34. Serbuan Rasa Penasaran

1420 Kata
Torro telah mengalami banyak hal seharian ini, dan pernyataan Rendy untuk setuju membantu, dalam mencoba mempersatukan kedua orang tuanya kembali adalah kejadian terbaik. Sungguh, bahkan bagi sesosok jiwa berkeliaran tanpa tubuh seperti dirinya sekali pun hari berjalan begitu berat. Pagi tadi, ia harus rela merendahkan diri dan memohon-mohon pada Donovan untuk membantu, lalu mencoba meyakinkan Rendy untuk membuka mata batinnya saat sore. Malamnya, Torro harus berhadapan dengan rasa ngeri Rendy kala lelaki itu telah mampu melihat sosoknya---meski syukurlah dirinya berhasil tak membuat Rendy menjerit ketakutan lagi sampai detik ini. Namun, momen terberat hari ini adalah kala dirinya harus mendengar cerita Rendy saat di meja makan tadi: kasus KDRT yang pernah dilakukan ayahnya. Torro ingin tak mempercayanya, berharap bahwa pengakuan adiknya keliru. Mungkin si cewek yang disebut Tante Renata itu hanya mengada-ngada, Torro harap begitu. Harapannya jelas hancur total saat melihat Puspa ibu tirinya membenarkan. Benak Torro pun dipenuhi tanya: kapan? Bagaimana bisa? Seberapa sering? Seberapa parah? Pertanyaan yang paling besarnya adalah, bagaimana mungkin ayahnya tega melakukan hal itu? Oke, pria tua itu mungkin emang agak tempramen, batin Torro menimpali. Kalau sedang marah, ayahnya akan terkesan sangat buas dan kejam. Seperti ketika dulu Torro berulah menghajar Marvel sampai pingsan, ayahnya murka luar biasa sampai-sampai Torro mengira ia akan dijatuhi hukuman mati. Meski kenyataannya begitu, terasa tetap aneh memikirkan bahwa ayahnya melukai ibu tirinya secara fisik, entah sengaja atau tidak. Roy Rahmadi adalah pria yang sangat mencintai ibu sambung Torro sejak dulu, selalu memperlakukan wanita itu sebaik dan selembut mungkin, melimpahinya dengan perhatian dan kasih sayang. Bertahun-tahun telah berlalu semenjak momen-momen romatis itu terjadi, Torro bertanya-tanya apa memang sifat ayahnya telah banyak berubah? Apa pun jawabannya, itu takkan mengubah kenyataan bahwa dengan mengetahui pernah adanya k*******n fisik dalam hubungan berumah tangga orang tuanya, Torro ikutan pesimis rencana untuk mempersatukan kembali suami-istri tersebut bakalan berhasil. Malahan, Torro mulai paham kenapa Rendy bisa bersikap pahit dan mendukung proses perceriaian. Memaklumi kegetirannya malah. Puspa sekedar ibu tiri bagi Torro, tapi hatinya merasa sakit mendengar kabar itu. Tak terbayang remuk redamnya hati Rendy … apalagi Anggi kalau sampai gadis kecil itu tahu. Hubungan yang hanya berefek saling menyakiti pada satu sama lain, seharusnya diakhiri dengan cepat. Bukan begitu? Hanya saja … Torro telah berkata pada Anggi akan mencoba mengakurkan kembali ayah dan ibunya, dan Torro tahu Rendy telah menjanjikan hal yang sama. (Diam-diam Torro telah menguping perbincangan Rendy dan Anggi di kamar tadi, sekaligus mengamati kesenangan yang terjadi di meja makan setelahnya. Torro memutuskan tak menampakkan dirinya, sengaja agar memberi ketiga orang itu momen bersama. Lagi pula, sikap Rendy selalu tegang tiap kali tahu hantu Torro ada di sekitar.) Setelah Rendy menyatakan setuju untuk membantu pada rencana apa pun yang Torro nanti usulkan, kedua orang bersaudara beda ibu tersebut mengobrolkan lebih banyak hal. Kali ini giliran Torro yang ingin mengetahui setiap peristiwa setelah ia meninggal---atau lebih tepatnya selepas jasadnya dikebumikan. Banyak info mengejutkan yang didapat Torro, seperti identitas pria pemotor lain yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas yang juga menewaskan Torro. “Almarhum laki-laki beristri dan beranak dua---anak kembar,” kata Rendy sendu, seolah yang diceritakannya memang sosok yang ia kenal. “Gue pernah ketemu sama mereka, istri almarhum namanya Kania, kita sekeluarga datang berkunjung ke rumahnya sehari setelah pemakaman, ngutarain perasaan duka. Mamah sama Papah yang minta maaf langsung, soalnya … yah, kecelakaan itu terjadi penyebabnya terutama karena lo yang setengah mabuk. Akhirnya malah berimbas bikin orang lain ikutan meninggal .” Torro tak merespon, ia malah diam seribu bahasa. Perasaan bersalah menggerogoti hatinya. Ia membayangkan sang pria korban lain ini bergentayangan sebagai hantu sekarang, berada di sekitar istri dan anak-anaknya selama empat puluh hari awal kematian. Bagaimana perasaan pria itu? Apa dia segundah Torro kini? Jika bertemu, apa pria itu akan marah pada Torro---atau bahkan menyadari salahnyalah kecelakaan itu terjadi dan ikut menyeretnya meregang nyawa? Tak ada yang tahu jawabannya, tapi Torro berharap ia takkan pernah bertemu arwah pria itu. Lalu Rendy juga bercerita tentang kekeras kepalaan ayahnya yang tetap melanjutkan proses perceraian meski Torro baru meninggal (Torro sebal bukan main karenanya), pertengkaran yang terjadi, keluh kesah Anggi, termasuk seorang sahabat karib Torro yang sesekali datang berkunjung. “Ruslan?” tanya Torro menyeringai, antusiasmenya terpancing karena memikirkan sahabat terdekatnya. “Dia sering datang ke sini?” Bahu adik lelakinya mengedik. “Awalnya, ya. Dia bantu proses pemakaman dari awal sampai akhir, kayaknya bener-bener sedih lo meninggal. Gue bahkan sempat lihat dia nangis, persahabatan kalian kental banget kayaknya.” “Banget.” Torro membenarkan, perasaan rindu dan nostalgia melanda dirinya. Ruslan sebenarnya bukan temen sekolah Torro, mereka bisa bersahabat karena punya hobi yang sama: suka dengan otomotif, tergabung dengan komunitas pecinta motor gede yang sama---dari sanalah keduanya berkenalan. Bertahun-tahun Torro menggandrungi dunia malam ibu kota, Ruslan-lah yang memperkenalkannya pertama kali. “Kira-kira kapan dia bakal berkunjung ke sini lagi?” Bibir Rendy sontak mengerucut. “Gue gak yakin dia bakal mampir lagi. Kunjungan terakhir dia ke sini … Papah gak begitu menyambut baik kedatangannya.” “Kenapa?” “Ya … Papah ngira Ruslan itu bawa pengaruh buruk. Lo sering minum-minum di bar, main ke diskotik, ikutan balap liar dan semacamnya. Papah yakin Ruslan penyebab lo bisa suka semua itu, juga nyalahin dia … sampai lo … kayak begini.” Rendy melambaikan tangannya tanpa daya pada hantu Torro. “Ngawur,” geram Torro kesal. “Nasib gue begini sepenuhnya gara-gara gue sendiri. Bukan salah siapa-siapa.” Begitu khas sikap ayahnya, pikir Torro membatin. Menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada hidup Torro. Menyemburkan amarahnya pada orang-orang yang tidak tepat. Bukankah semakin tua umur seseorang, harusnya makin bijak juga cara berpikirnya? Kenapa ayahnya malah menunjukkan standa-tanda sebaliknya?” Rendy mengembuskan napas lelah, lalu menguap lebar. “Yah, Papah gak peduli soal itu. Dia cuman butuh seseorang yang bisa disalahkan, lo tahu sendiri gimana tabiat beliau. Yang pasti, Ruslan udah gak pernah ke sini lagi sejak ‘diusir’ waktu itu.” “Lo gak pernah coba hubungin dia? Tanya kabar begitu?” “Buat apa?” tanya Rendy tak mengerti. “Dia temen lo, bukan temen gue.” Bibir Torro hendak mengucap protes, tapi ia putuskan menelan kata-kata itu kembali. Yang Rendy katakan memang benar. Ruslan---sahabat terbaiknya---dan Rendy---adik lelakinya---jarang sekali bertegur sapa, bertemu atau berkenalan secara resmi. Kurang lebih, orang yang bisa menjadi teman Torro pasti takkan bisa bergaul dengan Rendy yang sosoknya begitu lurus dan tak pernah neko-neko. Hanya saja, Torro tak bisa mengenyahkan keinginannya: yakni agar motor rusaknya yang teronggok di ruang garasi dapat dibetulkan kembali. Ruslan adalah mekanik yang tepat untuk melakukannya, karena cowok itu punya kemampuan dan sumber daya yang mumpuni. Lagi pula, Ruslan tahu betul tipe motor seperti apa yang dimiliki Torro itu. Dia pasti tak segan untuk membantu jika Torro---atau seseorang, Rendy misalnya---memintanya bantuan. Mengingat keadaannya sekarang, keinginan itu terkesan konyol dan tak ada gunanya. Torro toh tak dapat memegang kendaraan itu, apalagi mengendarainya dalam kecepatan tinggi di jalanan Ibu Kota layaknya masa lalu. Mereparasi kuda besi rusak tersebut takkan mengubah apa-apa. Ketika Rendy sudah terlihat kelelahan, Torro akhinya memilih untuk mengakhiri obrolan---untuk hari ini, setidaknya. Torro membiarkan Rendy sendirian untuk tertidur, tapi sebelum meninggalkan kamar, Torro berkata, “Ren, boleh gue minta satu hal?” Tatapan mata adiknya jadi awas dan siaga. “Apa yang lo minta?” Torro menatapnya. “Tolong jangan datangi Donovan buat minta ditutup lagi mata batin lo, please. Gue … gue bahagia bisa bicara lagi sama lo. Masih banyak hal yang pengen gue obrolin. Bertahan aja buat beberapa waktu sama keadaan ini sampai … sampai waktu gue buat berada di dunia ini bener-bener habis.” Pandangan mata Rendy berubah lembut---atau barangkali hanya melemas karena menahan kantuk. “Bakal gue coba. Tapi lo harus janji jangan muncul tiba-tiba dan ngagetin gue! Jangan bertingkah sok nyeremin. Kasih tanda-tanda kalau mau nyamperin gue, ketuk pintu misalnya.” Seringai lebar terbit di mulut Torro. “Gue janji. Bakal gue usahain, tapi … gue gak bisa ngetuk pintu, lo tahu itu, kan?” Mata Rendy menyipit. “Seenggaknya nyapa dulu kalau mau datang.” “Oke, oke,” Torro mengalah. Mengingat kesabaran Rendy yang terbilang tak bisa ditebak batasya, tak bagus bagi Torro jika menggodai anak ini terus-terusan. “Gue gak bakalan nakut-nakutin lo.” Tubuh Torro mulai menembus dinding. “Tunggu,” kata Rendy kemudian, alhasil Torro membalikan badannya. “Apa aja yang lo lakuin biasanya kalau sendirian malam-malam begini? Hantu … maksudnya, lo gak mungkin tidur di kamar, kan?” “Gue gak pernah tidur,” jawab Torro mengakui. “Biasanya gue diam di garasi semalaman sampai pagi. Nemenin motor gue yang rusak.” “Oh.” Rendy pura-pura mengerti. Penjelasan dari Torro tak begitu mencerahkan, tapi Rendy tak menanyakannya lebih lanjut. Setelah melemparkan seulas senyum terakhir pada adik lelakinya, Torro pun menghilang ke balik dinding kamar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN