45. Menusuk Setajam Belati

1990 Kata
Di dekat toilet dalam bengkel, ada sebuah jam yang menempel di dinding, suara detakan jarumnya terdengar konstan selagi waktu terus bergerak maju. Dari sana juga Torro bisa tahu sudah berapa lama waktu berlalu sampai kondisi di luar benar-benar hening. Saat itu sudah lewat tengah malam---bahkan nyaris pagi, pukul setengah tiga dini hari. Ranto yang tak bisa menahan kantuknya telah tertidur di pinggir ruangan beralaskan potongan kardus bekas, ransel ia jadikan bantal dan potongan kain biru kusut sebagai selimut. Sementara itu, Ruslan masih terjaga. Ia berada di ruangan sebelah tempat menyimpan motor para pelanggan yang dititipkan dalam bengkel karena belum selesainya perbaikan. Ruslan terduduk di atas salah satu jok motor, menunduk lesu dalam ketahanannya melawan kantuk. Sudah hampir setengah jam berlalu semenjak suara kegaduhan berakhir di luar, tak lama setelah suara beberapa motor menjauh pergi. Keputusan Ruslan untuk bersabar dan menunggu ternyata tepat, para pembuat onar di luar sudah bosan sendiri dan membubarkan diri. Namun, Torro memperhatikan sahabatnya masih saja berdiam diri, belum tampak niatan untuk mengeceknya secara langsung. Barangkali cowok itu masih ketakutan, dan cemas kalau-kalau keheningan ini ternyata sebuah jebakan dan perangkap---padahal bukan sama sekali. “Mereka bener-bener udah pergi, Bro,” kata Torro menenangkan. “Lo udah bisa tenang sekarang.” Sekali lagi Torro menemukan bahwa ucapannya tak mendapat respon. Ia telah mengecek situasi di luar barusan dan memang tak ada lagi orang. Sepi. Hanya saja dua motor di depan dalam kondisi rusak parah dan perlu penanganan mekanik profesional. Sejak tadi Torro memilih bertahan di sini, menemani sang sahabat meski Ruslan tak menyadari kehadirannya. Sedikit Torro berharap bahwa Ruslan akan membicarakan masalah yang terjadi, atau sekedar terlibat obrolan penting dengan Ranto, tapi Ruslan rupanya memilih tetap tutup mulut, kegelisahannya dia pendam sendirian. Padahal, demi tanah kuburannya sendiri, Torro ingin sekali tahu dan mengerti. Para pria beringas tadi, apa masalah mereka? Kenapa mereka mengincar Ruslan? Apa yang telah Ruslan perbuat? Dan ada hubungannya dengan Torro, ia yakin itu. Sesuatu yang ada kaitannya dengan cowok bernama Fadlan, tapi apa tepatnya? Torro secara teknis sudah meninggal, tapi dirinya merasa bisa saja mati penasaran saking ingin tahunya. Mati dua kali berturut-turut. Kedalaman benaknya jelas tak mengapresiasi lelucon semacam itu. Kala kesunyian mulai tak tertahankan, Torro akhirnya menyaksikan Ruslan bergerak turun dari motor. Dengan gerakan hati-hati, Ruslan berjalan terhuyung-huyung ke depan dan mengetuk-ngetuk gerbang. Tak ada tanda-tanda keributan, lalu teramat pelan dibukanya gerbang sedikit demi sedikit, tapi tetap saja aksi itu menimbulkan suara gaduh di tengah kondisi sepi dini hari. Torro segera menembus keluar dengan mudah, tak lama kemudian Ruslan pun keluar dari celah gerbang. Pria itu mengamati kekacauan di sekelilingnya---motor Ranto dan miliknya yang rusak---dan menahan napas. “s**l!” Selanjutnya, lagi-lagi Torro hanya bisa diam mengamati. Ruslan membuka gerbang makin lebar dan memasukan kedua motor yang rusak ke dalam bengkel, memunguti bagian-bagian yang patah dan mengecek tampilan gerbang yang dari tadi dihantam balok kayu. Balok kayunya sendiri telah ditinggalkan di tanah, bagai sebuah peringatan. Untunglah tak tampak kerusakan berarti di sana, setidaknya tak tampak di tengah-tengah kondisi penerangan yang minim. Sesudah melakukan itu semua, Ruslan kembali menutup rapat gerbang dan ikut selonjoran di lantai ruang istirahat, merebahkan tubuhnya diiringi desahan berat. Teman Torro itu tampak belum berniat membangunkan Rinto dan kabur dari sini sekarang juga. Keputusan tepat, pikir Torro, karena bepergian di daerah ini pada pukul tiga pagi benar-benar rawan dan sama saja dengan menantang nasib. Ruslan menguap lebar berkali-kali, kemudian dalah hitungan detik telah terlelap dengan suara dengkuran yang dalam dan bertempo. Lantas Torro berpikir, tak ada alasan lagi dirinya untuk tetap di sini. Betapa besar keinginannya untuk membantu menyelesaikan masalah sang sahabat---apa pun itu masalahnya, tapi tidak dengan cara berdiam diri seperti ini. Torro harus melakukan sesuatu, termasuk mencoba meminta pertolongan Rendy, membuat adik lelakinya mau bekerja sama untuk mengorek informasi dari Ruslan sendiri. Torro memandangi sosok Ruslan di lantai. “Apa pun masalahnya, gue bakal coba bantu lo, Bro. Dengan cara apa aja. Gue janji.” Dan Torro pun pergi---dengan kata lain, bergerak pulang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan bagi seorang roh gentayangan bila ingin jalan-jalan sendiri di malam gelap. Justru sebaliknya, orang-orang hidup yang berlalu lalang pasti cemas jika harus berpapasan dengan sesosok hantu. Tapi itu tak jadi soal, kondisi jalanan sudah sangat sepi, kawasan perkotaan pun tak seramai tadi, lalu lintas agak lengang, restoran dan kafe tak lagi menerima pengunjung. Hanya toko 24 jam yang masih tampak buka. Matahari sudah terbit di langit bagian timur ketika Torro sampai di rumah, angkasa yang semula gelap pekat perlahan berubah kelabu. Yah, perjalanannya memang selama itu dari bengkel ke rumah dengan berjalan kaki. Sisi baik jadi seorang hantu, berjalan selama dan sejauh itu tak berdampak apa-apa pada stamina jiwanya. Torro tiba tepat waktu. Hampir semua orang di dalam rumah sudah mulai beraktifitas. Puspa tengah sibuk menyiapkan sarapan di dapur, Rendy tak ada di kasurnya, tapi terdengar suara guyuran air di dalam kamar mandi. Hanya Anggi satu-satunya orang yang masih terbuai di alam mimpi. Tak dapat menunggu lebih lama, Torro berdiri terpaku di depan pintu kamar mandi dengan harapan Rendy cepat keluar. Satu-satunya alasan Torro tak langsung menembus dinding memasuki kamar mandi adalah ia masih menghargai privasi adiknya, dan kemungkinan besar Rendy juga tak akan senang dengan aksi nekat itu. Di dalam kepalanya, Torro mulai merangkai kata, kalimat demi kalimat yang rencananya akan disampaikan pada Rendy. Apa adiknya itu mau membantu dan bekerja sama? Dia tak memiliki pilihan lain, batin Torro berkeras. Saat pintu di depannya berayun terbuka, Rendy saudaranya sontak terkesiap. “Mas Torro!” protesnya dengan mata yang masih setengah mengantuk. Ia tak memakai apa pun kecuali handuk yang menutupi dari pinggang ke bawah. Sekujur tubuhnya basah. “Lo masih belum paham soal ngasih pertanda dulu sebelum mau munculin diri mendadak kayak gini?” “Gua gak muncul mendadak, Ren,” Torro berkata sabar. “Gue udah diam di sini sejak tadi nungguin lo.” Bibir Rendy cemberut, diganggu sesosok arwah di pagi hari ternyata tak mendongkrak semangatnya dalam menjalani hari. Ia berjalan melewati sosok Torro menuju lemari pakaian, memilih satu setel pakaian yang akan dikenakannya hari ini. “Emang ada apa lo sepagi ini mau nemuin gue?” tanyanya membelakangi Torro. Kaki Torro maju beberapa langkah. “Gue mau lo temuin si Ruslan hari ini juga, mungkin sebelum lo pergi ke kampus? Tolong tanyain dia ada masalah serius apa.” Rendy berbalik menatapnya dengan setumpuk kecil pakaian di tangan, keningnya berkerut samar. “Kenapa gue harus ngelakuin itu?” Dihampirinya ranjang dan meletakan pakaian itu di sisi tempat tidur, kemudian melirik gugup Torro. “Eh, bisa lo … anu, pergi dari kamar sebentar atau seenggaknya berbalik badan dulu? Serius, gue lagi t*******g cuman pake handuk, mau pake buju dulu nih.” Bola mata Torro berotasi. “Kita sama-sama cowok, Ren. Gak usah malu.” Tatapan mata Rendy melebar. “Mas!” protesnya. “Oke, oke.” Torro menggeleng-geleng kepala heran lantas berbalik badan. Tubuh seringan kabutnya kini menghadap pintu kamar mandi lagi. “Cepetan, Ren.” Dan Rendy memang melakukannya cukup cepat, hanya dua menit kemudian dia berseru, “Udah.” Sang hantu menoleh. Tahu-tahu saja Torro melihat Rendy telah berpakian lengkap: Jaket biru laut dengan dalaman berupa kemeja merah, serta celana chino cokelat muda sepanjang mata kaki. Satu tangannya menggenggam sisir dan mulai merapikan rambutnya. “Jadi,” ucap Torro memulai. “Gue nyamperin Ruslan ke bengkel kerjanya semalam.” Rendy tak menyahut, pun tak terkejut dengan kabar tersebut, tapi tatapan ‘ingin tahu lebih banyak’ di matanya menandakan bahwa ia tertarik. Dengan lebih percaya diri Torro pun menceritakan pengalamannya berjam-jam lalu, perjalanannya melintasi kerumunan, ketegangan dan aksi anarkis di depan bengkel, serta ketakutan yang tampak di wajah Ruslan dan Ranto. Torro teringat bahwa Rendy tak mengenal siapa Ranto, jadi ia juga menjelaskannya singkat. “Ranto itu montir yang kerja di bengkel si Ruslan,” ucap Torro terburu-buru. “Montir baru, mungkin si Ruslan ngajak dia lembur atau apa gue gak tahu. Tapi pokoknya, situasi semalam beneran serius sampai mereka berdua harus nginep di bengkel, soalnya komplotan cowok biang kerusuhan ini gak pergi sampai sekitar jam dua malam.” “Dan komplotan cowok biang kerusuhan ini, lo gak kenal siapa mereka?” “Gak kenal,” Torro menyahut ragu. “Maksudnya, gue gak kenal siapa mereka, tapi mukanya kayak pada gak asing. Gue mungkin pernah ketemu mereka pas gue … masih hidup.” Seketika ia berjengit. “Masalahnya, gue takut kalau masalah itu ada hubungannya sama gue.” Rendy mengamatinya. “Karena Ruslan bilang sumber masalahnya ada di dia dan lo?” “Ya.” “Yang diincar para cowok itu Ruslan dan lo?” “Iya … kayaknya. Gue gak tahu apa mereka tahu gue ini udah meninggal.” “Dan ini ada kaitannya sama cowok bernama Fadlan? Cowok yang sempat lo kalahin dalam balapan liar beberapa minggu lalu?” “Iya.” Pandangan mata Rendy tertuju pada lantai di bawahnya. “Jadi … lo minta gue datang temuin Ruslan sekarang juga?” “Iya.” “Dan tanya Ruslan apa inti masalahnya sampai-sampai bengkelnya diserang habis-habisan semalam?” “Iya.” Torro mulai geregetan, cowok di depannya ini terus menerus menanyakan hal yang sudah dirinya jabarkan dengan jelas tadi. Kepala Rendy meneleng ke kiri. “Dan lo berharap Bang Ruslan gak akan ngerasa aneh kalau gue tiba-tiba nanyain soal itu? Semestinya gue gak tahu apa-apa. Kalau Bang Ruslan nanya gue tau dari mana, gue harus jawab gimana? ‘Oh gue tahu dari hantu Mas Torro yang semalaman tadi berkeliaran di bengkel mengamati apa yang terjadi.’ Begitu?” Torro tertegun, tak sempat terpikirkan olehnya hal itu. Ia begitu menggebu-gebu ingin membantu Ruslan sampai menyingkirkan sisi rasionalitas di dalam rencananya. “Mungkin … mungkin lo harus kasih tahu dia yang sebenernya, kalau gue ada di sini.” Mulut Rendy melongo. “Lo serius? Kalau-kalau lo belum nyadar, gue aja belum terbiasa lihat penampakan lo dalam wujud begini, apalagi Ruslan. Dia bisa nganggap gue gak waras kalau gue ceritain yang sejujurnya.” “Gue cuman mau tau apa masalahnya,” aku Torro putus asa. “Gue peduli sama dia, gue kepengen ngebantu.” “Oh ya?” Satu alis Rendy terangkat dalam gestur sarkatis. “Kalau pun lo udah tahu apa masalahnya, lo bisa bantu dalam cara apa? Minta gue jadi perantara lagi? Lo bakal ngebiarin gue keseret dalam masalah yang gue gak tahu apa-apa?” Satu pertanyaan itu menghantam telak kesadaran Torro. Benar juga. Sosok saudara lelaki macam apa yang akan meminta saudaranya terseret ke dalam sebuah masalah? Torro sejak dulu memang bukan sosok kakak yang bisa dijadikan panutan, tapi sekarang ia ingin memperbaikinya dan malah meminta Rendy mencampuri urusan yang bukan tentang dirinya? Torro jadi teringat bagaimana ketakutannya Ranto, terjebak di dalam bengkel dengan kerumunan marah yang mengamuk-ngamuk di luar. Membayangakan Rendy terperangkap dalan situasi serupa … Torro akan membenci dirinya sendiri jika hal itu sampai terjadi. “Seenggaknya lo bisa coba cari tahu,” ucap Torro lemah, tak lagi bertekad baja seperti awalnya. “Lo tahu kan, secara diam-diam deketin Ruslan buat cari tahu apa masalahnya, setelah itu … langkah selanjutnya biar gue yang pikirin nanti.” Rendy menatap Torro tak percaya. “Gue gak bisa,” katanya sambil meletakan sisir di atas meja berlaci samping ranjang, kemudian meraih ransel yang terletak di tempat yang sama. “Gue bener-bener gak bisa. Lagian Bang Ruslan udah dewasa, dia pasti bisa nyelesein masalahnya seorang diri. Dan gue harus berangkat ke kampus cepat-cepat, gak ada waktu buat mampir ke mana-mana dulu.” Adiknya lantas berjalan menuju pintu kamar, hendak pergi. Sebelum benar-benar sampai di pintu, Torro buru-buru berkata, “Ren, tolonglah. Ruslan lagi ada dalam masalah besar, masalah serius yang gak gue sadari udah gue timbulkan, masa lo bisa setega---” “Masalah yang udah lo timbulkan!” potong Rendy dengan nada pedas. Tanganya sudah mencapai gagang pintu dan melirik kesal pada Torro. “Asal lo tahu, gue gak kaget denger itu. Emang udah sejak dulu lo nyiptain banyak masalah, gue gak habis pikir gimana lo bisa tetap begitu setelah lo ….” Ucapan Rendy terhenti, ia tercekat, tangannya yang lain melambai pada sosok tubuh Torro yang tak lagi hidup. “Mati.” Torro memejamkan pengelihatan. Awalnya ia pikir, kematian telah menghilangkan kesempatan untuk dirinya merasakan sakit kembali. Namun, di sinilah dirinya berada, ucapan Rendy telah menyakiti dirinya lebih dari siksaan mana pun. “Sorry,” kata Rendy dengan penuh sesal. “Gue pergi.” Tak lama kemudian terdengarlah suara pintu dibanting menutup, meninggalkan Torro seorang diri lagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN