54. Hati Yang Menolak Gentar

1824 Kata
Melihat keterkejutan terbit di wajah Rendy membuat Torro merasa agak puas. Ini memang tak tepat seperti rencananya dulu untuk memperlihatkan hasil dari hobinya beradu kecepatan pada keluarganya. Dalam rencananya Torro lebih sering membayangkan adanya sebuah kejutan besar, lebih banyak adegan dramatis, dengan penuh percaya diri menyombongkal hal-hal yang telah dimilikinya dan---mungkin saja, siapa tahu?---diakhiri dengan saling berpelukan penuh mengharu biru. Awal dari sebuah kerenggangan hubungan yang perlahan membaik. Namun dengan kondisinya yang sekarang Torro tak bisa mengeluh banyak. Dirinya tak memiliki banyak opsi. Setidaknya binar takjub yang menari di bola mata adiknya membuat Torro optimis. Dulu, pada masa-masa dirinya masih begitu fokus dengan dunia luar, ia tak pernah memikirkan hal ini sungguh-sungguh. Niat untuk membuktikan diri bahwa ia bisa menghasilkan sesuatu baru dimilikinya ketika hadiah demi hadiah uang taruhan ia dapatkan saat memenangkan perlombaan. Hanya berbulan-bulan lamanya niatan dan tujuan itu dimilikinya, begitu nyaris diwujudkan---terhalang oleh kematian mendadak. Kini Torro bertanya-tanya apa dulu diam-diam dirinya berharap hubungan dengan keluarganya akan membaik? Tanpa disadari langsung mungkin, hatinya berharap bisa berdamai dengan keluarganya sendiri. Satu hal yang tak bisa Torro pungkiri kini, ia juga ragu akan reaksi ayahnya jika diberitahu hal ini. Ruslan benar akan satu hal, Torro takut bahwa sumber penghasilan miliknya ini tak akan diapresiasi lebih oleh sang ayah. Dan karena Torro sangat mengenal ayahnya, ketakutan ini wajar, meski pun akhir-akhir ini ayahnya bersikap tak seperti yang selama ini dirinya kenal. Torro jadi lebih banyak terhanyut dalam lamunannya sendiri selagi mengamati mekarnya persahabatan antara Ruslan dan Rendy. Masih di dalam bengkel pribadi temannya, Ruslan menceritakan lebih banyak pengalaman Torro yang tak Rendy ketahui semasa hidup. Seperti momen-momen kemenangannya ketika balapan, sifat optimismenya dalam meraih sesuatu yang diimpikan, dan keliarannya dalam menikmati masa muda yang bebas. Kurang lebih, Ruslan menceritakan kehidupannya seakurat mungkin. Ini agak membuat Torro terkesan. Mendengar kisah hidupnya diceritakan oleh orang lain membawa sensasi tersendiri, seakan kehadirannya di sini tak nyata. Mungkin di mata Ruslan memang demikian, tapi kenyataannya Torro ada di dekatnya, ia jadi berharap lagi bahwa Ruslan akan menyadari keberadaannya. Ide untuk membuka mata batin sang sahabat dipikirkannya lagi, tapi segera terhenti ketika teringat penolakan Donovan. Dirinya menemui jalan buntu. “Gue bisa tunjukkin semuanya ke lo sekarang juga kalau mau,” kata Ruslan di suatu saaat pada Rendy adiknya. Ruslan duduk di anak tangga terbawah menuju loteng, sementara Rendy sedang terduduk di atas jok motor ‘kejutan’ milik Torro. Mau tak mau Torro tersenyum. Melihat Rendy duduk nyaman di atas motor miliknya … yah, motor itu memang jadi milik adiknya sekarang. Bisa dikatakan Rendy terlihat cukup pantas menungganginya. “Tunjukkin apa?” Rendy balas bertanya, hanya menatap Ruslan. Adiknya ini malah ikut-ikutan bersikap seolah Torro tak ada di sini. “Harta peninggalan almarhum yang gue pegang,” jawab Ruslan sambil tersenyum miring. “Aset dia di sini, termasuk motor yang lagi lo dudukin itu. Juga bagian penghasilan yang dia punya di bengkel, terus beberapa rekening bank ….” Ruslan menggaruk dagu. “Eh, tapi gue gak tahu kalau tabungan bank, nomor pinnya aja gue gak tahu. Torro yang megang sendiri.” “Nanti gue kasih tahu,” ucap Torro pelan, menarik perhatian Rendy yang akhirnya menoleh padanya. “Gue masih inget pinnya, tapi kartu ATM-nya gue gak tahu di mana. Ada di dalam dompet gue pas kecelakaan.” Rendy hanya menyipitkan mata dan kembali menoleh pada Ruslan. “Eh, mungkin nanti aja. Gue lagi coba memahami semuanya dulu.” Ruslan tersenyum memaklumi. “Gue ngerti. Kapan pun lo siap, tinggal hubungin gue aja. Dan jangan sungkan buat main ke sini, tapi kabarin gue dulu, jangan datang mendadak. Gue jarang ada di rumah soalnya.” Telapak kaki Rendy yang tanpa alas mengetuk-ngetuk kenalpot motor, ia mengangguk dan menundukkan kepalanya, seakan tengah merangkai kalimat rumit di dalam kepalanya. Torro ingin tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu, terutama karena rencana utama kedatangannya kemari--- yang adalah untuk mencari tahu masalah apa yang sebenarnya mendera Ruslan yang berkaitan dengannya---sama sekali belum dibahas. Serangan pada bengkel dua malam lalu …. Sekonyong-konyong, keheningan yang ada dipecahkan oleh suara deruman beberapa mesin motor yang terdengar dari luar. Diikuti oleh suara teriakan beberapa pria yang lantang terdengar. Awalnya Torro tak mengerti, ia sempat berpikir ada benda jatuh di bengkel atau Rendy secara tak sengaja menghidupkan mesin motor yang dinaikinya. Lalu ia paham ketika melihat raut wajah Ruslan yang pucat, mendongak menatap ke arah pintu depan bengkel. Sang sahabat segera berdiri, melirik Rendy dan berkata, “Tunggu di sini.” Tergesa-gesa Ruslan langsung setengah berlari ke arah ruangan depan, meninggalkan Rendy yang sudah berdiri termangu tak bergerak. Kini Rendy meliriknya---tanpa suara meminta pendapat, dalam tatapan yang berlangsung singkat keduanya beradu pemahaman, lantas ikut menyusul ke arah Ruslan pergi. Di ruang tamu, suara geberan motor semakin nyaring terdengar, diselingi oleh sahutan beberapa pemuda yang bernada agresif. Jelas kedatangan mereka kemari bukan bermaksud kunjungan ramah tamah. “RUSLAN, KELUAR LO!” teriak seseorang dengan nada menggelegar. “KELUAR LO BANGKE! KITA-KITA TAU LO SEMBUNYI DI DALAM!” umpat suara lain, orang yang berbeda---tapi sama garangnya. Jika Torro masih memiliki tubuh, pastilah bulu kuduknya sudah meremang semua. Ia mengenali suara-suara tersebut, pada malam menegangkan dua malam lalu. Ketika sampai, Torro dan Rendy melihat Ruslan sedang mengintip melalui tirai jendela yang dibuka sedikit. Tubuhnya kaku, dengan cepat Torro paham bahwa situasi semacam inilah yang diantisipasi temannya sejak kedatangan ia dan Rendy ke rumah ini tadi. “Ada apa, Bang?” Rendy bertanya, suaranya serak, hampir tercekat. Pria itu menoleh padanya dengan tatapan was-was. “Udah gue bilang tunggu aja di bengkel!” Torro kaget dengan kegarangan yang ditampilkan temannya itu. Sementara Rendy hanya mengatupkan rahangnya dan berkata nyaris mendesis, “Gue gak mau nunggu di bengkel. Siapa mereka? Di luar, itu orang-orang yang sama yang ngerusakin motor Bang Ruslan, kan?” Tak ingin lama menunggu kepastian, Torro segera menembus pintu keluar. Untuk pertamakalinya bersyukur karena ia bisa menembus benda padat dan tak bisa dilihat dengan mata t*******g. Torro berdiri di teras, melihat sekumpulan pemuda yang sama yang pernah menyerang bengkel Ruslan dua malam lalu, tapi jumlahnya jauh lebih banyak. Lebih dari setengah lusin. Mereka di luar pagar, mengegas motor mereka sampai menciptakan kebisingan luar biasa, serta mengeluarkan sumpah serapah yang pada intinya menantang Ruslan untuk menghadapi mereka. Dirinya termenung sesaat, ngeri bercampur kaget. Masalah apa sebenarnya, apa mau mereka? Tak hanya menyerang tempat kerja, kini mereka juga menyerang rumah Ruslan dengan menciptakan huru-hara. Untung saja pagar sedang dalam keadaan terkunci dan tergembok. Jika pagar terbuka … Torro bisa membayangkanya. Kenekatan mereka bisa saja langsung beraksi dengan mencoba mendobrak masuk pintu depan. Kekhawatiran membuncah dalam benaknya ketika memikirkan adiknya yang bisa dibilang terjebak di dalam rumah. Seperti Ranto di bengkel malam lalu, Rendy adalah pihak tak bersalah yang sayangnya berada di waktu dan tempat yang tak tepat. Torro takkan memafkan dirinya sendiri jika sampai Rendy celaka akibat hal ini. Dengan segera Torro kembali masuk ke dalam dan memberitahukan apa yang dilihatnya pada Rendy. Tatapan adik lelakinya mengeras. “Masalah ini,” ucap Rendy geram, alih-alih terkesan takut, adiknya ini malah terlihat tenang di tengah situasi yang memanas, “ini ada hubungannya sama mendiang kakak gue kan, Bang?” Tubuh Ruslan sontak mengejang, seolah baru saja ada yang meninju perutnya. Ia memandangi Rendy dengan keingin tahuan baru. “Bagaimana lo bisa---” Tatapannya menyipit. “Bukan, gak ada hubungannya sama Torro, kenapa lo bisa nyimpulin begitu?” Tingkah laku Ruslan makin mencurigakan, dengan penuh kepuasan Torro melihat Rendy pun melihat hal itu. Mulut Rendy terbuka hendak bersuara, tapi--- CRAAACK! Suara kaca pecah membuat mereka terlonjak. Ruslan melirik kembali ke luar, geraman marah tersembur dari mulutnya. Mobil di luar. Mudah untuk menyimpulkan bahwa para perusuh itu mulai melempari batu dan salah satunya berhasil mengenai kaca mobil hingga pecah. Torro ikutan murka, belum selesai dengan kerusakan motor, kini mereka hendak menghancurkan sebuah mobil juga? “KELUAR LO, RUSLAN!” teriak seorang pria di luar, gempuran batu dan kerikil makin banyak terlempar, mengetuk pintu dan kaca jendela yang lebih tebal. “JANGAN TERUS-TERUSAN NGUMPET LO PENGECUT!” Ruslan hanya berdiri dengan sikap kaku, dadanya bergemuruh karena napas yang berat akibat terpompa adrenalin. Torro tak tahu bagaimana bisa Ruslan bersikap sesabar ini. Jika Torro berada dalam posisinya, ia pasti sudah menerima tantangan orang-orang di luar dan menjadikan ini pertarungan berdarah-darah. Ruslan berbalik menghadapi Rendy, keningnya berkerut-kerut frustasi. “Kita harus kabur dari sini, mereka gak akan berhenti bikin keributan.” Ia mengusap rambut dengan gelisah lalu berkacak pinggang. “Ren, lo pergi aja lewat pintu belakang, ke rumah pemukiman warga. Lo tinggal ikutin g**g lurus aja, entar ketemu sama jalan raya.” Pria itu segera beranjak menuju bengkel di belakang rumah. Rendy segera mengikuti dan bertanya, “Lo sendiri gimana, Bang?” “Lo gak perlu pikirin gue, ini masalah gue, bisa gue atasin sendirian.” Torro yang mengekor di belakang Rendy segera berkata, “Jangan, Ren. Jangan pergi dari sini dulu. Cecar Ruslan habis-habisan, tanya dia apa masalahnya.” Keresahan dan frutasi terdengar begitu jelas di suaranya, bahkan di telinga Torro sendiri. Rendy tak menyahut, tapi ia mengikuti sarannya dengan berkata, “Gue gak mungkin bisa pergi dari sini gitu aja, orang-orang di luar sana itu---mereka berbahaya. Lo harus kasih tahu gue apa masalahnya.” Ruslan telah sampai di pintu belakang bengkel, tangannya memegang kenop. Ia berbalik dengan kesungguhan dalam raut wajahnya yang membuat Torro pun berdengap. “Ini bukan urusan lo, Ren,” kata Ruslan mendesis. “Kalau pun ini ada hubungannya sama mendiang saudara lo, lo gak ada urusannya sama ini.” Tangan Ruslan menarik pintu hingga terbuka, tapi Rendy segera menahannya agar kembali tertutup. Sesaat keduanya bertemu tatap. Rendy berkata, “Torro saudara gue, sebagai adiknya, udah urusan gue juga buat nyelesaiin masalah apa pun yang dia buat. Mas Torro …gue yakin dia gak mau lo nanggung masalah ini sendirian kalau emang ada hubungannya sama beliau.” Hati Torro membengkak luar biasa mendengar ucapan adiknya itu. Ia tahu bahwa selama hidup dirinya bukan sosok kakak lelaki yang baik, tapi di sinilah Rendy, berbicara atas nama dirinya. Kini Ruslan menatap Rendy dengan ketertarikan yang sungguh-sungguh, seakan baru pertama kalinya benar-benar mengamati wajah Rendy. Ruslan menggeleng kepala heran. “Oke … oke.” Ia berdiri lebih tegak. “Lo pergi dulu dari sini, ikuti jalan g**g di belakang sampai ke jalan raya. Gak jauh dari sana ada café, namanya Gold n Mold Caffe. Lo tunggu di sana, entar gue nyusul dan … bakal gue jelasin semuanya.” Mendapat kepastian seperti itu, Rendy mengangguk mengiyakan. “Oke, gue tunggu di sana.” Ruslan pun membuka pintu hati-hati, seperti memastikan lebih dulu bahwa keadaan di luar aman. Lalu membiarkan Rendy pergi dengan sandal pinjaman. Sementara itu Torro tetap diam menemani Ruslan, dirinya ingin tahu apa yang temannya akan lakukan dalam mengatasi kerusuhan di depan. Sedikit banyak Torro khawatir bahwa temannya ini akan benar-benar menghadapi mereka semua sendirian, ujung-ujungnya pasti bakal babak belur. Pada saat-saat seperti ini Torro benci kondisinya, ketidak mampuannya dalam menunjukkan diri. Jika bisa, ia akan menemani Ruslan dan memberinya bantuan tambahan---berkelahi sampai titik darah penghabisan. Masalah apa pun ini ada sangkut pautnya dengan Torro, sudah seharusnya ia ikut membantu. Sesaat Ruslan menyiapkan diri, mengatur napas dan menegakkan bahu. Kemudian ia beranjak menuju ruang depan. Torro mengikuti tepat di belakang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN