63. Terpaku Tenggat Waktu

1470 Kata
Selepas pertengkaran kecilnya dengan Rendy, Torro membuang keinginan untuk menguntit pria itu ke kampus. Meski bisa saja berusaha agar tak ketahuan, tapi Torro tak mau mengambil resiko. Ia tak ingin kehilangan satu-satunya penghubung komunikasi antara dirinya dan Ruslan. Maka, hari ini ia memilih membuntuti Anggi. Gadis gecil itu tentu takkan keberatan. Rendy sudah pergi sewaktu Torro keluar dari garasi. Ibu tirinya di depan rumah memanaskan mesin mobil, sementara adik perempuannya di meja makan, menikmati sarapan dengan kunyahan lambat. Melihat kedatangannya, posisi duduk Anggi menegak. Kantuk masih membayang di matanya, padahal adiknya ini semalam tidur jauh lebih awal. “Pagi, Dek.” Torro berdiri di dekatnya. “Kamu sekolah hari ini?” Bukan hal yang perlu ditanyakan mengingat Anggi sudah mengenakan seragam sekolah, tapi Anggi tetap menjawab. “Iya.” Kemudian ia terdiam, bibirnya cemberut. “Mas Rendy udah pergi kuliah buru-buru barusan, Mas Torro gak habis berantem sama Mas Rendy, kan?” “Enggak.” Torro heran bagaimana Anggi bisa menyimpulkan begitu hanya berdasarkan mengamati sikap kakaknya. “Eh, mungkin adu mulut sedikit. Bukan masalah besar kok.” Ia teringat belum membahas jalan-jalan kemarin dengan Anggi. “Omong-omong, kemarin gimana jalan-jalan ke Dufan-nya sama Papah, seru?” Wajah Anggi lebih cerah sedikit. “Rame. Gak seseru kalau Mas Rendy dan Mas Torro ikut. Tapi Anggi senang, Papah ngebebasin Anggi naik semua wahana, tapi Papah lebih banyak diem, gak mau ikut temenin Anggi naik perosotan air.” Torro tersenyum. “Lho emangnya menurut kamu Papah masih pantes naik wahana begituan?” “Kenapa enggak?” Anggi balas bertanya. Betul-betul polos. “Papah kan udah tua,” ingat Torro menahan seringai. “Naik perosotan air---apalagi yang tinggi---bisa bikin Papah sakit punggung.” “Papah belum setua itu, ya!” balas Anggi, tapi kemudian terkikik dan tertawa. Semudah inilah jika berkomunikasi dengan Anggi. Bersamanya, Torro tak pernah kesulitan menunjukkan rasa sayangnya. Berbeda dengan hubungannya bersama Rendy yang naik-turun dan berbatu, hubungan persaudarannya dengan Anggi bisa dibilang baik. Sejak dulu Angi begitu lucu dan menggemaskan, sebagai kakak Torro menyayangi dan memuja kepolosannya. Tapi tentu saja, karena Anggi masih anak-anak tak banyak topik yang bisa dibicarakan. Namun, mungkin inilah yang dibutuhkannya saat ini. Obrolan sepele, bercanda dan menggodai adik perempuannya. Tak terlalu menguras pikiran, bukan begitu? “Dek,” ucap Torro setelah tawa Anggi berakhir. “Mas boleh ikut ke sekolahan kamu?” Anak SD itu terdiam sebentar. “Ada perlu sama Kak Devan lagi?” “Enggak.” Torro bahkan tak kepikiran untuk menemui Donovan. “Mas cuman butuh jalan-jalan, sumpek kalau di rumah terus.” “Oh.” Anggi mengangguk-angguk. “Boleh.” Ia kembali melanjutkan menikmati sarapannya. Torro masih diam di tempat. Berdiri atau duduk di kursi tak ada bedanya sekarang. Ia mengedarkan pandang pada ruang makan di sekelilingnya, Puspa pasti masih berada di luar. “Mas boleh tanya sesuatu?” Pertanyaan terlontar begitu saja dari mulutnya. “Tanya aja,” ucap Anggi dengan mulut penuh. “Kenapa Mas selama ini gak pernah lihat hantu atau makhlus halus lain?” Matanya masih mengecek keadaan di sekitar. “Padahal yang kayak Mas begini banyak, kan di sini?” Anggi mendongak. “Mas Torro gak pernah lihat sama sekali?” “Gak pernah sekali pun. Sejak awal kayaknya cuman Mas satu-satunya hantu di sini.” Kening Anggi mengerut. “Aneh.” Ia meraih segelas s**u dan meminum isinya setengahnya. “Mungkin nanti Mas Torro bisa tanyain ke Kak Devan, Anggi gak tahu.” Tak tahu. Harusnya bisa ditebak bahwa kemampuan Anggi sebagai seorang indigo masih sangat hijau. Perlu banyak berguru pada yang lebih ahli---yakni Donovan temannya. Kira-kira akan seperti apa Anggi ketika kemampuannya makin berkembang? Sepercaya diri apa gadis kecil ini ketika semakin bertumbuh dewasa? Sentakan rasa sakit terasa di benak Torro sewaktu ia sadar: dirinya takkan bisa menyaksikan hal itu berlangsung. Sisa waktunya di dunia ini tinggal sedikit, jika durasi empat puluh hari itu memang benar nyata. Torro akan meninggalkan dunia ini tanpa sempat menyaksikan Anggi tumbuh dewasa, tak bisa menyaksikan ketika ia memulai pendidikan perkuliahannya. Kemungkinan di masa depan terus melaju, lebih parah dan menyakitkan. Torro takkan berada di sini sewaktu Rendy adik lelakinya lulus kuliah, tunangan, menikah dan punya anak. Akan secantik apa sosok adik iparnya nanti? Berapa anak mereka nanti? Laki-laki atau perempuan? Keponakan-keponakan Torro di masa mendatang akan dinamai siapa? Hati Torro berdesir ngilu, tergugah oleh harapan masa depan yang tampak mustahil dijangkau perwujudan astralnya. Tiba-tiba saja Torro merasa waktu empat puluh hari itu terasa sangat singkat, ia ingin berada di tengah-tengah keluarganya lebih lama lagi. “Mas Torro kenapa?” tanya Anggi membuyarkan lamunan Torro. “Mas kelihatan sedih.” “Ah, bukan apa-apa, Dek.” Torro membuang muka. “Lebih baik kamu cepetan habisin sarapannya, jangan sampai terlambat ke sekolah. Mas tunggu di mobil ya.” Torro buru-buru menghambur ke luar jangkauan pengelihatan Anggi, tak ingin membiarkan gadis kecil itu menyaksikan perasaan merananya. Seharusnya ia bisa menabahkan diri, Torro berada dalam kondisi seperti ini murni salahnya sendiri. Tak ada gunanya mengharapkan yang tak bisa didapatkannya, mulai sekarang ia harus menghargai setiap detik waktu yang dimilikinya. Di teras depan, Torro menemukan jawaban mengapa ibu tirinya membutuhkan waktu yang lama sekali untuk memanaskan mobil: rupanya sedang mengobrol dengan seseorang lewat ponsel. Puspa berdiri di samping badan mobil---membelakanginya. Dengkuran mesin mobil yang halus tak mampu meredam suara Puspa saat Torro berjalan semakin dekat. “Iya, Ren, nanti aku ke sana,” kata Puspa dengan suara menenangkan. Ren? Rendy? Torro kebingungan, ada masalah apa sampai Rendy menelepon ibunya? Dan mengapa ibunya harus pergi ke kampus---tempat Rendy sekarang sedang menuju? “Tapi Mischa sekolah, kan?” lanjut Puspa bertanya. “Aku gak keberatan ngantar anak kamu ke sekolah kalau kamu mau.” Mischa? Anak? Lima belas detik kemudian Torro baru mengerti. Renata, bukan Rendy. Pastilah yang sedang ditelepon ibunya adalah Renata sang teman. Torro langsung lega, sempat mengira bahwa Rendy sedang menghadapi masalah. Namun nada suara ibunya yang serius mengembalikan kewaspadaannya. “Oh udah diantar pake ojek online?” Puspa berucap lega. “Syukurlah. Oke, aku antar Anggi dulu ke sekolah, baru setelah itu aku ke sana. Kabari aku terus kalau ada apa-apa, jangan lupa tutup semua pintu dan kunci. Aku secepatnya ke sana. Kamu harus tenang.” Yang bisa didengar Torro hanya obrolan satu arah, ia tak bisa mendengar ucapan balasan Renata di sambungan telepon untuk mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi sedikitnya ia bisa menangkap bahwa kondisinya genting. Renata membutuhkan sesuatu, dan Puspa sebagai temannya bersedia membantu. Puspa kedengarannya berkali-kali berusaha menenangkan Renata sebelum mengakhiri panggilan, lalu masuk ke rumah untuk mengajak Anggi berangkat. Torro terlebih dulu memasuki mobil di kursi belakang. Nyaris tiga puluh menit perjalanan ke sekolah, dan Puspa tak bicara sepatah kata pun. Torro memperhatikan bahwa kerutan samar pertanda khawatir muncul di sekitar matanya, berkali-kali juga melirik ponselnya yang tergeletak diam di dashboard mobil, mungkin mengantisipasi adanya panggilan telepon dari Renata. Entah situasi darurat macam apa yang sedang berlangsung hingga membuat sikap ibu tirinya was-was sampai terkesan tak fokus menyetir. Rasa penasaran Torro semakin terpancing. Ini memang bukan urusannya, tapi rasa ingin tahunya tergelitik. Rencana jalan-jalan di sekolahan serta bertemu dan berbincang dengan Donovan terasa tak lagi relevan, karena memang sejak awal tak ada urgensinya melakukan itu. Dirinya jadi lebih ingin mengamati kegiatan ibunya seharian. Tak ada salahnya sekali-kali ini Torro mengenali lebih dalam sosok wanita yang telah puluhan tahun menjadi ibu sambung baginya ini. Saat hampir tiba di depan gedung sekolah Anggi, Torro akhrinya memutuskan. “Dek,” katanya hanya pada Anggi. Adik perempuannya yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang. “Mas berubah pikiran, Mas mau ikutin Mamah aja seharian ini. Mas nitip pertanyaan tadi ke Donovan, ya?” Samar sekali Anggi mengangguk lalu kembali memandang ke depan. Ia tak bertanya lebih jauh alasan Torro berubah pikiran, mungkin sudah memaklumi bagaimana angin-anginannya kemauan sesosok roh gentayangan, atau tutup mulut hanya karena keberadaannya ibunya di antara mereka. Torro tetap di mobil sewaktu mobil berhenti, dan Anggi turun dari mobil untuk memulai kegiatan persekolahannya. Torro hanya melambaikan tangan sampai Anggi menghilang di antara kerumunan anak-anak, kemudian ibunya melajukan mobil ke arah yang hanya perempuan itu yang tahu. Yang mengejutkan, mobilnya melaju di atas kecepatan normal, seakan-akan Puspa sudah tak sabar untuk sampai di tempat tujuan berikutnya. Semoga dirinya tak salah memilih objek pengamatan, Torro berpikir akan betapa konyol dan menjengkelkan jika ternyata urgensi dari situasi tegang mereka hanya perkara sepele khas ibu-ibu. Semacam perkara salah pilih kosmetik sehingga menyebabkan alergi di kulit, atau masalah arisan yang takkan pernah bisa Torro pahami. Namun, firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang menarik. Sebelumnya sosok Renata juga sudah ada dalam benak Torro, memancing perhatiannya dengan berbagai aksi yang dilakukan wanita itu. Seperti memberitahu Rendy mengenai kasus KDRT orang tua mereka, dan pihak yang mendukung penuh proses perceraian ayah dan ibunya. Mungkin, dengan bertemu wanita itu langsung dan mendengar pendapatnya, akan membuat Torro ikut setuju bahwa perceraian adalah jalan terbaik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN