13. Mengerti

964 Kata
“Papah tahu kamu udah tahu,” kata ayahnya dengan nada serius, meninggalkan kesan berbasa-basi yang tadi ditunjukkan. Tatapan matanya yang tajam tetap dipenuhi kelembutan. Rendy sudah menduga apa maksud pernyataan itu, tapi ia merasa tetap harus memastikan. “Tahu apa?” “Proses perceraian Papah sama Mamah-mu,” Roy menjawab. Suaranya pelan dengan kepala agak tertunduk, membuat kesan ia tak mau bertemu tatap dengan Rendy untuk sejenak. Rendy mengamati gestur tubuh pria di hadapannya. Ayahnya bersikap seperti seorang terdakwa di pengadilan yang mengakui kesalahannya di depan hakim. Rendy menghargai sikap ini. Ayahnya tak menganggap membahas perceraian sebagai sesuatu topik yang enteng. Ada kegugupan yang diam-diam juga dirasakan Rendy. “Oh.” Hanya itu yang terpikirkan Rendy sebagai respon. “Iya … Rendy udah tahu cukup lama.” Selama sesaat ayahnya terdiam, seperti sedang menunggu respon Rendy selanjutnya. Saat dilihatnya Rendy tak mengatakan apa-apa lagi, Roy berkata, “Kenapa kamu gak pernah ngomong soal itu sama Papah, Nak? Kenapa kamu diam aja kayak yang belum tahu?” Rendy lantas mengedikkan bahu. “Apa itu penting?” Roy bergeming, tampak sadar bahwa ucapan Rendy merupakan pertanyaan jebakan. Selama bertahun-tahun ini Rendy sudah terbiasa menutupi perasaan yang sebenarnya dari ibu dan ayahnya. Rendy anak yang tahu diri. Sudah cukup Torro kakanya sebagai anak pembuat ulah di keluarga. Kedua orang tuanya tak memerlukan biang onar tambahan, maka Rendy berusaha sebisa mungkin melakukan tindakan yang berkebalikan dengan Torro. Namun, bersikap seperti itu pun bukannya tak memiliki konsekuensi. Sering sekali Rendy mengalami kesulitan saat harus terbuka pada orang lain tentang perasaannya. Sama halnya seperti sekarang. Ketika ayahnya meminta membahas hal yang membutuhkan keterbukaan pikiran, Rendy merasa takut jika salah bicara, mengatakan sesuatu yang membuat ayahnya kecewa. Atau takut jika ia terlalu terbawa emosi dan mengucapkan hal yang tak sepantasnya. “Papah sama Mamah sering banget berantem tanpa lihat kondisi,” Rendy mengaku, memutuskan lanjut berbicara karena melihat ayahnya terdiam. Bersikap jujur, itu yang terpenting, dan tahu kejujuran inilah yang diharapkan ayahnya sekarang. “Susah buat pura-pura gak denger apa yang biasanya kalian pertengkarkan, jadi Rendy tahu keadaan jauh dari baik-baik aja. Sekarang, Mamah sama Papah mau cerai. Proses perceraiannya bahkan tetep jalan, padahal Mas Torro baru aja meninggal. Jadi, Papah berharap Rendy ngomong kayak gimana?” Karena jelas Papah gak pernah berminat denger pendapat Rendy, batinnya menambahkan. Ia tak mengungkapkan kalimat itu secara verbal, karena takut suaranya akan bergetar dan runtuhlah pertahanannya untuk tak melibatkan air mata. “Papah beneran udah bikin hidup kamu susah ya, Nak?” Roy tercekat, matanya tampak berair. Bukannya Rendy, malah pria tua itulah yang tak mampu mempertahankan ketenangannya. “Papah sama Mamah-mu gagal ngasih kedamaian yang seharusnya kamu dapatkan.” Rendy tetap bergeming, jelas tak tahu bagaimana harus bereaksi pada ungkapan emosional seperti itu. Sudah cukup sulit baginya harus menghadapi sisi emosional ibunya. Berhadapan dengan ayahnya dalam situasi semacam ini … yah bisa dibilang ini bukanlah hal yang terjadi setiap hari. Mata Rendy mengikuti gerakan ayahnya yang bangkit berdiri. Pria itu terdiam sesaat, seakan ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. Ia berjalan mendekati ranjang, dan menepuk sebelah pundak Rendy. “Papah tahu keadaan akhir-akhir ini gak begitu menyenangkan buat kita semua di sini, tapi peryacalah, Nak … ini yang terbaik.” Yang terbaik buat siapa? Batin Rendy langsung merespon, merasa sangsi pada pembelaan ayahnya. Ia tahan untuk tak mengatakannya, tahu bahwa meski Rendy telah mengungkapkan pendapat terjujurnya, hal itu takkan mengubah apa-apa. Ayahnya akan tetap pada pendiriannya. Selalu begitu pada akhirnya. “Papah janji ke depannya keadaan bakalan membaik,” sahut Roy sebagai kata-kata pamungkas. Diremasnya bahu Rendy dengan lembut, kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan kamar. Alis Rendy terangkat. Selesai lebih cepat dari yang ia kira. Sesaat tubuh Rendy tetap membeku di atas ranjang, menatap pintu kamar. Untuk alasan yang belum diketahuinya, ia tak bisa memercayai janji ayahnya. Tak bersifat pasti. Keadaan bisa saja bertambah buruk dalam sejuta cara. Di sisi lain, Rendy bersyukur ayahnya mendatanginya---menunjukkan usaha---untuk mencoba memberinya pengertian---meski pun gagal, dan ia tak bisa mengharapkan lebih dari ini. Satu jam penuh berikutnya Rendy habiskan untuk mengurusi diri. Ia mandi, berpakain, membersihkan kamar sekenanya dan mulai menyicil mengerjakan tugas kuliah. Di dalam hati Rendy tahu ia hanya sedang mengulur-ulur waktu untuk menuju lantai bawah dan menghadapi ibunya. Hanya beberapa menit berlalu setelah Rendy menduduki kursi di belakang meja belajar saat pintu terketuk, ia menoleh dan mendapati kepala wanita yang diantisipasi kedatangannya sejak tadi terjulur ke dalam kamar. Puspa menatapnya dengan ragu. “Rendy, kamu gak kuliah?” “Enggak. Lagi banyak tugas, Mah,” jawabnya sembari memainkan pena di tangan. Dagunya menunjuk pada laptop yang terbuka menyala dan lembaran kertas di atas meja. “Lagian kan nanti siang Rendy harus jemput Anggi.” Terkembang senyum kecil di bibir ibunya. “Oke, kalau begitu kamu jaga rumah dulu, ya? Ada makanan di lemari dapur kalau kamu mau sarapan. Nanti kamu jemput Anggi jam dua aja. Mamah kirim alamat rumahnya ke nomor kamu. Jangan lupa suruh Anggi makan juga nanti.” Kepala Rendy mengangguk, mengamati segala hal yang ada pada ibunya tanpa suara. Dari penampilannya, Puspa siap untuk berangkat. Rendy bertanya-tanya apa kedua orang tuanya akan pergi bersama ke persidangan, sedetik kemudian memutuskan untuk tak bertanya saja. Dilihat dari raut wajah wanita itu, Rendy tahu bahwa ia mau pun ibunya belum melupakan kejadian kemarin sore. “Jaga diri kamu baik-baik,” ucap Puspa sebelum berlalu pergi. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Rendy berseru, “Mah?” Wanita itu kembali mengintip ke dalam, menatap Rendy penuh tanya. Rendy menunduk, merasa jengah jika harus bertemu tatap langsung saat mengatakan, “Rendy … Rendy minta maaf soal yang kemarin.” Sejenak hening, Rendy memberanikan diri mendongak, mendapati raut wajah ibunya yang berubah sendu. “Mamah tahu,” timpal Puspa memaksakan senyum. “Kamu gak salah apa-apa … Mamah yang harusnya minta maaf karena kurang bisa mengerti perasaan kamu.” Hening lagi. “Ya udah, mamah pergi sekarang.” Rendy pun tak berusaha menahan kepergiannya karena tak ada hal yang harus dikatakan lagi. Kedua orang tuanya pergi, ke tempat di mana perceraian mereka sedang diproses. Dan Rendy tak memiliki kuasa untuk mencegah hal itu terjadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN