31. Berdamai Dengan Situasi

1636 Kata
Sebenarnya, Rendy tak merasa lapar sama sekali. Dirinya tak berselera untuk menyantap makan malam, kemunculan arwah Torro masih membuatnya jeri dan lemas, tapi demi menenangkan hati ibunya ia akan berpura-pura bersemangat. Tadi Puspa datang ke kamar mengecek keadaan Rendy, sekaligus tanpa wanita itu sadari menginterupsi obrolan antara kedua putranya. Rendy tak tega melihat kecemasan di mata wanita itu, terlebih Rendy tahu penampilannya memang sedang memprihatinkan---tampak tak sehat. Rendy harus berkali-kali meyakinkan ibunya bahwa membawanya ke dokter tak perlu dilakukan. Kendati pun sempat tergoda untuk menceritakan segalanya pada Puspa, Rendy menahan diri agar tak melakukannya. Bagi Rendy saja berat mengetahui Torro ada di sini bersama mereka, beban emosional pasti akan membesar berkali-kali lipat mendera ibunya jika sampai dia tahu apa yang tengah berlangsung. Pada mulanya hanya tiga orang yang duduk mengelilingi meja makan---dirinya, Anggi dan Puspa. Kemudian sosok Torro ikut bergabung, duduk di bangku kosong di sisinya tanpa menimbulkan suara. Tak dapat menahan diri, bola mata Rendy fokus pada pergerakan sosok itu, agak cemas jika hantu Torro berubah kembali menjadi versi mayat hidup. Ternyata hal itu tak perlu dirisaukan, Torro yang tampak hidup dan sehat melempar seringai mengejek padanya. Makan ditemani roh seseorang yang baru meninggal, Rendy menggerutu dalam hati, hal ini jelas tak akan membuat nafsu makannya bertambah. Sayang sekali---demi Puspa---Rendy harus bersikap seolah Torro tak ada di antara mereka. Bagaimana bisa Anggi tahan menghadapi kondisi semacam ini selama ini? “Ren?” ibunya bertanya setelah membagikan makanan untuk mereka bertiga. “Kamu lagi merhatiin apa? Kok malah bengong?” Dengan terpaksa Rendy menoleh, kembali memaksakan senyum. “Gak apa-apa kok, Mah. Cuma masih ngerasa ngantuk aja.” “Oh, ya udah sekarang makan dulu, nanti habis itu makan obatnya. Baru kamu boleh tidur lagi.” Puspa melirik Anggi yang kini malah memasang tampang cemberut. “Anggi, kamu juga harus banyak makan. Kok gak disentuh makanannya?” Kaki kecil Anggi berayun-ayun gelisah di bawah meja. “Anggi mau tunggu Papah. Papah kapan pulangnya si, Mah? Kok udah jam segini belum pulang?” Wanita yang ditanyai lantas membuang muka, bahkan enggan bertemu tatap dengan Rendy. Rendy justru melirik pada roh Torro, wajahnya kini menampakkan sendu. Sekonyong-kongong sadarlah rendy: Torro mengetahui dan menyadari segalanya. Ia telah bergentayangan di rumah ini selama berhari-hari, memperhatikan setiap peristiwa yang berlangsung dalam ketidak kasat mataannya. Dasar penguntit! Rendy menggerutu dalam batin. “Papah-mu,” Puspa dengan berat hati menjawab, “mungkin gak akan pulang hari ini, Sayang. Sibuk di kerjaannya.” Anggi menggelembungkan sebelah pipinya kemudian mendesah. “Kok sibuk terus? Anggi kangen. Terus emangnya Papah nginep di mana? Masa di kantor? Terus kenapa mobilnya Mamah yang pakai?” “Tunggu,” ucap Rendy agak terkejut. “Mobil Papah ada di sini? Kok bisa?” Puspa makin sibuk memperhatikan banyak hal selain sosok kedua anaknya. “Iya … tadi sore Mamah pergi sebenarnya buat ketemu sama ayahmu. Buat ambil mobil. Tadi juga anter Donovan pulang sekalian belanja kan pakai mobil.” Jawaban itu menjelaskan beberapa hal. Rendy juga lega, setidaknya ayahnya masih bisa bersikap bijak, menyerahkan mobil agar bisa dipakai untuk menunjak kegiatan anak-anaknya di sini. Namun, jawaban itu tak memuaskan hati Anggi. “Jadi kapan Papah bisa pulang?” tanya anak perempuan itu mendesak. “Mamah juga gak tahu, Sayang,” timpal Puspa kalah. “Kenapa gak tahu?” Kesunyian yang menyambangi meja makan menjadi sangat menjengahkan, sambil mulai menyantap menu makan malamnya---nasi, sate ayam dan soto babat---Rendy berkata, “Sebaiknya Mamah bilang aja sejujurnya ke Anggi sekarang.” Pandangan mata Rendy beertemu dengan ibunya, wanita itu menggeleng waspada. Seakan ingin mengatakan: jangan sekarang, Mamah belum siap. “Bilang seujujurnya apa?” tuntut Anggi tak sabar. Sikap mengulur-ulur waktu ibunya membuat Rendy kesal. Jadi Rendy mulai berkata, “Dek, kamu tahu kan kalau Mamah sama Papah akhir-akhir ini sering berantem?” Anggi mengangguk, sementara pelototan mata ibunya makin membesar, tapi Rendy takkan gentar lagi sekarang. Dirinya lanjut berujar, “Kadang-kadang, hubungan suami istri itu gak selamanya harmonis. Adakalanya, dua orang yang udah menikah memutuskan berpisah ….” “Rendy!” tegur Puspa tak berdaya. “Mah, gak ada gunanya lagi rahasiain ini dari Anggi,” kata Rendy tak mau kalah, lalu menatap adik perempuannya lekat-lekat. “Gak ada cara lembut buat kasih tahu ini, Mamah sama Papah … mereka mau bercerai.” Sedetik berlalu selagi Anggi memproses makna kata terakhir. Dua detik … tiga detik … dan Anggi pun mulai merengek. “Ini yang terbaik,” kata Rendy tegar. “Ini yang terbaik buat kita semua.” Puspa sendiri menutup mukanya dengan kedua tangan. “Yang terbaik?” Untuk pertama kalinya Torro bersuara, alhasil membuat tubuh Rendy berjengit. “Lo apa-apaan sih, Ren? Gimana ceritanya cerainya papah sama Mamah jadi yang terbaik buat kita semua?” Rendy melirik sosok itu, tapi tak berkata apa-apa. Tak ada lagi rasa takut di hatinya, yang ada hanya amarah. Torro tak punya hak untuk memarahinya, mendiang kakak lelakinya ini tak tahu betapa kacaunya hubungan antara ayah dan ibu mereka. Arwah Torro bergerak menuju kursi yang diduduki Anggi, berjongkok dan berucap lembut, “Dek, jangan sedih. Kita pasti bisa mecahin masalah ini. Mas bersumpah bakal bikin Papah sama Mamah akur lagi, mereka gak bakal jadi bercerai.” Menurut Rendy sendiri sumpah yang diucapkan Torro terlalu mengawang-awang dan jauh dari realita. Hanya kata-kata penenang omong kosong yang sengaja diucapkan demi menentramkan hati adik perempuannya untuk sementara. Rendy tahu yang terbaik, sudah seharusnya Anggi tahu yang sesungguhnya terjadi. Anak perempuan itu jauh lebih kuat dan tegar dari yang disadari semua orang. Anggi sekarang menangis, tapi Rendy yakin gadis kecil itu bakal mampu hadapi kenyataan. Puspa dengan cepat bangkit dari dari kursinya dan menghampiri Anggi lalu merangkulnya lembut. “Maafin Mamah, Sayang,” katanya merana. “Mamah gak tahu cara terbaik ngasih tahu kamu soal ini.” Bibir puspa mengecup kening putrinya. “Mamah janji apa pun yang terjadi, Mamah juga Papah bakal tetep sayang sama kamu. Bagaimana pun kondisinya nanti, kita bakal tetep jadi satu keluarga.” Tangisan Anggi mulai mereda, hanya menyisakan isakan kecil tertahan. “Anggi enggak mau makan lagi, Anggi gak lapar.” Lalu ia mendorong piringnya menjauh, beranjak turun dan pergi menuju kamarnya. Sejurus kemudian, Puspa mengikuti setelah melemparkan tatapan ‘kita harus bicara nanti’ pada Rendy. Alhasil, yang tersisa di meja makan hanya dirinya dan Torro. Sontak keduanya bertatapan. “Apa masalah lo sih, Ren?” tanya Torro heran setelah beberapa menit saling membisu. “Padahal kemarin-kemarin gue perhatiin lo menentang keras perceraian itu, tapi sekarang? Lo malah terkesan mendukung.” Kepala Rendy menunduk menatap nasinya. “Lo gak tau apa yang udah gue tahu. Hubungan Papah sama Mamah gak bisa diselamatkan.” Torro bergerak makin dekat, dan Rendy mencondongkan tubuhnya menjauh. Dekat-dekat dengan hantu kakaknya tak begitu menenangkan. “Emangnya apa yang lo tahu?” cecar Torro tak sabar, hampir seperti Torro yang biasanya. Sikap lembutnya di kamar tadi kini telah lenyap. “Gue udah dengar pertengkaran orangtua kita kemarin. Gue tau gue penyebabnya. Salah gue mereka sekarang bercerai.” “Intinya bukan cuman itu.” Rendy menggertakan gigi. “Lo gak akan paham.” “Kalau gitu kasih tau gue biar gue paham. Ada apa?” Mulut Rendy hampir saja menyemburkan semua kata-kata itu keluar: bahwa ayahnya telah mengecewakan dirinya, sosok panutan yang ternyata hanya pria biasa bertempramen buruk. Ayahnya telah memukul ibunya, melakukan KDRT! Alih-alih mengatakan semua itu, Rendy hanya berucap, “Sebentar lagi lo bakal tahu.” Karena Rendy sadar, bahwa ibunya juga akan mencecar dirinya dengan pertanyaan yang sama tak lama lagi. Pada saat itu tiba, Torro pasti ikut mendengarkan. Torro bergerak---berjalan, melayang---mengitari meja makan dan berdiri di belakang kursi yang berseberangan dengan Rendy. Kedua lengannya bersilang di depan d**a. Sedikitnya Rendy tertarik untuk tahu, bagaimana rasanya jadi hantu? Apa Torro merasa ‘utuh’? Bagaimana sensasinya melayang tak menjejak tanah? Kurang lebih sejumlah pertanyaan yang tak pantas ditanyakan pada momen ini. “Apa lo udah gak takut lagi?” tanya Torro tiba-tiba. Rendy menatapnya. “Takut apa?” “Ngelihat gue,” timpal Torro. “Ngomong sama gue. Gak punya niatan buat kabur dan jerit-jerit lagi, kan?” Sungguh, Rendy tak tahu apa sang hantu gentayangan ini sedang mengejeknya atau tidak. Torro seakan ingin benar-benar tahu, tapi juga terkesan hendak menertawakan sikap Rendy tadi. “Gue udah berani,” tegas Rendy, tapi kemudian menimbang-nimbang. “Tapi gue tetep bakalan temuin si Donovan ini secepatnya dan minta dia tutup lagi mata batin gue.” Mulut Torro sudah terbuka hendak memprotes, tapi kedatangan Puspa menghentikannya. Wanita itu terduduk di kursinya semula dengan lesu, dengan lemas memijat keningnya sendiri. “Gimana kondisi Anggi?” tanya Rendy, Torro pun mengucap pertanyaan yang sama setelahnya. “Adikmu masih butuh waktu buat memproses kabarnya, tapi Mamah yakin dia bakal baik-baik aja.” Puspa memandangi Rendy. “Ren, kamu kenapa bersikap kayak tadi sih?” Rendy hanya mengedikkan bahu. “Kan kemarin malam Mamah bilang bakal segera kasih tahu Anggi, Rendy cuman membantu.” “Ya tapi bukan dengan cara seperti tadi,” kilah Puspa mendebat, sepertinya sudah terlalu lelah hanya untuk marah-marah. “Mamah itu udah rencanain obrolan yang lebih mulus dan lembut. Cara kamu tadi terlalu blak-blakan, Anggi butuh pendekatan yang berbeda.” Perasaan tak enak mulai memberati batin Rendy. Pada akhinya ia malah membuat ibunya makin banyak pikiran. “Maaf kalau cara Rendy gak Mamah suka, tapi seenggaknya Anggi tahu kebenarannya. Dia pasti bakal tegar, Anggi lebih kuat dari yang Mamah kira. Mamah juga sekarang hanya perlu fokus ke proses perceraian itu.” Kening ibunya berkerut, raut wajahnya kontan melembut. Seakan baru sadar, bahwa ia sedang menghadapi satu korban lagi akan proses perceraian yang sedang dijalaninya. “Bilang sama Mamah, Sayang,” ucap Puspa membujuk. “Ada apa sama kamu? Kamu kesannya jadi ikut mendukung perceraian ini. Mamah malah lebih suka sikap kamu kemarin-kemarin, langsung luapin emosi dan bicara sejujurnya. Mamah gak mau kamu memendam semuanya hanya seorang diri.” Tak jauh dari mereka, Torro mengangguk-angguk setuju. Keprihatinan tampak di wajah hantunya. “Bilang sama kita, Ren,” katanya membantu. “Lo gak perlu rahasiain apa-apa sendirian.” Ketegaran Rendy pada akhirnya menemui batas. Pemikiran yang sungguh menyiksa sejak pulang dari bertamu di rumah Renata akhirnya tertumpah dari mulut Rendy. Dengan gemetar Rendy menceritakan kunjungan saat menjemput Anggi kemarin, termasuk perbincangannya dengan sahabat ibunya, tentang apa yang membuat hubungan kedua orangtuanya makin memburuk. KDRT. Puspa terdiam seribu bahasa, sementara Torro tercengang sampai membelalakkan mata. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN