“Rendy, bukan tanpa alasan Tante ngasih tahu kamu soal semua ini.” Renata lanjut berbicara dengan nada lembut, rupanya mahfum bahwa cerita yang dipaparkannya barusan telah mengusik pikiran Rendy cukup dalam. “Tante cuma mau kamu mempersiapkan diri kalau-kalau nanti ayah sama mama-mu resmi berpisah.”
Suara hujan yang semakin deras di luar membuat Rendy ingin kembali menghanyutkan diri dalam lamunan, tapi ia memaksakan diri berkata, “Tapi saya masih berharap mereka gak jadi berpisah, Tante. Bisa aja proses perceraian dihentikan dan mereka memilih … berdamai.”
Bahkan di telinganya sendiri pun Rendy tahu ucapannya naif dan terlalu kekanak-kanakan. Otaknya mengatakan mustahil ayah dan ibunya akan rujuk---mengalah demi anak-anak, tapi hatinya yang kelewat melankolis mengharapkan sebaliknya.
Rendy seharusnya beruntung karena Renata tak menertawakan perkataannya.
“Tante bisa maklum kalau kamu berharap begitu,” ucapnya tanpa nada menghakimi, bahkan terselip nada agak geli di sana. “Semua anak pasti berharap kalau orang tua mereka selalu rukun. Tapi ini kenyataannya, dan kamu sudah dewasa untuk bisa berpikir---dan sadar, hubungan Puspa sama ayahmu sudah sangat jauh dari sehat.”
Mata Rendy berpaling, menolak bertemu tatap langsung dengan teman dari ibunya ini. Ia jadikan kue kering di tangannya sebagai objek pengamatan. Hanya tersisa setengahnya, tapi Rendy tak lagi berselera menghabiskannya.
Di satu sisi Rendy tahu perkataan Renata benar, tapi ia agak ngeri dengan nada yakin yang menyertainya. Hubungan ayah dan ibunya sudah tak sehat? Benarkah sudah sejauh itu? Bagaiimana Renata bisa tahu pasti? Apa ibunya sudah sering menceritakan segala masalahnya pada temannya ini?
Ia menelan ludah. “Jadi---apa?---Tante berharap saya mendukung proses percerian kedua orang tua saya?”
Tatapan wanita di depannya melebar, tampak terkejut bahwa Rendy bisa menyimpulkan pembicaraan ini ke arah sana. “Enggak. Ya ampun, Tante gak bermaksud begitu. Jangan salah paham. Maksud Tante itu begini, kakakmu Torro baru meninggal semingu lalu, kamu jadi anak paling dewasa di rumah sekarang. Tante harap kamu bisa menilai proses perceraian mereka saat ini lebih cermat lagi, perceraian ini bukan semata-mata karena ego. Tapi lebih dari itu, dan memang sudah saatnya terjadi.”
Rendy merasakan ada awan mendung yang menyelimuti otaknya saat ini. Semua tampak abu-abu.
“Saya gak ngerti,” akunya kemudian, berterus terang.
Renata menghela napas panjang, seakan menahan diri untuk tak mengatai betapa bodohnya remaja di hadapannya kini. “Maksudnya, Tante berpikir mungkin sudah saatnya kamu tahu pasti lebih banyak tentang sejarah pernikahan orang tua kamu, bagaimana keadaan sesungguhnya pernikahan mereka akhir-akhir ini. Tentang bagaimana awal mereka bertemu, berkenalan dan memutuskan menikah. Mereka awalnya berkenalan karena dijodohkan, kamu tahu itu?”
Mulut Rendy menganga sedikit. Dijodohkan? Dirinya mengakui tidak tahu dengan cara menggelengkan kepala. Selama ini ia tak begitu tertarik pada sejarah percintaan kedua orang tuanya. Terasa tak diperlukan untuk tahu, dan terlalu memalukan untuk menanyakan langsung. Yang Rendy ketahui, ibunya menikahi ayahnya yang saat itu sudah menjadi seorang duda beranak satu, yakni Torro. Jadi, Torro adalah saudara beda ibu baginya.
Rendy pun tak pernah mengenal ibu kandung kakaknya itu. Hanya mengetahui nama dan wajahnya dari foto lama serta cerita-cerita ayahnya. Sumirah, nama ibu kandung Torro, telah meninggal karena sakit jauh sebelum Rendy lahir.
“Sudah saatnya kamu tahu,” ujar Renata menyarankan. “Kamu bisa tanya Puspa langsung, mamah kamu itu bukan tipe orang yang tertutup soal kehidupannya, terutama dari anak-anaknya sendiri. Tante tahu itu.”
Sesaat Rendy terdiam, sudah mulai tumbuh rasa penasaran dalam dirinya. Jika dengan memahami pondasi awal pernikahan mereka akan turut membuat Rendy paham alasan mereka memutuskan bercerai, Rendy akan mencoba mencari tahu.
“Akan saya coba, Tante,” janjinya tenang. Kemudian ia menyuapkan sisa kue di tangan ke mulutnya, memaksakan mengunyah dan menelan. Remah-remah yang menempel di jari Rendy, ia sapukan ke kain celananya.
Kemudian ia mengambil gelas berisi jus dingin di meja dan meminumnya dengan rakus, mencoba mengabaikan tatapan Renata yang tersenyum padanya. Hujan dan minuman berisi es batu bukanlah perpaduan yang cocok, tapi ia tak akan mengeluh. Cairan bersuhu rendah yang mengaliri kerongkongannya membuat tubuh Rendy agak menggigil.
Karena tak tahu apa lagi yang harus dibicarakan, keduanya terdiam. Rendy coba memasang telinganya baik-baik, tapi tak mendengar suara keributan di lantai atas. Ia penasaran apa saja yang sedang dilakukan Anggi dan temannya di atas sampai membutuhkan waktu lama untuk bersiap pulang.
Di kepalanya sendiri, Rendy memutar ulang obrolan dengan Renata barusan. Tak disangka sama sekali, tujuan sederhananya untuk menjemput Anggi bisa membuat ia terlibat dalam obrolan serius nan menguras akal. Rendy merasa beruntung, dengan begini ia bisa membuka pandangannya lebih jauh lebih. Renata sangat benar akan satu hal, Rendy sudah dewasa, ia tak boleh sekedar berpikir sebagai seorang anak yang bersedih atas proses perceraian kedua orang tuanya.
Meski pun demikian, ia tak bisa mengenyahkan rasa ngerinya mendengar nada yakin Renata saat berkata bahwa hubungan ayah dan ibunya sudah jauh dari sehat ….
“Tante,” kata Rendy mencoba, meski takut akan jawaban yang bakal didapatnya. “Waktu Tante bilang hubungan Papah sama Mamah udah jauh dari sehat, apa itu maksudnya?”
Mulut Renata terkatup, seakan tak menyangka akan ditanyai hal yang lebih spesifik lagi, dan Rendy pun buru-buru melanjutkan, “Tante membicarakan soal perceraian orang tua saya dengan sikap seolah Tante sangat mendukungnya. Kenapa?”
Renata bergerak tak nyaman di kursinya. Kini malah wanita itulah yang menolak bertatap muka dengan Rendy.
“Tante gak yakin punya hak buat ngasih tahu itu,” ucapnya berterus terang. “Puspa bakalan marah kalau dia tahu Tante ngasih tahu ini ke kamu. Mamah-mu bilang dia bakalan ngasih tahu itu ke anak-anaknya nanti pas waktunya tepat, tapi Tante sendiri ragu Puspa bakal punya keberanian bual ngelakuin itu.”
Ucapan berbelit-belit Renata malah membuat perasaan Rendy makin tak enak. Rendy mulai menduga yang terburuk, ketakutan yang muncul saat Rendy mendengar ayah dan ibunya bertengkar semalam. Dirinya tak ingin hanya menebak-nebak.
“Apa itu, Tante?” tanyanya dengan nada mendesak, kegelisahan dalam suaranya begitu nyata sampai Renata sendiri menatapnya simpati.
“Pertengkaran yang sering terjadi di antara orang tua kamu,” Renata menjawab, menggigit bibirnya dengan kesan ragu, “bukan cuma sebatas adu mulut. Kadang … mereka bisa begitu emosional sampai perkelahiannya melibatkan k*******n fisik. Tante … Tante gak bisa ngasih tahu lebih dari itu.”
Suara gemuruh berkumandang dari arah luar, disertai kilat yang menyambar-nyambar di langit. Rendy bertanya-tanya apa sebuah kilat bisa menembus dinding dan menyambar orang di dalam rumah?
Karena Rendy merasa dirinya baru saja tersambar petir.
Jantungnya bertalu-talu, dan napasnya mulai terasa berat.
Kekerasan fisik?
Sebelum keterkejutan surut dari kesadarannya, terdengar suara kaki menuruni tangga di ruangan sebelah. Lebih dari satu orang. Tak lama setelahnya Anggi muncul masih berseragam sekolah---menjinjing tas yang penuh terisi, Mischa temannya pun mengekor di belakang.
“Loh, kok Mas Rendy?” tanya Anggi tampak kecewa. “Mamah ke mana?”
“Mamah kamu lagi ada urusan, Sayang,” Renata menjawab, paham bahwa Rendy masih belum siap bersuara. “Jadi Kakak kamu yang jemput.”
Renata lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Rendy, menatapnya penuh iba. “Ren, kamu mau langsung pulang? Di luar masih hujan deres lho, mending tunggu aja di sini sampai hujannya reda, ya?”
Pertanyaan sederhana itu anehnya membuat Rendy bisa menguasai diri lagi. Dia langsung membalas tatapan Renata dengan penuh terima kasih, bersyukur wanita itu tak menyinggung atau melanjutkan topik obrolan tadi. Lewat tatapan mata keduanya bertukar pemahaman: jangan sampai Anggi mendengar dan tahu.
“Enggak Tante, saya sama Anggi pulang aja langsung,” kata Rendy sesantai yang ia bisa. “Gak enak sama supir taksi, dia udah nungguin di deket portal komplek soalnya.”
“Iih, Mas Rendy gak asik!” Anggi mengeluh. “Padahal Anggi masih mau main sama Mischa.”
Mischa di sebelahnya hanya menyengir malu-malu.
Dasar anak-anak, batin Rendy merutuk. “Kan bisa lain kali, Dek. Pulang aja langsung, kasihan Pak Supirnya udah nungguin dari tadi.”
Rendy pasti sedang menunjukkan tampang paling seriusnya karena Anggi tak membantah. Sebelum pulang Renata memaksa Rendy menghabiskan jus lemonnya, dan juga memaksa membungkus semua kue kering di piring ke dalam wadah plastik yang dimasukkan ke tas Anggi.
“Buat kalian ngemil selama di dalam taksi,” katanya tersenyum kecil.
Terakhir, Renata pun menawari kakak beradik itu sebuah payung. Rendy menerima saja, tahu bahwa ia dan adiknya tak mungkin bisa sampai di taksi yang menunggu, tanpa tubuh mereka berdua basah kuyup terkena guyuran air hujan. Rendy berkali-kali mengucap terima kasih, berharap Renata tahu ucapan terima kasih itu bukan hanya untuk payung, segelas jus lemon dan sewadah penuh kue kering bertabur gula.
“Iya sama-sama,” Renata membalas sebelum melepas kepergian dua anak dari temannya itu. “Jangan kapok main ke sini ya, Ren. Anggi juga. Dah.”
Keduanya berjalan cepat menembus tirai hujan. Tas Anggi yang penuh Rendy gendong di punggung. Kedua tangannya memegang gagang payung, memastikan tubuh adiknya tak kebasahan.
Saat sampai di mobil yang setia menunggu, sang supir---masih duduk di kursi kemudi---tidak kelihatan senang.
“Maaf, Pak. Nunggunya agak lama,” kata Rendy tak enak hati. “Tadi sempat ada urusan sebentar.”
Pak Hermawan tak menanggapi permintaan maaf itu.
Selepas Rendy dan Anggi duduk nyaman di kursi belakang dengan payung terlipat menutup, mobil pun bergerak pergi meninggalkan area komplek perumahan.
***