Dalam perjalanan menuju mobil, Ruslan memarahinya habis-habisan. Atau dengan kata lain, menggerutu panjang lebar. “Apa sih yang lo pikirin, Ren?” desisnya marah. Tak mempedulikan kakinya yang timpang, wajah babak belur serta hidung mengeluarkan darah. “Ngaku sebagai sodaranya Torro dan terima tantangan si Fadlan gitu aja? Lo tahu apa yang udah lo lakuin? Lo sadar udah terlibat dalam hal apa? Gue sejak awal udah minta lo jangan banyak ngomong sementara kita di sana.” Rendy tak langsung menjawab. Pintu gerbang dibanting menutup dengan kasar di belakang mereka, jadi tak ada kemungkinan Fadlan dan teman-temannya bisa mendengar percakapan ini, tapi ia menunggu sampai beberapa meter jauhnya dari pintu sebelum menjawab, “Gak ada pilihan lain, gue harus milih satu-satunya jalan biar kita bisa ke

