Lambat laun, Jakarta sudah kembali memasuki mode gelapnya.
Suasana kesibukan warga ibu kota khas siang hari telah lama menghilang, digantikan oleh semarak dunia malam. Ingat bingar ibu kota terasa lebih memukau oleh kelima panca indera---mungkin karena kesemuanya teraa lebih mengesankan dengan latar belakang malam; gemerlapan jalanan dan gedung pencakar langit, suara klakson dan geraman mesin kendaraan bersahut-sahutan. Tepat pada saat inilah para penikmat dunia malam keluar dari persembunyian mereka dan mulai berburu kesenangan dunia.
Rendy pandangi kesemua itu dari balik jendela mobil Ruslan yang terbuka. Tak merasa begitu terpesona dengan pemandangan di luar, dirinya malah terasa tertekan dan terbebani. Fisik dan sisi emosionalnya kelelahan---itu bukan tanpa sebab. Sejauh ini tujuan utama bertandang ke rumah Ruslan telah tercapai; ia dan Torro sudah tahu masalah apa yang mendera si mekanik itu.
Ternyata pengetahuan itu menimbulkan beban tersendiri, masalah utama yang seakan tak ada penyelesaiannya. Rendy merasa tak enak hati karena harus menghentikan perbincangan mereka di kafe tadi, terutama karena belum ada solusi jitu yang dilontarkan siapa pun. Rasanya seperti membiarkan Ruslan kebingungan sendiri menghadapi masalahnya setelah merasa berapi-api bahwa mereka bisa membantu.
Bukannya Ruslan mengeluhkan hal tersebut, Rendy perhatikan sejak tadi sikap pria itu tenang dan seolah tak berada di bawah tekanan. Mungkin itu memang kenyataannya, tapi pasti sedikitnya Ruslan merasa kecewa karena baik Rendy mau pun Torro tak memberinya saran berguna apa pun. Mungkin hanya sengaja bersikap santai agar tak membuat mereka berdua merasa tak enak hati.
Saking kelewat santainya, bahkan Ruslan tak tampak terusik dengan kerusakan mobilnya. Memang tak parah-parah amat, hanya ada beberapa bagian badan yang penyok---lekukannya tak begitu dalam---dan kaca belakang pecah. Intinya tetap saja, kerusakannya pasti membutuhkan banyak biaya perbaikan, tapi toh Ruslan tak merasa malu menggunakan mobil ini sekarang dalam mengantarkannya pulang.
Di sela-sela keheningan karena tak ada seorang pun yang mau memulai obrolan, Ruslan menyalakan radio. Ia memilih sebuah saluran yang secara khusus mengumandangkan lagu-lagu berbahasa asing tanpa iklan. Kini suara melengking tinggi milik Celine Dion memanjakan telinga mereka, mendendangkan sebuah lagu mendayu-dayu yang belum pernah Rendy dengar. Namun Ruslan menggumamkan liriknya dengan kefasihan yang luar biasa, seolah menikmati lagunya.
Siapa sangka seorang yang menggemari motor gede dan otomotif memliki selera musik jenis semacam ini?
Sudut-sudut bibir Rendy berkedut, berusaka keras agar tak menertawakan hal ini. Jangan sampai ada penilaian meremehkan. Toh setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menikmati kesunyian.
Sebenarnya, kesunyian yang berlangsung terjadi bukan karena tak adanya topik obrolan. Rendy memiliki seuatu yang harus dikatakan---sesuatu yang sudah Torro pinta untuk diucapkannya pada Ruslan di kafe tadi, tapi merasa belum menemukan saat yang pas.
Untungnya, roh Torro yang sedang bersamanya, duduk di kursi belakang tak mendesaknya sesegera mungkin.
Perjalanan baru setengah jarak tempuh ketika mobil terhenti akibat kemacetan. Kini radio memperdengarkan suara khas Jutin Timberlake, menyanyikan salah satu lagunya yang berjudul ‘Say Something’. Lampu lalu lintas di depan tampaknya masih akan merah dalam waktu cukup lama, dan dirinya merasa ini waktu yang tepat.
Dirinya yang duduk di kursi samping pengemudi berujar, “Bang, gue minta maaf.” Konyol rasanya tanpa tedeng aling-aling mengucapkan permintaan maaf, tapi ia sudah terlanjur buka mulut.
Ruslan menoleh padanya, lalu sebelah tangannya secara otomatis menjangkau radio, mengecilkan volumenya. “Sorry gue gak denger, apa, Ren?”
Ia mengembuskan napas pelan dan berkata dengan nada lebih mantap, “Soal masalah si Fadlan itu, masalah yang lo ceritain di kafe tadi, gue minta maaf karena gak bisa ngasih solusi apa pun.”
Bulu mata Ruslan menyipit nyaris beradu. “Ngapain juga lo minta maaf, Ren? Tenang aja, gue kan nyeritain itu niatnya buat ngasih tau, gak ngarep dikasih solusi apa-apa.”
“Tapi tetep aja,” Rendy berkilah, perkataan Ruslan tak lantas membuatnya terbebas dari perasaan bersalah. “Gue berharap bisa bantu banyak, tapi gak tahu pake cara apa.”
“Gak perlu.” Ruslan meyakinkannya. “Lo gak berhutang apa-apa, lagian masalah ini bukan lo penyebabnya.”
Ragu-ragu Rendy melirik ke kursi belakang. Citra sang hantu makin tampak jelas di malam hari, memandangnya dengan raut wajah tak terbaca. Torro tak berkata apa-apa, yang malah membuat Rendy ngeri. Sikap bisunya makin mengesankan bahwa pria itu adalah arwah gentayangan.
“Tapi, Mas Torro beranggapan kalau dia penyebabnya,” aku Rendy lemah, melirik lagi pada Ruslan. “Dia merasa bersalah, dan nyesel karena gak bisa bantu apa-apa.”
Sekonyong-konyong Ruslan ikutan melirik ke belakang dan mengusap tengkuknya. Barangkali merinding, sikap Rendy membuatnya tersadar bahwa ada kehadiran sosok tak kasat mata di antara mereka. “Eh,” ucapnya gugup, “Torro dari tadi ada di kursi belakang?”
Lagi, Rendy menahan tawa. “Iya, Mas Torro kan juga ikut numpang pulang, walau sebenernya bisa jalan kaki sendiri---tapi itu bakal makan banyak waktu. Sekarang Mas Torro gak banyak bicara sih, mungkin masih kepikiran. Tapi Mas Torro minta gue buat ngucapin sesuatu ke Bang Ruslan: katanya minta maaf, soalnya gara-gara dia Bang Ruslan kerepotan begini. Mas Torro bener-bener menyesal dan gak tahu harus gimana.”
Ruslan tidak langsung menjawab, mungkin sedang menenangkan degup jantungnya dulu atau memikirkan apa yang akan dikatakannya sebagai respon. Masih melirik kursi belakang ia akhirnya berkata, “Lo gak perlu ngerasa begitu, Bro. Gue tau lo gak bermaksud begini. Maksudnya, bukan mau lo terlibat kecelakaan dan meninggal mendadak malam itu, kan?” Ruslan tercekat, seolah tersadar bahwa ia salah ucap. “Eh, sorry, gue gak bermaksud ngungkit itu. Pokoknya lo gak salah, kita lagi ketiban s**l aja. Kalau si cecunguk Fadlan itu waras, masalah ini bisa kelar dengan bayar uang ganti rugi.”
Torro tak menyahut sepatah kata pun.
Suara klakson yang berlomba di sekitar menyadarkan seisi mobil bahwa lampu lalu lintas sudah kuning---lalu hijau. Ruslan membalikkan badan dan kembali fokus menyetir, baru beberapa menit kemudian ia bertanya, “Apa Torro ngomong sesuatu?”
“Enggak,” Rendy berkata, “gak satu kata pun. Masih cemberut.”
Setiap beberapa detik sekali Ruslan melirik kaca spion depan dengan was-was, Rendy segera memahami tujuannya. Percobaan Ruslan jelas gagal, karena pertama: ia tak bisa melihat sosok Torro dan kedua: walaupun bisa, Rendy menyadari bahwa perwujudan astral kakaknya tak terpantul di kaca spion. Jiwa tanpa tubuh tak memiliki pantulan cermin.
“Gue harap bisa lihat Torro juga,” sesal Ruslan dengan mendesah. “Dengan begitu gue bisa ngomong lebih banyak, bukannya ngerasa kayak ngomong sama udara kosong.”
Dahi Rendy berkerut. “Bang Ruslan masih belum sepenuhnya percaya soal keberadaan arwah Mas Torro?”
“Bukan begitu,” bantahnya langsung. “Gue percaya, tapi bakal lebih pasti kalau gue bisa lihat dengan mata kepala sendiri. Lo bisa paham gak maksud gue, Ren?”
“Bisa,” aku Rendy langsung. Ia memang benar-benar memahaminya. Keraguan di benak Ruslan pada keberadaan roh temannya akan selalu ada selama ia tak bisa melihatnya secara langsung. “Sebenarnya,” lanjut Rendy berkata sambil menimbang-nimbang, “Bang Ruslan bisa aja lihat secara langsung, asalkan berani dibuka mata batinnya kayak gue. Mungkin temannya adik gue itu bakal mau ngebantu.”
Ruslan membisu. Rendy memperhatikan wajahnya, pandangan pria itu tetap terpaku pada jalanan, fokus menyetir. Namun tak sepenuhnya fokus. Muncul kerutan halus di dahinya selagi memikirkan usul Rendy, pasti terjadi pertentangan batin juga di sana. Keinginan bisa melihat sosok sahabatnya sekali lagi bertentangan dengan rasa takut. Diberi kemampuan melihat seseorang yang telah tiaa bukan perkara mudah.
Sesaat Rendy iseng melirik ke belakang, sekedar ingin tahu bagaimana pendapat saudaranya tentang ide tersebut. Torro hanya menggelengkan kepala, benak Rendy menerjemahkannya dalam dua kemungkinan: antara Torro tak menyutujui idenya, menganggap bahwa gagasan itu tak bagus, atau Torro hanya membiarkan Rendy memutuskan semuanya tanpa mau berkomentar lebih banyak.
Rendy memilih kemungkinan kedua. Lagian mungkin ada baiknya Torro dan Ruslan berbicara berdua langsung tanpa perantara. Tanpa keberadaan dirinya, kedua pria tersebut bisa membicarakan hal-hal yang jauh lebih rumit lagi. Sekaligus membagikan pengalaman horor Rendy pada Ruslan akan terkesan menarik, tak urung Rendy penasaran akan seperti apa cara Ruslan dalam menerima semuanya setelah mata batinnya terbuka.
“Gimana rasanya, Ren?” tanya Ruslan kemudian, ternyata memang sedang mempertimbangkan. “Mata batin kebuka, bisa lihat hantu dan … begitulah.”
Rendy menyedekapkan lengannya. “Awalnya pasti takut, ngeri … berasa mimpi buruk, tapi kelamaan gue bisa menerima. Temennya adik gue ini, namanya Donovan, dia bisa ngatur bahwa hantu yang gue bisa lihat cuman Mas Torro. Mas Torro juga gak akan selamanya berkeliaran begini, jadi kondisi gue ini mungkin gak bakalan jadi permanen.”
Lagi-lagi Ruslan terdiam, kini jauh lebih lama. Rendy tak mendesaknya memberi jawaban, karena memang banyak hal yang harus dipikirkan. Ketika mobil telah memasuki kawasan komplek perumahannya, Ruslan hanya berkata, “Bakal gue pikir-pikir dulu. Gue belum yakin.”
Maka dirinya hanya mengangguk.
Tangan Ruslan yang berada di setir kemudi memutar ke kiri, yang membawa mobil tersebut berbelok ke arah rumah. Dalam lima detik kemudian saja Rendy bisa melihat rumahnya … beserta dua mobil yang terparkir di depan. Seorang pria yang Rendy kenal sedang berdiri menyandarkan punggungnya ke salah satu mobil.
Jantung Rendy bertalu-talu. Ia belum sempat mempertimbangkan kemungkinan bahwa ayahnya akan ada di sini. Dipikirnya barangkali pria tua itu sudah pulang ke penginapannya, atau masih berada di luar sana bersenang-senang dengan Anggi.
Kini ayahnya ternyata ada di sana, Rendy bisa menduga-duga apa yang membuat pria itu menunggu di luar sana sendirian. Perasaannya jadi tak enak dan was-was, jangan sampai pria itu melihat dirinya diantar pulang oleh seseorang yang amat dibenci ayahnya.
***