44. Perjalanan Tengah Malam

1983 Kata
Pada pukul sepuluh malam, semua orang di rumah telah terlelap. Torro sudah memastikan itu dengan cara menyambangi kamar mereka satu per satu. Sampai detik itu tiba, Torro sudah menyaksikan kegiatan makan malam keluarganya dengan santai. Tak ada pertengkaran serta adu mulut dramatis kali ini. Rendy juga telah memberitahu Anggi tentang ajakan untuk mendatangi penginapan ayahnya pada akhir pekan, Anggi jelas saja bersemangat dan menerima tawaran tersebut tanpa bertanya lebih jauh. Satu hal yang membuat Torro kagum, ibunya tak mengeluhkan hal itu sedikit pun, bahkan ikut menyarankan agar kedua anaknya membawa baju salin untuk berjaga-jaga jika ingin menginap, serta berjanji akan memberi mereka bekal makanan kalau diperlukan. Namun serta merta Rendy dan Anggi menampiknya. Berkata bahwa ayah mereka pasti akan memenuhi kebutuhan putra-putrinya juga tanpa harus diminta, serta Rendy berujar bahwa ia tak berniat berlama-lama di sana sampai menginap. Hanya kunjungan singkat akhir pekan. Puspa hanya tersenyum dengan raut wajah yang tak dapat dibaca lebih dalam. Hal itu tetap saja membikin Torro menaruh hormat pada ibu tirinya. Perempuan itu bersikap begitu suportif dan bijak jika menyangkut keinginan anak-anaknya. Bahkan Torro sampai berpikir, jika pun ayah dan ibunya benar-benar resmi bercerai, perkara hak asuh anak seharusnya tak jadi soal. Mereka akan mendapat solusi terbaiknya. Sesudah acara makan malam berakhir, ketiga orang tersebut berpencar ke kegiatannya masing-masing. Puspa langsung menuju kamar dan tertidur setelah sebelumnya memasukkan mobil ke dalam garasi. Tak lama kemudian disusul kedua adiknya yang kompak memutuskan tidur lebih awal, dengan dalih ada kesibukan yang harus mereka jalani keesokan harinya. Torro tak dapat mencegah kemauan mereka, setidaknya ia juga memiliki rencana untuk menghabiskan waktunya semalaman ini. Begitu kondisi di sepenjuru rumah sangat hening, Torro langsung menembus pintu depan dan mulai menjelajahi dunia luar. Ia mula-mula menyusuri jalanan komplek. Udara dingin tak mengganggunya---hanya menggoyangkan dedaunan di atas pohon, kepekatan malam tak menghentikan langkahnya. Bahkan sejak dulu pun, Torro sudah akrab dengan suasana malam ibu kota. Ia yakin suasana akan lebih ramai dan terang setelah ia sampai di pusat perkotaan. Berdasarkan intuisi, kaki Torro seakan bekerja secara otomatis, tak pernah ragu mengambil langkah dan berbelok di setiap tikungan. Sesekali ia bertemu dengan pengendara motor, pengendara mobil, pejalan kaki atau pedagang dengan roda dorong keliling yang melintas. Suatu saat Torro melemparkan senyum ke arah mereka, sampai teringat sendiri olehnya bahwa orang-orang itu tak bisa melihatnya. Torro pun akan menggerutu sendiri selagi meneruskan langkah. Pencahayaan memang menjadi lebih baik saat dirinya telah sampai di daerah perkotaan. Lampu toko, rumah makan, restoran, hotel, pusat perbelanjaan dan segala jenis bangunan lainnya yang masih buka memancarkan penerangan dalam jarak radius tertentu. Arus lalu lintas tergolong ramai, orang-orang tetap sibuk berlalu-lalang seakan ini adalah jam kerja. Suara mesin kendaraan menggelegar, bunyi klakson bersahut-sahutan. Celotehan dan obrolan yang ramai terdengar di setiap titik lokasi perkumpulan manusia. Intinya: Jakarta belum tidur. Dan memang tak akan pernah terlelap. Menurut Torro kondisi ini agak memilukan. Dulu ia pernah menjadi bagian dari ini, ingar bingar dunia malam ibu kota. Torro biasanya berseliweran ke mana-mana, bermain ke sebuah kafe, diskotik, bar atau rumah seorang teman. Ikut balapan liar, memenangkan perlombaan, ysng diakhiri dengan minum-minum sampai teler hingga pagi menjelang. Kini setelah ia tewas, dunia yang telah ditinggalinya tetap sama. Kejam juga tak kenal kasihan. Seakan-akan Jakarta tak sudi ikut berduka atas kematian dirinya. Nostalgia yang dirasakannya malah berubah jadi kepedihan. Sang hantu terus meneruskan perjalanan. Di benaknya, Torro sudah memutuskan bahwa ia akan menyambangi bengkel milik Ruslan terlebih dahulu. Penyebab utamanya ialah, karena lokasi tempat usaha tersebut adalah yang lebih dekat jika dibandingkan dengan lokasi rumah Ruslan sendiri. Memang, pada umumnya bengkel motor sudah tutup dan tak beroperasi di jam-jam seperti ini, tapi Torro tahu kebiasaan temannya. Ruslan sering bergadang di bengkelnya sampai larut malam, merampungkan reparasi motor pelanggan, memodifikasi setelan sebuah mesin, atau sekedar nongkrong dengan teman-temannya. Biasanya jika sudah tak ada lagi hal menarik di sana, barulah sang teman akan pulang ke rumahnya. Karena Torro tak membawa ponsel, jam tangan atau benda apa pun yang dapat menunjukkan waktu, ia tak tahu sudah berapa lama dirinya bergerak. Ia tak merasa capek tentunya, tapi jarak yang sudah ditempuhnya pasti sudah jauh. Torro mengenali area pinggiran kota yang dijelajahinya sekarang, membutuhkan waktu setengah jam dari rumahnya sampai ke sini jika menggunakan motor. Tak lama kemudian, bengkel milik Ruslan yang menjadi tujuannya sudah tampak dalam jarak pandang. Bengkel itu sendiri terletak di sebuah kawasan padat pertokoan. Di pinggiran sebuah jalan yang cukup ramai dilewati saat di siang hari. Di malam hari, kondisinya tak seramai itu. Barangkali karena itu adalah jalan kecil menuju kawasan padat penduduk, dan tak banyak tempat hiburan di sekitar sana. Saat kali pertama matanya melihat bengkel, Torro menyeringai senang. Ada beberapa laki-laki yang berkerumun di depan. Ruslan pasti ada di sana, pikirnya, sedang bersenda gurau dengan beberapa orang, mungkin sambil mengopi dan ngemil keripik asin juga. Namun saat diperhatikan lebih dekat dan lebih seksama, Torro melihat sebuah kejanggalan. Kerumuman orang di depan menampakkan suasana tegang. BUNGG! Suara sebuah benda berat memukul besi terdengar lantang, lantas seseorang di tengah kerumunan berteriak, “WOY, RUSLAN KELUAR LO!” Benak Torro berpacu cepat. Ia telah sampai tepat di hadapan orang-orang itu. “Ada apa ini? Kalian ngapain?” Jelas saja tak ada yang menanggapi perkataannya. Seorang pria yang kira-kira seumuran Rendy tengah memegang balok kayu sepanjang lima puluh senti meter, dan benda itu dengan ganasnya dihantamkan ke gerbang geser bengkel yang tengah tertutup---menciptakan bunyi gaduh yang tadi Torro dengar. “JANGAN JADI PENGECUT LO!” maki pria lain yang sepertinya teman si pemegang balok kayu. “Hadepin kita-kita ini kalau lo masih punya nyali!” Yang lain-lain berseru setuju dan melontarkan sumpah serapah. Totalnya ada enam orang---pria cukup umur semua---dan keenamnya tak memperlihatkan tanda-tanda ingin beramah tamah. Pikiran Torro makin awas. Siapa mereka ini? Torro tak mengenal satu pun, tapi anehnya wajah mereka tampak familier. Torro pernah melihat mereka … tapi di mana? Dan mengapa mereka bersikap begitu beringas? Masalah apa yang tengah dihadapi Ruslan temannya? Kemudian diamatinya lebih seksama keadaan bengkel. Jelas sudah tak beroperasi, gerbang gesernya telah ditutup rapat, tapi ada beberapa benda yang ketinggalan di luar---seperti sebuah obeng, corong pengisi oli dan sekrup, seakan Ruslan menutup bengkelnya dengan panik dan tergesa-gesa. Lalu di ujung, merapat pada dinding, ada dua motor yang Torro kenali sebagai motor milik Ruslan dan Ranto, seorang montir pegawai di bengkel ini. Torro pun langsung tersadar, kedua orang itu pasti sedang berada di dalam, bersembunyi dari amukan orang-orang ini. Pria pemegang balok kayu kembali memukuli gerbang penutup, tanpa ragu Torro pun maju menembus gerbang tersebut dan seketika berada di dalam bengkel. Kondisi ruang depan bengkel tampak aman dan nyaris tak tersentuh. Etalase kaca dan rak-rak dipenuhi dengan berbagai macam komponen motor, beberapa di antaranya terjatuh ke lantai. Lampu di ruangan itu padam: menjadikannya gelap, tapi Torro perhatikan di ruangan belakang---tempat biasanya para montir beristirahat---penerangannya menyala. Dan di sanalah kedua orang itu berada. Ranto adalah montir dengan perawakan kurus dan tinggi, wajah berjerawat dengan rambut hitam ikal yang dipangkas pendek. Pria itu masih mengenakan seragam kerjanya---pakaian khas seorang mekanik, sedang meringkuk di pojok ruangan dengan raut wajah tegang nan ketakutan. Kedua lengannya memeluk lutut. Di dekatnya, berdirilah Ruslan. Pria berbadan besar itu menyedekapkan tangannya di depan d**a, punggungnya bersandar pada tumpukan ban baru. Wajahnya pias pucat, tapi kelihatan lebih tenang dan memegang kendali. “Gimana ini, Bos?” tanya sang montir Ranto, suaranya terdengar mencicit. “Gimana kita bisa pulang kalau begini?” “Lo tenang aja,” Ruslan berusaha meyakinkannya. “Kita tunggu aja dulu di sini sampai orang-orang itu bosen sendiri. Baru setelah mereka pergi kita kabur.” Ketenangan sikap pria itu mungkin akan membuat orang lain kagum, tapi Torro sudah mengenal betul watak temannya sampai tahu betul bahwa di balik sikap tenangnya, Ruslan menyimpan ketakutan yang teramat besar. “Mereka itu siapa sebenernya?” Ranto bergumam. “Ada masalah apa mereka sama kita?” Ruslan mengusap wajah. “Masalahnya ada di gue, dan di temen gue yang baru-baru ini meninggal. Ceritanya panjang, intinya bukan lo yang diincar, tapi gue.” Jika Torro masih memiliki jantung yang befungsi, pasti jantung itu sudah bertalu-talu nyaring sekarang. Apa maksud Ruslan? Teman yang baru-baru ini meninggal, itu sudah pasti dirinya. “Masalah apa, Rus?” tanya Torro putus asa.”Kenapa gue dan lo diincar, kita udah salah apa?” Ruslan bergeming. Ranto pun tak bertanya lebih jauh, alhasil kebingungan Torro bercampur dengan kekesalan. Di saat segenting ini, tak bisakah semenit saja ia dapat menampakkan diri dan berbicara langsung dengan temannya? Kegaduhan di luar belum berhenti. Gerbang tutup masih dipukuli balok kayu, dan beberapa suara pengerusakan lain, seperti kaca pecah dan gebrakan benda berat ke tanah. Mata Ranto membelalak. “Motor kita masih di luar! Pasti orang-orang itu jadiin motor kita sasaran.” Ia meraih ponsel di saku celananya. “Kita harus panggil polisi.” “Jangan!” Ruslan buru-buru menghentikan aksi pegawainya. “Lo gak kenal mereka. Kita panggil polisi, polisi datang mereka udah kabur. Besok-besok aksi mereka malah lebih beringas kalau begitu.” “Tapi motor saya, Bos!” Ranto meratap. “Cicilannya aja belum lunas!” Hati Torro bedenyut simpatik. Ia paham bagaimana gelisahnya terjebak pada kondisi semacam itu, dan juga Torro cukup mengenal baik sosok Ranto. Torro sering nongkrong dan bermain ke sini, jadi ia sudah pasti mengenali semua montir yang bekerja. Ranto sendiri terbilang pegawai baru, tindak tanduknya agak polos dan kaku persis Rendy adiknya. “Lo kudu tenang,” Ruslan berkata, lalu berjengit mendengar huru hara di luar. “Kerusakan apa pun nanti kita bisa perbaiki. Lo boleh pake apa aja yang ada di sini secara gratis nanti.” Bermurah hati dan dewasa, begitulah Ruslan sedari dulu. Torro juga yakin bahwa temannya sedang merasa bersalah karena sudah menyeret salah satu pegawainya dalam masalah ini, memiliki tekanan dan tanggung jawab besar untuk menjaga Ranto tetap aman dan selamat. “RUSLAN KELUAR LO!” Para pria di luar kembali melontarkan makian, u*****n dan ancaman. “SAMPAI KAPAN LO MAU SEMBUNYI KAYAK PENGECUT BEGITU?” Ruslan berderap ke ruangan depan, melewati konter dan menendang gerbang dari dalam. “PERGI KALIAN SEMUA DARI SINI! ATAU GAK, BAKAL GUE PANGGIL POLISI!” Gebrakan dari arah luar makin keras dan menggebu-gebu, alhasil tubuh Ruslan terlonjak mundur. Gertakannya tak berhasil sama sekali, wajahnya makin menampakkan keputus asaan dan depresi. Torro tak menyalahkannya. Gerbang geser harganya jutaan jika sampai rusak dan harus diganti, ditambah dengan motornya yang kini jadi sasaran pelampiasan. Sebagai pecinta motor, Torro tak berani jika harus mengintip keluar untuk melihat seberapa parah siksaan yang harus ditanggung motor milik Ruslan dan Ranto. “KITA GAK AKAN PERGI SEBELUM LO HADEPIN KITA!” kata pria di luar, suaranya saja terdengar licik dan jahat. “INGET, LO DAN TEMEN LO ITU UDAH BIKIN SI FADLI MALU! LO HARUS TANGGUNG JAWAB!” Fadli. Mendengar nama itu disebut membuat fokus Torro teralihkan. Fadli … pria yang pernah tanding balapan dengannya beberapa minggu lalu dan kalah? Apa hubungannya dengan Torro dan masalah ini? Pertanyaan yang tak terjawab di benaknya makin banyak saja. Ruslan tak berkata apa-apa lagi, melainkan kembali ke ruangan belakang di mana satu orang pegawainya masih meringkuk di pojokan. Selain mengantuk, keduanya sudah sangat kelelahan dan patah semangat. Ranto memberi usul. “Bos, gimana kalau kita minta bantuan warga sekitar? Atau temen mungkin, yang bisa tolongin kita. Bengkel ini kan ada di dekat perumahan warga, gak mungkin gak ada yang dengar keributan di luar, kan?” “Kondisinya gak sesimpel itu.” Ruslan menghela napas. “Kalau gue minta bantuan temen-temen, mereka datang ke sini nantinya malah jadi tawuran, kondisinya makin parah. Warga sekitar, gue gak yakin mereka mau bantu.” Ia berjalan mondar-mandir di sekeliling ruangan dengan gelisah. “Di pertokoan sekitar sini harusnya ada orang yang pasti denger, tapi gak bakalan ada yang berani datang buat nenangin orang-orang di luar itu. Takut pastinya, mereka pada bawa s*****a begitu. Gak ada pilihan lain, Ran. Kita tunggu aja sampai mereka bosen sendiri.” Lantas Ruslan menjatuhkan dirinya terduduk di lantai, kembali mengusap wajah dengan perasaan stress yang membayangi. Torro yang sedari tadi mengamati hanya bisa berdiam diri. Ia ingin menolong sang teman, tapi dengan cara apa? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN