Ternyata sudah terlambat.
Bahkan sebelum mobil menepi, ayahnya sudah menyadari kedatangan mereka duluan. Diperparah dengan keadaan kaca jendela yang terbuka, membuat Roy membelalakan mata memandang ke dalam mobil dan garis-garis di mulutnya menajam.
Sayangnya Ruslan tak segera menyadari bahaya yang ada, masih terlalu sibuk mengontrol laju mobil dan benak yang dipenuhi berbagai pemikiran. Ia memarkirkan kendaraannya hanya berjarak tiga meter dari mobil sewaan ayahnya.
Panik, Rendy berkata dengan suara tercekat, “Bang, gue sebenarnya ada niatan ngajak lo masuk ke rumah dulu, tapi kayaknya lebih baik lo langsung pulang.”
Ketegangan dalam suaraya mendapat perhatian Ruslan. “Kenapa?” tanyanya sambil melirik ke arah yang sedang dipandangi Rendy di luar---lalu ikutan tercekat. “Oh oke,” katanya mencicit. “Gue setuju.”
Betapa mengerikan rasanya, keberadaan sosok pria tua itu jauh lebih menakutkan dibanding Torro sang hantu. Membuat nyali keduanya ciut.
Ruslan tak jadi mematikan mesin mobil, wajahnya memucat. Ia terdiam menunggu selagi Rendy mengambil barang-barangnya dan keluar dari mobil. “Makasih buat tumpangannya, Bang,” ucap Rendy selagi minutup pintu mobil di belakangnya. Dari sudut mata ia juga menangkap sosok Torro menembus keluar dari bagian belakang mobil.
Laksana pebalap handal yang sedang memulai garis permulaan di awal perlombaaan, Ruslan langsung memutar mobilnya dan tanjap gas---segera hilang di belokan terdekat. Padahal pria itu mengaku tak menyenangi kecepatan!
Mencoba menenangkan detak jantungnya, Rendy beranjak mendekat. Rasanya seperti mendekati sebuah bom waktu yang kapan saja bisa meledak. “Eh, Pah,” sapanya gugup. “Papah masih di sini?”
Ayahnya menggeram, geraman yang jauh lebih mematikan dibanding seekor singa sang raja hutan sekali pun. “Emangnya kamu pikir seharusnya Papah ada di mana sekarang?”
Rendy berjengit, menyaksikan amarah ayahnya yang meluap seperti ini membuatnya teringat kembali soal kasus KDRT yang pernah diceritakan Tante Renata tempo lalu. Hal ini memancing kekesalannya, membuat ia mampu mengimbangi rasa takutnya.
Torro kini berada di belakangnya, Rendy tahu karena ia merasakan bulu kuduknya merinding. “Jangan takut, Ren,” bisik Torro mendorong keberaniannya. “Ini cuman Papah, lo bisa pegang kendali.” Nada suaranya dingin, mati, tanpa perasaan.
Kaki Rendy berhenti melangkah. Berdiri hanya sejarak satu meter dari sang ayah. Tak terlalu dekat,tapi cukup jauh jika sewaktu-waktu ia harus mengelak dari serangan … atau pukulan. “Rendy pikir Papah udah pulang ke penginapan,” aku Rendy, kini suaranya lebih mantap. “Atau masih di Dufan atau di mana aja sama Anggi.”
“Papah dan adikmu udah pulang sejak jam enam tadi,” kata Roy, kedua lengannya tersilang ke belakang punggung. “Papah sengaja diam di luar sini nunggu kamu pulang. Kenapa kamu gak ngasih kabar sama sekali, atau sekedar balas SMS Papah? Nomor kamu aja gak bisa dihubungi!”
“Baterainya habis,” kilah Rendy. Itu memang benar. Daya ponselnya habis sewaktu ia baru meninggalkan kafe.
Alasannya tak diterima sang ayah. Roy mengerang frustasi. “Apa yang kamu pikirkan, Rendy? Kamu bilang main ke rumah temen kuliah, tapi sekarang kamu pulang diantar anak begajulan ini? Apa yang kamu lakukan sesiangan tadi? Nongkrong bareng sama dia? Papah udah bilang, Papah gak setuju kamu bergaul sama anak itu!”
“Ini gak seperti yang Papah kira,” dirinya membela diri, benaknya mulai mengira-ngira sebuah kebohongan. “Ta---tadi Rendy emang di rumah Effendi, tapi Bang Ruslan nelepon soal suku cadang motor yang harus Rendy lihat sendiri apa benar bakal cocok atau salah beli. Cuman itu, Rendy juga sebentar di sana, Bang Ruslan sendiri yang nawarin buat nganter pulang.”
Apa kebohongannya terlalu kentara? Mungkin iya, mengingat ayahnya tahu betul bahwa Rendy tak tahu apa-apa soal jenis-jenis onderdil motor. Raut wajah Roy Rahmadi tak melembut sedikit pun. Rendy bersiap menabahkan diri menahan terjangan kemarahan yang jauh lebih besar, tapi ternyata sang ayah hanya mendesah panjang, rupanya tak berselera mendebatnya lebih jauh.
Namun, matanya tetap terpancang tajam menatapnya, suaranya dipenuhi otoritas seorang ayah ketika berkata, “Mulai sekarang Papah gak mau dengar lagi kamu berhubungan tentang apa pun sama anak itu. Papah ngelarang kamu minta bantuan dia lagi soal benerin motor---”
Tergagap-gagap, Rendy menyela, “Tap-tapi, Pah!”
“Papah bakal minta bantuan orang lain, mungkin bengkel mobil langganan Papah kalau kamu emang beneran mau ngebenerin motor di garasi itu. Papah bakal bayain modal perbaikannya, apa pun asalkan kamu berhenti bergaul sama dia.”
“Papah gak bisa ngelarang Rendy bergaul sama Bang Ruslan gitu aja!”
“Oh, Papah bisa!” hardik Roy dengan nada tajam. “Kamu mungkin udah dewasa, tapi saya masih ayah kamu!” d**a pria itu membusung, bergerak cepat mengikuti ritme napas yang berat. Kulit lehernya memerah. “Sekarang masuk ke rumah! Ingat, jangan pernah lagi kamu komunikasian lagi sama si Ruslan dalam bentuk apa pun, atau---”
“Atau apa?” tantang Rendy, amarahnnya terpancing. Seberapa penurut pun dirinya selama ini, naluri remaja Rendy otomatis aktif, memberontak ketika ayahnya---atau salah satu orangtuanya---menetapkan peraturan yang tak masuk diakal. “Papah bakal potong uang jajan Rendy atau apa?”
Tatapan mata Roy menyipit, hanya ada kemarahan murni di sana. “Baru sehari kamu nongkrong sama Ruslan, sekarang kamu udah berani menantang Papah kayak begini. Makin lama kamu bergaul sama dia, kamu bisa bernasib sama kayak mendiang kakak kamu.”
Setelah menyemburkan kalimat terakhir, Roy berbalik dan berjalan memutari mobil, ia membuka pintu mobil dan masuk, menduduki kursi kemudi. Mesin mobil meraung menyala, untuk terakhir kalinya Roy memandang Rendy yang masih terpaku di tempat. “Cepat masuk ke rumah,” katanya lebih pelan, tapi suaranya bergetar.
Mobil pun dikendarainya meninggalkan rumah, meninggalkan Rendy bersama arwah Torro, sama-sama tak percaya dengan apa yang telah diucapkan ayahnya barusan.
“Bisa-bisanya Papah …,” bisik Rendy, tapi tak mampu menyelesaikan ucapannya. Ayahnya memiliki hak untuk marah karena dirinya telah berbohong, tapi mengucapkan sesuatu seperti itu, seolah-olah nasib saudara lelakinya adalah tragedi, semua itu terlalu berlebihan untuk ukuran ayahnya sekali pun.
“Ayo masuk, Ren,” ajak Torro, bergerak melewatinya ke arah rumah. “Mamah pasti udah nungu di dalam.”
Sekilas Rendy melihat raut wajah muram Torro, ucapan ayah mereka pasti jauh lebih menyakitkan bagi sang hantu ketimbang dirinya. Namun Torro tak mengungkapkan atau menunjukkan perasaannya, tapi sekali ini tanpa harus dikatakan pun ia paham, bahwa kekecawaan pada ayahnya sudah tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Angin dingin berembus menerpa wajahnya, dengan kedua tangan menjinjing tas belanjaan Rendy pun bergerak menuju satu-satunya tempat yang masih bisa ia sebut sebagai rumah.
***