56. Terhubungnya Gerbang Dialog Baru

1839 Kata
Ruslan akhirnya datang ketika Rendy telah menyuapkan potongan roti bakarnya yang terakhir ke mulut, dan kopi ekspressonya sudah habis setengah. Saat Torro berkata bahwa Ruslan nyaris digebuki, Rendy mengira bahwa keadaan Ruslan memang baik-baik saya, tak terluka---hanya nyaris babak belur dihajar sekumpulan orang. Makanya ia agak terkejut sewaktu Ruslan muncul dengan dua perban luka yang menempeli kening dan dagunya. Pakaian rumahannya juga sudah diganti, yang semula celana bokser dan kaus berbahan tipis, kini pria itu mengenakan celana panjang katun dan kemeja lengan pendek. “Sorry, Ren, lo udah nunggu lama ya di sini,” sapa Ruslan, ia memilih duduk di kursi yang sebenarnya sudah ditempati almarhum Torro, alhasil membuat sang arwah harus buru-buru beranjak (Padahal Rendy penasaran, seandainya Torro diam di tempat, apa Ruslan yang duduk menembus tubuhnya akan kontan mengalami kerasukan?). Ruslan menyerahkan sandal dan barang-barang belanjaan Rendy yang tertinggal di rumah, meletakan semuanya di lantai di dekat kakinya. “Ini gue sekalian bawain barang-barang lo yang ketinggalan.” Rendy tak merespon, matanya tetap terpaku pada luka-luka yang tertutup di wajah Ruslan. “Bang, itu … muka lo kenapa?” “Oh ini bukan apa-apa,” sahut Ruslan santai seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan, seakan menunjukkan bahwa hal itu bukan yang terlalu serius untuk direnungkan. “Sempat kena lemparan batu tadi, lukanya gak parah-parah amat.” Bibir Rendy memberengut, sepertinya Torro tak menceritakan secara lengkap apa yang terjadi di rumah Ruslan. Rendy memelototi sang kakak yang telah berpindah ke kursi lain, tapi Torro hanya mengangkat bahu seolah tak berdosa. “Tapi orang-orang yang nyari keributan tadi udah pada hilang, kan?” tanyanya kemudian. “Udah, udah.” Ruslan menunduk mencari posisi duduk yang nyaman, tapi di mata Rendy kesannya pria itu tengah menghindari tatapannya. “Mereka udah pergi, dibantu diusir sama warga tadi.” Karena bagian itu sudah diceritakan Torro sebelumnya, Rendy tak bertanya lebih jauh. Sikap Ruslan yang selalu menutup-nutupi sesuatu ini membuatnya agak jengkel. Akan lebih mudah jika Ruslan langsung berterus terang saja, dengan begitu Rendy bisa berhenti menduga yang tidak-tidak. Sebelum Rendy berkata apa pun lagi, Ruslan mengedarkan pandangan ke sekeliling café dan dengan mengangkat tangannya meminta seorang pelayan datang. Gadis yang sama dengan yang melayani Rendy tadi. Ruslan memesan kopi mokachino dingin---hanya itu, lalu menawari Rendy, tapi dirinya menolak sambil menunjukkan pesanannya yang telah habis. “Almarhum dulu sering banget ke sini,” Ruslan berucap padanya setelah si pelayan pergi, bibirnya membentuk senyum kecil. “Café ini salah satu tempat tongkrongan favoritnya.” Serius, nih? Pikir Rendy membatin, obrolan ini harus diawali dengan basa-basi lebih dulu? Bola matanya memutar. “Biar gue tebak,” ucapnya lemah, “menu kesukaan suka Mas Torro di sini adalah roti bakar selai blueberry---atau nanas?” Mulut Ruslan ternganga sejenak. “Iya … eh, dua-duanya.” Lagi, Ruslan menatapnya penuh minat. “Gue selalu kaget liat lo ternyata tau banyak soal mendiang.” Kepala Rendy meneleng ke sisi kiri. “Dia kan saudara gue.” “Eh bukan begitu maksud gue,” Ruslan buru-buru meralat, menyangka adanya kesalah pahaman komunikasi. “Gue cuman ngira … selama gue kenal almarhum, gue punya kesan kalian gak begitu akur.” Rahang Rendy mengeras, sandal pinjaman yang dikenakannya mengetuk-ngetuk lantai. “Bisa dibilang begitu emang,” komentarnya, lalu memilih untuk menyudahi topik ini. “Jadi soal masalah tadi, ada apa sebenarnya? Orang-orang yang nyerang rumah Bang Ruslan, nyerang bengkel dan ngerusakin motor Bang Ruslan, apa mau mereka sebenarnya?” “Jadi---” pria itu baru memulai, tapi segera menghentikan ucapannya. “Tunggu, perasaan gue gak pernah cerita soal bengkel yang diserang. Lo tahu dari mana?” Ah, terlalu banyak omong, Rendy menyadari dirinya melakukan kekeliruan dengan mengungkit hal itu. Namun Rendy tak begitu mempermasalahkannya, toh sebentar lagi ia akan mengatakan sejujurkan tentang keberadaan Torro di antara mereka. “Gue tau dari seseorang,” aku Rendy dengan nada penuh rahasia. Puas rasanya bisa bersikap misterius begini---membuat Ruslan penasaran, sekalian membalas dendam juga. “Tahu dari siapa?” Ruslan mendesak, kedua tangannya terkepal di atas meja. “Yang tau soal p*********n di bengkel cuman gue dan seorang montir yang kerja sama gue---termasuk orang-orang yang nyerang juga. Lo tahu dari mana?” Sang pelayan datang membawa pesanan, dan Rendy bersyukur karenanya. Selagi perhatian Ruslan teralihkan sejenak, Rendy menatap mata arwah saudara lelakinya---Torro membalas dengan mengangguk mendukung sikapnya. “Kasih tahu dia,” kata Torro sungguh-sungguh. Rendy menunggu sampai si gadis pramusaji pergi, dan berucap ketika Ruslan sedang mengaduk minumannya dengan sedotan, “Gue tahu dari Mas Torro langsung.” Sontak saja Ruslan menatapnya. “Gimana?” “Mas-Tor-ro,” Rendy mengucapkannya dengan menekan pada setiap suku kata, sekaligus membaca perubahan ekspresi di wajah Ruslan. “Beliau ada di sana pas malam bengkel diserang, dan dia ngasih tahu gue soal ini.” Raut wajah Ruslan berubah; bingung, sangsi, sinis. “Gue gak ngerti.” Rendy mendesah, ini sudah diduganya. Mana mungkin pria ini akan paham dan percaya begitu saja hanya dengan satu kalimat penjelas saja? “Bang Ruslan pernah denger soal mitos ini?” Rendy memulai, mencoba menggunakan pendekatan yang pernah diucapkan ibunya. “Katanya orang yang baru aja meninggal, rohnya gak akan langsung menyebrang ke alam baka---atau alam akhirat, apa pun sebutannya. Selama empat puluh hari awal kematiannya, roh orang yang mati tersebut akan bergentayangan, berkeliaran di sekitar keluarganya sebelum benar-benar pergi meninggalkan dunia fana. Bang Ruslan pernah dengar soal ini?” Kepala Ruslan mengangguk-angguk, tapi matanya tetap dipenuhi tatapan sinis. “Tapi gue gak percaya takhayul.” “Masalahnya, itu bukan takhayul,” timpal Rendy. “Itu nyata, roh Mas Torro berkeliaran di rumah setelah kematiannya. Yang pertamakali menyadari itu adalah Anggi, adik gue. Gue juga baru tahu, ternyata Anggi punya kemampuan lebih lihat mahluk halus selama ini. Anggi cerita ke gue tentang apa yang dilihatnya, tapi awalnya gue gak percaya. Terus dia minta salah satu temennya di sekolah yang sama-sama anak indigo buat buka mata batin gue … dan gue sekarang bisa lihat arwah Mas Torro juga, berkomunikasi sama beliau.” “A … apa,” Ruslan tampak kehabisan kata-kata, eksresinya menunjukkan ketidak percayaan yang nyata. “Apa lo lagi bercanda sekarang?” Rendy menggeleng. “Gak sama sekali.” “Soalnya kalau lagi bercanda, ini gak ada lucu-lucunya! Meninggalnya Torro gak pantes dijadiin candaan!” Kemarahan di ucapan pria itu membuat Rendy terkejut, namun ia masih mampu menunjukkan sikap tenang meski detak jantungnya berdebar-debar. Ia tak menyukai tuduhan pembohong yang terpancar dari tatapan mata Ruslan. “Gue setuju, gak ada yang lucu soal ini. Gue tahu ini susah dicpercaya, menakutkan juga. Gue sendiri nyaris pingsan pas waktu pertamakali lihat roh Mas Torro.” Torro yang duduk di kursi di sampingnya tertawa lantang---terlalu lantang sampai Rendy heran sendiri mengapa orang-orang yang sedang berada di café ini tak mendengarnya sama sekali. “Ekspresi lo waktu itu kocak banget, Ren. Kalau aja gue bisa ngefoto atau ngevideioin kejadiannya ….” Dengan mudah Rendy mengabaikan sang hantu, matanya tetap tertuju pada reaksi Ruslan, menilai setiap perubahan raut wajah dan gerak tubuh. Ia lanjut berkata, “Kadang-kadang, seringnya tiap malam pas keluarga gue lagi tidur, Mas Torro bakal berkeliran mengunjungi rumah-rumah temannya. Dan kebetulan dua malam lalu, roh Mas Torro sengaja main ke bengkel, bertepatan dengan kejdian p*********n itu. Mas Torro ngelihat sendiri dan menyaksikan, terus dia nyeritain masalah itu ke gue, minta gue ....” Rendy menelan ludah. “… minta gue nanyain ke Bang Ruslan ada masalah apa sebenarnya. Mas Torro khawatir dan merasa bersalah kalau dia udah ninggalin masalah yang harus Bang Ruslan hadapin sendiri. Terus---” “Sebentar dulu,” Ruslan menyela. Ia tercekat dan menguasai diri. “Cerita lo susah dipercaya, Ren. Apa buktinya? Kalau omongan lo jujur, kasih gue bukti. Dan … kalau emang Torro berkeliaran sebagai arwah apalah, di mana dia sekarang?” Kening Rendy berkerut, ditatapnya sang kakak yang duduk di dekatnya. Dengan lemah tangan Rendy melambai pada kursi yang ditempati Torro, yang bagi Ruslan pasti hanya merupakan kursi kosong. “Mas Torro tepat di antara kita, beliau udah hadir sejak tadi, ngikutin gue sejak awal.” Tentu saja Ruslan langsung menatap kursi tersebut dengan tatapan nanar. Sekejap saja Rendy bisa merasa berempati, masih terbayang di benaknya ketika ia berada dalam posisi Ruslan sekarang. Sebelum mata batin Rendy terbuka, ia kebingungan melihat Anggi serta Donovan menunjuk udara kosong yang sama. Menduga kedua anak itu sedang mengerjainya. Torro melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajah sang teman. “Ini gue, Bro,” katanya sendu. “Gue di sini, tolong percaya.” Ruslan menggeleng tak percaya. Namun ia mengusap tengkuknya seolah merasa merinding. “Ini gak cukup buat bukti, gue gak lihat apa-apa. Bisa aja lo ngarang.” Nada suaranya lemah, jelas Ruslan meragukan ucapannya sendiri. “Buktinya udah lo lihat sejak kemarin-kemarin,” ungkap Rendy sabar. “Lo benar tentang satu hal, Bang. Gue dan Mas Torro gak begitu akur sebelumnya, kita malah baru akrab akhir-akhir ini aja. Arwah Mas Torro sendiri yang cerita soal menu roti bakar selai bueberry kesukaannya di sini, p*********n bengkel dua malam lalu, atau soal cerita kekalahan dia pas balapan gara-gara kebelet BAB.” Ruslan terkekeh, antara takjub dan tak percaya. Matanya sedikit berkaca-kaca. “Gue gak tahu harus ngomong apa.” Rendy tersenyum. “Gue ngerti, mustahil rasanya kalau ini beneran nyata. Tapi Mas Torro beneran hadir di antara kita. Oh iya, tadi malam juga dia berkunjung ke rumah Bang Ruslan, katanya dia kangen nongkrong bareng di bengkel lagi sama lo.” Normalnya, seseorang yang baru diberitahu bahwa ada sesosok hantu gentayangan yang telah mengunjungi rumahnya akan bereaksi bergidig ketakutan. Namun berbeda dengan Ruslan, ia tersenyum pahit, menundukkan kepala dan berkata dengan suara parau, “Gue juga kangen nongrong sama lo, Bro.” Perlahan-lahan, Rendy bisa melihat bahwa tembok ketidak percayaan Ruslan mulai mencair. Bahunya terkulai lemas, pria itu bahkan belum menyentuh minumannya sama sekali---pasti pikirannya tengah berkelana, menata benaknya dalam mempersiakan kenyataan yang ada, persepsi baru yang telah diketahuinya. Rendy paham sekali rasanya, jadi ia tak berniat menganggu lamunan pria itu. Dirinya hanya menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menatap jalanan di depan yang mulai menggelap---lampu-lampu jalan dan pertokoan menyala, dan menyesap sisa minumanya sampai habis. Ruslan terdiam cukup lama. “Apa yang lagi lo pikirin, Bro?” Rendy mendengar Torro bertanya, ia mendongak dan melihat kakaknya sedang memandangi sosok Ruslan. “Bengong terus dari tadi, kesambet setan baru tahu rasa lo.” Sudut-sudut bibir Rendy terangkat. “Kasih dia waktu sebentar.” Sontak Ruslan mendongak, mengira bahwa Rendy berkata padanya. “Apa?” “Bukan apa-apa. Lupain aja.” Kedua alis Ruslan terangkat, sepintas melirik pada kursi yang ditempati Torro lalu kembali melirik pada Rendy. Rendy mendesah. “Mas Torro nanya, apa yang lagi Bang Ruslan pikirin? Katanya jangan ngelamun lama-lama, takut kerasukan setan.” Ruslan tersenyum lemah. “Emang dia bisa ngelakuin itu? Ngerasukin orang hidup?” “Eh, gue gak tahu.” Dirinya melirik sang hantu. Torro menggeleng. “Gak bisa, gue udah pernah coba.” “Gak bisa, Mas Torro udah pernah nyoba,” Rendy mengulang, agak jengkel karena merasa dirinya bagai burung beo yang harus mengulang kata-kata. “Oh … begitu.” Sejenak tatapan Ruslan kosong, lalu tiba-tiba ia menegakkan bahu. Yang ditatapnya hanya Rendy, tapi sebelah tangannya melambai pada kursi di mana Torro duduk. “Oke, gue gak akan bilang kalau gue udah seratus persen percaya. Ini bener-bener sulit buat gue percaya.” “Bisa dimaklumi,” sahut Rendy diplomatis. “Tapi bakal gue kasih tahu apa masalahnya,” lanjut Ruslan memutuskan. “Kalau Torro emang beneran ada di … sini, dia berhak buat tahu apa masalahnya. Atau, seenggaknya lo adiknya, lo berhak buat tau.” “Oke.” Rendy mengangguk, duduknya menegak. “Gue sepakat,” sahut Torro, mencondongkan tubuh bagai asapnya ke depan. Obrolan tiga arah pun dimulai. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN