14. Renata

1338 Kata
Taksi online yang telah dipesan Rendy tiba pukul setengah dua siang---menjelang sore. Meski terbilang masih siang, awan mendung sudah berarak di langit, menghalangi matahari untuk membantai ibu kota dengan suhu panas. Cuaca tak begitu terik, dan angin dingin pertanda bakal turun hujan menyapu jalanan. Memasuki mobil dan menempati kursi belakang, Rendy membenarkan resleting jaketnya. Ia beritahu sang supir alamat rumah yang hendak ditujunya. Si supir---yang adalah laki-laki berusia awal empat puluhan---mengutak-atik alat GPS di dashboard mobil. Setelah tempat tujuan terinput, taksi pun segera berjalan meninggalkan area perumahan. Rendy amati dari jendela, bagaimama jalan raya mengabur dari pandangan ketika taksi melsat cepat, dan ia pun terkubur dalam lamunannya sendiri. Di usianya yang nyaris menginjak dua puluh tahun, Rendy memang belum memiliki kendaraan pribadinya sendiri. Mencengangkan memang, teman-temannya di kampus sering mencemooh Rendy karena ini. Beberapa orang terkadang membelanya, berkata bahwa Rendy takkan mempunyai kendaraan pribadi sampai lulus tes mengemudi dan mendapatkan surat izin mengemudinya sendiri secara resmi. Biasanya Rendy hanya mengiyakan saja walau alasan itu jauh dari kebenaran. Alasan yang sesungguhnya? Rendy belum mahir menggunakan sepeda motor---yang adalah ironis mengingat Torro kakaknya seorang maniak motor dan penggila balap liar. Rendy juga tak pernah punya tekad untuk belajar sendiri. Terlalu takut, yang ada di bayangannya bisa-bisa ia mencelakai orang lain atau diri sendiri dalam prosesnya. Lebih baik cari aman, pikirnya. Sejak kecil Rendy jarang mendapat pelatihan berkendara motor dari ayahnya. ibunya atau pun Torro. Bukannya ia tak mau, hanya saja ayahnya selalu sibuk dalam bekerja dan tak pernah punya waktu, ibunya sendiri tak begitu mahir, sedangkan Torro … lupakan saja. Bahkan saat Torro masih hidup pun Rendy tak pernah sudi meminta kakaknya untuk mengajarinya mengendarai motor. Jadi beginilah, jika tak ada tumpangan dan harus bepergian ke suatu tempat seorang diri, Rendy biasanya mengandalkan transportasi umum yang bisa diraihnya dalam ponsel pintar. Rendy menganggapnya praktis, walau harus menghabiskan uang lebih banyak.  Tetapi dengan menaiki kendaraan umum ia tak perlu susah berpikir tentang lahan untuk memarkirkan kendaraan, membeli bensin, dan sejumlah masalah teknis pertukangan yang jelas tak Rendy pahami. Akan tetapi akhir-akhir ini Rendy tergoda untuk memiliki kendaraan sendiri---baik motor atau pun mobil. Lagi pula ibunya sudah merongrongnya untuk belajar menyetir mobil. Rendy sedang menimbang-nimbang untuk meminta ayahnya memasukan dirinya ke kelas kursus mengemudi ketika suara sang supir taksi menyela. “Mas, kita sudah sampai,” katanya dengan nada sopan sambil menoleh ke belakang. “Rumah yang Mas cari tinggal beberapa blok dari sini. Maaf cuma bisa mengantar sampai sini, portal kompleknya ditutup soalnya.” Rendy menoleh lagi ke luar jendela, sadarlah ia perjalanan sudah berakhir. Begitu terlenanya dengan pikiran sendiri sampai tak menyadari waktu 35 menit penuh telah terlewati. “Makasih banyak, Pak.” Dibukanya pintu mobil, ia serahkan sejumlah uang pada sang supir sebagai pembayaran ongkos. “Oh iya, kira-kira Bapak keberatan gak kalau nunggu di sini sebentar? Saya bakalan balik ke alamat rumah yang tadi kok, sekalian pulang, biar gak perlu sewa ulang lagi.” Lelaki itu---yang menurut keterangan di aplikasi bernama Hermawan---tampak berpikir sejenak. “Kira-kira nunggu berapa lama, Mas?” “Gak nyampe setengah jam,” Rendy meyakinkannya, dan semoga saja benar. “Cuman sebentar.” “Oke,” timpal Pak Hermawan hampir seketika. “Saya tunggu di sini ya, Mas.” Rendy pun segera berjalan menembus portal yang tertutup melewati celah kecil di samping. Sadar hujan germis mulai turun, ia percepat langkah kakinya. Mudah saja menemukan rumah yang dituju, NOMOR 36 yang ditulis dengan cat putih pada sebuah kotak hitam di salah satu dinding dekat gerbang sebuah rumah menunjukkan lokasi yang ia cari-cari. Jari-jarinya yang mulai kedinginan segera menekan bel. Berkali-kali dengan interval yang cepat. Tak lama kemudian seorang wanita yang seumuran dengan ibunya muncul dari pintu depan yang semula tertutup. “Cari siapa ya?” tanyanya memastikan. Rendy bertanya-tanya apa wajahnya memasang raut wajah mencurigakan sampai wanita itu menampilkan kewaspadaan yang nyata. “Ini … anu, saya Rendy, mau jemput adik saya, Anggi. Ini rumah temennya, kan? Mischa?” Gue gak salah rumah, kan? Batinnya menambahkan. Seketika dia tampak lega, seolah telah diyakinkan bahwa ia tak perlu memanggil polisi---atau mengeluarkan anjing penjaga. “Oh Rendy ya? Anaknya Puspa? Iya iya, Tante inget kamu. Anggi ada di dalam kok. Ayo masuk.” Dibukanya pintu gerbang, dan Rendy mengekor di belakang ketika wanita itu berjalan menuju pintu. Samar-samar Rendy juga teringat pada wanita di hadapannya ini. Perempuan ini hadir sewaktu upacara pemakaman Torro, salah satu kerabat yang menunjukkan rasa duka paling awal. Namanya Renata, Tante Renata---kalau Rendy tak salah ingat, ibu dari salah satu teman Anggi di sekolah, Mischa. Rendy menurut saja ketika ia dipersilakan duduk di kursi kayu beralas busa di ruang depan. Dibiarkannya Renata berlalu untuk memanggil Anggi yang sepertinya tengah bermain dengan Mischa di lantai atas. Tangga kayu yang berliku memang tampak ketika Rendy mencondongkan badan guna mengintip ke ruang sebelah. Tak lama kemudian Renata kembali menghampiri Rendy sambil tersenyum ramah. “Tante udah kasih tahu Anggi jemputannya udah datang, dia lagi siap-siap.” Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Rendy dan mendadak teringat sesuatu. “Oh iya, Nak Rendy mau disuguhin apa? Kue kering sama segelas jus lemon mau?” “Eh, gak perlu repot-repot, Tante,” timpal Rendy sungguh-sungguh. “Serius gak usah. Rendy gak bakalan lama kok di sini, soalnya---” “Ah jangan sungkan-sungkan,” potong Renata cepat. Berdiri dan berlalu menuju---yang Rendy duga adalah---dapur. “Kamu jangan malu-malu di sini. Tante sama Mamah kamu udah temenan sejak lama.” Mau tak mau Rendy tersenyum. Sikap Renata mirip sekali dengan ibunya ketika kedatangan tamu. Memaksa menyuguhi makanan apa pun yang ada dan tak menerima penolakan. Harus Rendy akui, melihat kue kering bertabur gula dengan segelas jus dingin yang ditawarkan membuat ia lapar. Di rumah Rendy baru makan sedikit, perhatiannya sejak pagi disibukkan dengan tugas kuliah sampai siang. Ia bahkan tak akan ingat harus menjemput Anggi jika ia tak memasang alarm pengingat di ponselnya. Mengenyampingkan rasa malu, Rendy mencomot sekeping kue dan menggigitnya sedikit demi sedikit. Lagi pula menerima makanan yang disuguhkan sang penghuni rumah termasuk dalam kesopanan. “Ini kamu yang jemput Anggi, Mamah kamu emangnya belum pulang ya, Ren?” tanya Renata sesaat kemudian setelah kembali duduk di kursinya. “Puspa belum pulang dari sidang?” Tatapan Rendy melebar, agak kaget. “Iya, Tante. Belum. Tante ternyata … tahu?” Wanita itu tersenyum prihatin dan mengangguk. “Puspa banyak bicara soal masalahnya sama Tante.” Ia sejenak melirik ke belakang seolah memastikan tak ada seorang pun yang mencuri-dengar. “Mamah-mu sering minta saran, soalnya Tante juga pernah ada di posisi dia.” Untuk sepersekian detik otak Rendy berusaha mencerna apa maksudnya, ada di posisi yang sama? Sesaat kemudian ia mengerti. “Oh.” “Iya,” sahut Renata mendadak sendu, tahu bahwa Rendy mengerti. “Tante sama ayahnya Mischa udah bercerai juga. Proses perceraian emang sangat berat dan melelahkan.” Mulut Rendy terkatup, mulai merasa jengah. Dirinya selalu tak nyaman jika harus mendengar orang lain menceritakan kisah pahit mereka. Tapi Rendy tak mungkin berani meminta wanita di hadapannya ini untuk berhenti bicara. “Kejadiannya juga belum lama,” lanjut Renata bercerita, padahal tak diminta. “Baru satu tahun yang lalu. Pisahnya juga jauh dari baik-baik. Rebutan harta gono gini-lah, hak asuh anak-lah … pokoknya macam-macam. Ayahnya Mischa marah besar dan gak terima waktu pengadilan memutuskan hak asuh anak ada di Tante. Sampai sekarang Tante jadi takut kalau sewaktu-waktu ayahnya Mishca datang ke sini dan berniat ngerebut Misca dari Tante.” Rasa jengah Rendy semakin menjadi-jadi. Namun kini dia mengerti awal sikap kewaspadaan yang ditunjukkan Renata saat dirinya bertamu. Wanita berumur ini takut jika yang datang adalah mantan suaminya. Meski tak ingin, Rendy mencoba membayangkan skenario yang sama dengan lakon kedua orang tuanya. Ibunya sudah berjanji bahwa takkan ada perebutan hak asuh anak, tapi apa janji itu benar-benar takkan dilanggar? Bagaimana jika ibu dan ayahnya benar-benar akan berebut hak asuh Anggi dan dirinya? Tidak. Tentu saja tidak. Rendy sudah dewasa, ia bisa memilih dengan siapa ia kelak akan tinggal, tapi Anggi … dia masih kecil. Membayangkan adik satu-satunya jadi bahan rebutan membuat hati Rendy sakit. Anak sekecil Anggi atau pun Mischa tak seharusnya diperlakukan begitu. Otak Rendy mau tak mau memikirkan sebuah kemungkinan: kedua orang tuanya cerai, hak asuh Anggi jatuh ke tangan ibunya. Ayahnya tak terima, dan berusaha dengan segala cara merebut Anggi dari asuhan mantan istrinya. Kemungkinan yang sangat buruk untuk menjadi kenyataan. Namun---Rendy menyadarinya dengan rasa getir---bisa saja benar-benar terjadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN