52. Sisi Lain Mahardika Rusdiantorro

1760 Kata
Selagi mengikuti langkah kaki Ruslan di depan, Rendy terus mengingatkan diri sendiri bahwa ia tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Dirinya aman, berada di rumah seorang teman terdekat kakaknya. Ruslan juga bersikap ramah, sejauh ini menyambut baik kedatangannya. Hanya saja, Rendy masih merasakan situasi was-was yang sejak awal ditampilkan cowok tersebut, seolah-seolah mereka tengah dalam bahaya. Bagai ada awan mendung besar tepat di atas kepala, yang bisa saja sewaktu-waktu menurunkan hujan badai disertai petir, kilat dan guntur yang menggelegar. Rendy tak suka dengan perasaan semacam ini. Namun, tamu macam apa dirinya jika langsung pamit pulang? Akan sia-sia saja kedatangannya bila Rendy undur diri sekarang juga. Rendy belum mendapat apa yang diinginkannya dengan bertandang ke rumah ini. Ruslan akan menunjukkan padanya sekarang juga. Mereka melewati lorong yang menghubungkan ruang depan, dapur, pintu kamar mandi dan dua pintu kamar tidur. Bentuk rumah ini benar-benar memanjang ke belakang, tiap ruangan dipisahkan dinding penyekat, jadi terkesan seperti susunan kubus yang dibuat berderet. Di ujung belakang bangunan-lah bengkel pribadi Ruslan terletak. Berpintu kayu yang dicat hitam sembarang, gradasi warna lain pada pintu tersebut menandakan bahwa pengecatan ulang dengan warna berlainan sudah dilakukan berkali-kali. “Ini dia,” ucap Torro yang mengikuti tepat di belakang. Ruslan membuka pintu dan mempersilakan Rendy melihat ke dalam. Sebelumnya ia sudah membayangkan seperti apa rupa bengkel pribadi tersebut, jadinya ia tak begitu terkejut. Tepat seperti apa yang diduganya, bengkel ini luas---tampak seperti rumah jagal bagi mesin kendaraan beroda dua. Berlantai marmer putih ternoda oli, dinding bercat hijau terkelupas digantungi bermacam-macam komponen motor yang dikaitkan dengan paku. Lampu neon terpasang di langit-langit dalam keadaan menyala. Di ujung ruangan yang berseberangan dengan pintu masuk terdapat konter kaca kecil yang disesaki berbagai benda, di sisi konter ada sebuah motor besar yang ditutupi kain putih, lalu pintu. Entah apa pintu itu menuju ke ruangan lain di rumah atau semacam pintu belakang yang terhubung dengan g**g pemukiman penduduk. Sosok hantu Torro bergerak ke tengah ruangan di mana sebuah motor tengah dibongkar muat bagian dalamnya. Peralatan pertukangan tergeletak di sekitarnya. Jangan tanya Rendy nama-nama benda tersebut, ia tak tahu sama sekali. Sang kakak menyeringai padanya lalu melambaikan kedua tangan ke sekelilingnya. “Gimana, Ren? Keren, kan?” Rendy memutar bola mata. Torro bersikap seakan ini adalah bengkel miliknya sendiri. Lalu sudut matanya menangkap sudut lain ruangan, ada sebuah tangga kayu curam menuju … lantai atas? Rendy tak yakin, dari luar rumah ini tampaknya hanya berlantai satu. Rendy berjalan mendekat lalu mendongak ke atas, tempat yang dituju tangga ini begitu gelap. Rendy langsung mengenali efek klaustrophobia menyerang perasaannya. “Oh itu cuman loteng,” kata Ruslan santai, berdiam diri di ambang pintu, membiarkan adik dari mendiang sahabatnya menjelajah. “Bukan lantai atas sih, cuman ruangan sempit yang gue jadiin gudang aja. Jangan coba-coba naik ke sana, di atas agak angker---banyak setannya.” Rendy kontan memandangnya. Ruslan tertawa. “Gue cuman bercanda. Lo boleh naik kalau mau lihat-lihat.” Tapi Rendy enggan melakukannya. Hanya loteng, apa yang menarik untuk diamati? Lagian berbicara tentang tempat angker yang disesaki mahluk halus, Ruslan tak tahu saja bahwa salah satu hantu sedang berada di antara mereka: Torro ikut tertawa melihat sikap jahil temannya. Jemari tangan kanan Rendy menunjuk pada pintu di dekat konter. “Itu pintu mengarah ke mana?” “Itu pintu belakang,” jawab Torro, menganggap dirinya yang ditanyai. “Pintu keluar,” Ruslan ikut-ikutan menjawab. “Nyambung ke perumahan warga. Gue biasanya masukin motor ke bengkel ini lewat pintu itu.” “Oh.” Rendy berjalan memutari rungan, lalu menilai keadaan motor rusak yang sedang diperbaiki di tengah-tengah bengkel, baru sedetik setelahnya ia mengenali. “Eh, ini motor lo kan, Bang?” Ia mengenalinya pada kunjungan terakhir Ruslan ke rumahnya tempo hari. Waktu itu Ruslan menggunakan motor ini. “Rusaknya parah begini, apa yang terjadi?” Jari Rendy menelusuri bagian penyok pada badan motor sambil duduk berjongkok. Kedua kaca spionnya tak ada. Lima detik kemudian Rendy menyadari bahwa Ruslan mau pun Torro tak menyahut, ia melirik keduanya bergantian. Anehnya kedua pria tersebut memasang raut wajah simpatik, seakan mereka sedang memandangi seorang korban dari sebuah kejadian tragis. Yah, di mata pecinta kuda besi, keadaan motor yang rusak begini mungkin memang bisa disebut tragedi. “Kan gue udah pernah bilang,” ucap Torro sendu. “Sewaktu bengkel diserang, motor Ruslan sama motor lain punya Ranto dijadiin bahan amukan dan sasaran. Lo lihat sendiri gimana jadinya, Ren, motor si Ruslan rusak parah.” Pengerusakan barang pribadi milik orang lain seharusnya sudah masuk ke tindakan kriminal, belum lagi p*********n dan tindak ancaman lainnya. Meski Rendy tidak kuliah di jurusan hukum, ia cukup yakin apa yang dilakukan komplotan pria itu---apa pun alasannya---adalah perbuatan melanggar hukum. Dapat diproses ke pihak berwenang, dibawa ke ranah persidangan … asalkan Ruslan sebagai pihak yang dirugikan membuat laporan terlebih dulu. Ruslan menatap Rendy lebih lama, lalu berkata, “Iya, motor gue rusak abis dihajar orang.” Menganggap ini sebagai sebuah kesempatan untuk memancing Ruslan membahas permasalahan, Rendy pura-pura kaget dan bertanya, “Waduh, dirusak orang? Kok bisa? Kapan kejadiannya?” “Dua malam lalu.” Ruslan bergerak mendekat, ikut berjongkok di samping motor yang berseberangan dengan Rendy. “Dirusak orang gak dikenal.” “Dia bohong,” kata Torro menyergah, menatap adiknya dengan berapi-api. “Dia tahu kalau orang yang nyerang itu anak tongkronganya si Fadli. Tanyain dia lebih jauh, Ren.” “Bang Ruslan udah lapor polisi?” tanya Rendy diplomatis, ia tak ingin terus-terusan berbicara atas arahan kakaknya. Dirinya punya cara tersendiri dalam pendekatan ini. “Belum.” Ruslan menggeleng. “Gue gak ada niatan, lagian gue gak kenal orang-orangnya.” “Tapi---” “Udah, itu gak perlu dibahas,” Ruslan menekankan dengan sikap tak ingin membahas lebih jauh perkara ini. “Udah lewat juga kok, gue udah ikhlas nanggung kerusakannya.” Ia bangkit berdiri. “Sekarang, lo ke sini kan ada tujuan khusus, Ren. Gue tunjukkin.” Sikap defensif cowok tersebut membuat Rendy agak kagok, dirinya ingin terus mencecar Ruslan sampai pria itu mau menceritakan semua masalahnya, tapi menantang batas kesabaran seorang pria tak ada baiknya. Rendy mau tak mau mengikuti untuk sementara ini. Ruslan menghampiri motor lain dalam bengkel yang diselimuti kain putih, ia menyibakkan kain tersebut sampai perwujudan kuda besi besar tak terhalangi oleh apa pun. Meski tak paham tentang pemotoran, Rendy bisa menganggap bahwa motor itu cukup berkelas. Berbadan besar, warna merah menyala, setang hitam bercorak tengkorak, dan permukaan jok meliuk-liuk. Tulisan HARLEY 3860 tertulis di badan samping dalam corak tulisan emas. “Eh,” Rendy kebingungan, “kenapa lo nunjukkin gue itu?” “Ini motor,” Ruslan menyeringai menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi, “punya mendiang kakak lo.” Pikiran Rendy mendadak kosong. “Apa?” Sosok Torro mendekat, berdiri di samping temannya dan ikut menyeringai pada Rendy, rupanya puas bahwa reaksi adiknya sesuai ekspektasinya. “Ini motor milik Torro,” Ruslan mengulang dengan sabar, mengetuk kepala motor dengan kepalan tangan. “Dia punya ini baru setahun.” “Mas Torro punya motor lebih dari satu?” Rendy menyemburkan pertanyaan itu, tertuju pada Ruslan mau pun Torro sendiri. “Dia udah lama punya dua motor? Dan gak ngasih tahu keluarganya?” Torro tersenyum makin lebar, tapi tak berkata apa-apa. Membiarkan Ruslan yang menjelaskan. “Dia sengaja gak ngasih tahu, gue gak tahu juga kenapa. Mungkin alasannya sumber duit buat belinya … gak akan diapresiasi keluarganya.” “Emang dia dapat duit dari mana?” selidik Rendy, menyadari bahwa Torro rupanya punya banyak rahasia. Tumpuan kakinya selagi berdiri ia ganti dengan gelisah. “Dari balapan,” jawab Ruslan. “Tiap balapan kan kadang-kadang ada nilai taruhannya---tinggi juga. Gue tahu kesannya kayak judi, tapi … Torro benar-benar hebat soal adu kecepatan. Dia menang terus dan … ya, dari sana almarhum dapat sumber penghasilan.” Kini Rendy tak bisa berkata-kata. Sejak dulu ia selalu bertanya-tanya kakaknya punya uang dari mana untuk bersenang-senang menikmati dunia malam. Setahu Rendy, ayah mereka sudah menyetop total uang jajan Torro ketika kenakalannya mulai menjadi-jadi. Kini pertanyaan itu terjawab sudah. “Oh iya,” Ruslan melanjutkan seakan baru teringat, “Torro gak selalu ngabisin duitnya buat foya-foya. Bengkel gue yang lo datangin kemarin? Itu bukan sepenuhnya milik gue, tapi juga milik kakak lo---dia punya saham di sana. Torro nyumbang modal di awal pembuatan bengkel sekitar … empat puluh lima persen. Lebih seringnya emang gue yang kelola---dan tanah bangunannya atas nama gue, tapi tiap ada penghasilan … almahum juga kebagian jatah. Itu perjanjian gue sama Torro dulu. Jadi,” Ruslan nyengir, “sebenarnya bukan gue yang nanggung biaya perbaikan motor, tapi Torro sendiri punya duit yang lebih dari cukup buat itu.” Kepala Rendy jadi linglung, ia tak bisa memproses semua kabar tersebut sekaligus. Ia mengecap-ngecap bibir. “Oke … gue gak tahu harus ngomong apa.” Hantu mendiang saudaranya tertawa. “Hebat kan gue, Ren?” Ternyata inilah kejutan yang Torro singgung-singgung sebelumnya. Pantas saja cowok itu tampak bersemangat mengajak Rendy berkunjung ke kediaman Ruslan. “Gue tahu lo kaget,” kata Ruslan memaklumi. “Tanyain apa pun yang lo mau, gue bakal jawab.” “Satu hal,” aku Rendy, menjaga suaranya senormal mungkin. “Kenapa Bang Ruslan gak ceritain semua ini ke bokap-nyokap gue sedari awal? Kenapa sekarang? Dan lewat gue?” Ruslan mengangkat bahu. “Belum nemu waktu yang pas aja. Kalian kan sempat sibuk ngurus pemakaman almarhum, gak etis kalau gue bahas langsung dan ngasih tahu soal beginian. Gue sebenarnya nunggu waktu lebih lama dulu biar kalian gak begitu berduka, tapi kebetulan lo telepon gue, kan? Minta gue datang ke rumah lo buat perbaiki motor almarhum. Dan sekarang lo di sini, biar sekalian. Lagian gue gak berani ngomong langsung ke orang tua lo, terutama bokap lo yang galak itu.” Rendy tertawa, tapi tawanya terkesan hampa dan berhenti seketika. Sejujurnya, Rendy tak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayahnya jika diberitahu semua ini, terutama ibunya. Sumber penghasilan pendapatan Torro---dari balapan liar---memang tampaknya takkan begitu diapresiasi. Kini Rendy hanya mengenali reaksinya sendiri. Ia takjub, kagum melihat bagaimana saudaranya telah berpenghasilan sendiri dari hobi. Meski ditentang, Torro toh sudah membuktikan bahwa ia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Rasa respek Rendy pada mendiang kakaknya meningkat. “Hmm,” gumam Rendy dengan pikiran menerawang. “Gue gak tahu gimana caranya ngasih tahu orang tua.” “Itu terserah lo,” Ruslan bersandar pada badan motor. “Gue hanya berusaha amanah, ada hak dan harta Torro yang gue pegang, udah kewajiban gue buat menyerahkan semua itu ke orang yang berhak---yaitu anggota keluarganya. Dan karena lo satu-satunya keluarga almarhum yang tahu soal ini … gue limpahkan semuanya ke lo.” Mulut Rendy serta merta terbuka lebar. Ruslan melanjutkan, mengabaikan keterkejutan Rendy, “Kalau almarhum ada di sini sekarang, gue cukup yakin dia bakal setuju.” Dan arwah Torro memang sedang berada di sana di antara keduanya. Raut wajahnya melembut, nadanya penuh kuasa saat berkata, “Gue ada di sini, Ren. Dan gue emang setuju kalau lo yang terima semua harta peninggalan gue. Semuanya jadi milik lo.” Otak Rendy mendadak macet. Pundaknya memberat bagai tertimpa durian runtuh. Satu kepingan benaknya yang jernih menyimpulkan apa yang sedang terjadi: dirinya baru saja mendapat warisan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN