“Hai, Anggi!” sapa Donovan ramah, tapi tatapan matanya sekeras batu granit. “Ada apa pagi-pagi begini cari Kakak?”
“Ini Kak Devan, Anggi mau kenalin,” Anggi menunjuk pada sosok Torro yang baru sampai di sampingnya. “Ini Mas-nya Anggi. Mas Torro.”
Bibir tipis murid lelaki itu mengerucut masam. “Maksudnya, Kakak kamu yang baru meninggal minggu kemarin?”
Anggi mengangguk, dan Donovan bergeming. Betapa aneh rasanya membicarakan kematian seolah itu hal yang enteng. Torro memperhatikan keadaan di sekitar, orang-orang melirik dan menunjuk-nunjuk ke arah mereka---berbisik-bisik pada yang lain, tapi Anggi dan temannya ini tampak tak mempedulikan semua itu.
“Salam kenal.” Torro mencoba beramah tamah, yang bukan keahliannya. “Gue Mahardika Rusdiantorro. Tapi panggil aja gue Torro.” Torro terdiam sejenak. “Lo Devan, kan?”
“Donovan,” ralatnya, nadanya agak kesal. “Cuma teman yang boleh panggil saya Devan.”
Torro mengangguk paham, menolak desakan untuk memutar bola mata. Donovan jelas anak yang spesial, terbukti dengan terjadinya percakapan ini. Namun penampilannya tak begitu meyakinkan. Kulit wajahnya putih pucat, berkelopak mata tipis membuat kesan ia tengah menyipit sepanjang waktu. Kacamata model bundarnya bertengger agak miring, jelas bukan untuk tujuan bergaya. Di puncak kepalanya, rambut hitam bergaya belah pinggir diatur sembarang. Agak jabrik bergerak-gerak tertiup angin.
Jika dilihat sekilas Torro takkan percaya pemuda ini memiliki kelebihan. Yah, selain kelebihan dapat menenggelamkan diri dalam tumpukan buku pastinya---atau menghafal semua rumus matematika. Tipe murid kesayangan guru, dan musuh bagi siswa lain yang malas mengerjaan PR.
Raut wajah Donovan berubah semakin masam tiap kali melihat Torro, seolah dirinya adalah tamu kurang ajar yang tak diharapkan kedatangannya.
Dipikir-pikir, mungkin itu memang benar. Pertemuan ini tak pernah direncanakan dalam sudut pandang Donovan.
Donovan melirik jam tangan yang dipakainya. “Anggi, beberapa menit lagi jam pelajaran pertama kamu dimulai lho. Lebih baik kamu segera ke kelas. Biar Kakak yaang ngurus ini.”
Mata Anggi melirik keduanya ragu. “Tapi Anggi mau bantu jelasin---”
“Udah gak apa-apa,” Torro meyakinkan adiknya. Kata-kata Donovan mudah sekali diartikan baginya: jangan libatkan Anggi dalam hal ini. “Mas bisa jelasin sendirian kok. Kamu cepat ke kelas gih, keburu telat. Yang rajin belajarnya.”
Anggi sepertinya tak menyukai perintah ini, tapi ia menurut mengalah. Kakinya segera berlari meninggalkan lapangan selepas mengucapkan pamit.
Daun-daun di atas pohon melambai diterpa angin, tapi Torro sendiri tak bisa merasakan embusan angin. Tubuhnya tak memiliki suhu, bobot atau massa, layakanya udara yang membentuk seorang manusia dan tetap di tempat. Tak terikat hukum gravitasi.
“Jadi …,” Torro memutuskan langsung menuju poin utama, Donovan juga tampaknya sedang enggan berbasa-basi. “Langsung aja, gue rasa lo udah punya tebakan maksud kedatangan gue nemuin lo.”
“Kayaknya,” Donovan menutup buku di pangkuan dan menopang dagu dengan sebelah tangan. “Bukan pertamakalinya saya kedatangan arwah orang baru meninggal buat dimintai tolong. Biasanya mereka meminta tolong menyampaikan sesuatu kepada saudara atau anggota keluarga yang masih hidup.”
Torro ikut duduk di hadapan anak itu, di atas hamparan tanah berlapis rerumputan. “Tapi bukan itu yang gue minta.”
“Oh pasti bukan,” sahut Donovan agak pongah. “Anggi sendiri pasti bisa bantu kalau cuman begitu. Saya tebak ada hubungannya dengan seseorang? Kakak berharap bisa berkomunikasi dengan orang lain … yang gak bisa melihat Kakak sama sekali?”
Meski sikap Donovan agak kurang ajar di awal, tapi ia tetap mau memanggil Torro dengan sebutan Kakak---kesopanan umum pada orang yang lebih tua. Torro menyadari ini.
“Itu benar,” ucap Torro lebih pasti. “Gue mau minta tolong … bukain mata batin adik gue.”
Tatapan Donovan makin menyipit. “Kak Rendy?”
Kini Torro terkejut. “Lo kenal dia?”
“Cuma dari cerita-cerita Anggi,” jelasnya. “Anggi banyak cerita soal keluarganya.”
Tangan Torro mencoba membelai rerumputan---penasaran, tapi tetap saja ia hanya menembusnya. “Lo kayaknya udah kenal banget sama adik gue?”
Donovan mengganti tumpuan tangan untuk menopang dagu. “Ya … bisa dibilang begitu. Banyak orang mengangap pertemanan ini aneh. Anak SMA kelas tiga, temenan sama anak kelas enam SD. Masalahnya mereka gak tahu apa yang membuat kita bisa dekat.”
Tiba-tiba saja Torro merasa penasaran dengan ikatan pertemanan Anggi dan Donovan ini. Mungkin berasal dari naluri protektifnya sebagai kakak. Lagian ada baiknya membahas hal lain sebentar, tidak langsung mendesak Donovan untuk memberi jawaban atas permintaan tolongnya.
“Kalian sama-sama anak spesial, kan?” Torro menerka-nerka. “Karena kesamaan itu kalian dekat? Tapi sejak kapan? Bagaimana kalian tahu satu sama lain?”
“‘Spesial’ bukan kata yang tepat,” Donovan mengoreksi. “Di tengah-tengah masyarakat, orang-orang macam saya dan Anggi lebih sering dicap aneh. Tapi ya, karena kesamaan itu kita berteman. Awalnya? Lima tahun lalu, saya masih SMP di sini, para hantu penghuni sekolah ngasih kabar kalau ada anak SD kelas satu yang bisa melihat mereka dan ketakutan sampai menangis. Saya coba ngecek … dan ya, siswi SD yang dimaksud itu Anggi. Saya … merasa kasihan sama dia, soalnya Anggi waktu itu belum sepenuhnya mengerti bakatnya dan keluarganya gak acuh sama kemampuan itu. Jadi saya mulai mendekati Anggi sejak itu.”
Torro terlena diberi kisah semacam ini. Seperti kisah dongeng saja. Betukar kabar dengan hantu penghuni sekolah? Tentu, kenapa tidak? Di kondisi yang lebih normal Torro takkan percaya ucapan Donovan. Namun kini dirinya bergentayangan sebagai sosok hantu, berkomunikasi dengan orang hidup, membuat cerita Donovan lebih mudah dipercaya.
“Butuh waktu agak lama biar Anggi bisa percaya sama saya,” lanjut Donovan bercerita. “Tapi setelahnya dia terbuka banget dengan semuanya: kondisi di rumah, mahluk-mahluk menyeramkan yang dia lihat sejak lama. Ketidak mengertian keluarga pada kemampuan Anggi melihat hantu.”
Sesaat Donovan berhenti bercerita, menengadah ke atas. Sinar matahari meliuk-liuk dari celah ranting pohon, hanya beberapa titik cahaya yang berhasil jatuh ke tanah.
“Kondisi saya jauh lebih beruntung,” akhirnya Donovan melanjutkan. “Saya punya keluarga yang memaklumi kondisi istimewa ini, dan menuntun saya buat mengontrolnya. Tahu betul apa yang bisa saya lakukan, lalu saya juga ajarkan Anggi bagaimana … mengontrolnya. Meminimalisir kemungkinan mahluk berupa menyeramkan menampakkan diri. Sampai saat ini juga Anggi masih belajar.”
“Tapi Anggi bilang dia gak bisa buka mata batin?” tanya Torro memastikan.
“Belum bisa,” Donovan meralat. “Anggi punya potensi itu, cuma masih terlalu kecil buat mempelajari.”
Benak Torro pun menyerap informasi tersebut. Anggi memiliki potensi besar, jika saya keluarga di rumah bisa mendukungnya ….
“Terima kasih,” ucap Torro tulus, tak menyangka obrolan macam inilah yang terjadi. “Sebagai kakaknya, gue bersyukur ada lo yang bisa membimbing Anggi dalam bidang yang keluarganya sendiri pun gak bisa paham.”
“Saya cuma melakukan apa yang bisa saya lakukan,” tanggap Donovan, untuk pertamakalinya sejak awal pertemuan melempar senyum pada Torro. “Dengan senang hati saya membantu orang yang punya kemampuan seperti saya.”
Merasa agak jengah, Torro pun melempar pandangan ke sekeliling. Ada beberapa murid SMP dan SMA yang diam-diam mengamati ke arahnya berada. Bagi orang-orang itu pasti kelihatannya Donovan sedang bicara melantur seorang diri. Orang aneh, kata Donovan tadi. Tak heran jika banyak orang menganggapnya demikian, tapi bukan berarti itu bisa dibenarkan.
“Jadi, lo mau kan bantu gue?” tanya Torro lagi, menuju poin awal. Tujuan utama pertemuan ini terjadi. “Tolong bukain mata batin Rendy.”
Kini bola mata Donovan menatapnya dengan segan. “Saya bersedia, tapi Kakak harus tahu, saya mau melakukan ini semata-mata demi Anggi. Kalau hantu orang asing yang menggangu saya di hari sekolah pas ujian bakal diadakan, pasti bakal saya tolak mentah-mentah.”
Bibir Torro meringis. Menyendiri di halaman sekolah, membaca buku … Donovan rupanya sedang belajar untuk ujian sekolah. “Thanks.”
“Tapi sebelum itu,” kata Donovan cepat-cepat. “Sebelum saya buka mata batin Kak Rendy nanti, saya mau Kakak bercerita. Ceritain secara lengkap dan jelas, kenapa Kakak harus berkomunikasi dengan Kak Rendy? Apa urgensinya?”
Tatapan Torro menyipit. “Apa itu penting, buat lo tahu semuanya?”
“Penting buat saya tahu apa tindakan membuka mata batin ini bakal lebih mendatangkan kebaikan … atau sebaliknya,” ucap Donovan yakin. “Lagian menurut cerita-cerita Anggi, saya udah tahu setengahnya. Saya butuh lebih lengkap.”
Torro memustuskan mengalah. “Oke, tapi ceritanya bakalan sangat panjang.”
Donovan mengecek jam tangannya. “Saya masih punya banyak waktu sebelum jam ujian pelajaran pertama.”
“Mau pindah ke tempat lain yang sedikit sepi?” Torro mengamati keadaan sekitar. “Tempat yang lebih melindungi privasi.”
“Mereka gak akan bisa dengar Kakak ngomong apa,” elak Donovan, paham apa maksudnya. “Paling saya yang diangap gila karena bicara sendiri.”
“Ya tapi emang lo gak risih sama tatapan mereka?” Torro sendiri tak dapat menjelaskan, mengapa hal ini terasa begitu penting baginya.
Hantu yang memikirkan privasi pasti jarang sekali ada, karena Donovan menggeleng-gelengkan kepala heran. “Oke deh, saya tahu satu tempat yang lebih tertutup. Kita ke sana.”
Donovan pun memberesi barang-barangnya, memasukan ke kantong dan digendong ke punggung. Torro pun lekas mengikuti ketika Donovan berdiri dan berlalu pergi.”
***