53. Awal Terjalinnya Ikatan Pertemanan

2637 Kata
Beginilah ceritanya bagaimana Torro dan Ruslan bisa berkenalan pada kesempatan pertama. Sewaktu masih berkuliah pada semester kedua, Torro bergabung dengan komunitas pecinta motor gede seluruh Indonesia. Torro mengenal komunitas tersebut berkat undangan salah satu temannya di aplikasi f*******:. Tak ada niatan khusus pada awalnya, Torro berminat bergabung hanya karena ingin berkenalan dan mengobrol dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa: dunia otomotif dan motor gede. Pada suatu hari, anggota komunitas berdomisili Jakarta mengadakan pertemuan langsung di sebuah café daerah Cikini, Jakarta Selatan. Bukan acara spesial, melainkan hanya ajang untuk silaturahmi dan perkenalan antar anggota. Merasa itu adalah kesempatan bagus untuk memperluas koneksi dan pertemanan, Torro ikut hadir, beserta motor gede miliknya yang merupakan hadiah ulang tahun dirinya dari sang ayah pada usia dua puluh satu tahun. Dalam pertemuan itu dijadwalkan acara utama dimulai pada pukul sepuluh pagi, tapi Torro datang lebih awal yakni jam setengah sembilan---sengaja ingin mendapat beberapa kenalan terlebih dulu. Dan ternyata bukan hanya ia yang datang terlalu dini karena beberapa member telah memadati area café. Café tempat pertemuan tersebut telah dipesan khusus untuk acara komunitas pada hari ini, tak menerima pengunjung dari luar acara. Meja-meja yang tertata rapi sebagian masih kosong, sebagian kecil telah terisi dalam kelompok-kelompok kecil. Torro masih belum memiliki kenalan dekat, dirinya baru beberapa bulan bergabung. Teman terdekatnya sesama anggota hanya ia kenal melalui online, dan tinggal di luar kota sehingga tak memungkinkan untuk ikut dan menghadiri acara. Ada sebuah meja yang hanya ditempati satu orang ketika Torro datang. Penghuninya merupakan pria bertubuh besar, berwarna kulit kuning langsat dan berambut rancung hitam dipotong pendek ala tentara. Wajah pria itu agak tembam, orang-orang sering menyebutnya sebagai ‘baby face’. Beralis tebal, kelopak mata yang tampak sayu, hidung runcing lurus dan bibir penuh---bagian bawah bibirnya lebih tebal. Kulit muka cowok tersebut amat mulus, dipenuhi bulu kumis dan janggut yang dipotong rapi. Bahkan saat itu Torro berpikir cowok itu seperti sedang kesasar di sebuah tempat yang tidak diperuntukkan baginya, sebab penampilannya terawat sekali untuk ukuran seorang pecinta motor gede dan otomotif. Tentu saja, akhir-akhir ini Torro sadar pendapatnya keliru. Tak ada yang salah dengan pria yang gemar merawat tubuh sendiri, bukan begitu? Tak peduli bidang apa yang pria itu tekuni. Sesaat Torro mengamati meja lain, baru sedikit terisi, orang-orang tersebut terkumpul pada kelompoknya sendiri, sepertinya mereka adalah member klub yang lebih lama dan sudah memiliki banyak kenalan sesama anggota. Komunikasi mereka seru sekali dan tak jarang dihiasi tawa. Persahabatannya tampak sangat kental, Torro yang orang baru jadi tak percaya diri untuk bergabung pada kelompok yang ada. Jadi, berdasarkan insting, Torro menghampiri meja yang baru hanya dihuni oleh satu orang tersebut. Soalnya cowok tembam itu terkesan sama-sama belum memiliki teman. “Hei,” sapa Torro menyapa lebih dulu, kakinya sudah menepi di pinggir meja. “Kenalin gue Torro.” Ia mengulurkan tangan. Cowok itu tampak senang dihampiri seseorang, menerima jabatan tangan Torro dengan antusias---bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya. “Oh ya, gue Ruslan Hadi, panggil aja Ruslan.” Jabatan tangan itu terlepas. “Gue boleh gabung di sini?” Torro menunjuk kursi kosong. “Oh ya, pastinya. Kursinya banyak yang masih kosong.” Ruslan mempersilakannya sembari kembali terududuk dan mengamati sosok Torro sesaat. “Member baru juga ya di sini? Baru gabung?” “Begitulah,” Torro menyahut sambil mencari posisi duduk yang nyaman. “Gue baru gabung sekitar enam bulanan, lo sendiri?” Ada sebuah aturan yang harus diikuti member komunitas jika ingin menghadiri acara perkumpulan pada hari itu, yakni harus menggunakan jaket kulit tebal khas gaya pengendara motor. Semacam dress code, pertanda bahwa mereka tergabung pada klub yang sama. Semua orang di dalam café---kecuali pelayan atau pramusaji---tengah mengenakannya. Termasuk Torro dan Ruslan. Jaket Torro berwarna biru gelap dengan terusan celana gombrong berwarna serupa, terdapat hiasan rantai kecil di sakunya. Bagian punggungnya dihiasi sablonan tengkorak putih tertusuk pisau. Sementara Ruslan mengenakan jaket hitam legam bercelana jeans krem dengan lubang pada lutut. Jam tangan perak melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Gue malah lebih baru lagi,” ujar Ruslan menjawab pertanyaan Torro. “Baru gabung dua mingguan, pas banget gue gabung komunitas lagi seru bahas acara ini. Sekalian aja gue ikut.” Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Yang lain gue lihat udah punya temen dan kenalan sendiri, gue jadi segan buat ikutan nimbrung.” Torro tertawa. “Sama. Yah namanya juga anggota baru, agak dikucilkan di awal-awal, resiko jadi anak baru.” “Resiko jadi anak baru,” Ruslan sependapat dengan mengangguk-anggukan kepala. Tak lama setelah itu café mulai sesak dipenuhi anggota komunitas yang berdatangan. Acara berlangsung sesuai jadwal dan berjalan cukup seru. Torro benar-benar mendapat lebih banyak kenalan lagi, tapi dalam beberapa bulan dan tahun mendatang, hanya Ruslan-lah kenalan sesama anggota yang berteman dengannya paling lama. Alasannya? Sederhana saja, Torro menemukan bahwa Ruslan memiliki kesamaan nasib dengannya. Hal ini Torro ketahui dalam obrolan-obrolan singkat sewaktu bertemu. Sebagai anggota baru, Torro dan Ruslan sengaja lebih aktif mengikuti kegiatan dan acara pertemuan, seringnya berupa acara untuk nongkrong bareng dan bermotor bersama mengarungi jalan ibu kota. Intensitas pertemuan keduanya pun meninggi, memungkinkan lebih sering bercakap-cakap mengenai hal-hal pribadi. Memang, pada awal-awal topik obrolan mereka sebatas hobi, apa alasan masing-masing bisa menyukai motor gede dan hal umum lainnya. Tapi semakin lama, keduanya semakin dekat, tak ada lagi rasa canggung untuk membicarakan masalah personal. Dalam obrolan-obrolan itu, Torro jadi banyak tahu tentang Ruslan. Cowok itu ternyata berusia tiga tahun lebih tua darinya, tapi wajah Ruslan yang ‘baby face’ tersebut membuatnya tampak seumuran dengan Torro. Torro juga tahu mengenai kehidupan pribadi teman barunya. Ruslan adalah anak tunggal. Ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di bangku dua SMP, penyebabnya karena over dosis obat-obatan. Setelah itu ibunya menikah lagi dengan seorang pria yang tak mau mengakrabkan diri dengan anak tiri. Ruslan pun tak begitu akrab dengan ayah sambungnya. Itu tak menghentikan ibunya dalam meciptakan keluarga baru, melahirkan anak-anak yang adalah saudara beda bapak bagi Ruslan. Lambat laun, Ruslan mulai tersisihkan. Satu-satunya orang tua kandung yang ia miliki telah memiliki kehidupannya sendiri, meski ibunya berusaha sekuat tenaga agar tak terkesan mencampakannya. “Gue gak deket sama adik-adik gue,” aku Ruslan pada suatu hari. Pada salah satu kunjungan Torro ke rumahnya untuk nongkrong. “Malahan gue jarang ketemu mereka. Rumah yang gue tempatin ini peninggalan bokap, nyokap gue ngebiarin buat gue tinggal di sini aja. Sementara dia sendiri tinggal di rumah suami barunya. Tiap kali coba main ke sana, gue ngerasa gak betah. Jadi kayak orang asing di keluarga sendiri.” Sewaktu pertama kali mendengar cerita tersebut, Torro langsung merasa senasib sepenanggungan. Torro juga mulai tak segan menceritakan kehidupannya sendiri, tentang bagaimana ibunya---Sumirah---telah meninggal ketika dirinya masih kecil. Ayahnya yang menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Puspa. Sisi baiknya, Puspa tipe ibu sambung yang bersedia mengakrabkan diri dengan Torro, meski Torro merasa terlalu canggung dan asing untuk menerima tawaran keakraban tersebut. Puspa ibu tirinya juga telah melahirkan dua adik beda ibu baginya, yakni Rendy dan Anggia. Torro juga kadang tak merasa begitu dekat dengan keduanya. Sifat Rendy terlalu kaku dan patuh aturan, sementara Anggia sangat menggemaskan juga polos. Hanya itu yang Torro tahu. Terkadang, Torro melihat keluarganya menikmati waktu santai di sofa ruang keluarga. Ayahnya tampak bahagia dikelilingi istri dan anak-anaknya yang baru. Torro paham betul bagaimana perasaan Ruslan, ia juga sering merasa tersisihkan di keluarganya sendiri. Sewaktu Torro telah menceritakan semua itu, Ruslan tersenyum simpatik. Ia mengangkat gelas kopi, mengajak Torro bersulang. “Untuk anak sulung yang merasa tersisihkan,” katanya. Torro mengangkat gelas kopinya sendiri dan menubrukkan kedua benda tersebut. “Untuk anak sulung yang merasa tersisihkan.” Keduanya bersama-sama meminum kopi, mengawali sebuah pertemanan yang kian dekat. Bahkan saking dekatnya, Torro jadi tahu bahwa Ruslan memiliki cita-cita membangun usaha sebuah bengkel sendiri, telah menabung cukup lama demi membeli sebuah tanah dan bangunan untuk mendirikan tempat usahanya di masa mendatang. Salah satu sifat Ruslan yang Torro kagumi, adalah cowok itu gigih dan berusaha kuat dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Tekun juga fokus. “Nyokap gue ngebantu,” kata Ruslan pada dirinya. “Beliau ngizinin gue pakai harta warisan bokap bagiannya buat gue beli tanah dan bangunan---toh suami barunya aja udah kaya. Sekarang gue tinggal nyari modal aja buat bangun bengkel.” Itulah awal-awal Torro mulai memasuki dunia balap liar. Berkat kenalan dari Ruslan, Torro mengetahui bahwa pada malam-malam tertentu, sekelompok pemuda Jakarta akan mengadakan lomba balap motor di jalanan dengan hadiah berupa uang dalam nilai tertentu. Nilai hadiahnya berbeda-beda tergantung kedermawanan sponsor dan kerumunan yang memasang taruhan. Ruslan menceritakan ini pada waktu-waktu luang mereka. Ditemani segelas kopi, berbungkus-bungkus rokok serta camilan pengisi perut. “Gimana kalau lo ikutan aja, Tor?” tawar Ruslan suatu ketika. “Lo kan cukup mahir tuh dalam berkendara dengan kecepatan super. Kalau lo menang, bagus nanti dapat duit. Kalau kalah juga gak rugi apa-apa. Gue punya temen yang bisa dengan gampang ngajuin lo buat ikutan kalau lo mau.” Tak butuh waktu lama bagi Torro menyetujuinya. Awal memasuki dunia balap liar, tujuan Torro memang hanya demi uang hadiah, tapi pada akhirnya ia juga menemukan sebentuk kesenangan dan kepuasan dalam menggeluti dunia tersebut. Torro menyukai kecepatan, sensasi terbang kala melajukan motornya dalam kecepatan di atas rata-rata. Dirinya menyukai angin yang menampar-nampar wajah, dunia yang beberapa saat tampak mengabur di sekelilingnya. Saran dan tawaran dari Ruslan mendatangkan rezeki yang tak disangka-sangka baginya. Sang sahabat rupanya sudah yakin sejak awal bahwa Torro berbakat. Torro memenangi sejumlah perlombaan, memenangkan hadian, dengan begitu pula menaikkan reputasinya di dunia balap ilegar malam hari Ibu Kota. Ketika menyebut reputasi, memang tak terasa berlebihan menyebutnya demikian. Nama Torro terangkat dan dikenal luas bagi para pecinta dunia malam, bahkan sering ditantang oleh pembalap dari daerah lain dengan menawarkan sejumlah uang jika berhasil mengalahkannya. Pundi-pundi mengucur deras ke dompetnya, dan Torro merasa bangga atas pencapaiannya, senang karena memiliki teman seperti Ruslan yang berguna dari sisi mana pun. Tentu saja, aksi Torro bukan berarti tak menimbulkan masalah. Ayahnya marah besar saat tahu Torro telah melibatkan diri dalam hal apa, berakibat pada dihentikannya uang jajan Torro secara total. Sudah terlambat, Torro berpikir berada di atas angin. Ia sudah memiliki penghasilannya sendiri sehingga merasa tak membutuhkan bantuan keungan dari ayahnya. Pada waktu itu hubungan dengan keluarganya tengah pada puncak terburuknya. Torro dan Roy sering bertengkar, beradu mulut dan bertikai. Pada suatu malam, ayahnya bahkan pernah mengusir Torro dari rumah berkat sudah tak bisa lagi menguasai emosi. Beberapa hari sesudah itu ibu tirinya meneleponnya, mencoba membujuk Torro kembali pulang, mangatakan bahwa ayahnya telah menyesal mengusirnya dan berjanji takkan mengekang keinginan Torro. Torro kembali pulang, tapi kedekatan dengan sang ayah atau siapa pun di rumah tak pernah sama lagi. Torro bahkan jadi jarang pulang ke rumah setelah insiden pertengkaran itu berlalu, lebih memilih menumpang di rumah Ruslan atau temannya yang lain. Bagi Torro, tinggal berdiam diri di rumah saat itu teramat memuakkan. Di dunia luar, Torro menikmati puncak kejayaan hidupnya. Jauh dari keluarga, melenakan diri pada kenikmatan duniawi. Bahkan pada satu titik, Torro memutuskan untuk berhenti kuliah. Hal itu menimbulkan kehebohan baru di keluarganya, tapi Torro telah bertekad bulat meski ditentang habis-habisan. Hubungan dengan ayahnya makin memanas. Ruslan tahu semua kejadian itu karena Torro yang menceritakannya sendiri. “Lo yakin mau berhenti kuliah?” tanya Ruslan meragukan. “Gue tau lo udah punya penghasilan dari balapan, tapi kan kuliah menentukan masa depan lo nantinya.” “Kuliah gak ada gunanya,” timpal Torro tak peduli, sekalinya telah memutuskan sesuatu, ia takkan mengubah keputusan itu meski Ruslan teman terdekatnya mencoba membujuk. “Udah, lo mendingan fokus aja lagi ngatur jadwal balapan gue. Usahain lebih sering, seminggu dua atau tiga kali juga gue sanggup.” Pandangan mata Ruslan melirih. “Lo tahu, gue rasa kita stop dulu ikutan ajang begituan. Gue ngerasa gak enak sama keluarga lo, lo ikut dunia balap liar karena ajakan dari gue, dan sekarang kondisi lo sama keluarga malah parah.” Bola mata Ruslan melebar. “Ah, lo gak perlu mikirin itu lah, Bro. Soal keluarga gue biar gue yang ngurus sendiri. Kita terus ikut balapan, dan kalau duit gue udah cukup,” mulut Torro menyeringai, “gue punya niatan buat nyumbang modal lo ngebangun bengkel.” Mata seseorang akan berbinar-binar jika dijanjikan terwujudnya sebuah harapan. Kini, Ruslan pun bereaksi serupa. “Lo serius?” Setiap kali mendapatkan uang hadiah dari memenangkan ajang perlombaan, Torro selalu membaginya sama rata dengan sang sahabat. Pasti saja Ruslan kebagian, toh awal usulan mengikuti balapan berasal dari pemikiran Ruslan. Meski begitu, Torro juga sudah memiliki keuangannnya sendiri yang lumayan besar---hasil dari puluhan lomba yang diikutinya. “Gue serius,” kata Torro yakin. “Lo bisa mulai buka usaha lebih cepat kalau bantu gue menangin balapan lebih sering lagi. Gue nanam modal, kebagian saham dan penghasilan dibagi persenan. Selebihnya soal bengkel lo bisa atur sendiri nanti.” Dengan dijanjikan begitu Ruslan melupakan usahanya membujuk Torro menimbang-nimbang keputusan. Ia ikut terhanyut pada buaian mimpi, seseorang memang akan sangat lupa waktu dan tak peka kondisi kala impian terbesarnya nyaris teraih. Selanjutnya, kehidupan membimbing keduanya dalam menjalankan apa yang mereka rencanakan. Torro makin intens mengikuti lomba balap, dan mendatangkan kemahsyuran atas namanya tiap kali menang. Pada saat itu Torro juga telah memecahkan rekor periode waktu paling lama ia tak pulang ke rumah: nyaris tiga bulan. Dalam jangka setahun, bengkel impian Ruslan sudah mulai beroperasi. Terbilang usaha kecil tentu saja, spare part motor yang tersedia pun masih sedikit dan belum lengkap. Tiap kali ada motor pelanggan yang komponen rusaknya perlu diganti, mereka akan membeli komponen tersebut di bengkel lain. Pada awal-awal buka Torro bahkan ikut membantu menjaga konter, sementara Ruslan kebagian pekerjaan sebagai montir itu sendiri. Mereka masih kekurangan uang untuk mempekerjakan montir lain, tapi toh Ruslan tampak senang-senang saja bekerja untuk tempat usahanya sendiri. Dalam kurun waktu yang lama, Torro melupakan keluarganya. Ada perasaan sesal yang terkadang timbul, tapi Torro menekan perasaa itu dalam-dalam. Torro berpikir, toh ia di luaran rumah juga bukan berarti tak melakukan apa-apa. Ia tengah membangun cerita kesuksesannya sendiri. Torro berencana, jika bengkel Ruslan makin besar dan penghasilannya makin menggelembung, ia akan menunjukkan serta menyombongkan hasil dari jerih payahnya tersebut pada orang-orang rumah. Membuktikan pada ayahnya bahwa ia bisa berhasil dalam hidup tanpa harus menyelesaikan kuliah. Tunggu saja sampai ayahnya melihat apa yang dimilikinya, Torro berpikir, pria tua itu pasti akan mengakui dirinya lagi dan mungkin … mungkin saja hubungan mereka akan membaik. Lambat laun, usaha tempat kerja Ruslan makin besar. Suku cadang motor yang tersedia makin lengkap dan beragam. Pendapatannya telah stabil dan konstan sehingga tak perlu lagi disuntik modal tambahan. Penghasilan telah cukup besar untuk memenuhi pengeluaran, serta mempekerjaan tiga montir baru dalam setahun terakhir. Suksesnya bengkel tersebut tak menghentikan Torro dan Ruslan dalam terus menggeluti dunia balap. Kali ini mereka hanya melakukan ini sebagai bukti kekompakan, pertanda bahwa dirinya masih mampu bermain baik. Tentu saja jadwalnya tak lagi sebanyak dulu. Torro hanya bersedia bermain jika dirinya mau, dan Ruslan sebagai mekanik pribadinya akan menyetel keadaan motor dalam keadaan prima. Satu hal yang tak pernah Torro tolak, adalah tawaran bermain ketika seseorang menantangnya adu kecepatan di jalanan. Termasuk suatu ketika saat seorang pemuda bernama Fadli dari daerah Thamrin menantangnya berduel. Torro menang dengan mudah, tanpa harus berusaha keras, uang kembali diterimanya sebagai imbalan. Pada tahap ini, Torro sudah benar-benar berencana memberitahu keluarganya di rumah tentang apa yang telah ia capai. Menunjukkan buku tabungannya di bank serta sebagian saham yang dimilikinya pada sebuah bengkel. Ia akan melakukannya pada waktu dekat. Torro tak tahu bahwa pada saat itu, rencananya takkan terlaksana---setidaknya tercapai, tapi tidak sesuai harapan. Fadli, anak Thamrin yang sempat ia kalahkan menantang ulang pada suatu malam. Torro menerimanya, dan membatalkan rencana balapan tersebut karena ia baru mendapat sebuah kabar mengejutkan: kedua orang tuanya yang telah lama tak ia temui berencana bercerai. Dan lebih buruk dari itu, kematian mendatanginya tanpa aba-aba. Ketika ia hendak melaju pulang setelah sekian lama. Kini, saat ini, dalam wujud roh, Torro mengamati Ruslan dan Rendy mengobrol di bengkel rumah milik sahabatnya, sementara semua kenangan itu melintas di kedalaman benaknya secepat ia melajukan motornya saat balapan dulu. Dulu … Torro mengenang getir, ketika dirinya masih hidup dan sehat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN