24. Tanda Alam

1687 Kata
Sambil melirik keramaian lalu lintas jalan raya, Rendy berpikir mungkin memang ada baiknya ia mulai belajar mengendarai motor … atau mobil. Sudah lima belas menit berlalu dirinya berdiam diri di tepi jalan, menatap layar ponsel dalam genggaman seiring timbulnya rasa kesal. Ojek online yang sudah dipesannya beberapa waktu lalu belum juga datang, dan menurut GPS pengemudi yang ditunggunya belum bergerak dari posisi awal---entah aplikasinya sedang eror atau memang pengemudi ojeknya yang tak kunjung berangkat. Rendy juga beberapa kali mencoba mengirimi pesan atau menelepon langsung---meminta kepastian, tapi tak ada satu pun yang mendapat respon. Sudah muncul niatan untuk membatalkan pesanan itu---tapi Rendy masih ragu-ragu. Ini adalah pengemudi yang ketiga kalinya tak memberi respon baik sejak awal Rendy mencari jasa untuk mengantarnya pulang dari kampus ke rumah. Seandainya ia punya kendaraan pribadi, pasti sudah sejak tadi dirinya sampai di rumah. Di balik punggungnya, kawasan universitas tempat Rendy kuliah masih diramaikan oleh para mahasiswa yang hilir mudik keluar masuk gedung, sesekali ia bertemu sapa dengan dosen-dosennya, atau emang-emang dan ibu-ibu penjaja makanan yang mangkal di sepanjang trotoar. Membuat para pejalan kaki merasa tak nyaman kalau Rendy boleh jujur, tapi ia sudah sering sekali membeli camilan pada mereka sehingga enggan mengatakannya langsung.  “Ren! Lo masih belum pulang juga?” Rendy menoleh ke arah sumber suara. Seorang lelaki menyapanya, berjaket kulit, helm full face hitam dan menaiki motor yang baru saja keluar dari area parkiran kampus. Meski serba tertutup, Rendy langsung mengenali orang itu dari suara khasnya. “Iya nih, Fen. Lagi nunggu ojek jemputan. Dari tadi gak nyampe-nyampe gila.” Effendi---teman kuliah Rendy itu tergelak. “Lagian sih lo dibilangin bebal banget. Banyak yang udah nyaranin pakai kendaraan sendiri juga, masih aja pake alasan males ngurus parkiran segala macem.” Senyum di mulut Rendy mengerucut sedikit, tapi ia tak membantah. Rendy mengira akan sangat memalukan jika teman-teman kuliahnya sampai tahu alasan sesungguhnya Rendy enggan membawa kendaraan pribadi. “Ya udah dari pada kelamaan nunggu ojek kagak tentu juga datangnya, mending lo barengan sama gue. Gue anter,” tawar Effendi santai, tanpa nada memaksa. Tawaran itu pasti langsung Rendy terima jika ia tak teringat dengan arah pulang temannya ini. “Gak usah deh, Fen. Thank you. Gue masih bisa nunggu, lagian arah rumah kita beda jauh.” Effendi melambaikan tangannya dengan lagak enteng. “Halah gak usah dipikirin. Naik aja ayok. Gue juga belum mau pulang kok, masih mau ke suatu tempat, kebetulan arahnya ngelewatin daerah rumah lo.” Kemudian pria itu menyorongkan sebuah helm hitam bergaris merah pada Rendy. Entah Effendi hanya mengada-ngada atau memang ia hendak menuju suatu tempat yang searah dengan rumahnya, Rendy tak tahu. Rendy tatap lagi layar ponselnya yang menampilkan aplikasi layanan jasa transportasi online. “Cancel aja driver-nya,” saran Effendi seolah mengetahui keraguan Rendy. “Kasih bintang satu, udah cukup hubungan lo digantung sama si Mitha, jangan biarin seorang driver ojol ngelakuin hal yang sama.” Mau tak mau Rendy pun tertawa. Hubungan percintaan tak jelasnya dengan seorang mahasiswi di fakultas lain adalah hal terakhir yang akan Rendy renungkan hari ini. Keinginan untuk segera sampai di rumah membuatnya memutuskan menerima tawaran Effendi. Ia ambil helm itu dan memasangkan di kepalanya. Meski baru jam empat sore, angin sudah berembus lebih dingin dari normal. Di bagian langit barat, matahari perlahan terbenam, awan putih di sepetak langit biru jernih menggelayut rendah dengan semburan sinar oranye lembut. Sementara di arah sebaliknya awan mendung sudah bergelung sedemikian hebat, pasti di sana sudah turun hujan lebat. Di atas kepala Rendy sendiri awan kelabu telah membayang, mengancam akan turunnya gerimis yang bisa dimulai kapan saja. Sepanjang perjalanan dalam boncengan teman kuliahnya Rendy tak banyak melontarkan topik obrolan. Ia hanya menjawab ketika Effendi sesekali menyampaikan pertanyaan yang kebanyakan seputar tugas perkuliahan, gosip kelakuan teranyar para dosen, atau kegiatan di luar kampus. Saat hampir sampai di kawasan perumahan Rendy tinggal, Effendi mengakui bahwa ia sebenarnya hendak menuju tempat penyewaan arena futsal, di mana teman-temannya sudah menunggu untuk bermain. Effendi mengajaknya ikut serta, tapi Rendy menolaknya langsung. “Gue gak ikut dulu, Bro,” ucap Rendy sesimpatik mungkin, menyelipkan nada menyesal yang palsu. “Lagi banyak kerjaan di rumah. Lain kali aja.” Tanpa bertanya lebih lanjut Effendi pun memaklumi alasan tersebut. Rendy sebenarnya tipe orang yang lebih menyenangi kegiatan di dalam rumah, tapi ia tak keberatan jika sekali-kali diajak nongkrong bersama teman-temannya di luar seperti bermain futsal. Dirinya tak mengalami kesulitan untuk bergaul dengan orang banyak. Hanya saja hari ini pikiran dan mentalnya terlalu lelah untuk melakukan itu. Kejadian di rumah seharian kemarin betul-betul menguras perhatian Rendy sampai sekarang. Sudah dua malam terakhir ini Rendy memimpikan hal yang sama. Sosok mendiang kakaknya hadir di alam bawah sadar kala ia tertidur. Dalam kondisi berdarah-darah, mulut Torro berkomat-kamit tanpa mengeluarkan sedikit pun suara. Dirinya sempat mencoba berpikir positif, mungkin mimpi itu berasal dari rasa rindunya pada sosok Torro yang Rendy tak sudi akui terang-terangan. Namun rasanya mustahil jika hanya itu alasannya. Jika hanya terjadi sekali, Rendy mungkin masih bisa mengabaikan dan melupakannya dalam hitungan jam. Tapi mimpi yang sama terjadi dua kali berturut-turut, dirinya jadi bertanya-tanya apa itu memang pertanda dari sesuatu yang tak ingin ia tebak sendiri. Bulu-bulu halus di pundaknya selalu berdiri setiap kali menduga-duga hal tersebut. Sikap orang-orang di rumah pun tak membantu menghilangkan kegelisahannya sama sekali. Malah memperparah keadaan, contohnya dengan perkataan Anggi kemarin sore mengenai arwah Torro yang masih berkeliaran di sepenjurur rumah. Apa maksudnya mengatakan hal tak masuk akal semacam itu? Di dalam hati Rendy merasa menyesal atas adu mulutnya dengan Anggi kemarin sore---jarang sekali ia memakai nada setinggi itu pada adiknya, tapi dirinya pun masih kesal karena gadis kecil itu telah dengan sengaja menakut-nakutinya. Sikap paranoid Rendy semakin menjadi-jadi dibuatnya. Jika di dalam kamar, Rendy harus menoleh ke sana kemari untuk memastikan dirinya hanya sendirian. Sebenarnya Rendy sempat berandai-andai jika ucapan Anggi kemarin itu benar … apa Anggi memiliki bakat lebih? Rendy sudah sering menonton tayangan berbau horor untuk tahu bahwa di dunia ini memang ada manusia dengan kemampuan semacam itu. Melihat hantu dan sejenisnya. Tak butuh lama bagi Rendy untuk membuang jauh-jauh pemikirannya. Anggi adalah anak normal, Rendy tak perlu mempertanyakan kebenarannya lagi. Namun benaknya teringat lagi momen-momen tak masuk akal yang pernah disaksikannya mengenai Anggi, seperti berbicara seorang diri. Kebimbangan akan kepastian itu sulit Rendy temukan solusinya, apalagi perkataan ibunya semalam malah membuat Rendy merasa lebih cemas. Dugaan mengenai kejujuran ucapan Anggi hanya segelintir dari hal yang dipikirkan Rendy. Masalah utama yang ia khawatirkan jelas merupakan proses perceraian kedua orangtuanya. Ditambah info mengejutkan yang baru Rendy ketahui ketika kemarin berkunjung ke rumah Tante Renata. Jika kasus k*******n dalam rumah tangga ayah dan ibunya benar-benar pernah terjadi …. Tepukan cukup keras di pinggan kirinya menyentakan Rendy dari lamunan. “Woy! Ren!” seru Effendi di depannya, terdengar heran bercampur tak sabar. “Lo lagi ngelamunin apa sih? Kita udah nyampe nih.” Rendy jadi terkejut sendiri menyadari ia telah berada di depan rumahnya sendiri. Terlalu terhanyut dalam pikiran sampai tak menyadari bahwa motor temannya telah berhenti, hanya beberapa meter dari halaman depan. “Eh, sorry. Gue lagi fokus mikirin tugas.” Bukan alasan yang bagus, Rendy tahu Effendi menyangsikannya, tapi ia langsung turun dari motor dan melepas helmnya. “Cuman mikirin tugas doang sampai segitunya amat,” komentar Effendi sambil lalu. Bibir Rendy membentuk cengiran lebar sambil menyerahkan pelindung kepala itu. “Thanks ya, Bro udah mau nganterin. Lo mau nyimpang masuk dulu gak? Minum atau apa gitu ….” Effendi pasti sadar bahwa tawaran itu hanya demi kesopanan bukan sungguh-sungguh. “Lain kali aja, Ren. Yang lain udah nungguin gue di tempat futsal. Lo jangan ngelamun terus, kesambet setan baru nyaho lu.” Rendy hanya mampu menimpali dengan kekehan setengah hati dan membiarkan Effendi berlalu pergi bersama kuda besi tunggangannya. Selagi berjalan pelan menuju pintu depan otak Rendy telah merencanakan untuk meminta maaf pada Anggi. Entah ucapan Anggi kemarin nyata atau hanya mengada-ngada, Rendy tetap merasa tak baik jika membiarkan situasi menjadi canggung antara ia dan adiknya. Mungkin juga Rendy bisa membuat Anggi berhenti mengatakan hal-hal semacam kemarin lagi. Di pekarangan depan tak ada mobil yang terparkir. Kenyataan ini membuat Rendy berasumsi bahwa ayahnya belum pulang. Ia masih bimbang apa harus bersedih atau lega akan keadaan bahwa orang tuanya tak lagi tinggal satu atap … mungkin utnuk selamanya. Pintu terkunci dari dalam saat Rendy berusaha membukanya, dan ketika ia memencet bel sosok ibunya yang menanggapi. Puspa tetap memancarkan kelelahan dan rasa sendu yang sepertinya telah terpahat permanen di sana, Rendy berpikir tak ada gunanya ia bertanya kenapa. “Rendy,” sapa Puspa, senyum kecil merekah di wajahnya. “Kamu pulang lebih siang ternyata?” “Iya, Mah.” Rendy berjalan masuk, tanpa menyuarakan keheranan mengapa pintu dikunci tertutup jika ada orang di rumah. “Kalau Anggi udah pulang sekolah?” Puspa menutup lagi pintu dan menguncinya. “Iya, dia lagi di ruang tengah tuh, belajar sama temannya di sekolah.” Teman di sekolah? Rendy langsung menduga bahwa itu adalah Mischa. Namun saat mengeceknya, ia mendapati dugaannya salah. Sebab Rendy ingat bahwa Mischa bukanlah seorang anak remaja lelaki yang duduk di bangku SMA. Meja pendek beralaskan kaca diubah menjadi tempat belajar dadakan. Berbagai buku paket pelajaran dan buku tulis terbuka di atasnya. Anggi dan temannya menyadari kedatangannya bahkan sebelum Rendy sampai di meja. “Mas Rendy!” Anggi tersenyum seolah tak pernah ada ketegangan yang terjadi di antara mereka. “Mas baru pulang kuliah ya?” Rendy mengiyakannya---tersenyum ramah ketika bertemu tatap dengan siswa SMA tersebut, dan melihat situasinya, niatan untuk meminta maaf pada adiknya harus dilakukan lain kali. “Kamu lagi belajar ya, Dek? Sama temanmu?” “Iya, Mas.” Anggi melirik teman belajarnya itu, dan Rendy belum mengerti kenapa adiknya yang masih SD bisa berteman dengan seorang siswa SMA. “Ini temannya Anggi di sekolah, Mas. Kak Devan, ini Kakaknya Anggi, Mas Rendy.” Pria pernama Devan itu bangkit berdiri---senyum di wajah tirusnya agak kaku, dengan sikap sangat formal ia bergerak mendekati Rendy menawari berjabat tengan. “Salam kenal, Kak Rendy,” katanya dengan nada resmi seolah sedang bersalaman dengan presiden saja. “Saya temannya Anggi di sekolah. Nama saya Alfaden Donovan, tapi Kak Rendy bisa panggil saya Donovan aja." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN