Rendy menemukan ibunya sedang berada di ruang makan, seorang diri, menduduki kursi yang letaknya mengarah tepat pada arah kedatangannya. Berbagai alat makan, nasi dan lauk pauk terhidang di atas meja, tapi tampaknya belum ada yang disentuh sama sekali.
“Rendy, Nak,” sapa Puspa ketika menyadari kedatangannya, bibirnya mengembangkan senyum lemah. “Akhirnya kamu udah pulang. Udah makan?”
Sesaat Rendy menimbang-nimbang situasi. Anggi dan ayahnya sudah sampai di sini sejak tadi, itu artinya ibunya pasti sudah tahu: bahwa Rendy memisahkan diri dari kegiatan jalan-jalan akhir pekan bersama keluarga, dan pergi dengan alibi ke rumah teman kuliahnya. Tak memberi kabar sama sekali dan kini pulang malam. Ibunya juga pasti memikirkannya, mengkhawatirkan ia sebagaimana ayahnya tadi. Apa pertengkaran dengan sang ayah terdengar sampai ke dalam? Apa ibunya ikut mencuri dengan perdebatan barusan?
Sulit mencari tahu jawabannya, karena sikap ibunya tenang sekali meski tatapannya dibubuhi keingintahuan yang mendalam.
“Belum, Mah,” dirinya menjawab, memilih mengikuti alur. “Tapi Rendy belum lapar, nanti mungkin. Anggi udah pulang, kan?”
“Udah.” Jari-jari tangan Puspa mengetuk pinggiran piring kosong. “Dia ada kamarnya, tidur. Mungkin kecapean sehabis seru-seruan seharian tadi.”
“Oh.” Rendy berdiri di tempat, bimbang antara ingin langsung pergi ke kamarnya atau bergabung bersama ibunya di meja makan lebih dulu. Roh Torro sendiri langsung menghilang ke dalam garasi seusai memasuki rumah. Sepertinya saudaranya membutuhkan waktu sendiri, padahal menguping pembicaraan biasanya hal yang jarang hantu itu lewatkan.
“Tadi kamu ketemu ayah kamu di luar?” tanya Puspa yang merasakan kebimbangan Rendy. “Mamah sempat denger suara ribut-ribut tadi … mau cerita?”
Oke, sikap sok tak acuh wanita ini malah membuat Rendy gemas dan heran. Setidaknya ibunya tak mencecarnya dengan beragam pertanyaan tentang ke mana dirinya sesiangan tadi, atau mengapa dirinya tak memberi tahu kabar sama sekali akan pulang jam berapa. Tidak seperti ayahnya, ibunya memiliki cara tersendiri dalam menginterogasi. Bukan memulai adu mulut, melainkan meciptakan suasana damai dan tentram sehingga Rendy nyaman menceritakannya sendiri.
“Oke,” ucap Rendy, bergerak menghampiri meja dan duduk di salah satu kursi yang berdekatan dengan ibunya. “Rendy makan sekarang.” Harus diakui, perutnya belum terpuaskan oleh roti bakar yang dikonsumsinya di kafe tadi. Barang belanjaannya ia letakkan dulu di kolong meja, membiarkannya tergeletak di lantai begitu saja.
Dengan lembut ibunya menyiapkannya sebuah piring, dan mengisi alat makan itu dengan makanan yang ditanyakan lebih dulu. Keadaan yang sepi dan hanya berdua begini membuat Rendy memang merasa tentram, terasa selalu lebih mudah berbicara dari hati ke hati dengan ibunya.
Puspa tak mendesaknya bercerita cepat-cepat, tapi mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri setelah selesai mengurus makanan putra satu-satunya. Selama sesaat hanya terdengar suara denting sendok menyentuh piring, dan Rendy mulai merasa harus mengatakan sesuatu.
“Mamah tahu kalau tadi siang Rendy memisahkan dari dari acara jalan-jalan Papah dan Angi?” tanyanya dengan nada sambil lalu.
“He’em,” gumam Puspa sama santainya. “Mamah sempat kaget waktu adik sama ayahmu pulang cuman berdua. Anggi langsung cerita kalau setelah jalan-jalan di mall, kamu pergi sendiri ke rumah temanmu, ngerjain projek kuliah?.”
“Iya, alesan Rendy emang begitu.” Kepalanya menunduk, tak berani menatap mata ibunya secara langsung. “Tapi … itu bohong, Rendy sebenarnya pergi ke rumah Bang Ruslan, terus Bang Ruslan yang nganter Rendy pulang tadi. Papah lihat dan marah.”
“Oh begitu.” Nada suara Puspa tetap lembut, tak ada pertanda kemarahan di wajahnya karena mengetahui Rendy telah berbohong. “Kalau Mamah boleh tahu, kenapa kamu pergi ke rumah Ruslan? Ada masalah apa?”
“Hmm, masalah anak muda,” kilah Rendy enggan berucap seujurnya. Setidaknya ‘masalah anak muda’ memang mencakup semuanya.
Anehnya, Puspa terkekeh, menganggap aksi rahasia-rahasiaan ini menggelikan. “Oke, Mamah gak akan tanya lebih jauh apa detil masalahnya---biar gimana pun Mamah ini juga pernah muda loh, Nak. Tapi kenapa kamu gak jujur aja sama ayahmu sedari awal?”
“Mamah tahu gimana Papah. Kalau Rendy bilang jujur, pasti gak akan diizinin.” Lalu tanpa diminta ia pun menceritakan perdebatan sengit dengan ayahnya singkat, mengucapkan ulang kata-kata peringatan ayahnya soal tak boleh bergaul lagi dengan teman dari mendiang kakak lelakinya itu. Memperingati bahwa nasib Rendy akan berakhir sama dengan Torro jika tak menurut.
Memilih berani, Rendy mendongak menatap ibunya. Puspa kelihatan shock dan kaget, tapi reaksi itu berhasil dikendalikannya dalam hitungan detik. “Papah kamu bilang begitu?”
“Keterlaluan, kan?” ucapnya meminta pembelaan. “Bang Ruslan … dia gak seburuk itu.”
“Hmm,” gumam Puspa, sepertinya sudah melupakan makanannya sendiri. Siapa yang sedang dibohongi? Keduanya sedang tak berselera makan, acara makan malam ini hanya siasat agar bisa saling mengobrol panjang lebar. “Tapi kamu paham kan kenapa ayahmu bicara seperti itu?”
Bahu Rendy mengedik, tak tahu jawaban pastinya. “Apa Mamah berpendapat serupa? Kalau Rendy bergaul lebih lama sama Bang Ruslan, Rendy bakal kebawa pengaruh buruk?”
“Awalnya Mamah beranggapan begitu,” Puspa mengakui terang-terangan, matanya kini menerawang, memandang satu titik di udara tanpa kepastian. “Tapi kemudian Mamah mikirin betapa kamu sama kakak kamu begitu … berbeda. Meski usia kamu lebih muda, kamu bisa bersikap lebih matang dan bijak ketimbang … almarhum.” Bibir Puspa meringis, begitu enggan menyebut nama Torro secara langsung. “Mamah udah mutusin buat percaya sama kamu, Nak. Kalau kamu anggap anak bernama Ruslan itu orang yang baik buat dijadikan teman, Mamah akan percaya sama penilaian kamu, dan Mamah yakin kamu gak bakalan bernasib sama kayak almarhum saudara kamu. Kalian sangat berbeda.”
Sekonyong-konyong saraf tubuh Rendy rileks dan lega, seolah beban berat yang selama ini harus dipikul telah terangkat dari pundaknya. Hal semacam inilah yang dibutuhkannya, bukan aturan tegas tanpa masuk di akal, melainkan pemahaman, pengertian bahwa dirinya telah dewasa untuk mampu membuat penilaiannya sendiri. Mengapa ayahnya tak bisa bersikap begini juga? Hanya ibunya yang paham betul apa yang sedang dibutuhkannya. Di antara banyaknya orang yang Rendy kenal, mengapa ayahnya yang harus bersikap teramat tegas dan kejam?
“Makasih, Mah,” Rendy berucap, tulus dari hati terdalam. “Makasih udah percaya sama Rendy.”
Puspa tersenyum lebar, rupanya senang juga bahwa pembicaraan ini berjalan baik. Keduanya pun mulai menikmati makanan mereka kembali dengan tenang, sesekali diselingi obrolan betapa serunya jalan-jalan seharian tadi.
Selepas makan malam, Rendy segera beranjak menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Di sana, hal yang pertama kali ia lakukan adalah menghubungkan ponselnya dengan kabel pengisi daya. Lalu Rendy membasuh tubuhnya sekilas di kamar mandi, sekedar membersihkan badannya dari kotoran dan keringat. Setelah itu ia mengganti baju dengan setelan rumahan---celana pendek dan kaus usang, dan berakhir dengan berbaring santai di atas ranjang.
Kemudian ia teringat atas barang belanjaannya, akhirnya bangkit lagi dari tempat duduk untuk menata barang-barang yang baru dibeli itu pada tempatnya.
Segera saja dirinya menyadari ada sesuatu yang tak ada. Sebuah benda yang ia yakin dibelinya di mall tadi, tapi tak dapat ia temukan di mana pun: power bank untuk laptopnya. Resah, ia mulai mencari ke segala penjuru kamar, bahkan sampai mengecek ke lantai bawah, ke kolong meja makan jika-jika ia memang kelupaan membawanya dari sana. Namun benda yang dicarinya tak ada.
Lantas ia memutar otak, mengira-ngira ke mana hilangnya benda itu. Sejak kedatangannya ke rumah Ruslan tadi siang, Rendy memang belum sempat lagi melihat-lihat barang belanjaanya. Apa mungkin ketinggalan di rumah Ruslan? Atau … ketinggalan di mobil Ruslan karena dirinya terburu-buru sewaktu mengambil barang belanjaannya dan keluar dari mobil tanpa memastikan?
Ya, pikirnya. Pasti begitu, kemungkinannya hanya itu. Rendy tak rela kehilangan barang yang sudah dibelikan ayahnya baru-baru ini, terutama karena harganya cukup mahal.
Rendy pun kembali ke lantai atas, memasuki kamar lantas meraih ponselnya yang masih dalam mode pengisian baterai. Ia nyalakan ponsel pintar tersebut dan segera menghubungi nomor Ruslan cepat-cepat.
Semoga pria itu masih terjaga, batinnya berharap.
***