Torro pernah mendengar sebuah ungkapan---yang tak pernah benar-benar dimengertinya sampai ia mati, yakni ungkapan ‘bagai memanggul beban seisi langit’.
Rasa-rasanya ia kini dapat memahami maksudnya, bahkan merasakan betul bagaimana beratnya, isi seluruh alam semesta bagai ditimpakan ke pundaknya.
Padahal bagaimana bisa? Selagi dalam garasi sendirian, ia bertanya-tanya: Torro kini tak lagi memiliki bentuk fisik, rangka organismenya telah membusuk di liang lahat, tapi kini toh tetap saja perasaan bersalah mampu menekan perwujudan astralnya begitu hebat, membuat ia merasa tersungkur dan tidak berdaya. Kematian seharusnya memberinya dunia di mana tak ada lagi rasa sakit, tapi di sinilah ia, berkubang dalam rasa sakit, yang mendera perasaan dan sisi emosional serta kejiwaanya begitu parah.
Siapa sangka bahwa sesosok hantu bisa turut merasakan frustasi sampai terkesan sinting?
Seandainya ada cara lain dalam menghukum dirinya atas dosa-dosanya di masa lampau, Torro pasti dengan senang hati melaluinya. Apa pun, agar konsekuensi dari kesalahannya bisa ia tanggung sendiri, bukannya malah membuat orang-orang yang dipedulikannya ikut-ikutan menderita. Terseret masalah yang seharusnya tak mereka geluti.
Cerita Ruslan siang tadi mengenai persolan Fadlan menjadi tajuk utama dalam benaknya malam ini, sorotan terpenting dari segala hal yang dilihat dan di dengarnya hari ini. Memikirkannya saja sudah membuat otak hantunya kalut dan pusing. Sebuah keputusannya semasa hidup yang dianggap sepele, ternyata tumbuh dan berbuah menjadi petaka bagi sahabatnya.
Torro masih ingat setiap detail kejadian di malam itu---tentu saja ingat, itu adalah malam di mana kehidupannya sebagai manusia berakhir---ketika kepalanya tengah diselimuti kabut alkohol, ketajaman pikirannya dipengaruhi reaksi memabukkan minuman Vodka yang diminum.
Meski setengah mabuk pun, Torro tak menganggap apa yang dilakukannya keliru malam itu; yakni menerima tantangan balapan ulang dari Fadlan, lalu membatalkan pertandingannya belum lama kemudian. Ia paham betul konsekuensinya: reputasinya di dunia balap liar ibu kota akan tercemar, ia akan diejek dan dianggap pecundang, lagi harus membayar uang ganti rugi atas taruhan yang gagal terjadi.
Kesemuanya itu siap Torro terima, termasuk membayar denda. Penghasilannya di bengkel pasti sudah cukup dalam menutupinya. Dengan begitu ia menganggap permasalahannya selesai detik itu juga. Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas batalnya tanding ulang, Torro telah melaksanakan kewajibannya. Namun, mengapa bisa masalahnya jadi runyam sampai harus membuat Ruslan diteror hidupnya?
Ia masih mengingat ucapan Ruslan tadi di mobil padanya:
“Pokoknya lo gak salah, kita lagi ketiban s**l aja. Kalau si cecunguk Fadlan itu waras, masalah ini bisa kelar dengan bayar uang ganti rugi.”
Itu memang benar. Masalah utamanya ada pada Fadlan yang tak bisa menerima penolakan, alasan kematiannya yang mendadak tak bisa memuaskannya. Mudah saja menyalahkan Fadlan atas persoalan ini, bukan salah Torro jika cowok itu ternyata begitu sinting dan gila. Torro juga tak mau meninggal mendadak seperti ini, terlibat kecelakaan parah yang sampai nyawanya tercerabut. Bukan mau dirinya juga perhatiannya teralihkan pada kabar yang diberikan Rendy adiknya malam itu---mengenai rencana perceraian orang tua. Semua terjadi di luar kekuasaanya
Salahkan saja Fadlan. Hanya saja, masalah tak selesai semudah itu.
Torro ingin melakukan hal yang nyata. Jika masih mampu, detik ini juga ia akan melabrak Fadlan dan gerombolan perusuhnya. Terlibat perkelahian berdarah-harah juga ia mau, memberi mereka semua pelajaran karena berani-beraninya bermain keroyokan meneror sahabatnya. Atau sekedar melakukan hal yang memang Fadlan minta, bertanding ulang mengadu kecepatan. Tuhan tahu ia siap melakukannya jia memang memungkinkan.
Atau lupakan tanding ulang, jika saja sebagai hantu ia bisa menampakkan diri dan melakukan hal macam-macam khas supranatural, Torro dengan senang hati akan menghantui Fadlan dan teman-temannya, membalas teror mereka pada Ruslan dengan teror horor. Betapa menyenangkan hidup jika bisa begitu.
Selama eksistensinya sebagai manusia maupun roh tak berfisik, ia tak pernah merasa tak berguna seperti sekarang. Keberadaannya sekarang tak bermanfaat apa-apa. Mungkin memang inilah hukuman untuknya, menyaksikan tanpa daya kehidupan orang-orang di sekitarnya mengalami kesulitan.
Padahal pada awal rencana kunjungan ke rumah Ruslan, Torro begitu bersemangat menunjukkan semua yang dimilikinya pada Rendy, sekali-kali membuktikan bahwa semasa hidupnya ia pernah mencapai sesuatu prestasi. Kini akhirnya Torro malah melakukan hal yang selalu ia lakukan; menunjukkan pada Rendy bagaimana ia bisa jadi biang masalah. Bukan sebuah kejutan untuk adiknya, bukan?
Ia sudah kehilangan muka di depan adik lelakinya, di depan Ruslan juga. Lupakan saja gagasan membuka mata batin Ruslan agar mereka bisa berbicara berdua, Torro sudah membuang jauh-jauh keinginan itu.
Belum cukup benaknya dirisaukan dengan masalah itu, ia juga sempat harus mendengar percekcokan antara Rendy dengan ayah mereka. Roy Rahmadi, sosok yang sama-sama Torro juga kecewakan semasa hidup. Dirinya tak bisa memandang pria tua itu tanpa merasakan emosi yang campur aduk. Marah tapi bersalah, kesal tapi berempati, geram karena ayahnya bisa bersikap sekeras itu pada adik lelakinya, tapi juga paham bahwa ayahnya semata-mata mengkhawatirkan nasib Rendy yang akan mengikuti jejaknya.
Yah, itu takkan terjadi, Torro yakin akan hal itu. Dalam banyak segi Rendy dan dirinya berbeda. Rendy lebih bijak dan bertanggung jawab, adiknya itu bisa bergaul dengan semua teman Torro tanpa terbawa pengaruh buruk, tanpa kehilangan arah hiduh. Seyakin itu Torro pada sosok saudara beda ibunya kini.
Ayahnya tak bisa melihat semua itu, dibutakan oleh otoritasnya sebagai orang tua. Biar bagaimana pun adiknya sedang di tahap remaja, mencari jati diri dan semacamanya, seharusnya ayahnya bisa bersikap lebih santai pada putranya, memberi keleluasaan Rendy dalam menikmati hidup masa muda.
Terlalu banyak, begitu banyak keresahan yang berkecamuk di benak Torro. Ia bahkan tak ingin menunggu semua anggota keluarganya tertidur dulu untuk menyendiri---seperti yang biasa dilakukannya malam-malam kemarin. Alih-alih itu, hal yang pertama dilaksanakannya setiba di rumah adalah memasuki garasi, merutuki nasib, dan menunggu keadilan datang. Atau setidaknya menanti sebuah lubang menuju neraka muncul di lantai agar ia bisa melompat ke dalamnya.
Tak ada yang terjadi. Tak ada lubang gaib muncul.
Samar-samar ia mendengar Rendy dan ibunya sedang mengobrol, tapi Torro tak berkeinginan mendengarkan. Masalah yang sama, cerita yang sama. Torro bisa menduga apa saja yang keduanya bicarakan.
Jadi, semalaman lagi Torro mendekam di ruang garasi yang dingin dan gelap, membisu layaknya hantu gentayangan di rumah angker. Kebosanan menghinggapinya, tapi tak muncul keinginan menjelajah ke luar. Dunia luar yang luas kini terasa asing. Waktu terasa berjalan amat lama, tapi pikirannya tak diberikan jeda sejenak untuk beristirahat. Akan sangat menyenangkan seandainya ia mampu tertidur.
Sewaktu sinar kuning masuk dari celah gerbang depan garasi, tahulah Torro bahwa hari telah berganti dan pagi menjelang. Suara aktivitas mulai terdengar dari luar garasi. Bisa dibayangkan seperti apa urutannya: ibunya yang pertama bangun, bersih-bersih dan beribadah subuh, menyiapkan sarapan dan membangunkan Anggi untuk bersiap sekolah. Rendy adiknya yang akan terakhir bangun, malas-malasan bersiap pergi ke kampus.
Torro tak keluar untuk menyaksikan semua itu. Ia tetap berdiam di tempat, jongkok di samping motor kesayangannya yang baru separuh diperbaiki. Ia tak tahu apa yang akan dilakukannya seharian nanti, pertama kali sejak menjadi roh, Torro tak sedang ingin melakukan apa pun.
Dirinya baru mendongak ketika pintu samping garasi didorong terbuka dan sosok Rendy yang sudah terjaga berjalan masuk. Sedetik merek bertemu tatap, sorot mata adiknya menampakkan keheranan yang nyata.
“Jangan bilang lo sejak kemarin diam di sini aja kayak begini,” kata Rendy mendekatinya.
Ia menganggat bahu, kembali melirik si kuda besi rusak. “Kenyataannya begitu.”
Rendy mendesah. Berdiri di sampingnya sambil berkacak pinggang. Penampilannya sudah rapi, kaus oblong dibalut kemeja lengan panjang dan celana bahan katun berwarna khaki semata kaki. “Gue perhatiin sejak pulang dari café kemarin lo kebanyakan diem. Baik-baik aja, kan?”
Pertanyaan bodoh, batin Torro. Ia jauh dari baik-baik saja. “Masih kepikiran masalah kemarin.”
“Yang mana? Omongan Papah atau cerita Bang Ruslan?”
“Semuanya.” Torro menimbang-nimbang. “Soal omongan papah lo gak perlu dengerin. Gue jamin Ruslan gak akan ngasih pengaruh buruk apa-apa kalau lo temenan sama dia.”
“Gue tahu.” Rendy menekuk kedua lututnya dan berjongkok di samping Torro. “Tapi soal benerin motor ini, lo beneran masih mau? Gak masalah soal siapa yang benerin, Bang Ruslan atau bengkel langganan Papah, tapi kan lo udah punya motor lain di rumah Bang Ruslan.”
“Itu beda,” sanggah Torro, diam-diam ia senang bahwa Rendy kelihatannya tak merasa risih lagi jika harus saling berdekatan seperti ini, mengaggap Torro masih manusia dan bukannya hantu. “Ini motor kesayangan gue, Ren. Lo tahu kan motor ini hadiah ulang tahun gue dari Papah?”
“Jadi itu penyebabnya?” Rendy malah tampak kaget. “Alasan sentimentil? Lo ngefavoritin motor ini karena ini hadiah dari bokap kita?” Ia mendengus. “Gue gak sangka lo bisa selembut ini.”
Torro memelototinya, apa adiknya sengaja mengejek dirinya? Cowok itu harusnya bersyukur bahwa Torro telah kehilangan kemampuan untuk menjitak kepala seseorang. “Bukan cuman itu, jangan ngaco. Gue suka motor ini karena banyak hal, gue menangin banyak lomba balapan pake motor ini, pergi ke mana-mana pake motor ini.” Meninggal pun bersama motor ini, Torro membatin getir. “Pokoknya gue tetep mau motor ini diperbaikin … dan harus sama si Ruslan. Dia yang paling tahu caranya.”
“Oke, oke.” Rendy mengangat tangan mengalah. “Gue bakalan tetap minta Ruslan yang ngurus ini. Tapi gue pengen tahu,” raut wajah Rendy tiba-tiba muram, “dulu sewaktu lo nongkrong bareng sama Bang Ruslan, lo cerita apa aja sama dia soal gue?”
Pikiran Torro kosong akibat pergantian topik yang mendadak ini. “Hah?”
“Lo udah cerita jelek-jelek soal apa aja tentang gue sama dia?”
“Sumpah, gue gak ngerti lo ngomong apaan.”
Adik lelakinya mendecak sebal. “Semalem gue ngobrol sama Bang Ruslan lewat telepon---”
“Bahas apaan?” sela Torro.
“Banyak hal,” Rendy berkilah menghindar, yang malah membuat Torro penasaran. “Intinya, di telepon semalam Bang Ruslan ngaku kalau gue ini ‘gak seburuk yang pernah Torro ceritain dulu’. Gue jadi pengen tahu lo pernah cerita apa soal gue ke dia?”
Pemahaman mulai meresap di benaknya. Oh. Torro terdiam.
“Hmm?” Rendy menaikkan sebelah alis, menantang Torro memberikan penjelasan.
Ternyata ini alasan utama Rendy mendatanginya ke garasi, menginterogasi dirinya. Torro jadi mati kutu sendiri, tak menyangka akan ditanyai hal ini. Memangnya Ruslan dan adiknya semalam membicarakan apa saja sampai Ruslan bisa berkata demikian? Torro jadi menyesal mendekam di sini semalaman padahal ia bisa mencuri-dengar obrolan mereka.
Kejadiannya sudah lama, tapi Torro ingat apa yang dimaksudkan Ruslan. Obrolan ‘menjelek-jelekkan Rendy’ terjadi di awal pertemanan mereka, ketika ia dan Ruslan semakin sering buka-bukaan membahas masalah kehidupan masing-masing.
“Waktu itu kita gak seakur sekarang, Ren,” Torro mengawali dengan membela diri, menunduk menatap lantai. “Udah lama, waktu gue lagi bandel-bandelnya, ribut sama Papah.”
“Ketahuan suka ikutan balapan liar, putus kuliah,” tambah Rendy.
“Ya.” Torro merasa jengah. “Gue saat itu sering cerita ke si Ruslan soal lo. Saudara yang sok lurus, belagu, suka cari perhatian dan sok alim.”
Rendy menggeram. “Lo nganggep gue begitu?”
“Dulu,” ralat Torro, tak berani membalas tatapan adiknya. Nyalinya jadi ciut merasakan kemarahan Rendy. “Lo kudu ngerti, waktu itu kita masih sering berantem. Gue benci banget sama lo.”
Selanjutnya, ucapan yang dikeluarkan Rendy nyaris menyerupai bisikan, “Karena kita saudara tiri? Saudara beda ibu?”
Kontan Torro menatap adiknya, suara Rendy begitu sinis sampai dirinya terkejut. Tatapan mata Rendy nanar, gestur tubuhnya menunjukkan bahwa ia tersinggung.
“Keadaan udah berubah,” Torro berkata cepat. Begitu tak mengenakannya suasana sekarang. Fakta bahwa mereka beda ibu jarang sekali dibahas terang-terangan seperti sekarang. “Jangan ngambek, Ren. Sikap gue emang berengsek banget dulu, lo tahu itu. Kalau gue masih benci sama lo sekarang, gak mungkin gue rela ngewarisin harta gue ke lo seorang.”
Sesaat hening selagi tatapan keduanya bertemu, lalu Rendy mendengus. Ia bangkit berdiri, merapikan lipatan kain di pakaiannya dan membuang muka. “Bagus. Gue mau berangkat kuliah sekarang.” Ia pun berbalik.
“Boleh gue ikut?” pinta Torro coba-coba, perasaan bersalah semakin membebani batinnya.
“Gak boleh,” tandas Rendy tajam---terlalu tajam. Petunjuk bahwa masih merasa tersinggung. “Kalau lo berani ikutin gue diem-diem, gue bakal … langsung datangin Donovan buat minta dia tutup mata batin gue lagi.”
Rendy lanjut berjalan ke luar garasi, tak menoleh sedikit pun untuk menunggu respon Torro. Sedikit banyak cowok itu tahu bahwa ancamannya berhasil membuat Torro tak berkutik.
Bagus, batin Torro masam. Satu lagi permasalah pelik yang harus ia renungkan: adik tiri yang enggan berbaikan dengannya.
***