35. Tenggelam Dalam Kesendirian

1639 Kata
Garasi bukanlah ruangan yang langsung dituju Torro selepas pergi dari kamar Rendy. Memang, menemani motor kesayangannya adalah kegiatan favoritnya dalam menikmati kesendirian, melewati wakti-waktu sepi malam hari, tapi kini Torro tak sedang berminat melakukannya. Mula-mula Torro mendatangi kamar Anggi, lantas menemukan gadis kecil itu sudah tertidur. Maka Torro membatalkan niatan untuk berbicara dengan adik kecilnya, kesempatan untuk mengobrol lagi dengan seseorang praktis tak ada. Hanya kedua adiknya yang bisa melihat dan mendengar dirinya. Ia pun melirik jam terdekat---pukul setengah satu pagi---dan menggerutu dalam hati. Sudah lewat tengah malam, jelas saja anak perempuan itu sudah terlelap. Lalu, Torro iseng menyambangi kamar Puspa ibu tirinya di lantai bawah. Tak ada niatan khusus, sebatas hendak mengecek keadaan kalau-kalau ada yang tak beres. Dalam hati Torro menyangka akan menemukan kasus yang sama, yakni sang pemilik kamar yang telah bergelung nyaman di balik selimut … ternyata tidak. Bahkan sebelum kakinya mendekati pintu kamar orang tuanya, ia sudah mendengar suara teredam ibunya di dalam. Mengobrol dengan seseorang. Pasti lewat sambungan telepon, pikir Torro berlogika, karena tak ada siapa-siapa lagi di rumah ini yang bisa diajak bicara ibunya secara langsung. Selama beberapa detik Torro ragu di depan pintu. Masuk tidak ya? Dirinya takut jika nekat menembus masuk ke dalam, ia akan melihat ibunya sedang dalam kondisi yang tak boleh dilihat sia pun. Torro kan bukan penguntit, ia tak ingin melanggar privasi ibu tirinya. Namun, suara yang teredam itu kedengarannya amat penting dan mengundang tanda tanya. Sudah dini hari sekarang, jika Puspa sampai harus menelepon seseorang selarut ini, Torro menduga apa yang tengah dibicarakan pastilah teramat darurat dan mendesak. Pada akhinya rasa penasaran Torro menang. Dalam gerakan lembut tapi pasti, tubuhnya yang tak berbobot berhasil dengan mulus menembus dinding semen. Sedetik kemudian Torro sudah ada di dalam, matanya jelalatan melirik sekitar. Hal yang pertama dipikirkannya saat menilai situasi adalah: keadaannya ternyata tak begitu darurat. Pikirannya saja yang terlalu paranoid tadi. Ibu tirinya ada di atas kasur, dalam balutan piyama tidur bermotif bunga-bunga. Wanita itu tak sedang memakai kain hijab yang biasanya menutupi sebagian kepalanya, rambut hitam keringnya tampak sepanjang bahu dan dibiarkan terurai begitu saja. Puspa duduk bersandar pada kepala ranjang dengan selimut kuning kenari yang menutup hingga pinggang, satu tangannya tengah menempelkan ponsel ke telinga kiri, tangan lainnya yang bebas tengah mengusap-usap lutut. Jujur saja, Torro jarang melihat penampilan ibu tirinya dalam kondisi sesantai begini. Biasanya Torro melihat wanita itu sudah tampil dengan pakaian tertutup bahkan saat berada di rumah sekali pun. Atau mungkin wanita itu pernah tampil tanpa kerudung di rumah, hanya saja Torro sedang tak berada di sini untuk menyaksikannya---yang sering sekali terjadi. Intinya, Torro terpana melihat betapa letih dan lesunya wanita itu. Rambutnya sudah dihiasi helai-helai uban, alhasil Puspa terlihat lebih tua jika tak menggunakan jilbab. Kulit wajahnya pucat, kantung matanya agak hitam dan tebal, pertanda bahwa beliau kurang mendapatkan kualitas tidur yang bagus akhir-akhir ini. “---tapi tetap aja, Renata,” Puspa berkata dengan lirih pada piranti pintar yang melekat di kupingnya. “Kamu gak punya hak untuk ngasih tahu kasus itu ke Rendy. Akan ada waktunya aku sendiri yang memberitahunya, bukan dengan begini caranya.” Sekejap saja Torro langsung memahami apa yang tengah diobrolkan. Puspa tengah menelepon seorang teman, yang Rendy tadi sebut sebagai Tante Renata, ibu salah satu teman dekat Anggi di sekolah, sekaligus wanita yang telah memberitahu Rendy mengenai kejadian KDRT yang pernah terjadi di keluarganya. Dari nada suara Puspa, ibu sambung Torro ini tengah protes, komplain karena Renata telah membongkar rahasia pada Rendy. Suaranya setengah kesal, juga setengah bosan, seolah ini bukan kali pertama sang teman bertindak lebih jauh dari yang diizinkannya. Suasana di rumah begitu sunyi dan sepi sampai Torro samar-samar dapat mendengar suara balasan dari ponsel. “Maaf, maaf,” kata Renata, suaranya setengah mengantuk. “Aku gak tahu kalau efeknya bakal separah itu. Niatku hanya memberi putramu gambaran luas soal keadaan rumah tangga orang tuanya, Puspa. Rendy udah dewasa, dia berhak tahu yang sebenarnya.” Dari mendengar suaranya saja, Torro dapat menebak bahwa Renata ini tipe teman yang suka ikut campur, Anehnya, Torro suka pada hal itu. Dirinya mendukung apa yang telah dilakukan Renata, juga setuju dengan perkataannya. Rendy berhak tahu. Puspa tak seharusnya menutupi perkara sepenting ini pada anak-anaknya. “Dia belum paham betul permasalahannya,” Puspa mendebat, setelah menghela napas lambat-lambat. “Dia belum siap untuk tahu. Kabar dari kamu ini bikin dia pesimis dan murung, malah jadi mendukung proses perceraian. Aku … aku rasanya gak tahan melihat itu, apalagi Rendy kayaknya terus kepikiran sampai sempat sakit kepala tadi. Entahlah … sepertinya aku mau mohon-mohon aja sama ayah mereka buat membatalkan perceraian---demi anak-anak.” “Eh, jangan begitu!” protes Renata tajam. “Aku tahu prosesnya berat dan menyakitkan. Tapi kamu harus tegar, Puspa! Untuk apa memaksa bertahan di pernikahan yang kamu gak nyaman menjalaninya? Sekali ini, kesampingkan dulu keinginanmu berkorban demi kebahagiaan anak-anak. Kamu harus pastikan diri kamu sendiri bahagia. Anak-anak kamu, mereka pasti akan mengerti nantinya.” Puspa mengeluarkan suara yang terdengar seperti tercekik, dan sedetik kemudian Torro tersadar: ibu tirinya tengah menahan isakan. Pedih rasanya melihat wanita itu begitu merana dan bimbang. Torro bertanya-tanya apa pernikahan yang wanita ini jalani dengan ayahnya telah menyiksanya sampai seberat ini? “Kamu gak paham,” kata Puspa di antara isakan. “Bagiku hanya kebahagiaan Rendy dan Anggi yang terpenting. Kalau saja Roy mau sedikit mendengarkan---” “Jangan katakan itu,” Renata memperingatkan, ada kecemasan dan kepedulian yang nyata dalam suaranya. “Laki-laki seperti Roy atau Vincent---ayahnya Mischa, mereka hanya akan makin besar kepala kalau kita menunjukkan kelemahan. Mereka takkan paham atau bahkan mau mencoba memahami apa pun keluh kesah kita. Percayalah, Puspa. Aku pernah ada di posisi kamu, menjalani proses perceraian yang terasa berat dan melelahkan. Laki-laki macam mereka memang perlu didepak dari kehidupan kita.” Wow, Torro membatin. Lama-lama ia makin penasaran terhadap sosok Renata ini. Seharusnya saat mengobrol dengan Rendy tadi dirinya menanyakan lebih jauh tentang profil Renata. Dari yang dapat Torro tangkap, Renata juga pernah melalui proses perceraian, artinya dia seorang ibu tunggal. Torro ingin tahu, seberapa kenalkah Renata dengan ayahnya sampai wanita itu berani menyamakan dengan Vincent---sosok mantan suaminya? Perasaan Torro diliputi kesedihan, tapi juga ada rasa heran yang mendalam. Kondisi tiap anggota keluarganya ternyata jauh lebih rumit dan kompleks dari yang selama ini Torro kira. Seperti bagaimana ternyata Rendy belum bisa mengendarai motor atau mobil, Anggi yang memiliki bakat istimewa, sisi rapuh ibu tirinya, lalu sekarang: sisi gelap ayahnya yang mulai Torro kenali. Fakta-fakta mengejutkan terus saja bermunculan. Tak pelak hatinya bertanya-tanya, kejutan apa lagi yang akan ditemuinya nanti? Suasana hening sesaat, dan Puspa masih mengatur napas agar berhenti terisak. Lalu dari seberang panggilan, Renata mendesah. “Mischa kebangun. Dia kayaknya mimpi buruk lagi, atau kangen berat sama Papah-nya. Kamu gak apa-apa teleponnya aku akhiri dulu?” “Ya,” Puspa dengan serak menjawab. “Lagian ini udah malam. Akan aku hubungi kamu lain waktu.” “Jangan sungkan. Hubungi aku kapan pun kamu butuh pendengar. Sekali lagi, Puspa, aku minta maaf karena udah ngasih tahu Rendy soal kasus KDRT itu. Semoga putramu baik-baik aja.” Puspa langsung menekan sebuah tombol dan terputuslah sambungan telepon tersebut. Ia meletakkan ponselnya ke balik bantal, lalu mulai terisak-isak lagi. Kini Torro benar-benar merasa seperti penguntit. Apa yang dilakukannya dengan masih tetap di sini? Ibunya membutuhkan privasi, waktu untuk bersedih sendirian. Namun, Torro merasa dorongan kuat untuk tinggal, sekedar menemaninya. Ia ingin menghibur Puspa, tapi tak tahu dengan cara apa. Tepat sebelum Torro hendak memutuskan untuk meninggalkan kamar, di antara isakannya, Puspa berkata, “Maafkan aku … Sumirah.” Jelas saja Torro kebingungan, juga kaget. Tak menyangka nama ibu kandungnya akan diucapkan oleh ibu tirinya, terutama dengan nada suara yang begitu penuh penyesalan. Kenapa Puspa harus minta maaf? Apa yang telah Puspa lakukan sampai menyangka membuat ibu kandungnya yang telah meninggal belasan tahun lalu marah dan kecewa? Rasa penasaran yang terbesar adalah, Puspa ternyata mengenal Sumirah ibu kandung Torro semasa masih hidup? Torro tak pernah mempertimbangkan bahwa kedua wanita itu saling kenal sebelumnya. Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, tentu saja kenyataan itu tak begitu mengherankan. Usia Puspa dan Sumirah tak terpaut begitu jauh, pastilah pada satu momen dalam hidup mereka saling mengenal. Kesemua itu tetap tak menjawab rasa penasaran Torro, mengapa Puspa harus meminta maaf pada Sumirah? Hati Torro dipenuhi tanya selagi ia melangkah ke luar kamar. Layaknya hantu gentayangan, arwah penasaran atau apalah sebutannya, Torro menghabiskan banyak waktu dengan lagi-lagi berkeliling rumah. Berkunjung dari satu ruangan ke ruangan lain. Sesekali ia mengintip ke tiga kamar yang berbeda, mengamati sejenak ketiga penghuni kamar tersebut nyaman dalam ketidak sadaran mereka. Puspa, Rendy dan Anggi---mereka bisa saja kini tengah bermimpi berlibur ke Hawaii atau pulau tropis mana saja di planet ini, meninggalkan Torro di sini sendirian. Pemikiran itu membuat Torro makin kesepian, dan tak tahan jika harus diam di tempat dalam waktu yang lama. Ke mana hantu yang lain? Torro kembali menemukan dirinya bertanya-tanya. Alam gaib yang kini ditinggalinya pasti tak sesepi ini, kan? Pasti ada mahluk lain, entitas lain yang bisa menemaninya dan mengajaknya bicara. Ke mana mereka? Mengapa tak ada satu pun yang berniat menyapa Torro? Dirinya seolah terisolasi dari kedua alam, tak menemukan tempat yang tepat di mana jiwanya kini harus bersemayam. Berjam-jam lamanya ia habiskan keluyuran tanpa arah. Tak hanya di seputar rumah, tapi juga sampai ke luar---area jalanan kompleks yang sunyi, sesekali sebuah roda penjual makanan melintas lewat, tapi tak ada satu pun dari penjualnya yang bisa melihat mahluk gaib. Torro bahkan mencoba mendekati pohon yang konon katanya angker---Torro mendengar desas-desusnya ketika masih hidup dulu---dan ia tetap tak menemukan apa-apa. Pada akhinya, menjelang subuh, Torro kembali berakhir di ruang garasi. Jemu menatap bongkahan motornya yang tercerai berai. Barangkali karena tepat saat mengendarai motor inilah Torro meregang nyawa, dirinya menemukan semacam ikatan kuat dengan kuda besi rusak ini. Sebuah monumen penghormatan akan kecelakaan yang tragis, sekaligus pengingat menyakitkan bahwa kehidupan bagi seorang Mahardika Rusdiantorro telah berakhir. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN