Torro tak menikmati keberadaannya dengan bergentayangan sebagai sesosok hantu.
Ia memang bisa melakukan hal-hal keren. Seperti menembus benda padat---halangan sekuat dinding baja pun mungkin tak akan masalah baginya. Ia juga tak perlu makan, minum, tidur atau sekedar bernapas. Dirinya terjaga sepanjang waktu tanpa sedikit saja merasa lelah dan mengantuk.
Hebatnya lagi Torro tak kasat mata, memungkinkan ia bebas melakukan apa pun yang ia mau tanpa menarik perhatian siapa pun. Ia mungkin bisa mengintip seseorang mandi dengan kondisinya ini---meski Torro belum pernah mencobanya. Hal yang sebenarnya akan dilakukan dengan senang hati seandainya ia masih hidup.
Namun, kini Torro merasa gelisah. Perasaannya justru terbebani. Makin lama berkeliaran dalam wujud roh, ia makin merasa tak berdaya. Ia sendirian dan kesepian, lebih dari kapan pun semasa hidupnya.
Ketika hidup, Torro selalu mengabaikan keluarga, menolak diberi perhatian berlebih oleh mereka, tapi kini ia justru mendambakan hal yang sebaliknya: Torro berharap keluarganya dapat memerhatikannya meski sedang dalam wujud yang tak dapat dilihat oleh siapa pun.
Torro pikir, mungkin Tuhan sedang menghukumnya. Selama ini ia bahkan tak pernah benar-benar memikirkan Tuhan atau keagamaannya, begitu sibuk dengan hal-hal duniawi. Sekarang setelah menembus dinding kematian, ia memikirkannya lebih sering dari orang hidup mana pun di dunia ini.
Jika melihat keluarganya hancur berantakan secara langsung adalah sebuah hukuman, Torro merasa ini sudah keterlaluan. Hukum saja dirinya sendiri, ingin benar Torro meneriakan kata-kata itu pada mahluk apa pun yang mengurusi ini. Hukum saja dirinya, jangan libatkan keluarganya juga.
Hatinya hancur melihat pertengkaran ayah dan ibu tirinya semalam. Makin remuk redam kala tahu namanya disebut-sebut dalam perdebatan panas itu. Lebih parahnya lagi? Torro menemukan Rendy adiknya menangis. Torro jarang melihat adik laki-lakinya menangis, jadi melihatnya langsung di depan mata membuat Torro terhenyak.
Torro sampai lupa dirinya bisa berjalan menembus dinding saat mencoba keluar dari kamar Rendy semalam.
"Gue kecewa dan malu punya saudara kayak lo."
Kepala Torro berulang kali mengingat perkataan Rendy di terakhir kali mereka berbicara melalui telepon. Waktu itu Torro agak marah mendengarnya, tapi kini ia mengamininya. Mengakui kebenarannya meski Rendy tak bisa menyadari hal itu.
Sepanjang malam hingga menjelang pagi, Torro menghabiskan waktunya dengan berkeliaran di rumah. Ia sempat mencoba tertidur di atas ranjang di kamarnya sendiri, namun jelas ia takkan bisa terlelap lagi. Dan ia putuskan untuk mengunjungi setiap ruangan yang saat hidup jarang sekali didatanginya.
Ruang garasi adalah satu-satunya tempat yang bisa membuat Torro tenang melebihi kamarnya sendiri. Ditemani motor kesayangannya, Torro hampir bisa membayangkan kembali desiran angin menerpa kulit kala mengendarai si kuda besi dalam kecepata tinggi. Adrenalin yang mengalir di dalam darahnya saat sedang balapan. Atau semburan rasa senang ketika dirinya memenangkan lomba balap liar tersebut.
Motor Ducati Monster hitamnya mungkin rusak---yang mengingatkan Torro pada kecelakaan lalu lintasnya malam itu, tapi Torro merasa nyaman berada dekat dengan benda yang sangat dikenalinya itu. Di otaknya terbentuk rencana, hal apa saja yang harus dilakukan akan membuat motornya kembali tampil prima. Piston, suku cadang, permesinan dan seperangkat alat mekanik lainnya berlarian dalam benak.
Seandainya gue bisa nyentuh barang-barang, batin Torro sembari menatap tangannya yang sebenarnya kelihatan normal. Andaikan dirinya bisa memegang benda padat, ia mungkin bisa melakukan beberapa perbaikan kecil.
Seperti biasa, saat sudah terlalu ternggelam dengan lamunannya sendiri, waktu berjalan terasa cepat. Torro sadar bahwa hari telah pagi saat melihat ayahnya membuka pintu gerbang geser garasi untuk mengeluarkan mobil. Torro sebenarnya sedang duduk beberapa senti meter dari depan mobil, tapi laki-laki tua itu tak meliriknya sama sekali.
Diingatnya lagi pertengkaran yang Torro saksikan semalam, dan rasa marah pada ayahnya mulai berkobar lagi. Bagaimana lelaki itu menyalahkan istrinya atas semua kelakuan nakal Torro? Dari mana asalnya pemikiran konyol itu? Ingin benar Torro menanyakan itu langsung---tapi percuma, ayahnya tak akan bisa mendengar ucapannya.
Tak tahan jika harus melihat ayah atau ibunya, Torro mendatangi kamar Rendy yang ternyata masih tidur. Tapi itu tak bertahan lama. Sesaat setelah adiknya bangun, ayah mendatanginya. Obrolan penuh emosional pun terjadi.
Ketika Rendy mengatakan pemikiran terjujurnya pada ayahnya, Torro mengangguk puas. Meski pun Torro masih menganggap adiknya ini kurang bisa frontal dalam menyampaikan pendapat. Rendy akan selalu menjadi Rendy, pikir Torro agak muak. Adiknya yang selalu penurut dan tak pernah membangkang perintah orang tuanya.
“Ayolah, Ren. Jangan ragu buat ngomong kalau lo gak mau Papah sama Mamah cerai,” kata Torro menyemangati adiknya yang sedang mengobrol dengan ayahnya. “Keluarin semua amarah lo kayak kemarin sore.”
Lagi-lagi Torro frutasi karena kata-katanya tak digubris.
Disimaknya adik laki-laki dan ayahnya mengobrol, lantas merasa gemas. Mereka berdua begitu kaku dan tak leluasa. Bagai dua teman yang tak begitu akrab. Saat Torro mendengar ayahnya berkata, “Papah janji ke depannya keadaan bakalan membaik.” dan berlalu pergi meninggalkan kamar, ia merasa ingin muntah---skeptis luar biasa.
Kebohongan macam apa itu? Janji kosong yang hanya dikatakan demi menenangkan anaknya untuk sesaat. Dilihat dari raut wajah Rendy Torro bisa menduga bahwa adiknya pun berpikiran hal yang serupa.
Giliran berikutnya, Puspa ibu tirinya yang mendatangi Rendy. Obrolannya hanya sebentar, tapi tetap membuat Torro luar biasa kesal. Rendy malah meminta maaf atas kata-katanya kemarin, dan membiarkan ibunya pergi menuju persidangan. Tak terlihat sedikit pun niatan untuk mencegahnya.
“Apa lagi yang lo tunggu, Ren?” Torro berteriak di samping adiknya yang sedang duduk di dekat meja belajar. “Cepetan lo cegah Mamah sama Papah berangkat! Marahin mereka! Suruh mereka hentiin proses perceraian konyol itu!”
Rendy tak beraksi, membuat Torro makin merasa tak berdaya.
Tak tahan hanya berdiam diri, Torro pergi berjalan meninggalkan rumah. Ia tahu tak bisa pergi jauh, hanya berjalan tak tentu arah di sekitar jalan perumahan. Sinar matahari yang terpancar lemah di langit menembus tubuh Torro, membuat ia nyaris transparan.
Dirinya takjub melihat itu---sekaligus getir. Torro tak butuh pengingat tambahan akan fakta bahwa dirinya telah meninggal. Tak berada di dunia ini, tapi juga tak bisa meninggalkan dunia ini sepenuhnya.
Apa yang harus gue lakuin? Batinnya meratap seraya menatap langit. Dirinya telah babak belum dihantam realita. Meninggal. Menyaksikan keluarganya hancur. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya di dunia ini. Jika masih hidup, pada poin ini mungkin Torro akan memilih mengakhiri hidupnya.
Konyol tentu saja. Hidupnya memang telah berakhir.
Kala langit mulai mendung, Torro memilih berjalan pulang ke rumah. Sesampainya di sana, ia melihat Rendy sedang bersiap-siap pergi. Sebuah mobil taksi terparkir di depan rumah. Torro pun langsung teringat bahwa siang ini Rendy akan menjemput Anggi di rumah temannya.
Sempat terpikirkan oleh Torro untuk ikut. Tubuh hantunya pasti bisa ikut duduk di dalam mobil dan melaju terbawa pergi. Segera ia urungkan niatannya itu. Torro masih kesal karena tak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Maka ia pun biarkan Rendy pergi, sempat merasa penasaran kenapa adiknya menaiki tranportasi umum. Apa Rendy tak memiliki kendaraan sendiri? Percuma saya bertanya langsung, batinnya mengingatkan.
Sendirian di dalam rumah sementara hujam mulai turun di luar, Torro lagi-lagi berakhir di dalam garasi memandangi motornya. Seolah hanya motor itulah yang setia menemainya.
“Kayaknya cuman kita berdua lagi yang ada di sini,” kata Torro pada bongkahan mesin itu. Tangannya mengelus badan atas motor. Tak benar-benar menyentuhnya, hanya berada beberapa mili meter di atasnya. “Kita selalu berakhir berduaan begini.”
Bahkan saat mengatakan itu pun, Torro masih merasa skeptis. Haus akan interaski sosial. Dirinya ingin berkomunikasi dengan seseorang yang menanggapinya balik. Pada tahap ini, jangan kan manusia, sosok sesama hantu pun akan Torro sambut dengan baik.
Pasti ada hantu lain, kan? Torro bertanya-tanya, mencoba segala peluang yang ada agar mendapat teman bicara. Arwah gentayangan di dunia ini pasti bukan hanya dirinya. Lalu di mana mereka sekarang? Dan setan-setan, mahluk yang biasanya menghuni tempat angker, kenapa Torro tak pernah melihat satu pun?
Torro pasti sudah gila karena ingin berpapasan dengan mahluk-mahluk berwujud menyeramkan.
Hujan terdengar makin deras di luar, disertai suara gemuruh dan petir berkilat-kilat. Benak Torro penasaran apa air hujan akan menembus tubuhnya juga, atau bisakah tubuh hantunya kebasahan? Sebelum Torro sempat mencobanya, ia menangkap suara pintu depan terbuka dan adiknya yang paling kecil berseru lantang.
“Mamah! Papah! Anggi pulaaaang!”
Tak pelak Torro tersenyum. Padahal terasa baru saja ia menyaksikan Rendy pergi, tapi sekarang kedua adiknya telah sampai di rumah.
“Mamah sama Papah masih belum pulang, Dek.” Terdengar Rendy menimpali, disertai pintu yang kembali berdebum tertutup. “Sekarang kamu mandi gih, terus ganti baju. Kalau kamu lapar di meja makan di dapur ada makanan kok.”
“Iya, Mas. Oke.”
“Jangan lupa nanti kerjain PR-nya. Kalau nanti butuh apa-apa Mas ada di kamar, ngerjain tugas kuliah.”
“Iyaa ih! Mas Rendy bawel!” keluh Anggi disusul suara kaki menapaki tangga.
Torro yang masih terdiam di garasi terkekeh dibuatnya. Meski belum mendapat teman bicara, setidaknya ia bisa sedikit terhibur dengan keberadaan adik bungsunya. Ia jadi merasa tertarik untuk mengawasi aktivitas saudari kecilnya itu, setidaknya untuk melihat apa Anggi telah mengisi pekerjaan rumanya dengan benar.
Berjalan menembus dinding keluar dari garasi, Torro menemukan Rendy sedang menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang depan. Pemuja itu tampak letih, kelelahan yang tercetak di wajahnya membuat Rendy kelihatan lebih tua. Matanya terpejam, jari-jari tangannya memijat kening, seperti sedang memikirkan hal yang tak menyenangkan.
“Lo pasti capek banget ya, Ren,” kata Torro lembut, kemudian berlalu menaiki tangga.
Kamar Torro, Rendy dan Anggi memang sama-sama berada di lantai atas. Hanya kamar orang tua mereka yang berada di bawah. Kamar Anggi berada paling ujung, dengan pintu yang diramaikan oleh stiker tempel bergambar tokoh kartun favorit Anggi: Hello Kitty.
Tanpa ragu Torro menembus dinding, memasuki kamar Anggi. Ia temukan adiknya sedang membelakanginya, menghadap rak kecil di tepi dinding. Sepertinya anak itu sedang membereskan buku sekolahnya di sana.
Torro terpaku di tempat, merapat dengan sisi dinding yang baru saja ditembusnya. Ia tak bisa melakukan apa pun lagi, hanya diam dan mengamati.
Kemudian, Anggi membalikkan badan---dan terkesiap hebat. Pandangan matanya melebar menatap ke arah---yang Torro yakini seratus persen adalah---dirinya sendiri.
“Mas Torro!” pekik Anggi dengan nada tinggi.
***