“Gak mungkin!” Torro menggeram selagi mendengar keluh kesah Rendy. “Papah gak mungkin tega ngelakuin itu!” Ia lalu melirik Puspa.”Mah, itu gak bener, kan?”
Reaksi keras itu membuat Rendy heran, tak biasanya Torro peduli pada apa yang terjadi pada keluarganya. Di masa lalu bahkan Torro selalu bersikap masa bodoh terhadap permasalahan ini. Kemarahan yang ditampakkan mendiang kakaknya membantu Rendy mengambil sikap.
Karena ingin mengetahui jawabannya, Rendy ikut bertanya, “Itu gak bener, kan, Mah? Apa yang diomongin Tante Renata---”
“Renata gak seharusnya ceritain masalah itu ke kamu!” Puspa menyela, kulit mukanya merah padam, keluh kesah Rendy rupanya menyakiti hati wanita itu juga pada saat bersamaan. “Dia gak berhak! Dan kamu, Nak, apalagi Anggi sudah seharusnya gak tahu-menahu soal itu.”
Tangan Rendy yang memegang sendok mengepal, membuat gagang sendok itu menekan kulit tangannya. Matanya kini nanar menatap kuah soto di dalam mangkuk yang tak memiliki kesalahan apa pun “Jadi benar kalau begitu. Kapan? Berapa sering?”
“Gak sering, Mamah bisa pastiin itu,” Puspa mengelak, kembali menutupi mata dengan telapak tangan---berusaha kuat menahan isak tangis. “Dan Papah-mu cuman khilaf waktu itu, dia langsung minta maaf dan mengaku menyesali perbuatannya.”
“Papah benar-benar tega,” Torro berkomentar, masih tampak tercenung.
Dalam hati Rendy menyetujui komentar itu. “Apa pun alasannya itu gak bisa dibenarkan, Mah. Rendy kecewa, gak seharusnya Papah ngelakuin itu meski sedang marah pun.”
Ibunya menurunkan lengan dan tampaklah kedua kelopak matanya yang basah. Ada nada keputus asaan dalam suaranya saat berkata, “Kamu gak boleh begitu, Sayang. Jangan sampai membenci Papah-mu sendiri.”
“Rendy gak benci, hanya kecewa. Kalau keadaannya sampai seburuk itu, Rendy dukung pilihan kalian buat berpisah.”
Selagi Puspa kembali membuang muka, Rendy memandang Torro menantang laki-laki itu untuk mengkritik pilihannya. Sayangnya, kini Torro hanya bergeming, raut wajah hantunya tak bisa dibaca. Suasana menyedihkan ini begitu memuakkan dan tak tertahankan. Rendy meletakkan sendok, lalu melekatkan punggungnya ke sandaran kursi. Sejak awal ia memang tak berselera untuk makan.
“Maaf kalau pengakuan Rendy bikin Mamah sedih,” aku Rendy dan mengela napas lelah. “Apa pun keputusan Mamah ke depannya, Rendy bakal dukung.”
Ia pun berdiri dan menghambur ke ara tangga---tak langsung menuju kamarnya, melainkan menyambangi kamar Anggi.
Tangan Rendy mengetuk pintu berhiaskan sticker Hello Kity itu dan berucap, “Anggi? Dek? Mas boleh masuk?”
Suara serak Anggi lantas membalas, “Masuk aja.”
Rendy mengintip ke dalam sebentar sebelum mendorong pintu lebar-lebar. Anggi berbaring di kasurnya sambil memeluk guling. Tatapan gadis kecil itu tertuju pada Rendy sesaat lalu berpaling lagi.
“Kamu marah sama Mas?” Rendy bertanya seraya menghampiri.
Anggi bangkit terduduk dan menggeleng lemas. “Itu bukan salah Mas Rendy kok. Anggi sebelumnya udah curiga Mamah sama Papah bakal berpisah, tapi denger Mas Rendy tadi bilang begitu, tetep aja ….”
“Menyakitkan, ya?” Rendy meletakan pantatnya di tepi ranjang. “Mas yakin kamu kuat, kamu bakal sanggup terima kenyataan.”
Suara anak perempuan itu hampir pecah. “Tapi Anggi gak mau Mamah sama Papah cerai, Mas Torro juga bilang bakal berusaha buat mereka baikan lagi.”
Tak pelak, Rendy terhenyak. Baru setengah jam lalu Anggi berusaha memberinya keberanian untuk melihat hantu Torro lagi, membantu Rendy memahami keadaan. Lihatlah sekarang betapa kondisinya berbalik dengan cepat! Rendy dengan suatu cara harus membantu Anggi bangkit dari dukanya, menghadapi kenyataan, tapi dengan cara apa?
Dirinya juga tak suka mengetahui Torro memberi janji dan angan-angan omong kosong pada adiknya ini. Perbedaan macam apa yang bisa sesosok roh gentayangan lakukan pada situasi tegang semacam ini? Mengurungkan niatan berpisah kedua orangtuanya jelas mustahil.
Namun, Rendy paham Anggi takkan bisa diajak berpikir rasional sejauh itu. Setabah bagaimana pun kelihatannya, Anggi tetaplah anak kecil. Anak kecil yang lugu dengan sebuah harapan naif, belum mengetahui bagaimana sesungguhnya cara kehidupan bekerja.
Ibunya juga benar tentu satu hal, bahwa kasus KDRT itu tak seharusnya diketahui banyak orang. Tante Renata terlalu banyak umbar rahasia. Mengetahuinya saja membuat perasaan Rendy tertekan selama seharian, membiarkan Anggi mengetahuinya juga … tidak, rendy tak sekejam itu.
“Begini aja,” Rendy berkata perlahan. “Buat saat ini kita ikuti proses … proses perceraiannya. Kalau Mas Torro emang punya rencana buat menyatukan lagi Mamah dan Papah, Mas Rendy pasti bakal bantu.”
Minat Anggi tergugah. “Beneran? Mas Rendy mau?”
“Ya.” Kepala Rendy begerak naik-turun. “Tapi jangan sampai melupakan hal paling penting, terima keadaan, harus tegar. Kamu juga jangan marah sama Mamah atau Papah. Ini saat-saat sulit buat kita semua. Kasih Mamah juga kesempatan buat buktiin kalau semuanya bakal tetep baik-baik aja.”
Anggi mengangguk takzim, layaknya jemaat yang telah mendengar khotbah mencerahkan dari seorang pembuka agama. “Terus … Anggi sekarang harus ngapain?”
Cukup lama Rendy merenungkan jawabannya. Ia memikirkan ibunya, yang masih terduduk sendirian di meja makan di lantai bawah. Hati Rendy sakit, membayangkan bahwa Puspa merana melihat anak-anaknya marah pada perkara perceraian sampai mogok makan. Nasi, sate dan soto babat yang sudah dibelinya bisa saja terbuang sia-sia.
Bibir Rendy berhasil menampilkan seulam senyum. “Sekarang, kita harus lanjut makan.”
Ternyata tak sulit membujuk Anggi kembali turun, penyebabnya pasti karena Anggi sebenarnya memang masih kelaparan. Setelah berhasil meminta Anggi berjanji takkan mengungkit-ungkit lagi soal ayah mereka dan masalah perceraian, keduanya kembali menyambangi meja makan.
Puspa masih terduduk sendirian, terpekur. Pada mulanya wanita itu kebingungan melihat anak-anaknya datang dan bergabung ke meja makan, seolah sebelumnya tak pernah terjadi apa-apa, tapi ia pun tak berkata apa-apa selagi menyaksikan Rendy dan Anggi sibuk makan.
“Kuah soto babatnya enak, Mah,” Rendy berkata sesantai mungkin, padahal rasa makanan itu tak begitu luar biasa mengingat sudah agak mendingin.
“Masih tetap enakan soto ayam buatan Mamah, ah,” timpal Anggi tak setuju, tapi ia begitu lahap menyuapi makanan itu ke mulutnya. “Apalagi yang pake potongan jantung ayam, Anggi suka sop jantung ayam.”
Puspa malah makin heran---bukan kejadian biasa bagaimana situasi menyedihkan dengan cepat berubah, kemudian ditatapnya Rendy. Keduanya segera saja saling bertukar pemahaman. Tanpa melibatkan mulut, Rendy menyampaikan apa yang diinginkan: semuanya tetap baik-baik saja, sekali pun di hari mendatang keadaan akan makin memburuk, Rendy takkan pergi dari sisi ibunya.
Perlahan, Puspa menampilkan senyum---perpaduan antara kesenduan yang memudar dan ucapan terima kasih.
“Mamah janji besok bakal Mamah masakin soto jantung ayam buat Anggi,” kata Puspa dengan suasana hati lebih tenang. “Ditambah sosis juga.”
“Ahyhiiimmk,” seru Anggi dengan mulut penuh, yang lantas mengundang kekehan Anggi juga ibunya.
“Kalau kamu, Ren?” Puspa menatapnya lagi. “Besok kamu mau Mamah masakin apa?”
“Apa aja Rendy bakal makan kok. Tapi Rendy lagi pengen makan sama telur rebus balado, cah kangkung, semur jamur, perkedel jagung, terus---”
“Ih, Mas Rendy mintanya kebanyakan!” seru Anggi setelah menelan makanan di mulutnya, lalu buru-buru meraih segelas air putih dan meminumnya.
Ketiganya lalu tertawa bersama-sama. Mendadak suasana hati mereka membaik, mengobrolkan lebih banyak hal yang sama sekali tak berhubungan dengan sosok kepala keluarga yang tak hadir di antara mereka.
Bagi Rendy tak masalah. Ia sudah dapat melihat ini sebagai kondisi keluarga terbarunya, hanya bertiga: dirinya, Anggi dan ibunya. Dua kursi lain yang dahulu sering diisi ayahnya dan Torro kini kosong, tak begitu mengusik dirinya. Lambat laun semua orang akan beradaptasi, Rendy yakin akan hal itu.
Di sisi lain, diam-diam Rendy menyadari bahwa roh mendiang Torro tak terlihat di mana pun. Bukannya dia ingin mengeluhkan itu, selera makannya jadi bertambah bagus karena tak harus diamati sesosok hantu, tapi hatinya tetap bertanya-tanya ke mana gerangan hantu Torro kini berada.
Selepas makan, Rendy membantu ibunya membereskan meja dari alat makan kotor---berniat membawanya ke bak cuci piring di dapur dan ikut membilasnya, sementara Anggi langsung pergi menuju kamar dengan dalih sudah mengantuk.
“Jadi apa yang terjadi sama kalian?” Puspa bertanya selagi mengamati Rendy menumpuk-numpuk piring kotor. “Mamah yakin kalian tadi pada marah-marah. Bukannya Mamah mau komplain loh.”
Mulut Rendy menyengir. “Bukan apa-apa kok, Mah. Cuma … Rendy sama Anggi udah bikin beberapa kesepakatan kecil.”
Puspa mendekatinya dengan raut wajah penasaran. “Kesepakatan macam apa, tuh?”
Jelas saja Rendy tak bisa menjelaskannya, karena hal ini melibatkan keberadaan sesosok roh Torro yang ibunya tak sadari ada. “Hmm, Rendy gak bisa bilang-bilang. Ini rahasia. Intinya, kami berdua udah sepakat gak akan bersikap menyulitkan. Mamah gak perlu khawatir, lakukan apa yang menurut Mamah tepat mulai sekarang.”
Sesaat wanita itu hanya diam, kemudian mengulurkan tangan dan mengusap bahu Rendy. “Makasih, Sayang. Mamah bersyukur punya anak-anak kayak kalian.”
“Udah seharusnya,” canda Rendy sekenanya, lalau ia teringat sesuatu. “Oh iya, Rendy lupa bilang, Mamah jangan terlalu marah ke Tante Renata karena dia udah ceritain masalah itu ke Rendy. Maksudnya baik sih, biar rendy paham kenapa perceraian itu diperlukan.”
“Yah, mungkin.” Puspa memeluk dirinya sendiri. “Udah, persoalan itu kamu gak perlu pikirin, Mamah yang bakal bicara empat mata sama Renata nanti. Sekarang kamu tidur aja gih, jangan lupa sebelumnya minum obat dulu, biar Mamah yang urus cucian kotornya.”
Tanpa banyak mengeluh, Rendy menuruti perkataan ibunya. Lagian tubuhnya sudah lelah saja dengan semua peristiwa yang terjadi, tidur nyenyak semalaman dan kondisi tubuhnya akan bugar besok pagi.
Namun ternyata tak semudah itu. Seseorang sudah menunggu saat Rendy memasuki kamarnya. Sosok nyaris tembus pandang itu duduk di kursi belakang meja belajar, tatapan matanya hanya tertuju pada Rendy, seakan memang sudah lama ia berada di sana menanti-nanti kedatanganya.
“Kita perlu bicara,” kata Torro datar tanpa rasa. “Dan lo paham apa yang harus kita obrolin panjang lebar.”
Mulut Rendy meringis, tubuhnya bergidik menyadari bahwa ‘keseruan’ hari ini belumlah berakhir baginya.
***