11. Ego

1128 Kata
Kala melihat wajah ayahnya, Torro kembali merasakan penyesalan yang mendalam. Sebutkan saja segala tindakan seorang anak yang dapat mengecewakan ayahnya, maka Torro pasti pernah melakukan itu. Torro sadar dirinya bukan tipe anak yang dapat dibanggakan. Tak ada prestasi akademik yang Torro torehkan. Sudah tak terhitung berapa kali Torro mengabaikan sekolah dan kuliahnya hanya untuk terjerumus semakin dalam di dunia malam ibu kota. Berbeda pendapat dan beradu mulut dengan ayahnya bukanlah hal baru, tak terhitung berapa kali Torro dan ayahnya terlibat perdebatan panas. Biasanya perdebatan itu berakhir dengan Torro yang pergi meninggalkan rumah, tak pulang berhari-hari, dan membiarkan masalah itu mengendap begitu saja tanpa penyelesaian. Kini, Torro tak tahu sama sekali cara menyelesaikan semua masalah itu meski ia mau. Malahan Torro menduga masalah-masalah yang ada semakin bertambah banyak seiring kematiannya yang mendadak. “Kamu dari mana aja pulang larut malam begini?” tanya Puspa pada suaminya. Torro berjengit karena menangkap nada sengit dari ibunya. Mendadak Torro pun menyadari suasana tegang yang tercipta. Torro teringat pembicaraan Rendy dan Puspa yang ia curi-dengar tadi sore. Ayah dan ibunya baru saja bertengkar tadi pagi. “Ini bukan urusanmu, Puspa,” Roy menanggapi dengan nada tak kalah dingin. Pria itu melirik istrinya hanya sepersekian detik sebelum membuang muka. “Ini sudah tengah malam. Saya capek.” Torro bergeming melihat ayahnya yang segera berjalan melewati ibunya ke arah kamar. Apa yang terjadi di antara mereka? Torro membatin. Keduanya bahkan sudah memanggil dengan nama masing-masing. Ke mana kehormonisan yang dulu sering Torro lihat di awal-awal pernikahan mereka? Sebelum Roy melangkah cukup jauh, Puspa membalikkan badan dan berkata, “Tunggu dulu. Roy, ada yang mau aku bicarakan denganmu. Ini penting.” Roy Rahmadi berhenti berjalan. Tubuhnya membeku di tempat, menolak bertatap muka. “Kita akan punya banyak waktu untuk membicarakan apa pun di persidangan besok.” Meski Torro masih merasa bersalah atas kelakuan nakalanya semasa hidup, Torro tetap dibuat marah mendengar kata-kata ayahnya barusan. Bagaimana bisa lelaki tua itu membicarakan sidang perceraian dengan begitu entengnya? Seolah hal itu bukan perkara besar. “Justru itulah yang ingin aku bicarakan.” Puspa tampak berusaha kuat untuk tetap tenang. “Soal sidang besok. Aku rasa … kurasa kita harus menundanya dulu. Kita harus menunda perceraian kita. Demi anak-anak.” Arwah Torro yang masih tak kasat mata mengangguk setuju. Ledakan amarah Rendy tadi sore pasti telah membuat ibunya terkejut sampai di titik di mana ia mempertimbangkan ulang semuanya. Namun, kata-kata Puspa membuat Roy terkejut sampai ia membalikkan tubuh dengan tatapan mata memicing. “Kenapa kamu meminta begitu?” “Demi anak-anak,” Puspa mengulang, seolah alasan itu kurang cukup jelas. “Rendy dan Anggi, mereka baru saja kehilangan kakak mereka seminggu yang lalu. Aku takut perceraian ini akan membuat mental mereka terpengaruh.” Seminggu? Torro mau tak mau dibuat terkejut. Jadi seminggu telah terlewati sejak hari kematiannya? Torro bertanya-tanya di mana ia menghabiskan waktu selama tujuh hari itu. Kegelapan dan kesunyian yang pernah dirasakannya … apakah itu alam kubur? “Kita sudah membicakan ini berkali-kali, Pupsa,” seru Roy tak sabar, dan Torro kembali memfokuskan perhatiannya pada pembicaraan kedua orangtuanya ini. “Kita sudah sepakat tidak akan menunda-nunda proses perceraian ini. Lagian anak-anak pasti bisa menerima, kita hanya perlu berhati-hati saat memberitahu mereka nanti.” “Mereka tidak akan bisa menerima,” kilah Puspa pasti. Suaranya bergetar, seakan sedang menahan tangis. “Tadi sore Rendy marah sekali saat tahu besok hari pertama jadwal sidang proses perceraian kita.” Kedua bola mata Roy melebar. “Rendy? Dia tahu? Kamu sudah memberitahunya?” “Dia tahu dengan sendirinya,” ralat Puspa, menampik tuduhan itu. “Dia tahu bahkan sebelum Torro ….” Puspa tercekat, tak sanggup melanjutkan kalimat itu. Meninggal. “Pokoknya, Rendy sudah tahu sejak lama. Dia masuk ke kamar kita dan melihat surat dari pengadilan itu!” “Dia tahu?” kata Roy mengulang, fakta ini tampaknya benar-benar membuatnya terperanjat. “Tapi … dia tidak pernah mengatakan apa-apa soal itu padaku.” Mendadak raut wajah Roy melembut, tatapan matanya diwarnai sendu. Torro senang melihat itu. Membuktikan bahwa ayahnya tak sepenuhnya berubah jadi pria egois yang tak mementikan perasaan anak-anaknya. Kelembutan sebagai seorang ayah masih ada pada dirinya. Puspa menyeka mata sebelum berucap, “Entahlah. Mungkin Rendy terlalu segan buat berterus terang sama kamu, atau mungkin dia sedang menunggu kamu yang mengatakannya terlebih dulu. Yang pasti, dia begitu marah pada hari sidang kita besok. Kita harus menundanya.” Selama sesaat Roy tampak bimbang, dan Torro optimis ayahnya akan mengalah. Pria itu selalu menomor satukan keluarga dibandingkan apa pun selama ini. Namun keoptimisannya runtuh seketika melihat ayahnya menggeleng. “Tidak,” ucap Roy kuat-kuat, seakan sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Ini sudah keputusan yang kita ambil sejak lama. Soal Rendy, besok pagi akan saya coba berbicara dengannya. Dia bakalan mengerti.” Kekecewaan merambati hati Torro, begitu pun dengan ibu tirinya. “Roy!” Puspa tampak tak percaya. “Bagaimana bisa kamu sekeras kepala itu? Ini anak-anak yang sedang kita bicarakan!” “Sejak awal kamu yang menginginkan ini, Puspa!” bentak Roy kembali menunjukkan sifat kerasnya. “Sejak awal kamu yang menginginkan perceraian ini!” “Aku tidak akan meminta ini kalau kamu tidak terus-terusan menyalahkanku atas semua yang Torro lakukan!” Roy melangkah mendekat. “Tapi memang kamu penyebabnya! Kamu kurang memperhatikan Torro anakku sampai-sampai dia bisa tercebur ke pergaulan yang salah!” Torro begitu terperanjat menyaksikan pertengkaran keduanya, terutama saat namanya ikut terseret dan disebut-sebut. Mulutnya menganga, tak tahu harus bereaksi apa. “Anak kita, Roy!” Puspa menimpali dengan nada tak kalah tinggi. “Torro juga anakku! Aku menyayanginya sama besar dengan aku menyayangi Rendy dan Anggi!” “Bohong!” tuduh Roy tajam. “Sejak awal pernikahan kita aku tahu kamu tidak bisa menerima Torro sebagai anak tiri kamu sepenuhnya! Kamu tidak pernah berusaha mendekati dia dan memberi dia perhatikan yang cukup! Yang kamu pikirkan hanya Rendy dan Anggi! Sekarang lihat apa akibatnya! Anakku dengan Sumirah meninggal karena dia berkendara dalam keadaan mabuk! Itu semua karena kamu, Puspa!” Puspa jatuh terduduk sambil berlinang air mata. Tangisannya yang semakin kencang mencairkan kebekuan sikap Torro. Sebuah figura foto yang terpajang di dinding terdekat terjatuh. Kacanya pecah berhamburan di lantai. “Papah ini apa-apaan, sih!” Arwah Torro membentak tepat di hadapan ayahnya, merasa begitu marah dan tak berdaya. “Semua yang Torro lakuin di luar rumah ini gak ada hubungannya sama Mamah! Papah nyalahin orang yang salah!” Rasa frustasinya memuncak melihat lelaki di depannya tak bereaksi apa-apa. Ucapan Torro tetap tak bisa didengar oleh ayahnya. “Tolong berhenti nyalahin Mamah!” Torro berteriak lagi meski tahu kata-kata itu tak akan berpengaruh pada apa pun. Mendadak ia teringat pada keberadaan Rendy di lantai atas. Entah sudah tertidur atau belum, Torro harus menemukan cara agar Rendy bersedia menengahi pertengkaran ayah dan ibunya. Dengan cepat Torro memelesat ke atas, terheran-heran mengapa adiknya tak bereaksi pada perdebatan sengit kedua orangtuanya. Saat tubuhnya telah menembus dinding memasuki kamar Rendy, Torro lagi-lagi terperangah. Hatinya remuk redam melihat apa yang ada di hadapan mata. Rendy belum tertidur. Remaja laki-laki itu terduduk di tepi ranjang menghadap pintu kamar. Bahunya bergetar, kedua ujung kelopak matanya mengalirkan air mata. Ia menangis tanpa suara. Sadarlah Torro, Rendy memang telah mendengar semua pertengkaran yang terjadi di bawah sana sejak tadi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN