Tempat lebih tertutup yang Donovan maksud ternyata ruang kelas tak terpakai.
Berada di gedung SMA paling utara---berlantai satu, Donovan menuntun Torro menuju ruangan paling ujung di dekat kamar mandi. Catnya yang semula berwarna biru laut mengelupas, menciptakan sebentuk warna kelabu tak terurus. Ditambah bermacam tulisan pulpen yang tertoreh di berbagai area dinding, coretan hasil siswa nakal dan tak punya pekerjaan.
Jendela berkaca tebalnya lebar tampak kusam---tak bertirai. Jadi orang-orang yang sekadar lewat menuju kamar mandi bisa saja mengintip ke dalam. Dan tak ada penerangan. Lampu neon di langit-langit dalam keadaan tak menyala, tapi keadaan di dalam masih cukup terang dengan bantuan sinar matahari.
Di pojong ruangan terdapat bangku dan meja kayu model sekolahan ditumpuk-tumpuk ke atas. Ada selusin papan tulis lama disenderkan ke dinding, beberapa di antaranya tergeletak begitu saja di lantai marmer kotor berlapis debu---kentara sekali jarang disapu dan dibereskan. Dan di bagian pojok lain terdapat berbagai macam benda lagi. Wadah plastik besar, piagam kotor, piala rusak dan patah, lembaran kertas ujian lama, potongan kecil kapur serta bermacam-macam benda lagi yang Torro malas untuk mengabsennya satu per satu.
Selagi Torro mengamati keadaan ruangan, Donovan lekas menutup pintu lalu mengambil satu bangku dari tumpukkan terdekat dan mendudukinya. Sikapnya santai sekali untuk seseorang yang hendak berbincang-bincang dengan arwah manusia yang baru meninggal.
“Saya rasa ini tempat yang paling pas,” kata Donovan setelah menemukan posisi paling nyaman untuk mendengar cerita panjang. Tas punggungnya ia letakkan di atas tumpukan meja. “Jarang orang yang datang ke sini, kamar mandi di sebelah juga gak sering dipakai. Jadi …?”
Torro memilih tetap berdiri tak jauh dari murid lelaki itu, agak merapat ke dinding. Duduk atau berdiri pun sama saja bagi Torro, ia tak lagi memiliki sendi-sendi tubuh yang pegal jika tak bergerak dalam waktu lama.
“Gue rasa ada baiknya dimulai dari kelakuan gue semasa masih hidup,” kata Torro menimbang-nimbang, ia putuskan untuk berusaha meraih kepercayaan Donovan dengan cara mengatakan kejujuran.
Tak mudah bercerita mengenai lika-liku hidupnya pada seseorang yang baru dikenal beberapa menit lalu. Namun, itulah yang kini Torro coba lakukan. Mulutnya menceritakan banyak hal setiap detik, tapi tetap menutupi bagian yang menurut Torro lebih baik diketahuinya sendirian.
Dirinya menceritakan beberapa kenakalan semasa hidup---termasuk kasus k*******n terhadap temannya Marvel dulu, Torro akui kelakukan itu membuat keluarganya terseret masalah. Hubungan tak akurnya dengan setiap anggota keluarga yang bisa Torro ingat---semuanya. Mudah saja menceritakan semua itu, tapi Torro temui lebih sulit ketika ia mulai memaparkan kejadian dirinya meregang nyawa.
“Berkendara dalam keadaan mabuk, kan?” kata Donovan selekas Torro menceritakan kecelakaan lalu lintas itu versi dirinya, nadanya menunjukkan keprihatinan yang tulus. “Anggi cerita sama saya, katanya ada dua orang yang meninggal. Kakak sama satu orang lagi pengendaran motor---yang juga laki-laki.”
Mendengar itu Torro termenung sesaat. Ada dua orang yang meninggal dalam kecelakaan itu---selain dirinya? Torro bahkan belum pernah terpikir kemungkinan adanya korban lain. Nyawa orang asing yang melayang karena kesalahannya menenggak minuman keras sebelum berkendara.
Mendadak saja Torro memiliki dorongan untuk memukuli dirinya sendiri. Egois, selama ini Torro hanya berpikir mengenai masalah dalam hidupnya sendiri, tak pernah benar-benar menyadari apa efek dari keteledorannya semasa hidup.
“Oke lanjutkan,” pinta Donovan seketika, rupanya menyadari kekagetan yang tampak di wajah Torro dan memutuskan tak mengungkitnya. “Ceritakan sama saya apa lagi yang Kak Torro ingat setelah kejadian itu?”
Sekali ini Torro merasa lega lamunan pahitnya diinterupsi. Dengan senang hati Torro kisahkan kegelapan dan kesunyian yang mengungkung dirinya bagai tanpa akhir. Rasa sakit yang perlahan lenyap tapi masih ia ingat bagaiamana rasanya. Lalu cahaya yang muncul, dan Torro temukan dirinya tersadar di kamar tidurnya sendiri. Tanpa tahu satu minggu penuh telah berlalu sejak hari kematiannya.
“Jadi Kakak baru menemukan kesadaran sebagai roh baru dua hari lalu?” komentar Donovan dengan dahi terlipat. Ia memperbaiki posisi kacamatanya sesaat. “Dan tiba-tiba terbangun di kamar sendiri?”
“Ya, itulah yang terjadi. Gue masih gak tahu berada di mana aja gue selama seminggu itu. Dugaan gue … mungkin di alam kubur?”
“Mungkin ….” Bibir Donovan merapat, beberapa detik memalingkan muka. Torro duga anak lelaki itu tahu apa pastinya, tapi menolak memberi tahu. “Saya gak bisa memastikan. Walau punya bakat lebih, masih banyak hal dari dunia alam lain yang saya belum tahu.”
Apa pun yang membuat sang pakar dunia gaib bertingkah gugup, pasti bukan hal bagus. Torro putuskan tak masalah jika ia tak mengetahui jawabannya. Kini ia harus tetap fokus pada apa yang ada. Jadi Torro pun lanjut berbicara, mengenai apa saja yang terjadi selama dua hari dirinya bergentayangan sebagai sosok hantu. Pertengkaran orang tuanya, perceraian, ketidak harmonisan keluarga dan terakhir konfrontasi antara Anggi dan Rendy kemarin sore.
Selepas rampung bercerita, Torro pun teringat sesuatu. “Eh, tolong jangan kasih tahu Anggi kalau mamah sama papahnya sedang ngurus perceraian. Dia belum tahu soal ini sebenarnya. Makanya gue berharap bisa berkomunikasi dengan Rendy, dia yang paling paham bagaimana caranya … memperbaiki keadaan.”
Donovan masih memalingkan wajah. Tatapannya tertunduk pada cetakan debu pola sol sepatu yang baru ia injak di lantai. “Hmm … Anggi sebenarnya tahu, atau lebih tepatnya udah mencurigai itu. Dia semata-mata gak mau mengatakan kecurigaan itu sama keluarganya.”
“Hmm ….” Torro bergumam, anehnya tak merasa terkejut pada hal itu. Anggi memang anak yang cerdas dan peka. Gadis kecil itu pasti tahu semua pertengakaran ayah dan ibunya yang sering disaksikan akan bermuara ke mana. “Anggi pasti sedih kalau dia tahu dugaannya benar. Tapi seenggaknya dia gak akan kaget banget karena udah curiga dari awal.”
“Semoga aja begitu,” Donovan mengamini, akhirnya mengangkat kepala dan membalas tatapan Torro kembali. “Tapi setelah dengar semua cerita Kak Torro tadi, saya merasa terganggu sama satu hal.”
Torro bergerak mendekat. “Apa itu?”
“Soal Kak Rendy, Kakak tadi bilang dia sama sekali enggak percaya saat Anggi coba ngasih tahu keberadaan Kak Toro kemarin.”
“Itu karena Rendy menganggap Anggi masih kecil.” Torro memberi pembelaan. “Rendy merasa skeptis karena Anggi masih anak-anak. Gue yakin kalau orang sedewasa lo yang ngasih pemahaman, Rendy pasti---”
“Saya tahu itu,” sela Donovan tak sabar. “Bukan itu juga yang saya permasalahkan. Masalahnya, kalau saya ada di posisi Kak Rendy, saya lebih baik gak tahu kenyataannya bahwa Kak Torro masih ada … bergentayangan.”
Meski tembus pandang, Torro merasa tubuhnya jadi sekaku bongkahan batu padat. Ia sudah memikirkan kemungkinan itu sebelumnya.
“Pikirkan efek dari membuka mata batin ini bagi mental dan perasaan Kak Rendy,” jelas Donovan yang menganggap Torro belum mengerti. “Beban mental yang nantinya harus Kak Rendy tanggung pas melihat arwah seorang saudara yang udah meninggal, dan beban emosional karena kalian gak begitu akur sejak dulu. Banyak orang yang gak mau berurusan sama dunia gaib dan supranatural karena dianggap menakutkan, saya memahami itu. Dan saja bisa memaklumi kalau Kak Rendy termasuk salah satunya.”
“Tapi Rendy harus mau berurusan sama ini,” Torro bersikeras, panik karena Donovan menunjukkan tanda-tanda penolakan. “Anggi adiknya punya indera keenam, bisa melihat hantu dan semacamnya. Sebagai Kakak yang baik dia harus mau terjun ke dunia semacam ini untuk memberi Anggi dukungan nantinya.”
Mulut Donovan menganga, tampak terpana dengan pernyataan Torro. “Maaf saya gak bermaksud kurang ajar,” katanya dengan nada yang malah membuat Torro sebal. “Kakak berharap Kak Rendy bisa manjadi saudara laki-laki panutan buat Anggi, dan Kak Rendy sebenarnya sudah jadi sosok itu bagi Anggi. Selama ini bukannya Kak Torro yang kurang bisa menjadi saudara laki-laki teladan?”
Pada saat ini, Torro baru menyadari kebenaran istilah lidah bisa lebih tajam dibandingkan pisau. Ucapan Donovan menyakitinya lebih dari yang bisa sebuah pisau belati lakukan.
“Sekali lagi, saya gak bermaksud kurang ajar,” lanjut Donovan dengan nada sama tajamnya. “Anggi udah sering sekali cerita soal keluarganya, saya tahu dari dia kalau Kak Rendy sosok kakak yang lembut penuh perhatian. Sementara Kak Torro … mengecewakan. Lebih sering berada di luar, mabuk-mabukan, tawuran, balapan liar dan lain-lain. Jadi menurut saya, Kakak gak punya hak buat mendikte apa yang harus dan gak harus Kak Rendy lakukan.”
Sebutkan saja mahluk apa pun yang derajat hidupnya paling rendah, dan Torro merasa posisinya lebih hina dari mahluk itu. Pernyataan Donovan bagai menelanjangi dirinya, menunjukkan segala kebobrokan moral Torro tanpa cela. Torro sebenarnya bisa saja balik marah-marah pada siswa ceking di depannya ini. Berkata bahwa Donovan tak punya hak untuk mengomentari dan ikut campur pada kehidupannya.
Namun, Torro tak bisa melakukannya. Segala perkataan Donovan tadi mengandung kebenaran tak terbantahkan.
“Gue mohon, tolong, bantu gue … demi Anggi juga. Dia pasti menginginkan ini.” Torro memelas, ia tak peduli jika harus merengek pada seseorang yang jauh lebih muda darinya. “Gue tahu gue gak punya alasan bagus buat tetap meminta, semua perkataan lo benar. Gue kakak yang mengecewakan dan memalukan, Rendy sendiri pernah mengakui itu. Tapi kasih gue kesempatan buat perbaiki keadaan. Lo pasti tahu gak selamanya gue berkeliaran sebagai hantu. Akan ada saatnya keberadaan gue di dunia ini lenyap selama-lamanya. Gue gak mau menyebrang ke alam lain dengan penuh penyesalan.”
Donovan tetap menatapnya datar, sama sekali tak tersentuh dengan pengakuan dan keputus asaan Torro. “Kakak bukan satu-satunya arwah yang berkeliaran dengan perasaan menyesal yang mendalam, itu normal.”
Kehilangan harapan bisa saja membuat Torro sinting. Saat ini pun Torro tak merasa keberadaannya berharga sama sekali. Jika sebuah lubang menuju neraka muncul di lantai, Torro dengan senang hati akan melompat ke dalamnya.
“Seenggaknya tolong coba temuin Rendy,” Torro mengungkapkan kata-kata pamungkasnya. Kesempatan terakhir. Jika setelah ini Donovan masih enggan membantu, maka sisa waktu Torro berada di dunia ini akan ia habiskan mencari lubang di bumi untuk terjun menuju neraka. “Lo coba jelaskan sama Rendy yang sebenarnya, kasih dia pemahaman kalau kata-kata Anggi kemarin itu benar. Katakan kalau gue ini ada dan emang mau ngomong sama dia. Kalau Rendy masih gak percaya dan gak berminat buat dibuka mata batinnya, gue bakalan pasrah … menyerah. Gue gak akan lagi muncul di hadapan lo dan menganggu hidup lo lagi.”
Setelah kata terakhir terucap, Torro cemas menanti respon Donovan. Pemuda itu masih saja memasang tampang cuek, tapi Torro tahu, di balik raut wajah menjengkelkan itu ada pertentangan batin yang sedang bergejolak.
“Oke,” ucap Donovan akhirnya, bagai sebuah kata-kata pengampunan bagi Torro. “Bakalan saya coba, hanya supaya Kakak bisa segera pergi dari hidup saya. Dan … gak bermaksud kurang ajar, Kakak adalah hantu dengan kisah hidup paling menjijikan yang pernah saya temui.”
***