Kini Rendy berharap bahwa ia benar-benar membawa pisau dari rumah Ruslan. Sebagai bentuk pertahanan diri, karena ternyata ia membutuhkannya. Selagi Fadlan dan teman-temannya makin mengepung mendekat, Rendy berpikir betapa tak lucunya jika ia pulang ke rumah dalam keadaan luka-luka. Ibunya akan cemas setengah mati, takut bahwa ia telah terjerumus pergaulan salah. Sementara Rendy tak bisa menjelaskan keadaan yang sesungguhnya, termasuk pada Anggi dan Torro. Degup jantungnya kini tak lagi normal, berdetak cepat sekali sampai rasanya bisa meledak setiap saat. Orang-orang yang mengerubunginya tak menunjukkan belas kasih, hanya mencibir dan mencemooh selagi mengepalkan tangan. Di mata Rendy, semuanya bagai melangkah dalam gerak lambat, tapi sejatinya mereka tak ragu menjejakkan kaki satu langk

