47. Tak Mau Banyak Tahu

2028 Kata
Hari Rendy sebenarnya diawali dengan cukup normal. Dirinya terbangun di atas ranjang yang empuk---seperti biasa, serta merasa bersyukur bahwa ia masih hidup dan telah mendapat kualitas tidur yang cukup baik---kemudian berdoa. Setelah kesadarannya terkumpul penuh Rendy menuju kamar mandi guna membilas tubuhnya dalam persiapan berangkat kuliah. Sekeluarnya ia dari kamar mandi, Torro sedang menunggu. Rendy belum terbiasa dengan kemunculan sang almarhum yang selalu tiba-tiba. Dan dari sanalah keadaan mulai tak mengenakkan hati baginya. Tepat setelah perdebatan usai dan Rendy meninggalkan Torro seorang diri di kamarnya. Selama berkegiatan di kampus Rendy jadi tak bisa fokus. Ia masih mampu menyerap materi yang diberi dosen, tapi pikirannya bercabang. Otaknya terus mengulang percakapan yang ia lakukan dengan Torro tadi sebelum berangkat. Lantas hatinya menanggung perasaan bersalah. Tak peduli seberapa menjengkelkannya Torro, atau seberapa sering kakaknya itu membuat ulah, Rendy tak seharusnya berkata sekasar tadi. Torro tampak peduli dengan masalah yang dibicarakannya, tulus ingin membantu Ruslan, sebagai seorang adik, Rendy harus menunjukkan dukungan. Bukan begitu? Dalam sudut pandang mana pun, Rendy tahu sikapnya sudah kelewat batas. Dirinya tahu Torro tak berbohong soal sepatah kata pun---karena untuk apa saudaranya tersebut mengarang cerita? Jika Ruslan memang berada dalam masalah gawat, dan itu ada hubungannya dengan ulah yang dibuat mendiang kakaknya saat masih hidup … Rendy merasa sedikit berkewajiban untuk membantu. Tadi pagi sesampainya di kampus, Rendy telah mencoba menghubungi Ruslan lewat pesan singkat. Sekedar bertanya kabar agar tak menimbulkan kecurigaan, tapi kalau dipikir-pikir tetap terasa aneh karena dirinya baru bertemu Ruslan kemarin. Pesan yang dikirim itu tak kunjung mendapat balasan hingga kegiatan perkuliahan Rendy usai, alhasil membuat perasaannya kalut. Rendy jadi terpikir akan alamat bengkel yang Ruslan kirimkan kemarin padanya. Ia bimbang sejenak, dan akhirnya memutuskan mungkin ada baiknya dirinya mengecek ke sana. Sekedar memastikan bahwa Ruslan ada dan dalam kondisi sehat. Untuk pergi ke sana, Rendy menumpang motor Effendi teman kuliahnya, yang memang tepat waktu orangnya menawarkan pada Rendy mengantar pulang sampai ke rumah. “Gue anterin lo pulang lagi deh,” kata Effendi sembari mengulurkan helm di depan gedung kampus. “Dari pada lo kelamaan nunggu ojek jempuitan, gue lagi mau ngelewatin daerah perumahan lo soalnya.” Rendy tahan agar tak langsung menerimanya. “Main futsal lagi?” “Yo’i, lo kalau mau gabung boleh aja, Ren.” “Ah.” Rendy tersenyum menyesal. “Gue lagi gak selera ikut main, lagian gue gak mau langsung pulang ke rumah. Mau nyimpang ke suatu tempat dulu.” “Ke mana?” Effenti bertanya, lantas Rendy memberitahukan alamat bengkel Ruslan. Sang teman pun menimbang-nimbang. “Gak melenceng begitu jauh dari arena futsal, kalau lo masih mau?” Ia menyodorkan helmnya lebih dekat lagi ke d**a Rendy. “Oke kalau lo gak keberatan,” Rendy menyahut senang lalu meraih helm itu dan naik ke jok belakang. “Kalau lo mau pasang tarif boleh aja, Bro. Bakal gue bayar.” Effendi hanya tergelak dan melajukan motornya. Tempat yang dituju ternyata cukup jauh dari lokasi perumahan tempat Rendy tinggal. Ia jadi takjub sendiri, mendiang kakaknya semalam menempuh perjalanan sejauh ini dengan berjalan kaki? Membayangkan berjalan kaki dengan jarak tempuh sebegitu jauh membuat Rendy iba, meski tak ada gunanya karena toh Torro tak mungkin merasa capek---pria itu hanya sesosok hantu. Sesampainya di sana, Rendy temukan bahwa bengkel itu dalam keadaan tutup. Rendy tahu tempat itu adalah sebuah bengkel berkat plang nama dan spanduk iklan berbagai merek oli mesin yang tergantung di langit-langit, serta tanah tak rata di depannya menghitam akibat oli yang sering tertumpah. Sedangkan gerbang besi berwarna hijau-putih-pucat tertutup rapat. “Ini tempat yang lo mau datangin?” tanya Effendi setelah menepikan motor. “Bengkel motor?” “Iya. Ini bengkel milik teman dari mendiang kakak gue. Ternyata tutup.” Rendy turun dari motor dan berjalan mondar mandir di depan gerbang. Menurut penuturan Torro tadi pagi, tepat di sinilah semalam sekolompok pemuda pembuat onar menciptakan keributan dengan cara berteriak, menyumpah, memaki dan memukuli gerbang dengan sebuah balok kayu. Sejauh pengamatan dirinya, tempat itu memang terasa kacau. Beberapa titik gerbang tampak penyok dan berbonjol. Ada sebuah balok kayu yang diletakkan di sudut halaman parkir, bersama dengan kepingan kaca pecah. Tampaknya tempat ini memang baru saja menjadi ajang kerusuhan. Hati Rendy makin kalut memikirkan kemungkinan keadaan Ruslan. Tepat saat itulah ponselnya berbunyi. Kebetulan sekali, ada sebuah pesan balasan masuk dari orang yang sedang Rendy pikirkan. Akhirnya Ruslan membalas: Eh, sorry baru bales chat lu Ren. Kabar gue baik2 aja, kenapa lo nanya begitu? Rendy menghela napas lega, lantas mengetikkan balasan: Oh gak apa2. Baguslah kalau lo gak kenapa2. Ini gue sebenernya lagi ada di depan bengkel, ternyata lagi tutup ya? Ia mengira pesan balasan dari Ruslan akan lama datangnya, tapi ternyata tidak. Kali ini cowok itu langsung meneleponnya. Rendy mula-mula melepas helm dan menjepit benda itu di ketiaknya, lantas menekan tombol terima panggilan. Terdengar suara berkeresekan di seberang panggilan, lalu suara Ruslan berkata, “Wah, Ren, lo lagi ada di bengkel? Iya sengaja tutup emang kalau Sabtu ini. Emang ada keperluan apa lo datang ke bengkel? Nyari gue? Kalau soal perbaikan motornya Torro biar gue aja yang dateng ke rumah lo, lagi pula gue belum dapat semua komponen penggatinya.” Terdiamlah Rendy ditanyai begitu. Ada keperluan apa Rendy mencari Ruslan? Jika Rendy memang berniat melibatkan diri, ia pada akhirnya harus jujur tentang arwah Torro yang bergentayangan. “Iya … anu, gue emang lagi cari Bang Ruslan. Mau ngobrolin sesuatu sih. Bukan soal perbaikan motor tapi.” Ruslan ikut-ikutan terdiam, mungkin menunggu Rendy melanjutkan ucapan. “Gue gak bisa ngomongin ini lewat telepon,” aku Rendy melanjutkan. “Bisa ketemu langsung?” “Hari ini gue gak bisa,” Ruslan menyahut penuh sesal. “Lagi ada keperluan dulu, itu makanya gue gak buka bengkel hari ini. Gue bisa kasih alamat rumah gue, lo bisa datang ke sini besok. Atau gue yang datang ke rumah lo … atau kita ketemu di suatu tempat aja?” Suara Ruslan terdengar gugup dan rikuh di telinga Rendy, seakan janji pertemuan besok hanya membebani dan tak ia harapkan. Rendy jadi ragu, apa ia telah mengganggu? Namun, demi kakaknya, Rendy harus terus maju. “Besok gue datangin rumah lo aja, kirim alamatnya, ya?” “Siap. Besok kabarin gue aja lo mau datang jam berapa.” “Oke.” Sambungan telepon pun berakhir. Dirinya masih tak yakin apa ini keputusan tepat, ia tak tahu akan melibatkan diri dalam situasi semacam apa. Ini pergaulan Torro yang sedang ia coba arungi. Dunia pergaulan kakaknya kan liar dan bebas. Rendy berbalik badan, menghampiri Effendi yang menunggu dengan mesin motor masih menyala. Cowok itu memandangnya bingung. “Jadi? Lo bakal tetep di sini atau …? “Pulang aja,” jawab Rendy tak enak hati. Mereka telah jauh-jauh ke sini tanpa hasil berarti. Rendy tahu dalam hatinya Effenti sedang menahan kesal, akibat mengantarnya temannya itu bisa telat sampai di arena futsal. “Sorry gue plin-plan, nanti bayarannya gue kasih dobel.” “Sip, jangan lupa kasih bintang lima dan ulasan positif ya, Pak,” canda Effendi dengan mulut menyeringai. Jadi ia mungkin tak sekesal yang Rendy pikir. Setibanya di rumah, Rendy mendapati keluarganya belum pulang. Ibu dan adiknya pasti mampir dulu ke suatu tempat setelah dari sekolah---mungkin berbelanja. Maka Rendy menghabiskan waktu sendirian di dalam kamar, menikmati saat-saat santai. Tanpa berganti pakaian, Rendy langsung merebahkan tubuh di atas ranjang, merasakan sekujur badannya melemas dan rileks. Matanya memejam. Samar-samar, terdengar olehnya suara langkah kaki mendekati pintu kamar. “Mah?” Rendy mengangkat kepalanya tanpa benar-benar bangkit duduk, matanya terbuka menatap pintu kamar yang tertutup. “Anggi?” Tak ada suara yang menyahut, lagian Rendy belum mendengar suara mobil menepi pertanda mereka telah sampai di rumah. Tapi suara langkah kaki tadi, apa Rendy hanya mengkhayalkannya saja? Sekelebat bayangan hitam melintas cepat dari pintu kamar ke dalam kamar mandi. Sekonyong-konyong, bulu halus di tengkuknya berdiri. Rendy bangkit terduduk dan bergidik ngeri. “Mas Torro?” teriaknya penuh kesal, teringat akan sang hantu. Torro mungkin seharian ini berdiam diri di rumah, padahal awalnya Rendy kira kakaknya ikut ke sekolah Anggi. “Mas, tolong jangan nakut-nakutin begitu deh, inget perjanjian kita!” Tak ada bayangan hitam lagi yang bergerak, tak terdengar langkah kaki. Apa pun yang melintas tadi masih berada di kamar mandi, Rendy yakin itu adalah sosok Torro, tapi mengapa dirinya tak berani mengecek? Ceklek! Tubuh Rendy kembali terlonjak. Pintu kamar yang semula tertutup mendadak terbuka, gerakannya pelan selagi berayun terbuka makin lebar. Rendy menelan ludah. Sejak kapan Torro bisa menyentuh benda padat? Atau menciptakan suara langkah kaki? Ibunya terlampau tua untuk mengerjai Rendy, sedangkan Anggi tak mungkin bisa sejahil ini padanya. Mata batinnya sedang dalam keadaan terbuka, Rendy teringat, tapi Donovan sudah berkata bahwa yang bisa dilihat dan dirasakannya hanya arwah Torro. Dan Rendy kini bisa merasakan … keberadaan seseorang tengah mengamati dirinya dari dalam kamar. Seolah sebuah tatapan tajam sedang dihunjamkan ke arah dirinya berada. Rendy turun dari kasur, kedua kakinya menjejak lantai. “Mas Torro, kalau lo sampai berani-beraninya nakutin gue lebih jauh lagi, gue bersumpah bakalan ….” Terdengar suara mobil menepi di depan rumah. Rendy berhenti berucap lalu bernapas lega. Segera ia berjalan pergi dari kamar menuju lantai bawah. Tepat saat Rendy membuka lebar pintu depan, Puspa dan Anggi baru turun dari kursi mobil bagian depan. Yang mengejutkan adalah, sosok Torro ikut keluar dari kursi belakang dan menatap Rendy enggan. Tak mungkin, benak Rendy berpacu dalam kecepatan tak biasa. Kalau Torro memang tak ada di rumah sedari tadi, mahluk apa yang barusan Rendy rasakan keberadaannya? “Ren? Kamu udah pulang?” Ibunya menyapa selagi melintasi halaman rumah. “Mamah kira kamu bakal pulang lebih sore. Tapi bagus kalau begini, Mamah udah beliin banyak makanan. Kita masuk, yuk!” Puspa berlalu memasuki rumah. Giliran Anggi yang menghampirinya, menyodorkan sebuah es krim bercorong rasa cokelat karamel. “Tadi Anggi sama Mamah ke supermarket dulu beli es krim, sekalian beliin buat Mas Rendy juga. Nih!” Dengan penuh terima kasih Rendy menerimanya, tapi degup jantungnya masih belum stabil. Es krim yang masih terbungkus itu terasa dingin di telapak tangannya. “Makasih, Dek.” Anggi pun menyusul ibunya ke dalam. Tersisalah Torro yang bergerak---melayang mendekat. “Cepetan makan es krimnya, Ren. Keburu cair entar.” Sosok itu melewatinya tanpa berkata lebih jauh lagi, mungkin efek dari pertengkaran mereka tadi pagi membuat sikapnya begitu. Apa pun itu, Rendy sudah berhasil menguasai dirinya dan sontak berucap, “Gue udah hubungin Ruslan tadi.” Rendy berbalik, menyadari Torro telah membeku di tempat. Sebagian tubuhnya telah menembus dinding, tapi matanya menatap lurus Rendy. “Apa lo bilang tadi?” Mencoba mengenyahkan rasa takutnya, Rendy menjelaskan apa yang sudah dilakukannya tadi. Mengirimi pesan, mendatangi bengkel, berbicara dengan Ruslan lewat telepon serta janji untuk bertemu besok hari. Raut wajah sang hantu seketika berubah lebih cerah. “Itu bagus! Gue harus ikut besok, apa lo … apa lo berubah pikiran soal tadi pagi?” “Kayaknya, tapi cuma sampai kita tahu apa masalahnya. Kalau masalah yang Ruslan hadapi sangat serius dan membahayakan, gue gak mau lanjut.” Sosok Torro mendekatinya. “Makasih banyak, Ren! Makasih, lo emang adik gue yang terbaik. Gue janji gak akan memaksa lo terlibat lebih jauh lagi kalau emang lo gak mau” Lalu tatapannya berubah kosong. “Eh, tapi bukannya besok hari Minggu? Lo ada rencana main ke penginapan Papah sama Anggi, kan?” Bahu Rendy mengedik. “Gue gak ada rencana main ke sana lama-lama. Kita bisa mampir ke rumah Ruslan setelah dari sana.” Torro mengangguk-angguk penuh apresiasi. Angin sore hari berembus kencang, dan suhunya teramat dingin untuk jam segini. Tubuh Rendy gemetar dan menggigil, ia lantas memeluk dirinya dengan satu tangan masih menggenggam es krim. Benaknya masih belum lepas dari pengalaman menakutkan tadi. “Lo baik-baik aja, kan?” tanya Torro yang sepertinya mulai menyadari sebuah keanehan. “Gue oke kok,” kata Rendy, tapi ia merasakan dorongan kuat untuk menceritakan pengalamannya. “Gue cuman ngerasa aneh aja. Tadi sewaktu gue masih sendirian di kamar, gue ngerasa ada yang lagi merhatiin. Gue lihat bayangan hitam lewat, suara langkah kaki dan hal aneh-aneh lain. Gue jadi parno sendiri, bahkan sempat nyangka itu lo yang lagi jahil nakut-nakutin gue.” Tatapan yang dilayangkan Torro padanya bisa berarti banyak hal, tapi Rendy sedang tak ingin menebak-nebak. “Itu mustahil, kan?” Rendy melanjutkan. “Maksudnya, gue tau mata batin gue udah kebuka, tapi itu khusus buat ngelihat lo. Gue seharusnya gak bisa lihat … yang lain-lain.” Kini sang kakak mengamatinya seolah Rendy adalah pasien rumah sakit jiwa yang membutuhkan pertolongan serius. Ia tahu bahwa racauannya memang terkesan mengada-ngada. “Lupain aja,” kata Rendy mengakhiri. “Mungkin tadi otak gue lagi korslet aja. Gue masuk dulu, suhunya dingin banget di sini.” Rendy berjalan masuk tanpa mencari tahu apa Torro mengikutinya atau tidak. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN