teringat pada percakapan terakhirnya dengan Rendy lewat telepon. Saat itu Rendy juga bilang bahwa Anggi menangis karena telah menyaksikan ayah dan ibunya beradu mulut. Kini Torro bisa merasakan perasaan tertekan yang Rendy miliki. Saat ini Torro bersedia melakukan apa saja demi bisa menghibur adiknya. “Ya udah kamu jangan nangis lagi,” kata Torro berusaha terlihat tegar. “Mas udah di sini sekarang.” Anggi menyeka air mata dengan punggung tangannya, kemudian berucap dengan lemah, “Iya tapi Mas Torro gak akan bisa di sini selamanya, sama kayak Nenek---” Suara ketukan pintu kamar memotong ucapan Anggi. Tak lama setelahnya pintu terbuka dan kepala Rendy muncul mengintip ke dalam kamar. “Mas denger suara orang ngomong di sini, kamu lagi ngobrol sama siapa, Dek?” tanya Rendy, kemudian melihat raut wajah adiknya dan pandangan matanya melebar. “Lho, kamu nangis? Kenapa?” Rendy berjalan mendekati Anggi, tidak sadar bahwa tak jauh darinya arwah Torro sedang menatap pergerakan tubuhnya. Sesaat Anggi melirik pada sosok kedua kakak lelakinya bergantian, menimbang-nimbang. “Enggak apa-apa, Mas. Anggi cuman lagi kepikiran Mas Torro aja, Anggi kangen.” “Mas juga kangen sama kamu, Dek,” timpal Torro lembut, tahu bahwa Anggi bisa mendengarnya, sementara Rendy tidak. Rendy pun terduduk di tepi ranjang, mengajak adiknya duduk di samping. Setelah itu kedua tangan mereka saling tergenggam. “Kayakanya kita semua masih kangen Mas Torro, ya?” katanya haru. “Tapi kita tahu Mas Torro udah tenang di alam sana, dia gak akan kembali bersama kita.” Bola mata hantu Torro berputar. “Gue masih di sini, woy! Pas di depan lo!” Kedua sudut bibir Anggi berkedut menahan senyum---Torro pun ikut tersenyum, setidaknya ada yang bisa ia lakukan untuk menghibur adik kecilnya. “Mas tahu kamu masih sedih soal kematian Mas Torro,” lanjut Rendy kepada Anggia. “Tapi jangan terlalu larut sama kesedihan, ya? Nanti Mas Torro ikutan sedih di alam sana.” “Makasih buat pengertiannya, Ren,” timpal Torro sarkatis. “Iya, Mas,” jawab Anggi yang kini kentara sekali sedang menahan diri untuk tak tertawa. “Anggi ngerti kok.” “Anak pintar,” puji Rendy sembari mengacak-acak rambut adiknya penuh kasih sayang, kemudian bangkit berdiri. “Sekarang kamu cepet mandi gih, jangan lupa makan.” “Iya sebentar lagi kok.” Rendy pun berjalan hendak keluar kamar, tapi membalikkan badan lagi saat akan menutup pintu. “Oh iya, tadi mas denger kamu ngomong sendirian, lagi ngomong sama siapa sih?” “Sama gue, Rendy Narendra Pangestu,” Torro menjawab. Anggi menggigit bibirnya dan menatap ke arah arwah Torro berada. “Anggi lagi belajar buat pentas drama, Mas. Ada tugas di sekolah bikin naskah drama, jadi Anggi cuma lagi belajar cara ngomongin dialognya.” Mulut Rendy pun membentuk huruf O dengan sempurna. Dari sudut pandangnya, alasan Anggi pasti masuk akal sekali. “Oke, terusin lagi belajarnya kalau begitu.” “Lo juga, Ren,” kata Torro meski tahu ia takkan mendapat balasan. “Yang rajin ngerjain tugas kuliahnya!” Pintu kamar pun tertutup. Setelah yakin Rendy sudah pergi cukup jauh, Anggia terkikik gali. “Mas Torro lucu.” Torro pun ikut menyeringai, tapi senyuman itu luntur setelah memikirkan sesuatu. “Anggi, kenapa kamu gak jujur aja sama dia kalau Mas torro ada di sini?” Jawaban Anggi terlontar dengan cukup cepat. “Enggak bisa. Mas Rendy gak akan percaya, pasti Mas Rendy marah kalau Anggi bilang jujur. Bakal mengira kalau Anggi cuman nakut-nakutin gitu.” Alis Torro bertaut. “Emangnya Rendy sepenakut itu sama hantu?” Bahu Anggi mengedik. “Mas Rendy sering nonton film horor, tapi kalau di kenyataannya … mungkin gak berani.” Benak Torro berusaha memahami, tapi ia tetap punya firasat akan sangat membantu jika Rendy bisa menyadari kehadirannya. Bukan demi menakut-nakuti semata---meski Torro akan senang jika bisa melakukanya, tapi juga demi tujuan yang jauh lebih besar. Selama hari ini dan kemarin, Torro sudah tersiksa melihat keluarganya tak akur tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia ingin dengan segala cara merekatkan kembali hubungan ayah dengan ibu tirinya, tapi ketidak kasat mataannya menghalangi. Membuat Torro kecil hati. Kini Torro temukan Anggi dapat melihat dan mendengarnya, jembatan utamanya untuk berkomunikasi dengan orang hidup. Itu sebuah kemajuan. Rencana menyatukan kembali orang tuanya mulai terlihat menjanjikan, tapi ia butuh Rendy dalam bantuannya. Rendy seoranglah di sini anak yang cukup matang dan dewasa dalam berpikir---juga masih hidup, bisa berbicara pada ayah dan ibunya tanpa dianggap masih anak-anak. Jika mereka bertiga bisa sepakat dalam bekerja sama, menghentikan proses perceraian itu bisa saja dilakukan. Hanya ada satu masalah sekarang, bagaimana cara Torro meyakinkan Anggi untuk memberitahu keberadaan arwah Torro pada Rendy? Jika pun berhasil, apa Rendy tak akan ketakutan melihat dirinya? Mengetahui keberadaan roh gentayangan kakaknya yang baru meninggal seminggu lalu mungkin takkan membuat perasaan Rendy merasa tentram. Dan Torro tak bisa menyalahkan itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN