Panggilan telepon terjawab pada percobaan ketiga, ketika Rendy mulai menduga bahwa mungkin Ruslan telah tertidur.
“Ya, Ren?” Suara pria itu nyatanya tak terkesan sedang menahan kantuk, malah nadanya awas, barangkali tak menyangka akan mendapat telepon dari Rendy pada jam malam seperti ini. “Ada apa telepon gue?”
“Ini, Bang,” Rendy berjongkok di dekat meja belajarnya, agar bisa menempelkan ponsel ke kuping sambil tetap mengisi daya baterai---kabel pengisi dayanya agak pendek. “Gue baru aja ngecek, ada barang belanjaan gue yang hilang, udah dicari-cari ke mana juga gak nemu. Kira-kira ketinggalan di mobil Bang Ruslan, gak? Mungkin gara-gara panik buru-buru keluar dari mobil tadi, barangnya gak sengaja ketinggalan.”
“Oh.” Terdengar suara ranjang berderit, jadi Ruslan pasti sedang berada di kamarnya. “Gue belum lihat-lihat mobil di kursi belakang sejak nganterin lo tadi, emangnya barang apa yang hilang?”
“Power bank,” sahut Rendy otomatis, agak merasa tak enak karena harus menganggu kegiatan malam pria ini tiba-tiba. “Dibeliin bokap gue siang tadi. Harganya mahal; sayang banget kalau sampai hilang.”
“Oke, oke, bentar biar gue coba cari dulu. Sipa tahu emang ketinggalan di mobil.”
Jari-jari tangan Rendy yang bebas mengetuk-ngetuk kaki meja. “Sorry kalau gue ganggu lo malam-malam begini, Bang.”
“Ah, gak masalah,” Ruslan menenangkannya. “Lagian gue lagi nyantai ini.” Kini terdengar suara pintu dibuka, langkah kaki menapak lantai dan gumam samar di seberang telepon. “Omong-omong soal bokap lo,” lanjut Ruslan berkata, “tadi dia nunggu depan rumah, kan? Garang banget kelihatannya. Keadannya gawat, gak?”
Kontan Rendy tersenyum kecut. “Aman kok, emang bokap agak marah sedikit tahu kalau gue ternyata main ke rumah lo---dan lo yang ngasih tumpangan pulang.”
“Lo gak ngasih tahu dia sebelumnya kalau hari ini---tadi---lo datang ke sini?”
Kepala Rendy menggeleng meski Ruslan tak bisa melihatnya. “Ya jelas enggaklah. Gue gak bakal diizinin pergi kalau ngomong jujur sejak awal.”
Ruslan tertawa, padahal Rendy merasa tak ada yang lucu dalam hal ini.
Sesaat keduanya terdiam, ia bisa mendengar di seberang sana Ruslan membuka pintu mobil, suara berkeresekan selagi mencari-cari. Hasilnya didapat lumayan cepat.
“Nah,” seru Ruslan puas, “ketemu nih, Ren. Di dalam kantong kertas cokelat, kan? Bentar gue cek isinya dulu.” Lime belas detik sunyi. “Ah iya, power bank isinya. Bener, ketinggalan di mobil gue.” Ada nada geli dalam suaranya.
“Ah syukurlah,” Rendy mengembuskan napas lega. “Untung ternyata gak hilang. Gue nitip di lo dulu ya, Bang? Besok mungkin gue ambil ke rumah lo langsung.”
“Sip, eh, tapi kalau lo mau, besok gue bisa anterin nih barang ke rumah lo, atau ke kampus lo. Besok lo kuliah, kan?”
“Kuliah, tapi emang gak ngerepotin?”
“Kagak, besok pagi bisa gue mampir ke kampus lo dulu sekalian ke bengkel. Kasih aja alamat kampus lo dan tunggu di depan gedung?”
“Oke.” Dari situ pembicaraan seharusnya telah berakhir, tapi tak ada yang memutus sambungan telepon. Dalam dirinya pun belum ada niatan untuk mengakhiri obrolan. Perkataan Ruslan sebelumnya memancing rasa penasaran Rendy, akhirnya ia memutuskan bertanya, “Bang Ruslan besok bakal ke bengkel? Bengkel bakal dibuka lagi …?”
Setelah p*********n brutal beberapa malam lalu, Rendy mengakhiri kalimat tersebut dalam hati.
Tampaknya Ruslan mengerti maksud pertanyaannya, mendecak sebelum menjawab, “Yah, rencananya begitu. Lagian gak mungkin ditutup terus-terusan, buat apa?”
Kelamaan berjongkok membuat kakinya pegal. Maka Rendy pun bangkit berdiri, menarik kursi merapat pada meja dan mendudukinya. Namun dengan begitu pun dirinya tetap harus membungkukkan punggung agar kabel pengisi daya tak tercabut dari ponsel. “Emang lo gak khawatir kalau orang-orang suruhan si Fadlan itu bakal nyerang bengkel lagi?”
Terdengar pintul mobil dibanting menutup, kemudian pintu rumah ditutup dan dikunci, lalu suara sofa yang berderit seolah tertindih sesuatu yang berat. Bisa Rendy bayangkan sekarang Ruslan sedang berbaring di sofa ruang tamu di rumahnya sendiri.
“Pilihan apa lagi yang gue punya, Ren?” Ruslan melemparkan pertanyaan retoris. “Bengkel gak mungkin ditutup gitu aja. Seenggaknya gue bakal lakuin tindakan pencegahan: tutup bengkel lebih sore dan menghindar diam di sana sampai malam. Kalau siang, gue kira orang-orang itu juga gak mungkin berani bikin kerisuhan, pas lagi banyak orang.”
Inginnya Rendy mendebat, berucap bahwa opini Ruslan itu salah. Buktinya adalah tadi siang, rumah Ruslan diserang di siang hari saat matahari sedang bersinar sangat terik. Posisi rumah yang berada di dekat kawasan padat penduduk nyatanya tak menghentikan aksi para orang-orang tadi dalam bertindak narkis. Sekarang mengapa Ruslan malah begitu yakin dengan kemungkinan kecil? Mengandalkan harapan yang tidak relevan.
Namun, Rendy memilih tak mengucapkan hal ini terang-terangan. Ia tahu Ruslan sebenarnya menyimpan ketakutannya sendiri, hanya berpura-pura berani di depan dirinya, berakting menganggap semuanya enteng. Rendy tak tega makin menakuti pria itu dengan asumsi-asumsinya yang meski terkesan paranoid, tapi memiliki kemungkinan terjadi yang besar.
Sungguh, jika ini masalah orang lain Rendy sendiri enggan ikut campur lebih dalam. Akan lebih mudah mengabaikan persoalan tersebut jika hal itu dimiliki orang asing---seseorang yang tak dikenalnya sama sekali. Selama ini Rendy sering melakukan itu, bersikap apatis, tak peduli pada permasalan orang di sekitar.
Hanya saja, kali ini dirinya tak bisa bersikap begitu. Ia mengenal Ruslan, cukup baik sampai yakin bahwa Ruslan tak sepantasnya mengalami teror dalam hidupnya. Dan terutama sumber masalah ini adalah Torro saudara lelakinya, bagaimana bisa Rendy bersikap tak peduli pada permasalahan ini? Kakaknya sedang tak berada dalam kondisi bagus untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.
“Jadi, Bang Ruslan gak ada rencana khusus buat nanganin persoalan si Fadlan ini?” tanya Rendy kemudian. “Cuman menghindar? Gak ngelakuin apa-apa, biarin mereka cari gara-gara sampai bosen sendiri?”
Ruslan mendesah berat, pertanyaan ini saja pasti sudah membuatnya tertekan. “Rencana buruk, gue tahu, tapi ya … begitulah.” Ia mendesah lagi dengan keletihan yang dilebih-lebihkan. “Pasti lo nganggep sikap gue ini pengecut, Ren.”
“A ….” Rendy kehilangan kata-kata. Niatan pertamanya secara otomatis adalah membantah terkaan Ruslan, tapi sulit melakukannya ketika tahu tuduhan itu benar. Rendy memang sempat menganggap Ruslan pengecut---penakut yang tak berani mengambil langkah besar dalam menyelesaikan masalahnya sendiri. “Jangan ngomong begitu,” Rendy mencoba berucap, “penilaian gue gak penting. Masalahnya mungkin emang terlalu rumit buat gue pahami. Jangankan Bang Ruslan, Mas Torro yang biang keroknya aja gak tahu mesti ngapain.”
Ketegangan sedikit mencair. Ruslan tertawa pelan. “Torro ada di sana?” Suaranya terdengar penuh damba, bersumber dari kerinduan pada sang sahabat.
“Ya, Mas Torro ada di rumah. Di garasi tepatnya.”
“Ngapain dia di sana?” Ruslan kedengaran bingung.
“Merenungi nasibnya sendiri, mungkin,” Rendy asal ucap. “Udah kebiasannya kalau gak lagi berkeliaran ke mana-mana, diem di garasi sampai pagi melototin motor rusaknya.”
“Kasihan,” ucap Ruslan, mungkin sambil meringis. “Dia pasti kepikiran terus. Gue minta sama lo jangan bahas masalah ini sama dia terus-terusan, Ren. Gue bisa nanganin sendiri. Kasihan kakak lo, udah seharusnya dia tenang nikmatin sisa-sisa waktunya sama keluarga.”
Rendy bersumpah ia mendengar suara Ruslan nyaris pecah, menunjukkan sisi emosional yang sebenarnya. Sekali lagi, Ruslan membuktikan bahwa dia adalah teman yang baik.
“Oke, gue ngerti.” Dirinya menurut, meski tak berani menjanjikan hal itu secara pasti. Sesaat kemudian telinganya mendengar suara Ruslaan menguap lebar dari sambungan telepon, seolah menular, Rendy ikut menguap. Rasa kantuk mulai mendera panca indranya. “Eh, ini udah malem, kita udahin aja dulu sambungannya, gimana? Besok pagi gue tunggu di depan gedung kampus?”
Tak segera menjawab, Ruslan telat merespon selama lima detik. “Oke … tunggu sebentar, gue mau bahas satu hal lagi.”
Posisi duduk Rendy sedikit menegak, alhasil kabel penyambung daya menegang. “Ya?”
“Ini tentang tawaran lo di mobil tadi, soal nyoba minta bantuan temen adik lo, buat buka mata batin gue biar bisa lihat Torro secara langsung juga,” Ruslan berucap lambat-lambat.
Tatapan mata Rendy melebar, siaga mendengar topik ini diungkit. Sebelumnya ia tak menduga bahwa Ruslan akan menyebut perihal ini di obrolan kali ini, tapi sekarang Rendy jadi penasaran. “Gimana?”
“Gue kayaknya gak bisa ngelakuin itu.” Ruslan terdiam sedetik. “Gue gak sanggup.”
Mulut Rendy menganga. Bukan pengakuan yang diduganya akan ia dengar. “Kalau boleh tahu, kenapa, Bang?”
“Gue ngeri.” Suara Ruslan serak, lagi-lagi menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Ia mengeluarkan suara seperti menyedot ingus. “Baru dua minggu lalu gue ikut ngurusin pemakamannya, nyaksiin jenazahnya dikubur. Gue lihat sendiri mayat kakak lo dibungkus kafan, dimasukin dalem liang kubur. Kalau kudu lihat dia lagi dalam kondisi gentayangan begitu … gue … gue gak sanggup.”
“Gue paham, gue paham,” Rendy berkata cepat. Ia tak ingin memaksa Ruslan meneruskan ucapannya, karena besar kemungkinan pria itu bakalan menangis. Jika itu terjadi, Rendy tak tahu harus bagaimana. Meski berbadan besar, teman kakaknya ini memiliki sisi melankolisnya sendiri.
Bukan berarti Ruslan cengeng atau semacamnya, Rendy tak menganggap begitu. Peristiwa kecelakaan maut Torro masih terbilang baru, masih hangat dalam ingatan semua orang. Tanah kuburannya masih merah dan basah, sangat wajar jika Ruslan membicarakn hal ini dengan penuh emosional. Bahkan keluarganya menganggap topik ini sebagai sesuatu yang sensitif untuk dibahas.
“Gak ada pemaksaan, Bang,” Rendy meyakinkan Ruslan. “Lo gak harus ikutin ide gue, itu kan cuman gagasan. Gue sangat paham kalau lo gak sanggup lihat Mas Torro bergentayangan sebagai roh.”
“Tapi jangan salah tangkap, Rend,” Ruslan berkata dengan suara bergetar. “Gue percaya sama cerita lo, gue percaya kalau roh Torro yang berkeliaran itu ada. Gue cuman gak sanggup lihat dia lagi.”
“Gue seratus persen paham.” Rendy mengangguk-anggukan kepala, kini merasa agak jengah. “Ini … yah, emang berat buat kita semua. Gue sangat memaklumi kalau lo gak bisa. Jangan ngerasa gak enak.”
“Makasih, Ren.” Lagi-lagi suara menyedot ingus. “Lo ternyata gak seburuk yang pernah Torro ceritain ke gue selama ini.”
Tubuh Rendy mematung. Apa maksudnya?
“Oke, gue tutup teleponnya,” lanjut Ruslan, tak menunggu tanggapannya dulu. “Lo SMS-in aja alamat kampusnya ke gue, besok pagi gue ke sana bawain power bank lo.”
Sambungan telepon pun berakhir, padahal Rendy masih membeku di tempat. Memikirkan ucapan Ruslan tadi, mengenai sikapnya yang ternyata tak seburuk yang Torro ceritakan. Memangnya Torro bercerita apa saja mengenai dirinya pada Ruslan selama ini?
Sudah terlambat untuk menanyai Ruslan lebih lanjut, dan rasanya tak begitu penting sampai harus menelepon pria itu kembali. Torro sedang berada di garasi, tapi mungkin sang arwah sedang ingin menyendiri. Baru besok pagi dirinya bisa mencecar hantu itu, menanyai apa tepatnya perkataan Ruslan.
Awas saja kalau ternyata Torro selama hidupnya sering menjelek-jelekkaan dirinya selama nongrong berdua bersama Ruslan.
Pegal karena sudah lama berdiam diri dalam posisi yang sama, Rendy meregangkan otot-otot tubuhnya dan menguap lebar beberapa kali. Ia letakkan kembali ponsel di meja, sudah dalam mode mati agar fokus pada pengisian baterai. Ia pun melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, menyadari pintu kamarnya terbuka lebar.
Alisnya bertaut. Aneh, Rendy merasa sudah menutup pintu itu saat memasuki kamarnya tadi. Ia memilih untuk tak berpikiran aneh-aneh, siapa tahu mungkin ia lupa. Selepas menutup pintu ia kembali ke ranjang, berniat mengakhiri hari yang panjang dan melelahkan ini.
***