Sesudah mengalami pengalaman horor tadi sore, Rendy jadi merasa lebih aman dengan kehadiran orang lain di dekatnya. Orang yang ia kenal, meski pun itu berarti hantu mendiang saudara lelakinya.
Terkesan bagai dirinya seorang penakut memang, Rendy tak bisa menyangkalnya. Awal-awal ia malah ragu untuk pergi ke kamarnya sendiri, tapi setelah tahu Torro akan membuntuti di belakang barulah ia berani. Rendy menyimpan es krimnya terlebih dulu di dalam lemari pendingin sebelum meniti anak tangga.
Tak ada hal aneh ia temui di kamar, kondisinya sama seperti saat ia pergi meninggalkannya tadi. Rendy sampai mengecek ke dalam kamar mandi untuk memastikan tak ada bayangan hitam apa pun di sana.
“Gak ada apa-apa, kan?” tanya Torro setelah Rendy puas meneliti sepenjuru kamar.
Rendy mendesah lega dan duduk di tepi ranjang. “Yah, sekarang sih gak ada.”
Sudut bibir Torro terangkat. Rendy pikir pasti mendiang kakaknya ini sedang berusaha agar tak menertawai dirinya. “Udah lo lupain aja pengalaman tadi. Gak usah dipikirin lebih jauh kalau itu cuman bikin diri lo sendiri ketakutan.”
Ia menyepakati hal tersebut meski pikirannya terusik oleh hal lain. “Mungkin gue bisa konsultasi sama Donovan temennya Anggi nanti, biar gue tahu apa yang terjadi sama gue pastinya.”
Torro berdiri di ambang jendela, merapatkan bibir sebelum berkata, “Menurut gue gak perlu. Tadi mungkin cuman gangguan kecil, pasti gak akan kejadian lagi.” Lalu ia memalingkan wajahnya ke arah luar.
Kepala Rendy bergerak naik-turun menyetujui. Tak bagus jika dirinya terlalu melebih-lebihkan kejadian yang berlangsung singkat, ia merebahkan tubuhnya lagi. Benaknya lalu tertuju pada saudarinya dengan alasan khusus. “Ngalamin sendiri aja rasanya gue udah ketakutan, gak kebayang gimana buat Anggi yang udah lama punya kemampuan khusus itu.”
“Yah …,” Torro sependapat. “Adik kecil kita emang istimewa, kan?”
Rendy tertawa, dan ia menemukan rasanya agak aneh bisa bersenda gurau dengan Torro pada satu titik, lalu berdebat panas di kesempatan berikutnya. Dinamika hubungan persaudaraan mereka begitu tak stabil dan terombang-ambing. Mungkin memang begitulah normalnya ikatan persaudaraan antar sesama lelaki terjalin.
“Apa menurut lo kita harus biarin Anggi mengembangkan bakat istimewanya?” tanya Rendy kemudian, bola matanya terpaku pada langit-langit kamar. “Setelah semua ini berakhir, setelah … lo pergi dan gue tutup mata batin, apa yang harus gue lakuin? Kasih tahu Mamah sama Papah soal kondisi khusus Anggi? Dukung mereka biar menghilangkan kemampuan istimewa itu, atau bujuk mereka buat bantu Anggi mengeksplorasi bakatnya lebih jauh?”
Pertanyaan yang menarik dan sulit untuk dijawab. Rendy tahu ia jarang sekali memikirkan ini, dan Torro rupanya bersikap serupa karena tak langsung menjawab. Topiknya jarang diungkit karena Anggi sendiri tampak nyaman dengan keadaannya, tak selalu mengeluh mengenai mahluk-mahluk yang dijumpainya.
“Menurut gue sebaiknya lo kasih tahu orang tua kita,” kata Torro akhirnya berucap. “Tapi langkah selanjutnya terserah mereka. Langkah lo sendiri lebih baik dukung apa pun yang Anggi mau, bukan apa yang Mamah sama Papah kehendaki. Kalau Anggi memutuskan mempertahankan bakatnya, lo harus bantu dia biar bisa dimengerti orang-orang. Bakat Anggi ke depannya bisa ngebantu orang-orang lain dalam kondisi kayak gue ini, gue yakin itu.”
Kemudian Torro melayang menghampiri dan duduk di dekatnya. Rendy tak merasa gugup atau aneh akan hal itu. Dirinya mulai bisa menganggap normal kehadiran Torro, yang rasanya pasti bakalan menyakitkan kalau perpisahan permanen benar-benar ada di depan mata. Seakan bagi Rendy, Torro akan meninggal dua kali. Biar bagaimana pun, Rendy bakal memilih dihantui Torro sepanjang hidupnya ketimbang diteror mahluk yang tak ia kenal sama sekali.
“Gue setuju,” kata Rendy sambil mengucek-ngucek mata. “Semoga Papah sama Mamah mau ngertiin kondisi Anggi, dan mendukung pilihan apa pun yang anak itu ambil nantinya.” Ia lantas bangkit terduduk. “Ngomong-ngomong soal Papah dan Mamah, apa rencana lo buat menyatukan kembali mereka? Lo gak lupa sama rencana itu, kan?”
“Enggak, tentu aja gue gak lupa,” sahut Torro terlalu cepat. Rendy bisa merasakan keengganan kakaknya dalam membicarakan ini. Pasti lama kelamaan dia ikut merasa pesimis dengan rencana tersebut, terutama dengan adanya kabar KDRT dan semacamnya. “Kita bisa mulai dengan cara paling sederhana aja, bujuk mereka buat ngomong empat mata dari hati ke hati.”
“Caranya?” cecar Rendy. “Mereka bahkan udah menghindari pertemuan satu sama lain.”
“Ah.” Torro kelihatannya baru mendapat ide. “Gimana kalau lo bujuk Mamah buat ikut main ke penginapan Papah besok? Keduanya pasti bakal ketemu tuh, mau gak mau bakalan berinteraksi, siapa tahu dari sana mereka menemukan jalannya sendiri untuk berdamai?”
Kening Rendy berkerut. “Gue gak yakin Mamah bakalan mau ikut dan … solusi perdamaian merega gak mungkin semudah itu.”
“Gak ada salahnya dicoba dulu,” dukung Torro, meletakkan satu tangannya di atas bahu Rendy. Tak benar-benar bersentuhan, hanya berada beberapa senti di atasnya terpisah oleh lapisan tipis udara. “Lo bisa coba bujuk Mamah nanti pas makan malam.”
“Oke,” kata Rendy sembari memperhatikan di mana tangan Torro berada tersebut. Bau bunga-bungaan tercium makin kuat kala Torro berada sedekat ini dengannya---tapi dalam tingkat kepekatan yang masih bisa dirinya tanggung.
Ternyata tak sulit mengungkit topik rencana besok hari saat makan malam. Belum lama setelah semua orang menyuapi mulut mereka---kecuali Torro, Anggi langsung menanyakan kepastiannya.
“Kita besok jadi kan ke tempat Papah?” tanya Anggi melirik Rendy dan ibunya.
Puspa berlama-lama mengunyah dan menelan. Rendy tahu ibunya tak menyukai dibahasnya wacana tersebut, tapi wanita itu terlalu penuh kasih untuk menghancurkan harapan dan antusiasme putri bungsunya.
“Kalau Mamah sih terserah sama kalian,” katanya lambat-lambat, terus menengok pada Rendy. “Tapi kamu udah kasih kabar ayahmu belum kalau besok kalian bakal ke sana?”
“Eh, belum. Nanti bakal Rendy lakuin setelah makan.” Kemudian ia berdeham melegakan tenggorokannya, melirik hati-hati pada sang ibu. “Kalau Mamah mau ikut aja besok. Kita bisa jalan-jalan bareng.”
Anggi bertepuk tangan kegirangan, menyambut penuh gagasan itu. “Iya, Mah. Mamah ikut aja!”
Puspa membisu selagi ditatap penuh harap oleh anak-anaknya---termasuk Torro yang hadir di tengah-tengah mereka tanpa ia sadari. “Mamah gak bisa, besok Mamah ada urusan sendiri. Kalian aja ya yang bersenang-senang.”
“Yahhh,” Anggi mendesah kecewa.
“Terus bujuk Mamah,” kata Torro kepada adik-adiknya. “Mamah pasti bohong soal ada urusan, itu cuman alasan mengada-ngada.”
Dalam hati Rendy tahu ucapan kakaknya benar, itu sudah jelas, tapi ia merasa berat hati membujuk ibunya ketika wanita itu sudah jelas menunjukkan ketidak inginannya.
“Mamah kan bisa nyisihin waktu sebentar,” Rendy berkata lesu. “Mungkin cuman satu atau dua jam. Rendy yakin Papah gak akan keberatan.”
Kepala Puspa menggeleng disertai senyuman, agaknya ia sudah tahu maksud tersembunyi dibalik ajakan ini. “Mamah gak bisa, Nak. Mamah paling hanya bisa mengantar kalian ke tempat Papah. Sebatas itu.”
Ibunya menggunakan nada suara final yang tak bisa diganggu gugat lagi. Maka Rendy pun tak berusaha lebih jauh lagi---begitu pula Anggi, meski Torro terus-terusan saja mencoba membakar semangat mereka. Kakaknya ini tak pernah tahu kapan waktu untuk berhenti.
Di kamarnya sesudah makan malam, Rendy menghubungi ayahnya memberi kepastian akan rencana mereka besok hari. Pria tua itu menyambut positif dan tampak antusias juga---setidaknya bagi Rendy kedengaran begitu. Sudah beberapa hari ini ayahnya tak benar-benar pulang ke rumah, pasti jauh di kedalaman hatinya ia rindu pada rumah ini beserta penghuninya.
Sewaktu Rendy menjabarkan rencananya, bahwa Puspa yang akan mengantar anak-anak ke alamat penginapan, Roy langsung menampik.
“Gak usah,” ucap Roy dengan suara berat dan serak. “Biar Papah aja yang jemput kalian ke sana besok pagi. Kalian siap-siap aja oke? Jam sembilan Papah bakal datang.”
Rendy mengerucutkan bibir. “Papah jemput kemari pake apa? Kan mobil lagi ada di Mamah.”
“Papah bakal sewa mobil buat sehari,” timpalnya santai. “Pokoknya besok kita akan bersenang-senang. Tunggu aja.”
Mau tak mau Rendy tersenyum, terkadang bukan hanya ibunya yang memperlakukan dirinya seolah masih kecil. Roy sudah tahu putranya telah beranjak dewasa, tapi dalam beberapa hal perhatiannya pada Rendy semasa kecil tak berubah sama sekali. Rendy takkan mengeluh, toh ucapan ayahnya ini merupakan bukti bahwa meski perceraian tengah diproses, itu takkan mengubah fakta bahwa mereka adalah ayah dan anak.
“Oke, Rendy sama Anggi bakal tunggu Papah datang besok. Jam sembilan pagi?”
“Jam sembilan pagi,” Roy mengulang.
Setelah sambungan terputus, Rendy menghampiri Anggia di kamarnya. Gadis kecil itu pasti sangat tak sabar menunggu datangnya besok, karena baru jam segini saja ia sudah berbaring nyaman di tempat tidur mengenakan piyama dan ditutupi selimut hingga d**a. Belum sepenuhnya tertidur, Anggia menyahut dan mempersilakan Rendy masuk kala dirinya mengetuk pintu.
“Ada apa, Mas?” tanyanya ingin tahu.
Rendy segera memberitahukan ucapan ayahnya di telepon tadi.
Serta merta Anggi tersenyum lebar. “Papah yang bakal jemput? Asyik! Kira-kira kita besok bakal jalan-jalan ke mana?”
“Belum tahu,” Rendy menyahut. “Papah gak bilang apa-apa soal itu. Omong-omong, mampung Mas Torro lagi gak ada di sini, Mas boleh tanya sesuatu?”
Mendiang kakaknya tadi memang berpamitan ingin pergi setelah acara makan malam. Katanya sekali lagi ia ingin menjelajahi dunia luar semalaman selama penghuni di sini terlelap, menyambangi rumah teman-temannya satu per satu. Rendy sih tak keberatan dengan itu, bagus juga kalau sang kakak punya kegiatan lain selain menguntit keluarganya. Pasti menyebalkan menjadi sesosok arwah gentayangan tanpa bisa tertidur barang sedetik pun.
Anggi memandanginya hati-hati. “Mas Rendy mau tanya apa?”
Dirinya berjalan mendekati kasur, sebagian dari dirinya masih tak yakin kenapa Rendy mau menanyakan hal ini. “Ini soal … bakat khusus kamu. Kamu udah lama kan bisa ngelihat mahluk halus?”
“Iya.” Tatapan Anggi makin fokus dan terjaga lalu bangkit terduduk. Ia pasti tertarik akan maksud dari pertanyaan ini, tidak setiap hari Rendy mau mengungkit topik menakutkan tersebut.
“Apa kamu sering melihat ‘penghuni’ di rumah ini?” tanya Rendy, berharap bahwa jababannya adalah ‘tidak’. “Maksudnya, penghuni yang bukan manusia.”
“Kadang-kadang.” Anggi melarikan pandangan ke sekitar. “Eh, setiap hari. Anggi ngelihatnya setiap hari.”
“Jadi emang ada?” Rendy berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. “Ada berapa jumlahnya---selain hantu Mas Torro kita? Sosok kayak apa aja mereka?”
Sang pakar dunia gaib mengigit bibir bawahnya. “Mas Rendy yakin mau tahu? Anggi enggak mau bikin Mas Rendy ketakutan.”
Ada nada menyangsikan dalam kata-kata tersebut, dan memang bisa dimaklumi. Kekhawatiran Anggi bukan tanpa sebab. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya Anggi pernah mencoba berkeluh kesah dan menceritakan pengalaman supranaturalnya, tapi Rendy selalu menampiknya, tak mempercayainya, menyangka bawa adiknya hanya anak kecil dengan imainasi yang kelewat tinggi. Bahkan tak jarang sampai menimbulkan pertengkaran di antara mereka.
Kini, Rendy tahu bahwa semua ucapan adiknya benar. Nyata, tanpa ada unsur fiktif, yang malah membuat Rendy sekarang ingin tahu lebih banyak. Mendapat respon meremehkan dari Anggi, Rendy beranggapan dirinya pantas dapat perlakuan semacam ini.
“Mas yakin,” ucap Rendy sungguh-sungguh. “Mas bakal percaya sama semua omongan kamu dari sekarang. Dan Mas gak akan takut, toh selama ini Mas udah latihan ketemu hantu sama Mas Torro.”
Anggi tertawa. “Oke kalau begitu. Hmm,” ia menimbang-nimbang. “Jumlah penghuni di sini gak pasti sih, Mas. Ada yang cuman menampakkan sekali dan ada yang sering. Yang paling sering ada tiga. Satu ada ibu-ibu pake kebaya sama kemben, Anggi sering lihat dia di kamar mandi lantai bawah di dekat dapur pas malam hari. Nyanyi tembang jawa, soalnya kata dia sewaktu hidup dulu pekerjaannya jadi seorang sinden dan penari ronggeng.”
“Dari mana kamu tahu soal itu?”
“Dia sendiri yang bilang,” kata Anggi kalem. “Namanya Nyai Dasimah. Baik orangnya, suaranya juga bagus, Anggi kadang-kadang suka ajak ngobrol.”
“Oh begitu.” Rendy mempertahankan raut datar di wajahnya, meski keinginan hatinya yang terdalam adalah kabur sembari menjerit-jerit bak orang sinting. “Terus siapa lagi?”
“Ada kakek-kakek,” kata Anggi. “Kurus dan keriput, rambutnya putih. Anggi gak tahu namanya, soalnya beliau gak pernah ngomong. Tapi kakek itu selalu ada di lantai atas. Kadang-kadang tiap malam Anggi suka dengar langkah kakinya di luar kamar. Mondar-mandir dari pintu kamar Anggi ke pintu kamar Mas Rendy.”
Jantung Rendy berdebar-debar. Suara langkah kaki yang didengarnya tadi sore … mungkinkah?
“Yang terakhir,” lanjut Anggi. “Ada anak kecil, laki-laki, usianya gak beda jauh sama Anggi. Dia sering berkeliaran ke mana-mana di rumah ini, tapi yang paling sering sih main ke kamar Mas Rendy.”
Pandangan mata Rendy melebar. “Kenapa?”
“Katanya dia suka lihatin Mas Rendy main PS.” Anggi mengedikkan bahu. “Setahu Anggi namanya Anto, dia yang paling sering usil.”
Dalam hati Rendy merutuki dirinya sendiri. Apa yang dipikirkannya? Memulai obrolan horor pada malam hari sama saja dengan membawa s**l. Sebagian dari dirinya takut, tapi sebagian lain yang suka sekali dengan kisah-kisah seram terkesima pada cerita yang dipaparkan adik perempuannya.
“Udah cuman itu aja?” Rendy bertanya, menyembunyikan degup jantungnya yang berpacu cepat.
Jemari telunjuk Anggi yang mungil mengetuk-ngetuk dagunya. “Sebenarnya banyak sih, Mas, tapi sebagian besar cuman mampir dan muncul kadang-kadang aja. Kayak sosok hitam tinggi di garasi, pocong di bawah pohon depan di rumah, atau … Anggi pernah lihat laki-laki tanpa kepala lewat di jalanan. Kadang-kadang aja, seringnya yang Anggi lihat ada tiga tadi.”
Wow, batin Rendy takjub, rumah yang ia huni ternyata lebih ramai dari yang ia duga semula.
Bulu kuduknya berdiri tanpa henti.
***