“Gue udah pernah cerita ke elo sebelumnya---pas gue mampir ke rumah lo dua hari lalu,” beber Ruslan memulai. “Seminggu sebelum Torro meninggal, dia pernah ditantang balapan sama anak dari daerah Thamrin yang namanya Fadli.”
“Fadlan,” koreksi Rendy, lantas ia jadi bingung sendiri karena nama ini sering disebut berbeda di beberapa kesempatan sebelumnya. “Kata Mas Torro namanya Fadlan.”
“Sama aja, Ren,” sahut Torro menimpali.
“Nama lengkap orang itu Fadlan Fadliansyah,” jelas Ruslan. “Orang-orang kadang manggil dia Fadlan atau Fadli, terserah yang mana. Orangnya labil, persis namanya. Tapi---oke---si cecunguk ini kita panggil si Fadlan aja.”
Torro cengengesan. Rendy menduga bahwa ini bukan pertamakalinya Ruslan dan Torro kompak mengolok-olok pria bernama ganda ini.
Ruslan menyesap minumannya sedikit sebelum berkata, “Jadi, di balapan pertama mereka, Torro menang dengan gampang. Si Fadlan kesel, jelas. Tapi waktu itu dia nerima kekalahannya dengan baik, terus seminggu kemudian dia nantang lagi, minta gue nyampein tantangan itu ke Torro buat tanding ulang. Gue kasih tahu, abang lo terima tantangan tersebut.”
“Di malam Mas Torro kecelakaan,” bisik Rendy mengangguk-angguk. Ia memang masih ingat cerita ini, pada saat itu di garasi rumahnya Ruslan sempat menceritakannya seklias. “Di malam yang sama Mas Torro batalin lomba itu, kan?”
“Bener,” Ruslan membenarkan. “Umumnya batalin jadwal balap secara sepihak ini bakal ngundang banyak konsekuensi---salah satunya harus bayar sejumlah duit sebagai ganti rugi. Torro terima konsekuensi ini, kakak lo berani bayar ganti rugi pake duitnya sendiri, gue kasih tahu si Fadlan kalau rencana tanding ulangnya batal barengan sama bayar ganti rugi, tapi orang itu gak terima.”
“Alasannya?” tanya Rendy. Sementara itu Torro sendiri bergeming, pejelasan dari Ruslan sepertinya membuat sang hantu berpikir banyak, gurat wajahnya dipenuhi raut pemahaman secara perlahan.
“Ini lebih ke ego,” kata Ruslan. “Dia gak terima, ngira lagi dikerjain. Soalnya awalnya Torro terima---si Fadlan udah siap-siap segala macem di trek balapan, tapi kemudian Torro batalin gitu aja. Si Fadlan gak mau tau, dia mau tetep tanding ulang sama saudara lo sampai hari ini juga.”
Kening Rendy berkerut. “Tapi---”
“Gue tahu,” sela Ruslan dengan serius. “Gue udah kasih tau si Fadli kalau Torro meninggal kecelakaan, tapi dia gak mau tau soal ini---kekeuh mau tanding ulang.”
“Terus apa?” Keheranan ini membuat amarah Rendy terpancing. “Dia ngarep bisa tanding ulang sama mayat Mas Torro?” Dirinya bergidik. “Atau sama hantunya?”
Bibir Ruslan meringis. “Sinting, kan? Dia gak mau terima uang ganti rugi dari gue, juga gak nunjukin empati sama sekali. Seenggaknya si Fadlan mau ada orang yang gantiin posisi Torro, balapan sama dia ngewakilin nama Torro.”
Sudah jelas bahwa permasalahan ini di luar pemahaman benak Rendy. Pergaulan yang djalani Torro dan Ruslan memanglah liar, terlebih lagi dengan orang-orang macam apa yang berinteraksi bersama mereka. Liar, sinting dan tak waras. Motif dan kemauan pria bernama Fadlan ini tak bisa dimengertinya.
“Aneh,” aku Rendy. “Gue gak paham, kenapa itu orang keras kepala banget? Apa salahnya tinggal terima duit ganti rugi?” Diliriknya Torro. “Kok diem? Gimana menurut lo, Mas?”
Torro memandanginya. “Gue gak ngira bakal sepanjang ini masalahnya. Si Fadlan itu, sepengetahuan gue orangnya emang arogan, tapi gue gak nyangka dia bakal sebebal ini. Dan dia anak orang kaya, jadi duit ganti rugi emang gak begitu penting buat dia.” Bibir Torro merengut, menoleh pada Ruslan. “Tapi gue gak ngerti, apa hubungannya si Fadlan sama serangan kerusuhan ke bengkel dan rumah lo itu?”
Ruslan---memandang dengan sikap ragu dan ingin tahu, tahu bahwa Rendy sedang berbicara dengan sesosok mahluk halus. Lantas pria itu bertanya, “Apa katanya, Ren?”
Dengan setengah hati Rendy mengulangi ucapan Torro, sama persis tiap kata per kata.
Ruslan menatap kursi yang ditempati Torro dengan pandangan serius, pasti di otaknya tengah membayangkan sosoknya. Karena di mata Ruslan kursi itu tampak kosong, Rendy jadi terkesan dengan usahanya dalam menunjukkan sikap mengakui keberadaan sang arwah dalam perbincangan mereka.
“Si Fadlan minta gue yang gantiin posisi lo dalam balapan,” terang Ruslan jengah. “Karena dia nganggep gue ini asisten lo, dikiranya gue orang yang paling tepat buat gantiin. Tapi gue nolak, dari sana si Fadlan kirim grup tongkrongannya buat neror hidup gue selama seminggu terakhir. Awalnya cuman neror lewat SMS atau telepon aja, tapi gak tau dari mana mereka tahu alamat bengkel dan lokasi rumah gue, teror dari mereka makin beringas---kayak tadi.”
Jelas sudah masalahnya, batin Rendy. Dirinya masih menganggap Fadlan ini adalah orang gila, tapi setidaknya Rendy paham alasan para pemuda tadi menciptakan huru-hara; yakni mendesak Ruslan agar memenuhi tantangan.
Torro mengucapkan hal yang sama yang tengah Rendy pikirkan. “Kalau gitu, lo terima aja tantangannya, Rus. Cuman sekali perlombaan, kelar masalah.”
Maka Rendy ikut mengulangi, “Kata Mas Torro, Bang Ruslan tingal terima aja ajakan Fadlan buat balapan. Dengan begitu masalah bisa kelar.”
Ruslan merapatkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menghela napas berat. “Gue gak bisa. Gue gak kayak Torro yang suka adu kecepatan. Gue demen motor gede, tapi gak sampai keranjingan ikut lomba balap liar. Lagian gue udah janji sama nyokap dan sama diri gue sendiri, gue mau berhenti bergelut di dunia balapan ilegal kayak gini. Gue mau fokus sama bengkel, terutama sejak Torro meninggal.”
Kehilangan seorang rekan yang telah menemaninya menggeluti suatu bidang dalam waktu lama memanglah berat, tapi Rendy merasa sikap Ruslan terkesan pengecut. Yah, pengecut, tak ada kata yang lebih tepat lagi dalam menggambarkanya. Ruslan-lah orang yang mengenalkan Torro pada dunia balap liar sejak awal, menjadi asisten, montir sekaligus partner.
Sekali lagi mengikuti lomba balap seharusnya tidaklah sulit, untuk yang terakhir dan demi menyelesaikan masalah. Solusi dari masalah ini begitu mudah dilakukan, mengapa Ruslan tak melakukanya?
Bibir Rendy terkatup, rahangnya mengeras, berusaha kuat agar apa yang dipikirkannya tak dilontarkan secara langsung. Mengkritik Ruslan di waktu seperti ini bukanlah hal yang tepat.
“Apa katanya?” tanya Ruslan pada Rendy, melirik hati-hati pada kursi yang dalam pengelihatannya tampak kosong. “Apa Torro bilang sesuatu?”
Kini Rendy memandang roh tersebut. “Dia gak komentar apa-apa. Mas Torro?”
Suasana langit sudah menggelap, sisa-sisa cahaya matahari sore hari telah menghilang. Angin berembus sepoi-sepoi, dingin dan seakan tampa ampun. Sesosok jiwa tanpa tubuh seharusnya tak bisa menua, tapi wajah Torro tampak bertambah umur sepuluh tahun saat ini, di tengah-tengah cahaya lampu temaran café.
“Gue gak tahu harus gimana,” aku Torro akhrinya, suaranya lemah dan tak tampak bersemangat. “Ini masalah gue, harusnya gue yang kelarin hal ini. Seandainya masih bisa, gue mau aja adu balapan sama si Fadlan malam ini juga, biar cowok itu bisa stop ganggu siapa pun, tapi gue gak bisa.” Ia memandangi tangannya yang telah kehilangan kemampuan menyentuh benda padat. “Dan gue gak bisa maksa Ruslan ikut balapan kalau emang gak mau. Gue … gak tahu harus apa.”
Dengan berat hati Rendy mengulang ucapan kakaknya, lalu ditambah dengan pemikirannya sendiri. “Ini ide gue, gimana kalau Bang Ruslan temuin si Fadlan secara empat mata? Bicara antar sesama laki-laki, minta dia bersikap masuk akal. Mungkin dengan begitu si Fadlan bisa suruh temen-temennya buat berhenti ganggu.”
Torro menggeleng kuat-kuat. “Terlalu berbahaya.”
Sebelum Rendy bisa bertanya kenapa, Ruslan yang duluan menyela dengan berkata, “Gue gak mungkin berani ngelakuin itu. Sendirian datangin markas tongkrongan si Fadan, bisa-bisa gue dikeroyok.”
“Emang mereka bakal sesadis itu?” Rendy jadi gelisah sendiri dibuatnya. “Dan … kalian masa gak punya temen lain yang bisa dampingin? Ngebantu sebagai bentuk solidaritas?”
Torro terdiam, mempersilakan temannya yang menjawab, “Temen di luar dunia balapan? Banyak, tapi gue gak mau minta mereka ikut campur masalah yang gak ada hubungannya sama mereka. Lo gak kenal si Fadlan, Ren, jadi gue bisa maklum kalau lo gak paham. Masalahnya si Fadlan sama tongkrongannya ini nekatan orangnya, gue denger mereka pernah ngeroyok seseorang sampai kritis tapi gak kena hukum.”
“Kok bisa?”
“Gue dengar bokapnya itu orang yang punya cukup pengaruh, “ aku Ruslan. Menyesap lagi minumannya sampai sisa seperempatnya. “Itu kenapa gue gak mau libatin polisi, buang banyak waktu dan malah bikin gue yang rugi sendiri.”
Terdiamlah Rendy. Tak ada hal yang bisa ia katakan lagi, komentar atau sekedar saran. Kondisinya mungkin memang terlalu pelik hingga bisa ia bantukan cari jalan keluarnya. Jangankan dirinya, Torro saja jadi lebih banyak diam sekarang. Kehabisan kata-kata.
Cukup lama Rendy dan dua pria lainnya terdiam---Ruslan terhanyut dalam lamunan sembari menghabiskan pesanannya. Torro terdiam seribu bahasa, Rendy mengecek jam di ponselnya dan memutuskan bahwa tak ada hal yang bisa dibahas lagi.
“Hari udah gelap,” kata Rendy memecahkan keheningan. “Bokap sama nyokap gue pasti bakal khawatir. Gue harus pulang.”
Ucapannya bagai mencairkan kebekuan. “Gue anter,” tawar Ruslan.
Rendy burur-buru menyanggah. “Eh, gak perlu, Bang. Gue bisa cari taksi.”
“Jangan nolak,” Ruslan bersikeras memberinya tumpangan. “Lagian mobil di rumah udah lama gak gue pake.” Lantas pria itu memanggil seorang pelayan dan meminta bon, bersikukuh ikut membayari pesanan Rendy. “Biar gue yang traktir sekali ini.” Ia tersenyum, lalu meminta Rendy menunggu sementara dirinya pergi ke rumah untuk mengambil mobil.
Tinggallah Rendy dan sang hantu bisu.
“Lo baik-baik aja, kan?” tanya Rendy memastikan, aneh sekali sikap Torro setelah tahu pasti apa masalahnya. “Pusing mikirin masalah Bang Ruslan?”
“Masalah gue,” ralat Torro. “Gue gak tahu harus dengan cara apa bantu si Ruslan.” Ia lalu menatap Rendy dengan kesedihan yang teramat sangat sampai Rendy sempat terperangah. “Tolong bilang sama Ruslan gue minta maaf, soalnya gara-gara gue dia kerepotan begini. Gue bener-bener menyesal dan gak tahu harus gimana.”
Hati nurani Rendy terketuk. Torro sedang merasa bersalah, tak bisa menyelesaikan masalah yang ia ciptakan. Ia tergerak untuk membantu, tapi dengan cara apa?
Sang hantu kembali terdiam selagi Rendy memberesi barang-barangnya untuk pergi meninggalkan area café.
***