Pada sore hari, Puspa pergi lagi meninggalkan rumah untuk menjemput Anggi dari sekolah, baru kembali hampir satu jam setelahnya dengan gadis kecil itu yang melenggang masuk rumah dengan wajah kelelahan.
Torro sendiri sudah menunggu di kamar Anggi, mengintip dari balik tirai jendela ketika mobil yang dikendarai ibunya menepi. Sudah lama Torro menunggu di sana, mengingat tak ada lagi yang dapat dilakukannya karena Rendy masih dalam mode sedang tidak ingin diganggu. Mengamati motor rusaknya yang belum rampung diperbaiki kelamaan juga membuatnya bosan.
Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar, pintu berayun terbuka dan sosok Anggi berjalan masuk.
“Mas Torro!” serunya ceria, bersemangat. Berbeda sekali dengan Rendy yang mungkin bakalan kaget dan marah jika mendapati Torro tahu-tahu berada dalam kamar menunggunya.
Sungguh, Torro berusaha agar tak terlalu membesar-besarkan hal itu. Bagaimana pun juga sikap Rendy dapat dimaklumi karena tidak terbiasa dengan kehadiran sesosok hantu sebelumnya, berbeda dengan Anggi yang rupanya situasi semacam ini sudah sering dia dialami semenjak masih kecil.
“Halo, Dek,” Torro balik menyapa, tetap diam di tempat. “Gimana sekolahnya hari ini? Semuanya lancar?”
Anak perempuan itu menggeleng lesu, melempar ranselnya ke atas kasur yang jadi pemisah di antara mereka. “Ada ulangan mendadak pelajaran Matematika tadi, soalnya susah-susah semua.” Ia ikut menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas ranjang. “Mas Torro sendiri gimana? Seharian tadi cuman di rumah aja?”
Torro mengiyakan. “Temenin Rendy juga, dia bolos kuliah hari ini.”
Sebelum seseorang bisa berkata apa-apa lagi, terdengar suara ibu mereka berseru dari lantai bawah, “Anggi, cepet kamu ganti baju, kalau perlu mandi. Jangan lupa kerjain PR-nya kalau ada.”
Anggi hanya balik berseru, “Iya, Mah.”
Tak ada lagi yang berbicara. Torro yang belum bergerak sedikit pun ragu-ragu sesaat, apa dirinya harus menceritakan kedatangan ayahnya tadi siang pada Anggi? Termasuk rencananya memperbaiki motor? Kemudian Torro memutuskan mungkin ia tak perlu memberitahu gadis itu semua kabar terbaru. Hanya yang penting-penting saja. Toh Anggi sendiri tampaknya sudah dipusingkan dengan soal ulangan matematika mendadak yang disinggungnya tadi.
“Dek, tadi Papah sempat datang ke sini lho,” kata Torro.
Sontak mata adiknya berbinar. “Papah akhinya pulang?”
“Enggak pulang, cuman mampir sebentar.” Melihat muka Anggi yang muram, Torro buru-buru melanjutkan, “Tapi tadi Papah ngajakin Rendy sama kamu buat main ke tempatnya hari minggu nanti, itu juga kalau kamu mau.”
“Anggi mau,” sahut Anggi cepat. “Tapi emangnya Papah tinggal di mana sekarang?”
“Di penginapan. Tunggu aja, nanti Rendy yang datang sendiri nawarin ke kamu kok.”
Adik kecilnya mengangguk paham.
Lalu Torro bergerak mendekat, ia putuskan untuk langsung menuju inti pembahasan. Alasan sesungguhnya ia menanti-nanti Anggia tiba di rumah. “Omong-omong, tadi kamu ketemu sama Donovan enggak di sekolah?”
“Ketemu.” Anggi menelengkan kepalanya. “Emangnya kenapa?”
“Dia gak bilang apa-apa soal kemarin?”
“Oh iya.” Anggi tampak mendadak teringat sesuatu. “Iya tadi Kak Devan sempat nanyain kondisinya Mas Rendy. Anggi bilang aja kalau Mas Rendy baik-baik aja, dan udah bisa lihat Mas Torro sekarang. Terus kata Kak Devan, kalau sewaktu-waktu Mas Rendy gak tahan sama kondisinya itu, Kak Devan bersedia tutup mata batinnya lagi kapan pun Mas Rendy mau. Kak Devan suruh Anggi buat sampein itu ke Mas Rendy.”
“Jangan!” Torro cepat-cepat menimpali, kecemasan terbesarnya ternyata masih mungkin terjadi. Donovan langsung menawarkan diri. Sudah seharian ini Torro khawatir jika Rendy bakal berubah pikiran dan memutuskan untuk mendatangi Donovan. Jika sampai adik lelakinya mendengar tawaran ini sekarang juga, pertahanan Rendy pasti akan goyah. Laki-laki itu pasti diam-diam begitu mendambakan kehidupan normalnya kembali. Torro tak boleh membiarkan itu terjadi. “Dek, Mas minta sama kamu, jangan sampaikan itu ke Rendy ya?”
“Tapi ….” Anggi tampak ragu, ada tatapan menuduh di matanya.
“Pokoknya jangan.” Torro mencoba sabar, yang kadang kala sulit sekali dilakukannya. “Anggi, kalau Rendy ditawari buat menutup mata batinnya lagi. Mas takut dia bakal langsung terima, dan Mas sama dia gak akan bisa ngobrol lagi. Padahal kita punya rencana buat bikin Papah sama Mamah bersama lagi, kan?”
Ada sejumput rasa malu dan bersalah yang dirasakan Torro kala mengatakan semua itu, karena jauh di lubuk hatinya, ia ingin Rendy tetap bisa melihatnya agar Torro punya teman selagi menghabiskan sisa-sisa waktunya di dunia. Torro membutuhkan Rendy demi mencapai tujuan pribadinya sendiri. Egois khas Torro.
Mengenai rencana menyatukan kedua orang tuanya kembali? Torro kini tak seyakin awalnya, tapi alasan itu juga tak sepenuhnya berbohong. Ia masih berniat mencoba sekali pun peluang keberhasilannya teramat kecil.
“Tapi,” Anggi berkeras. “Kata Kak Devan gak bagus kalau mata batin Mas Rendy terbuka lama-lama. Bisa beresiko, nanti bisa-bisa Mas Rendy lihat … mahluk yang lain-lain juga.”
Kemungkinan itu membuat Torro agak ngeri. Kemungkinan melihat sesosok hantu lain yang bergentayangan di mana-mana? Rendy pasti akan langsung berubah pikiran jika sampai mendengarnya. Lalu jika resiko tersebut sampai kejadian … takkan berefek baik bagi kesehatan mental adik lelakinya.
“Nanti Mas yang sampein itu ke Rendy.” Torro setengah berbohong, setengah jujur. Nanti yang disebutkannya bisa saja malam ini atau beberapa minggu ke depan. “Untuk sekarang kasih kesempatan buat Rendy beradaptasi sama situasi ini ya? Mas janji gak akan coba nakut-nakutin dia.”
Anggi masih tampak akan mendebat---jelas peduli dengan kebaikan Rendy ke depan, tapi pada akhirnya mengangguk mengiyakan. “Oke,” katanya lalu beranjak turun dari ranjang. “Anggi mau mandi dulu.”
Torro pun meninggalkan adik perempuannya seorang diri, memberikan privasi.
Tujuan selanjutnya yang ia berusaha datangi? Kamar Rendy.
Sungguh, Torro sudah berusaha memenuhi permintaan Rendy untuk memberi tanda tiap kali dirinya akan memunculkan diri. Masalahnya Torro tak bisa mengetuk pintu begitu saja mengingat secara fisik ia tak bisa menyentuh benda-benda. Jadi, Torro melakukan satu-satunya hal yang masih ia bisa: berteriak.
“Rendy!” seru Torro lantang di depan pintu kamar adiknya. Ia tak yakin apa suaranya bisa terdengar sampai ke dalam, atau suara seseorang yang meninggal memiliki aturannya sendiri, semacam tetap terdengar menembus ruangan tertutup. “Ini gue Torro, gue boleh masuk?”
Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik berlalu, akhirnya terdengar Rendy berkata “Masuk aja.” dengan nada normal.
Sesudah Torro bergerak menembus pintu, segera ia temukan Rendy sedang memelototinya.
“Apa?” tanya Torro tak mengerti. “Gue udah nunjukkin tanda-tanda kalau gue bakal datang.”
“Suara lo tetap bikin gue kaget,” gerutu Rendy dengan wajah masam. Ia rupanya telah selesai mengerjakan tugas kuliah dan tengah asyik memainkan Plasytation. Permainan tembak menembak yang dimainkannya tampil di layar TV, sedang dalam mode pause.
“Terus gue harus ngasih tanda gimana lagi?” protes Torro. Walau demikian, ia masih bisa memahami ketakutan Rendy. Bayangkan jika kita sedang fokus dalam melakukan sesuatu, lalu suara seseorang memanggil, seseorang yang kita tahu telah meninggal dan jasanya sudah dikebumikan. Torro juga akan sama takutnya jika berada di posisi Rendy.
Adik lelakinya tak menanggapi, melainkan lanjut bermain dengan sumber hiburannya sendiri. Lantas Torro merasa agak sebal, adiknya ini begitu sibuk dengan dunianya sementara Torro harus kelimpungan dan kebingungan dalam kondisinya yang terjebak di dua dunia.
Lalu Torro berpikir, mungkin ini juga yang sering keluarganya rasakan. Ketika situasi di sini kacau dan memanas, Torro malah sibuk dan bersenang-senang dengan dunianya sendiri di luar sana.
Kesebalannya bertransformasi jadi rasa malu. Torro berusaha tak terlalu marah pada situasi ini. Dirinya bergerak menghampiri dengan tatapan yang tetap terpancang ke arah TV. “Anggi udah balik, Ren.”
Jemari Rendy sudah sibuk kembali dengan tombol-tombol di controller PS. “Terus?”
“Bukannya lo mau bahas ajakan dari Papah tadi ke dia?”
“Oh, soal itu. Nanti aja juga bisa, kan dia masih capek habis dari sekolah.”
Torro memberengut, menahan diri agar tak mengeluh. Lalu ia dengan perlahan duduk di samping Rendy. Seperti biasa, tak ada sensasi kulit menyentuh lapisan karpet. Torro sudah terbiasa dengan keadaan ini, mengingat dirinya sudah tak lagi memiliki raga.
Raga yang dulu digunakanya sudah terkubur di luar sana, membusuk, barangkali sedang digerogoti ulat, bakteri dan---
Oke, cukup. Sudah. Berhenti. Torro tak tahan membayangkan itu lebih jauh.
Di sampingnya hidung Rendy mengernyit seolah tengah mencium bau tertentu. “Pernah gak gue bilang kalau setiap lo datang idung gue mencium aroma bunga? Melati, kantil, seroja … gue kira cuman kedatangan kuntilanak doang yang tanda-tandanya kayak begitu.”
Torro memandanginya, tak yakin apa adiknya itu tengah bercanda atau tidak. Jika tidak bercanda, Torro merasa beruntung bahwa bau pertanda kehadirannya tak seperti aroma mayat yang membusuk. “Lo pernah lihat kuntilanak sebelumnya?”
“Enggak, belum pernah. Semoga gak akan pernah. Amit-amit. Gue cuman tahu itu dari film horor lokal.”
Suarannya terkesan setengah berkelakar, tapi setengah serius juga. Torro jadi penasaran melihat reaksi adiknya jika tahu efek dari membuka mata batinnya itu lama-lama. Peluang melihat hantu sejenis kuntilanak sungguhan pasti besar adanya.
“Lo sering nonton film begituan,” ujar Torro menimbang-nimbang. “Tapi lo gak berani lihat yang asli?”
Rendy menoleh padanya sekilas, hanya sepersekian detik agar karakter game yang sedang dimainkannya tak sampai mati. “Udah jelas. Ada perbedaan besar antara lihat mereka buat sekedar bahan tontonan dan lihat langsung aslinya. Udah cukup lo aja hantu yang bisa gue lihat.”
“Secara teknik gue bukan hantu,” ucap Torro mengoreksi. “Gue ini jiwa yang baru aja meninggal. Bakal berkeliaran di sekitar keluarga gue selama empat puluh hari, kayak yang Mamah bilang beberapa malam lalu.”
Lipatan kulit samar muncul di dahi Rendy. “Lo percaya soal itu?”
“Gak ada alasan buat gak percaya. Gue yakin gak bakal berkeliaran di sini selamanya.”
Kini Rendy menatapnya lebih lama. Torro menemukan sejumput kesedihan di matanya, yang membuat dirinya merasa agak berpuas diri. Torro berasumsi bahwa Rendy sedih mengetahui pada akhinya perpisahan yang permanen itu ada. Adiknya tampak sedang berpikir keras tentang sesuatu, sesuatu yang masih ragu untuk dikatakannya atau tidak.
Pada akhirnya, Rendy malah menoleh kembali ke layar televisi. Bersikap seolah tak peduli. “Hantu … roh orang baru meninggal … buat gue gak ada bedanya.”
Mulut Torro mengembangkan senyum, karena ia tahu bahwa aslinya Rendy benar-benar peduli. Tak ada alasan bagus untuk menggodanya lebih jauh, jadi Torro memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan.
“Ruslan kira-kira kapan bakal datang lagi ke sini ya?” Torro bertanya. “Apa lo udah terima pesan SMS dari dia atau apa?”
Rendy memutar bola matanya. “Dia baru pulang dari sini beberapa jam lalu, sabar aja. Tapi Bang Ruslan udah ngirim gue pesan w******p, ngasih tahu alamat rumah dan bengkel miliknya. Katanya gue boleh datang ke sana kalau mau.”
“Kapan lo bakal ke sana?” Torro jadi bersemangat. “Gue mau ikut. Gimana kalau besok aja sepulang lo dari kampus?”
“Gak mau,” sergah Rendy cepat. “Gue belum ada rencana main ke sana. Lagian buat apa? Dan gue gak mau lo kuntitin terus ke mana-mana. Besok gue kuliah lo gak boleh ikut.”
Torro hendak memprotes, mengeluh, merengek atau apalah, tapi Rendy melanjutkan berucap, “Kalau lo emang mau ke sana, kenapa gak pergi sendiri aja? Lo tahu pasti alamatnya---udah sering ke sana juga pas masih hidup, dan hantu gak mungkin bisa capek gara-gara jalan kaki, kan? Atau kan bisa lo numpang ke kendaraan orang, toh gak akan ditagih ongkosnya. Kalau lo bisa berteleportasi gitu aja malah lebih bagus lagi.”
Racauan adiknya mulai kabur dan memasuki ranah fantasi yang mengada-ngada, tapi Torro benar-benar tertarik pada gagasannya. Pergi sendirian ke suatu tempat, tempat apa pun yang diinginkannya, bisa berjalan kaki atau menumpang kendaraan yang lewat. Sepertinya itu ide menarik. Torro semenjak eksistensinya sebagai roh, ia tak pernah pergi jauh-jauh sendirian, yang terjauh cuman daerah jalanan komplek perumahan, atau sekolahan Anggi tempo hari.
Mungkin sudah saatnya ia menggunakan kesempatannya berkeliaran dalam bentuk mahluk tak kasat mata, yang sudah tak terikat lagi dengan aturan dunia. Dibenaknya Torro mulai membangun rencana perjalanan … nanti malam. Ketika seisi rumah ini tertidur dan ia merasa kesepian lagi, dirinya bisa pergi lebih jauh menyambangi Ruslan, dan mungkin beberapa teman lain.
“Lo beneran gak bisa berteleportasi, kan?” Rendy lanjut bertanya. Harapan untuk mendengar jawaban ‘ya’ benar-benar ada di sana.
Alhasil Torro memberengut. Adiknya itu memiliki khayalan yang sangat tinggi untuk pemuda seusianya. “Serius? Ren, lo masih harus bertanya soal itu?”
Rendy mendesah kecewa, lantas memalingkan muka kembali ke permainan yang digelutinya.
***