Sejak terbangun dari tidur di pagi hari sekali pun, Rendy tahu hari yang akan dijalaninya takkan berlangsung baik.
Suasana hatinya sudah kacau sejak mendengar kedua orang tuanya bertengkar tadi pagi. Memang, ini bukan yang pertama kali baginya melihat mereka beradu mulut. Tapi tetap saja, hari-hari Rendy terasa langsung suram tiap kali menyaksikan hal seperti itu.
Perasaannya makin buruk kala harus menjalani aktivitas perkuliahan. Sama sekali tidak membantu. Entah kenapa para dosennya di kampus kompak memberi setumpuk pelajaran dan tugas yang harus dikerjakan dalam tenggat waktu tertentu. Seolah belum cukup beban mental yang harus Rendy tanggung tiap hari.
Rendy sempat berharap ia akan mendapat ketenangan saat pulang ke rumah. Rupanya tidak! Ia mendengar ibunya lagi-lagi menangisi kematian Torro, dan harus terlibat percakapan menyakitkan soal sidang pertama perceraian ayah dan ibunya. Amarah Rendy sampai meledak dibuatnya.
Bagaimana bisa ibunya mengentengkan perasaannya seperti tadi? Bersikap seperti Rendy mampu menerima kenyataan apa saja. Ia memang telah mengetahui proses perceraian itu sejak lama, tapi bukan berarti ia telah menerima kenyataan, bukan berarti ia telah siap.
Sebenarnya Rendy jadi merasa malu dan bersalah mengingat kejadian sore itu. Ia tak bermaksud memakai nada setinggi itu pada ibunya, apa yang keluar dari mulutnya tadi hanya tumpahan tekanan hati yang selama ini ditahan. Mengingat ekspresi terluka yang ditampakkan ibunya saat Rendy meninggalkan meja makan tadi sore, membuat Rendy mengutuk dirinya dalam hati.
Rendy masih marah pada ibunya, tapi ia tahu membentak-bentak dengan nada tinggi bukan cara yang tepat dalam menunjukkannya.
Perlu waktu sangat lama bagi Rendy mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf pada ibunya. Pada hari telah gelap, malam sudah sangat larut, Rendy berniat menemui ibunya dan meminta maaf sampai bersujud sekalian. Tetapi niat itu tertahan kala ia mendengar pintu depan diketuk, seseorang memasuki rumah. Sadar bahwa ayahnya telah pulang, kaki Rendy yang sudah berpijak di puncak tangga kembali berlari ke dalam kamarnya dan menutup pintu cepat-cepat.
Benar-benar bukan tindakan seorang pengecut pastinya.
Akhir-akhir ini kedatangan ayahnya ke rumah selalu membuat jantung Rendy berdebar-debar, apalagi jika ibunya juga berada di rumah. Rendy takut mereka bertengkar lagi, membuat suasana rumah ini makin tak nyaman.
Tentu saja, karena hari ini bukanlah hari yang baik, ketakutan Rendy menjadi nyata saat mendengar di lantai bawah kedua orangtuanya berdebat panas. Dengan nada tinggi, mereka beradu mulut. Nama Torro mendiang kakaknya disebut-sebut lagi. Selalu.
Dan Rendy menyalahkan matanya yang tiba-tiba mangalirkan air mata. Terasa sangat cengeng dan memalukan. Sisi emosional dalam dirinya diperas habis-habisan sampai kering. Rendy juga merasa sebentuk kemarahan pada kakaknya. Meski Torro telah meninggal, kakaknya itu tetap saja menjadi biang masalah di sini.
Mungkin ini agak tak beretika, tapi Rendy berharap Torro dapat melihat pertengkaran mereka itu---sekali saja, agar kakaknya tahu betapa kenakalannya semasa hidup telah menghancurkan keharmonisan keluarga ini.
Rendy tetap bertahan berdiam diri di kamar selagi mendengar semua pertengkaran itu. Ia sempat mendengar benda jatuh di bawah---membuat nuraninya tergelitik untuk mengecek apa yang terjadi. Rendy cemas jika yang terjadi di bawah berlanjut ke perkelahian fisik. Tapi ia tetap menahan diri. Ia harus percaya ayahnya tak mungkin sampai main tangan dengan ibunya, begitu pula sebaliknya.
Ayahnya---Roy Rahmadi, yang selama bertahun-tahun Rendy jadikan panutan untuk menjadi sosok pria sejati, takkan mungkin menggunakan k*******n dalam kondisi apa pun. Rendy percaya itu.
Saat situasi di bawah sana sudah hening, Rendy terlalu lelah untu melakukan apa pun. Ia tak sanggup jika harus mengecek ke bawah dan menemukan ibunya sedang menangis. Jangan malam ini.
Besok aja, batin Rendy memutuskan. Ia pikir niatan untuk meminta maaf pada ibunya akan dilakukan esok hari yang mungkin saja akan berjalan lebih baik.
Rendy sangat meragukan hal itu.
Ketika pagi datang, dan cahaya matahari menerobos kamar melalui celah tirai jendela, Rendy terbangun dan tak merasa tubuhnya bugar. Dirinya terduduk di ranjang, sendi-sendi di tubuhnya terasa pegal dan rasa kantuk tak sepenuhnya hilang, seakan semalaman tadi ia terombang-ambing antara tidur dan terjaga.
Mungkin alasan utamanya karena bunga tidur, Rendy menebak. Ia sempat bermimpi mengenai mendiang kakaknya. Dalam mimpi itu Torro berteriak di depan hidung Rendy dalam kondisi berdarah-darah, seperti baru saja mengalami kecelakaan hebat. Mulutnya bergerak berkomat-kamit, tapi Rendy tak mendengar sepatah kata pun.
Memikirkan mimpi itu saat tubuhnya terjaga membuat Rendy merinding. Ia pernah mendengar mitos, ketika memimpikan seseorang yang telah meninggal, maka artinya orang yang meninggal tersebut hendak menyampaikan sesuatu pada kita, tapi tak bisa karena alam yang telah berbeda.
Bulu halus di tengkuk Rendy mendadak berdiri. Ia kontan melirik ke segala arah memastikan hanya seorang diri di kamarnya. Meski sering menonton film horor pun, Rendy tak percaya bahwa seseorang yang telah meninggal bisa bergentayangan dalam bentuk arwah.
Atau bisa?
Tubuh Rendy terlonjak saat pintu kamarnya diketuk seseorang.
Harusnya hantu gak bisa ngetuk pintu, pikir Rendy panik.
“Rendy? Nak?” sahut seorang pria di balik pintu. “Ini … ini Papah. Kamu udah bangun belum?”
Dasar t***l, maki Rendy pada diri sendiri. Jelas sang mengetuk pintu bukan seseorang yang Rendy takutkan. Gue harus stop nonton film horor dari sekarang.
Namun hati Rendy mendadak diliputi keresahan. Ayahnya jarang sekali mendatangi kamar Rendy sepagi ini jika tak ada hal penting yang harus dibicarakan.
“Ya, Pah.” Rendy berdeham, menyadari suaranya agak serak. “Rendy udah bangun. Ada apa?”
“Papah mau bicarain sesuatu … sebentar. Kamu ada waktu?” Suara ayahnya terdengar ragu.
Rendy mengatur napas sejenak sebelum menjawab, “Ya. Masuk aja.”
Pintu kamarnya langsung berayun terbuka. Di ambangnya berdirilah ayahnya dalam setelan pakaian rapi. Seperti hendak berpergian. Entah untuk bekerja atau mendatangi sidang perceraian … Rendy tak tahu.
“Kamu baru bangun?” tanyanya kemudian setelah mengamati seisi kamar.
Rendy mengangguk, dan entah kenapa merasa perlu membela diri. “Ini kan masih pagi, Pah.”
“Jam setengah sembilan siang,” ralat Roy menunjuk jam di dinding kamar dengan dagu.
Mata Rendy mengikuti arah yang ditunjukkan, tahu apa yang dikatakan ayahnya benar. “Jam setengah sembilan pagi.”
Roy tersenyum kecil, tapi Rendy lihat ada kerut kekhawatiran di bawah matanya. “Kamu gak berangkat kuliah?”
Butuh waktu lebih lama untuk Rendy memikirkan jawaban tepat, ia juga heran ada tujuan apa ayahnya berbasa-basi seperti ini. “Enggak dulu kayaknya. Tugas kuliah Rendy lagi banyak, lagian nanti siang Rendy kan harus jemput Anggi di rumah temennya.”
Raut wajah Roy menampakkan kebingungan. “Emangnya Anggi lagi ada di rumah temennya?”
Rendy jadi bengong sendiri dibuatnya. Ayahnya bahkan tak sadar kalau salah satu anaknya sedang tidak berada di rumah?
“Lho, Papah gak tahu?” Rendy bertanya, menyisipkan nada menyindir di dalamnya. “Anggi kan sejak kemarin main dan nginep di rumah temen sekolahnya. Rendy bakal jemput dia nanti siang. Mamah lagi gak bisa lakuin itu, soalnya kan mau … menghadiri sidang.”
Kata-kata terakhir itu awalnya Rendy niatkan sebagai sindiran tajam, tapi ia terpeleset. Suaranya bergetar karena mengingat pertengkaran kedua orang tuanya. Alhasil sindirian itu lebih terdengar seperti keluhan.
Situasi menjadi agak canggung.
“Oh.” Hanya itu respon ayahnya, tapi raut wajahnya bisa berarti banyak hal.
“Papah mau ngomongin soal apa emangnya?” tanya Rendy, kali ini berhasil mengeluarkan nada sengit. Ia sangat ingin obrolan ini segera berakhir.
Bukannya langsung menjawab, Roy segera melangkah masuk ke dalam kamar. Ia menghampiri kursi di dekat meja yang biasanya Rendy pakai untuk belajar. Kursi kayu bersandar itu dihadapkan ke arah Rendy sebelum diduduki.
Ayahnya menghela napas panjang, dan tahulah Rendy permbicaraan ini takkan berlangsung dalam waktu singkat.
***