55. Keterbukaan Antara Dua Saudara

1838 Kata
Rendy masih tak menyangka, bagaimana mulanya keadaan yang berlangsung tenang bisa berubah menjadi tak mengenakan dalam hitungan menit. Belum setengah jam yang lalu rasanya, Rendy menikmati obrolan dengan Ruslan di bengkel mengenai kisah-kisah hidup mendiang kakaknya, mengenang sang saudara yang pada kenyataannya masih berada di antara mereka. Setidaknya Rendy tahu Torro hadir di sana, berbeda dengan Ruslan yang tak tahu menahu tentang arwah sang sahabat yang bergentayangan mencuri dengar selama pembicaraan. Sejujurnya, Rendy masih berada dalam tahap menerima kenyataan. Dengan tak terduga kunjungan ke Ruslan membawanya pada banyak kejutan. Seperti motor lain yang ternyata dimiliki Torro, perjanjian dengan Ruslan, sumber penghasilan tetap, kekayaan, serta harta peninggalan yang diwariskan padanya …. Terlalu banyak hal baru yang harus Rendy ketahui dalam kehidupan liar mendiang kakaknya ini. Namun, sebelum ia sempat memahami semuanya, situasi menegang seketika, sekelompok pemuda membuat keributan di depan rumah Ruslan. Sebelum sampai pada detik itu, ketika Rendy melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia sebenarnya agak mengecilkan kekhawatiran Torro. Perkara yang ada mungkin sepele, ia sempat berpikir, didramatisir sedimikian rupa oleh pendeskripsian kakaknya. Nyatanya ternyata keadaannya memang serius, masalah yang ada jauh lebih pelik. Rendy ngeri melihat kebrutalan orang-orang yang mengamuk di depan rumah Ruslan tadi, mereka bahkan tak segan melempari rumah bebatuan sampai memecahkan kaca mobil. Hal-hal semacam itu harusnya melanggar hukum, kan? Jantung Rendy jadi bertalu-talu kencang saking tegangnya. Yang paling menyebalkan? Rendy diminta untuk mengevakuasi diri, entah mengapa sikap Ruslan teramat garang mengenainya. Teman kakaknya itu mendesak agar dirinya pergi dari rumah buru-buru, sampai Rendy meninggalkan barang belanjaannya di rumah Ruslan dan pergi dengan sendal pinjaman. Kini dirinya terpaksa menunggu, terduduk di salah satu kursi meja kafe yang jaraknya tak begitu jauh dari g**g menuju rumah Ruslan. Baru lima menit Rendy menunggu di sini---ia bahkan belum memesan apa pun, tapi ia sudah merasa cemas. Apa yang akan Ruslan lakukan seorang diri di sana? Menghadapi orang-orang bar-bar itu pasti sama saja dengan mencari mati. Dalam bayangannya, Rendy menduga sekelompok pemuda pencari kericuhan tersebut pasti tak segan untuk bermain keroyokan, pemikiran ini membuatnya nyaris bertekad untuk kembali ke rumah Ruslan dan membantu semampunya. Setidaknya ada Torro di sana, batin Rendy mencoba mencari alasan untuk tenang. Rendy tak tahu bahwa kakaknya tetap bersama Ruslan---bukannya ikut bersamanya---ketika dirinya sampai di café. Itu memang melegakan, mengetahui Ruslan tak sendirian. Hanya saja, jika keadaan berubah menjadi pengeroyokan, Torro yang seorang roh gentayangan bisa melakukan apa? Keberadaan arwah kakaknya di sana takkan bisa membantu banyak. Kecamuk benak Rendy terganggu sejenak saat seorang pelayan café mendatanginya. “Selamat sore, Kak,” sapa gadis muda itu dengan senyum hangat. “Kakak udah nunggu di sini sejak tadi, apa mau pesan sekarang?” Sejak tadi? Batin Rendy menggerutu, padahal belum sampai sepuluh menit. Pelayan yang sama sudah menanyainya ketika Rendy baru datang tadi, tapi Rendy jawab untuk menunggu sampai temannya datang. Sekarang ia sudah ditanyai lagi akan memesan apa, mungkin memang ada baiknya ia memesan sesuatu untuk dirinya lebih dulu. Ruslan bisa menyusul. “Kopi espresso, satu,” ucapnya sambil menggaruk dagu dengan jari telunjuk. “Dan … hmm mungkin roti bakar, ada?” Sang pramusaji menuliskan pesanannya di buku catatan kecil. Ia mengangguk. “Ada, mau selai apa?” “Kacang cokelat---dan stroberi. Stroberi, kacang, cokelat.” “Baik, udah segitu aja?” “Ya.” “Oke, ditunggu sebentar ya, Kak.” Lantas pelayan itu pun pergi. Jika hatinya tak sedang kalut, Rendy bisa saja menikmati suasana café ini. Tempatnya ramai---berhubung ini adalah akhir pekan, banyak meja terisi dengan tongkrongan para pemuda. Dekorasi cafenya tak begitu meriah, tapi jatuhnya jadi elegan. Tempat yang nyaman untuk bersantai dan mengobrol sore-sore. Dengungan suara orang mengobrol berkumandang di sekeliling Rendy. Meja café yang Rendy pilih adalah paling luar, di teras depan yang disuguhi pemandangan jalanan. Ia sengaja memilih meja ini agar nanti Ruslan datang, pria itu bisa segera melihatnya. Sendirian lagi, Rendy jadi semakin resah. Dalam hatinya ia memutuskan, jika sampai lima belas menit kemudian Ruslan tak kunjung datang, Rendy sendiri akan segera menyusul kembali ke rumah. Namun ternyata itu tidak diperlukan. Empat menit kemudian mata Rendy menangkap sekelebatan gerakan di pinggir jalan---nyaris transparan. Sedetik kemudian ia mengenali bahwa itu mendiang kakaknya. Hari itu cerah, meski sudah jam lima sore matahari tetap bersinar di ujung langit. Cahaya oranye kemerahan khas sore hari menembus roh Torro sampai-sampai sosoknya agak sulit dilihat. Rendy harus menyipitkan mata dan memfokuskan pandangan untuk yakin bahwa itu adalah saudaranya. Sosok itu kemudian melambai-lambai padanya, dan dengan perlahan berjalan, melayang menghampiri. Sulit dilihat, tapi dapat dipastikan bahwa kaki-kaki itu tak benar-benar menjejak tanah, hanya melayang satu inci di atasnya. Wajah Torro terlihat muram sewaktu akhrinya sampai di hadapan Rendy. “Mereka udah pergi,” jelas Torro langsung tanpa diawali basa-basi, pasti dapat melihat ekspresi penasaran penuh tanya di wajahnya. “Orang-orang berengsek itu kabur sewaktu para warga datang, tapi untunglah si Ruslan gak kenapa-kenapa. Dia nyaris digebukin tadi.” Bibir Rendy meringis---tapi dalam hatinya merasa lega, ia lalu melihat ke sekitar memastikan keadaan, tak ingin seseorang menangkap basah dirinya berbicara sendiri bagai orang sinting. “Bang Ruslan baik-baik aja, kan? Dia bakal ke sini?” “Bakal, tunggu aja sebentar,” jawab Torro, lalu mengisi kursi di sebelah Rendy. “Dia lagi ditanya-tanyain dulu sama warga, mereka penasaran ada masalah apa sampai rumahnya diserang begitu.” Punggung Rendy menegak. “Dia jawab apa?” “Kenakalan remaja,” ucap Torro dengan nada sinis. “Si Ruslan gak cerita sejujurnya, dia cuman ngeles.” Mata Torro memandang Rendy tajam. “Pokoknya lo harus paksa si Ruslan ceritain apa masalahnya, Ren. Kalau perlu kasih tahu dia soal keberadaan gue di sini, bikin dia percaya.” Rendy mengangguk, dirinya juga sudah berencana begitu. Rasa frustasi Torro juga bisa dimaklumi, kakaknya ini pasti merasa bersalah dan khawatir, bahwa ia mati meninggalkan masalah pelik yang harus ditanggung Ruslan sendirian. Pelayan datang membawa pesanan, sesaat Rendy menutup mulutnya. Dirinya mengucapkan terima kasih. Ketika sang gadis beranjak pergi lagi, Rendy temukan kakaknya sedang memandangi roti bakar dengan ekspresi penuh nostalgia. “Selai stroberi kacang cokelat?” tebaknya dengan akurat. “Lo harusnya pesan yang selai blueberry, Ren. Itu yang paling enak di sini, atau selai nanas.” Selai nanas di atas roti bakar? Apa Torro sedang bercanda? Rendy bergidig jijik membayangkannya. Alih-alih menyuarakan pendapatnya itu, dirinya hanya bertanya, “Lo udah sering ke sini?” Raut wajah Torro makin melembut, bibirnya membentu seringai. “Bukan sering lagi, tempat tongkrongan gue sejak dulu di sini. Apalagi tiap kali habis menang balapan, gue sama Ruslan bakal pesta roti dan kopi semalaman suntuk.” Rendy ikut tersenyum. “Di café? Gue kira diskotik, kelab malam atau semacamnya.” Seringaian di wajah Torro makin lebar sampai terkesan menakutkan. “Diskotik, bisa. Kelab malam, oke. Di mana aja, tergantung mood.” Dirinya hanya menggeleng tak habis pikir, dan memilih untuk mulai menyantap pesanannya. Rendy mencubiti pinggiran roti dan memasukkannya ke mulut, saat itulah Rendy menyadari bahwa ia lapar. Padahal di mall bersama ayahnya dan Anggi tadi ia sudah makan cukup banyak. Torro pun terdiam, sepertinya membiarkan Rendy makan dengan khidmat sejenak. Namun, banyak hal yang sedang ingin Rendy obrolkan dengan kakaknya ini, beragam pertanyaan yang sejak tadi ia simpan di benaknya karena keberadaan Ruslan. “Kenapa Mas Torro gak pernah cerita soal semuanya?” tanya Rendy setelah menelan sebongkah kecil roti. Sang arwah memandangnya bingung. “Cerita soal apa? Ke siapa?” “Ke gue---Papah sama Mamah terutama. Kenapa lo gak pernah cerita kalau lo punya penghasilan dari balapan liar, punya bengkel sendiri---” “---itu bengkel punya Ruslan,” sela Torro, “gue cuman nyumbang modal di awal dan kebagian sedikit penghasilan---” Rendy bersikap seolah Torro tak menyela ucapannya, “---punya harta kekayaan sendiri, bahkan motor gede baru! Lo punya dua motor, dan dua-duanya sama-sama motor mahal. Dan buat apa lo bersikeras perbaikin motor rusak di rumah kalau udah ada motor cadangan lain?” Alih-alih menjawab, Torro kini melirik keadaan di sekitar. “Banyak yang lagi merhatiin lo, Ren. Lo pasti disangka gila gara-gara ngomong sendiri.” “s**l,” umpat Rendy sewaktu menyadari ucapan kakaknya benar. Banyak pengunjung café yang menatapnya dengan pandangan bingung dan terheran-heran. Tak tahan menahan malu, Rendy langsung melakukan apa yang terpikirkan olehnya. Ia sambar ponselnya di atas meja, melekatkan benda itu ke sebelah daun telinganya, dan membiarkan semua orang melihat. Dengan begini orang-orang akan menyimpulkan bahwa dirinya sejak tadi tengah mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon. Melihat aksinya dan memahami maksudnya, roh Torro tertawa terbahak-bahak. “Panjang akal juga lo, Dek,” pujinya tulus. Tak berkata apa-apa, Rendy hanya terdiam sampai orang-orang berhenti memperhatikannya---sekaligus menunggu rasa malunya surut. Setelah itu ia pelototi saudaranya yang masih tertawa puas dan berkata, “Berhenti ngetawain gue, jawab pertanyaan gue tadi, kenapa lo gak pernah cerita?” Tawanya terhenti, dan senyum Torro perlahan memudar. “Entahlah, Ren. Mungkin Ruslan bener, gue gak yakin gimana reaksi kalian---terutama Papah kalau dikasih tau.Lo tahu sendiri gimana kerasnya Papah. Sebenernya gue udah ada rencana---niatan seenggaknya, buat bikin semacam kejutan besar-besaran, tapi … yah, gue udah keburu mati.” Kegamblangan dalam suaranya membuat Rendy menunduk, entah kenapa kejujuran dari kakaknya terasa bagai sesuatu yang intim. Mungkin karena hal tersebut jarang sekali terjadi. Torro dan dirinya tak pernah buka-bukaan tentang keresahan hati masing-masing sebelumnya. “Jadi … sekarang cuman gue yang tahu.” Hanya itu yang bisa Rendy katakan. “Iyap,” sahut Torro. “Cuman lo yang tahu.” “Apa gue harus ngasih tahu Papah sama Mamah?” Rendy belum berani mendongak. Saudaranya telat sedetik dalam menjawab, “Itu terserah lo. Gue tahu bakal sulit buat ngasih tahu mereka. Buat sekarang, lo boleh pergunakan warisan dari gue sesuai kemauan lo, dan jangan lupain Anggi. Kapan pun dia ngeluh gak dibeliin sesuatu---suatu barang yang dia inginkan, lo langsung beliin aja pake warisan dari gue. Gak perlu ngasih tahu dia itu duit dari mana, tinggal … kasih aja. Sepakat?” “Itu ide bagus,” timpal Rendy setuju, sambil mengangguk sungguh-sungguh. “Tapi …,” Torro lanjut berkata, kali ini dengan nada yang begitu halus, lembut dan penuh permohonan hingga Rendy kontan mendongak. Wajah kakaknya terlihat begitu merana dan penuh kepedihan. Sang hantu berucap, “Gue punya permintaan sih, Ren. Ini permohonan yang agak berat, dan gak perlu lo kabulkan dalam waktu dekat. Lo bisa ngelakuinnya setelah gue gak ada lagi di sini, setelah gue berhenti bergentayangan.” Rendy terdiam---menunggu. “Gue minta lo ngasih tahu Papah … dan Mamah soal semuanya.” Torro melarikan pandangannya ke pemandangan jalan raya, di mana motor dan mobil melintas saling berbagi jalan serta suara klakson bersahut-sahutan. “Kasih tahu mereka apa yang udah gue capai, apa yang gue punya, tunjukin sama mereka harta peninggalan gue. Entah reaksi mereka gimana nanti, mungkin Papah gak bakal peduli---siapa tahu? Pokoknya gue mau pada akhinya mereka tahu, bahwa gue udah menghasilkan sesuatu, bukan cuman hidup gak jelas. Gue berharap, seenggaknya itu bisa bikin mereka sedikit bangga sama gue.” Tiba-tiba Rendy merasa tenggorokannya terasa berat, ia tercekat dan mendengus pelan. Butuh usaha yang besar untuk berkata dengan nada tegas, “Pasti. Bakal gue lakuin.” Sesaat hening, terlepas dari kekacauan yang sedang berlangsung baik di rumah keluarga mereka atau pun rumah Ruslan tadi, Rendy merasakan kedamaian yang teramat sangat sekarang juga … pegal. Tangannya mulai terasa pegal. “Gue bener-bener ngerasa t***l nempelin HP ke kuping kayak gini,” aku Rendy berterus terang. Ucapannya menarik perhatian Torro---sang hantu pun kembali tertawa. Kini, Rendy ikut tertawa bersama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN