Empat puluh hari.
Itulah inti dari pikiran Torro selagi melalui malam ini seorang diri.
Di malam yang sunyi, ia pada akhirnya berakhir lagi di garasi, menatap motor rusaknya penuh damba. Semua orang di rumah sudah terlelap, dan Torro tak ingin seperti orang sinting mengamati mereka yang tertidur. Biar bagaimana pun keluarganya memiliki hak untuk menyendiri, dan Torro masih menghargai privasi itu.
Lagi pula benaknya sedang sibuk sekarang. Kata-kata Puspa tadi masih berdengung di telinganya. Roh orang yang baru meninggal tidak langsung menyeberang ke alam lain. Arwah orang itu akan tetap berkeliaran di dunia, di dekat keluarganya selama empat puluh hari awal kematiannya.
Teori gaib macam itu jarang Torro dengar atau pelajari. Maklum saja, saat masih hidup Torro bukan tipe orang yang berminat dengan dunia astral dan semacamnya. Film bergenre horor pun tak pernah masuk ke dalam pertimbangannya ketika memilih tontonan.
Jika benar itu yang sedang terjadi padanya sekarang, Torro merasa lega. Ia tak lagi perlu bertanya-tanya mengapa dirinya masih di sini, tak lagi merasa pesimis bahwa Tuhan sedang menghukumnya, dengan menjebak rohnya berada di dunia hingga hari kiamat tiba. Torro jadi punya hitungan pasti kapan dirinya akan menyebarang ke alam lain.
Torro baru meninggal sembilan hari yang lalu. Artinya---menurut teori ini---dirinya hanya punya waktu kurang lebih empat minggu bersama keluarganya.
Anehnya, mengetahui hal ini tidak hanya menimbulkan rasa lega, tapi juga perasaan sedih, yang butuh waktu cukup lama untuk Torro pahami mengapa. Ia bersedih karena waktu bersama orang-orang yang disayanginya ternyata memiliki batas. Ada akhir dari keadaannya ini.
Padahal dalam hati Torro ingin tinggal bersama keluarganya lebih lama lagi. Dirinya baru saja mengenal lebih baik adik-adiknya belum lama ini. Rahasia Anggia, sisi rapuh Rendy, kesedihan ibu tirinya serta pemikiran egois ayah kandungnya. Torro ingin mengenal lebih dalam orang-orang ini, yang semasa hidupnya selalu Torro abaikan.
Sudah terlambat, batinnya seolah mengingatkan. Lo udah menyia-nyiakan banyak waktu semasa hidup, sekarang udah terlalu terlambat. Nikmati sisa waktu yang ada.
Maka Torro pun lebih memilih fokus pada rencana selanjutnya, menemui teman Anggi di sekolah yang sama-sama punya kemampuan khusus melihat hantu. Memikirkan apa saja yang harus ia katakan agar orang itu bersedia membantunya.
Tatkala telinga Torro mulai mendengar suara-suara berbagai aktivitas, ia sadar bahwa hari baru telah datang. Torro tetap mendekam di garasi sampai suasana mulai terang, baru memutuskan keluar saat terdengar kaki-kaki menjajak tangga seraya sahutan dari Anggi dan ibunya.
Mata Torro langsung menangkap sosok ibunya yang menaiki tangga lalu berbelok ke arah kamar Rendy. Torro pun bergerak ke atas, tapi menuju kamar yang berbeda.
“Pagi Mas Torro!” kata Anggi ceria saat Torro telah memasuki kamarnya melalui pintu yang terbuuka. Gadis cilik itu sudah mengenakan seragam sekolahnya, tampak sibuk memilah buku untuk ia bawa ke sekolah.
“Pagi juga, Dek,” tanggap Torro ringan, senang karena kehadirannya diakui walau hanya oleh satu orang. “Kamu bersemangat banget kayaknya ke sekolah.”
“Iya, dong! Kan hari ini Mas Torro bakal ikut ke sekolah Anggi. Semua PR Anggi juga udah selesai, berkat bantuan Mas kemarin.”
Torro tertawa. Anggi juga sepertinya sudah tak terlalu memikirkan perseteruannya dengan Rendy kemarin. “Bagus kalau begitu.”
Anggi telah selesai memilah buku pelajarannya, memasukan ke tas dan menutup resletingnya rapat-rapat. “Oh iya, tadi Anggi cari Mas Torro ke kamar kok enggak ada? Mas Torro emangnya dari mana aja?”
“Di garasi,” jawabnya santai. “Mas lebih sering nikmatin waktu sendirian di sana.”
Jawaban itu tampak tak dipahami oleh Anggi. “Kenapa di sana?”
Sebelum Torro sempat menimpali, terdengar suara perempuan berkata, “Anggi, kamu lagi ngomong sama siapa sih, Sayang?”
Torro berbalik, terkejut menemukan Puspa sedang berdiri di ambang pintu. Kening dari wanita itu berkerut was-was.
Sejenak Anggi melirik Torro, lalu menoleh pada ibunya. “Enggak sama siapa-siapa kok, Mah.” Dengan cepat Anggi pun berjalan menuju pintu. “Anggi udah selesai pilih bukunya. Kita ke bawah yuk, Mah!”
Gadis kecil itu melewati ibunya yang masih termenung. Torro tebak ibunya pasti sedang memikirkan sikap Anggi dan menghubungkannya dengan kata-kata Rendy semalam. Ketika Puspa bergerak ke lantai bawah, Torro mengikuti di belakang.
Di meja makan, Rendy sudah menikmati sarapan paginya. Bercelana jeans navy, kemeja kotak-kotak hijau biru berlengan panjang dan tas punggung yang disandarkan di dekat kakinya. Pemuda itu bersikap sekaku batu saat Anggi dan ibunya bergabung.
Tak banyak bicara, ketiganya menikmati makanan dalam keheningan. Torro tetap berdiri di tepi dinding, berharap waktu bergerak dengan cepat agar dirinya bisa segera menemui teman Anggi.
“Mah, Papah ke mana?” Keheningan itu pecah oleh pertanyaan Anggi. “Anggi belum lihat Papah dari tadi.”
Pandangan mata Rendy pun diam-diam melirik ibunya. Percakapan tadi malam antar Rendy dan ibunya terputar ulang di benak Torro.
“Hmm, Papah udah pergi kerja pagi-pagi sekali,” jawab Puspa, nadanya monoton. “Tapi tadi Papah udah titip salam kok buat Anggi: yang semangat ya sekolahnya.”
Alasan yang menyedihkan, pikir Torro getir. Bibir Anggi pun merengut, meragukan perkataan ibunya juga, tapi tak berucap lagi. Torro bertanya-tanya kapan ibunya akan menunaikan perkataannya tadi malam. Mungkin wanita itu sedang menunggu waktu yang tepat.
Kini perhatian Puspa tertuju pada Rendy putranya. “Ren? Kamu pulang kuliah jam berapa kira-kira?”
“Sore paling, Mah,” jawab Rendy yang sudah menatap makanan di piringnya lagi. “Ada pelajaran tambahan, sama ngejar ketertinggalan kemarin.”
“Pulang pergi pakai ojek online lagi?”
Rendy mengangguk.
“Mas Rendy harusnya mulai belajar pakai motor!” celetuk Anggi sambil nyengir. “Atau nyetir mobil, jadi enggak harus susah-susah nungguin jemputan! Enggak boros ongkos juga!”
Senyuman ragu terbit di wajah Rendy. “Ya gak semudah itu juga kali, Dek.”
Tanpa disadari siapa pun---kecuali Anggi, Torro memutar bola mata. Jadi benar kecurigaannya, dilihat dari taksi online yang dipakai Rendy kemarin untuk menjemput Anggi, serta ketiadaan kendaraan pribadi lain di garasi, Rendy memang tak bisa mengendarai motor atau mobil.
Torro menemukan fakta ini sunggung menyedihkan. Remaja lelaki macam apa yang belum bisa menyetir motor di usia mendekati dua puluhan? Satu lagi hal baru yang diketahui Torro mengenai adiknya.
“Tapi adik kamu bener, Ren,” kata Puspa menengahi. “Kamu harus mulai belajar, dapat SIM sendiri. Jadi kalau mau ke mana-mana gak susah.”
Rendy bergerak tak nyaman di kursinya. “Iya nanti bakal Rendy coba.” Pemuda itu pun meraih ponsel yang berdering di dekat piring dan mengeceknya, lalu berdiri dan menyampirkan tas ke punggung. “Ojek jemputan Rendy udah ada di depan. Rendy pergi sekarang ya, Mah.”
Selepas berpamitan, Rendy beranjak pergi.
Tak lama setelah itu, taksi online untuk mengantar Anggi juga tiba. Mobil satu-satunya yang ada pasti sedang dibawa pergi oleh ayahnya. Torro kembali merasa sengatan kekesalan pada pria tua egois itu. Setidaknya tingalkan mobil di rumah demi menunjang transportasi anak-anaknya, hal itu semestinya tak sulit dilakukan.
Ditinggal pergi Puspa, Anggi dan Torro, rumah praktis tak dihuni siapa pun. Puspa mengunci pintu depan, sementara Torro dan Anggi bergerak menuju mobil taksi yang menunggu di tepi jalan.
Pertama kali berpergian dalam wujud arwah membuat Torro merasa bersemangat. Torro mencoba menempati kursi depan di samping pengemudi, karena menduga dua kursi di belakang akan ditempati ibu dan adiknya.
Ternyata mudah saja dilakukan, tubuh bagai asapnya menembus pintu mobil, dan ia pun terduduk ringan tanpa bobot di kursi. Tetap saja, pantatnya tak dapat merasakan tekanan bersentuhan dengan lapisan kursi. Kaki telanjangnya tak benar-benar menginjak sesuatu.
Saat mobil mulai berjalan pun, Torro tak lagi merasakan desiran angin atau guncangan mobil meluncur di jalan. Tubuhnya tetap diam seolah ia tidak sedang menaiki mesin yang melaju cepat.
Sekolahan Anggi ditempuh dalam waktu dua puluh menit penuh. Melihat banyaknya orang-orang hidup yang beraktivitas seperti biasa membuat Torro merasa terasing. Ada sepercik rasa kesepian, mungkin itu lahir berdasarkan pengetahuan bahwa ia tak lagi hidup. Dirinya sudah berbeda dengan mereka, orang-orang hidup. Torro tak lagi menjadi bagian dari alam ini.
Ketika sampai, Torro, Anggi dan Puspa turun. Taksi tak meninggalkan mereka karena akan segera dipakai Puspa lagi untuk pulang---atau ke tempat mana pun ia akan tuju setelah ini. Setelah memberi ciuman perpisahan singkat, Puspa kembali memasuki mobil. Taksi kembali melaju ke tengah-tengah lalu lintas padat ibu kota.
“Ayo, Mas Torro!” ajak Anggi yang berjalan memasuki gerbang sekolah. “Kita cari Kak Devan!”
Kerumunan manusia yang terhampar tak menyusahkan langkah Torro. Murid SD, SMP, SMA, para orang dewasa serta penjaja makanan berdesakan berdekatan. Tubuh Torro dengan mudah menembus semua penghalang. Cahaya matahari yang bersinar menembus tubuhnya---seperti biasa---sampai tampak transparan untuk dirinya sendiri, tapi Anggi sepertinya tak mengalami kesusahan untuk melihatnya.
Anggi menuntunnya jauh memasuki lahan sekolah, berbelok-belok menyusuri berbagai lorong sampai akhirnya berhenti di depan pintu sebuah kelas. Kelas anak SMA, dilihat dari pakaian seragam mereka. Kelas itu hampir kosong, hanya ada beberapa orang yang duduk-duduk santai di bangkunya, beberapa lainnya berkumpul berkelompok cekikikan membahas sesuatu.
“Kak Devan kok gak ada di sini!” ucap Anggi kecewa setelah mengamati orang-orang di dalam kelas tersebut. “Padahal ini kelasnya.”
Seorang murid lelaki yang sedang berdiri di dekat pintu meliriknya. “Cari Donovan, ya? Tadi lihat lagi ada di halaman belakang sekolah. Coba cari di sana, siapa tahu masih ada.”
“Makasih, Kak!” Anggi tersenyum lebar lalu berjalan pergi.
Torro sempat merasa kelimpungan berusaha mengikuti. Untuk ukuran anak SD Anggi bisa berlari cukup cepat. Torro kembali harus menembus kerumuman, dan berhenti di sebuah lapangan luas yang sepertinya sudah sering digunakan untuk kegiatan olah raga, tiap tepinya tumbuh beberapa pohon besar yang rantingnya sendiri cukup kuat untuk dijadikan ayunan. Sebuah jaring net untuk bermain badminton melintang panjang dari satu tihang ke tihang besi lain di sisi berlawanan.
“Kak Devan!” teriak Anggi lantang membuat beberapa orang menoleh heran.
Di antara semua orang yang merespon, perhatian Anggi hanya tertuju pada seorang murid SMA kurus berkacamata yang sedang duduk berleha-leha di dekat salah satu pohon. Punggungnya bersandar pada batang pohon, sebuah buku terbuka di pangkuan.
Murid tipe kutu buku, batin Torro berkomentar.
Pemuda itu ikut menoleh merespon panggilan Anggi dan tersenyum lebar. Namun senyuman itu segera luntur setelah melihat … Torro.
Alfaden Donovan … itulah dia. Kala Torro bergerak makin dekat, tatapan mata sang pemuda indigo itu makin menyipit waspada.
***