25. Dua Dunia

1358 Kata
Rendy menyambut uluran tangan Donovan sambil memperlihatkan senyum ramah yang formal, menyembunyikan keheranan benaknya akan jalinan persahabatan yang dimiliki adiknya. Rendy berpikir: dirinya telah lulus SD belasan tahun lalu, tak tahu bagaimana cara kerja pergaulanan anak sekolahan jaman sekarang, tapi ia yakin bahwa pada umumnya seorang siswi sekolah dasar tak berteman dan belajar bersama dengan seorang siswa sekolah menengah atas, bahkan sampai sekarang hal itu pasti dianggap tak biasa. Jabatan tangan dengan siswa SMA itu terasa kuat dan basah oleh keringat. “Ya salam kenal juga,” Rendy berkata, dan terlepaslah jabatan tangan itu. “Saya Rendy kakaknya Anggi.” Lalu ia mau tak mau menyipitkaan matanya pada Donovan dan Anggi bergantian, lalu pada buku-buku yang terhampar di meja. “Jadi … kalian sedang belajar bersama?” “Oh ya,” timpal Donovan cepat, terlalu cepat. “Maksudnya---bukan begitu persisnya, yah Kak Rendy bisa lihat kalau saya udah SMA sementara Anggi masih SD. Maksudnya … kita pasti gak satu kelas, apalagi belajar materi yang sama. Eh---maksudnya saya lagi membantu Anggi memahami sejumlah pelajaran yang kurang dia pahami juga, sebagai teman---dan juga disuruh guru.” Tangan Donovan bergerak ke sana kemari selagi mengamburkan kata-kata tersebut dari mulutnya. Suaranya terdengar gugup dan tergesa-gesa. Matanya yang cekung dan bermanik hitam melirik ke sembarang arah menghindari tatapan Rendy. Dari pengamatan singkat itulah Rendy tahu, Donovan sedang bebohong, atau setidaknya menutupi sesuatu. Kepala Rendy melirik ke belakang tempat ibunya berdiri hanya beberapa langkah darinya. Mata Rendy melemparkan sebuah pertanyaan tanpa suara: Mama percaya sama penjelasan dia? Raut wajah Puspa memancarkan keheranan yang sama, lalu mengedikkan bahu. Ia menoleh lagi pada Donovan dengan senyum kikuk. “Yah, kalau begitu silakan lanjutin belajarnya.” Kemudian diliriknya Anggi. “Dek, yang semangat belajarnya!” Gadis kecil itu terkekeh singkat, senyum di bibirnya terkesan takut. “Iya, Mas Rendy.” Rendy pun segera berjalan ke arah tangga hendak menuju kamarnya. Hanya beberapa meter di belakangnya, Puspa mengikuti. “Mamah tau kan kalau ini aneh?” Rendy langsung berbalik dan bertanya setelah tangannya berada di kenop pintu kamar. Puspa tersenyum lemah, seakan terlalu malas hanya untuk menertawakan sikap tak sabar anaknya. “Soal Donovan maksudnya? Iya, Mamah tahu, awalnya juga Mamah gak ngerti gimana bisa adikmu berteman sama laki-laki yang usianya jauh lebih dewasa, tapi setelah Mamah perhatiin Donoan anaknya baik kok, dia sopan gak bersikap aneh-aneh.” Penjelasan itu tak lantas membuat rasa heran Rendy lenyap. “Iya … tapi gimana bisa mereka temenan, atau malah saling kenal?” “Sekola mereka deket, masih di lingkungan yang sama,” Puspa menjelaskan, lalu melanjutkan karena melihat Rendy masih tak paham, “Sekolahnya merangkap tiga jenjang, Ren. SD sampai SMA. Secara teknis gedung sekolahan mereka tetanggaan.” “Oh,” racau Rendy pura-pura mengerti. Ia putuskan bahwa tak ada gunanya mempertanyakan hal ini. Jika ibunya mempercayai sosok Donovan, maka sudah tak ada lagi yang perlu dicemaskan. Rendy memasuki kamarnya, melepaskan jaket, menggantungkannya di kaitan di dinding dan meletakan tas di atas meja. Semua itu dilakukan selagi ibunya memerhatikan di ambang pintu. Ketika Rendy mulai duduk santai di tepi ranjang, Puspa akhirnya buka suara, “Omong-omong, Ren, mumpung kamu lagi pulang cepet dari kuliah, Mamah mau minta kamu jaga rumah sebentar bisa, ya? Kamu enggak ada rencana pergi ke mana-mana lagi, kan?” “Enggak kok, Mah.” Rendy menggeleng, merasa seharusnya ibunya tahu jawabannya. Ia jarang sekali pergi keluar setelah pulang dari kampus, hanya sesekali pergi untuk menge-print tugas-tugas kuliahnya. “Emangnya Mamah mau ke mana?” Puspa menunduk menatap kakinya. “Mamah ada urusan sebentar.” Nadanya mengisyaratkan bahwa Rendy tak perlu tahu apa urusannya tersebut. “Selagi Mamah pergi, Mamah mau kamu diem dulu di bawah. Awasin adikmu sama temennya itu.” “Katanya Mamah percaya sama Donovan itu? Kok harus diawasin segala?” Ibunya menatap sambil memutar bola mata. “Ya bukan berarti Mamah bakalan mau tinggalin mereka berdua tanpa penjagaan. Cuma sebentar kok, Ren. Mamah gak akan lama. Paling sejam atau dua jam lagi nanti Mamah pulang.” Dengan begitu pun Rendy menyatakan kesanggupannya. Selagi ibunya sedang bersiap-siap, Rendy menikmati waktu santai menyendirinya merebahkan diri di atas ranjang. Dia tatap langit-langit kamar sembari membayangkan berbagai bentuk abstrak. Pikirannya sedang bekerja lembur, memikirkan segala macam masalah yang ada. Dirinya lagi-lagi teringat akan kabar mengejutkan yang ia terima dari Tante Renata kemarin. Kemungkinan ada tindak k*******n yang dilakukan ayahnya pada ibunya. Dalam kemungkinan terkecil pun Rendy sulit memercayainya, tapi pikirannya yang logis mendatangkan kecurigaan bahwa bisa saja itu benar. Untuk apa Tante Renata berbohong? Dia teman dekat ibunya, bisa saja ibunya memang lebih terbuka untuk menceritakan segala permasalahan rumah tangga pada wanita itu. Andaikan kebenaran itu sungguh nyata, Rendy tak yakin harus bersikap bagaimana pada pria yang selama ini ia hormati dan kagumi …. Pintu kamarnya diketuk. “Ren? Mamah mau pergi sekarang ya.” Ketika ibunya telah berpamitan untuk pergi, Rendy turun ke bawah dan menyalakan TV di ruang tamu. Ia menyetel volumenya cukup pelan agar tak menganggu konsentrasi belajar dua orang di ruangan sebelah. Acara sore di televisi kebanyakan menayangkan berita, gosip selebriti, dan drama luar negeri. Rendy jelas memilih berita. Tak bisa disangkal, telinga Rendy juga bekerja siaga menangkap suara apa pun dari kegiatan belajar Anggi dan Donovan. Tak banyak yang didengarnya, terkadang hanya ketukan jari bosan di meja, suara buku tertutup dan berganti halaman lalu obrolan yang dilakukan dengan berbisik-bisik. Kemudian hening. Beberapa detik setelahnya sosok Donovan muncul menghampiri, berhenti hanya beberapa langkah di depan Rendy. Keningnya berkerut-kerut, berdiri dengan canggung. “Hai, Kak Rendy.” Rendy menatap pemuda itu kebingungan. “Ya, hai. Belajarnya udah selesai?” “Kurang lebih,” jawab Donovan ragu, lalu menunjuk sofa kosong di dekatnya. “Boleh saya duduk dan … yah, ikut nonton?” “Ya.” Rendy mengawasi Donovan yang mengambil posisi duduk dengan gerakan kikuk di sofa di dekatnya. Ia kelihatan begitu jengah, seakan menemaninya menonton TV adalah sebuah keterpaksaan, padahal Rendy tak mengajak dia untuk menemaninya sama sekali. “Jadi … belajarnya udah selesai, mau langsung pulang?” Seketika saja Rendy menyesali ucapannya karena terkesan sedang mengusir, padahal itu bukan niatnya. Dirinya hanya tak tahu bagaimana cara mengakrabkan diri dengan anak SMA yang tak dikenalnya ini, dan tak yakin apa maksud Donovan mendatanginya. Barangkali dia ingin meminta Rendy mengantarkannya pulang dan terlalu malu mengutarakan maksudnya langsung? Celaka kalau benar iya. Rendy tak punya kendaraan pribadi. Paling banter ia hanya bisa menawari meminjamkan ponsel untuk memesan ojek online. Tak ingin Donovan salah tangkap atas ucapannya, Rendy buru-buru berkata, “Gak perlu buru-buru pulang kok, kamu bisa santai-santai dulu di sini.” Donovan tersenyum kikuk dan membenarkan posisi kacamatanya. “Iya belum mau pulang kok, Kak.” Pemuda itu tak berkata apa-apa lagi. Tatapannya tertuju pada layar televisi yang sedang menayangkan iklan sampo. Tapi Rendy bisa tahu dari sikapnya bahwa Donovan sedang menahan sesuatu, menunggu momen yang tepat untuk mengatakan sesuatu. Pemuda itu seringkali mengigit bibir atau melirik cepat ke ara dirinya Rendy punya firasat bahwa kedatangan Donovan ke rumahnya hari ini bukan hanya untuk membantu Anggi belajar. Lagian Rendy pernah jadi anak SMA. Siswa SMA mana yang mau secara sukarela membantu belajar seorang siswi SD, menyia-nyiakan waktu luangnya di luar sekolah hanya untuk itu? Rendy coba berpura-pura santai, tapi menonton TV sambil diam-diam diamati oleh seseorang terasa menjengahkan juga. Tak tahan lagi, Rendy berkata, “Oke, langsung aja. Ada yang mau kamu omongin?” Donovan sampai tersentak kaget akibat pertanyaan tiba-tiba itu. “Eh, apa, Kak?” Dengan sabar Rendy menjelaskan, “Saya punya feeling kamu ada di sini bukan cuma buat bantu Anggi belajar. Ada tujuan khusus, kan?” “Terlalu kentara, ya?” Donovan meringis. “Sudah jelas,” Rendy membenarkan, penasaran juga apa tujuan khusus anak ini datang kemari. “Jadi ada apa?” Sebelum Donovan sempat menjawab, sosok Anggi berlari dari ruang sebelah dan tergesa-gesa menghampiri. “Mas Rendy jangan marah!” katanya tegas, tapi malah terkesan merajuk alih-alih marah. “Anggi sendiri yang minta Kak Devan datang ke sini!” Makin bingunglah Rendy. “Mas gak paham, kamu minta temenmu ini datang ke sini buat apa selain bantu belajar?” Donovan segera menengahi. “Kak Rendy, sebenernya bukan Anggi aja yang minta saya datang kemari.” Kemudian dia menunjuk ke arah TV, malahan matanya kini berkilat-kilat kesal. “Dia juga minta saya buat jelasin ini ke Kak Rendy langsung.” “Dia? Dia siapa?” Rendy mencoba menatap ke arah yang sedang ditunjuk Donovan, tapi tak ada siapa pun di sana, kecuali seorang wanita pembawa berita di dalam layar TV. “Mas Torro,” jawab Anggi, tangannya menunjuk ke arah yang sama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN