Chapter 3

1649 Kata
    Aku merasakan nyeri kepala hebat saat terbangun. Kelopak mataku masih berat untuk terangkat, tapi aku harus segera bangun. Saat tertidur, aku ingat jam menunjukkan sudah hampir jam delapan. Jangan-jangan, sekarang malah sudah tengah malam. Tidak lucu kalau aku harus menginap di kantor dan memakai baju yang sama untuk bekerja besok tanpa mandi.     Kupaksakan mata terbuka. Sedetik kemudian, aku langsung memicing karena cahaya yang terang. Sembari mengerang, aku menegakkan badan lalu mengusap bibir. Takutnya ada liur yang menempel. Namun, seketika pemandangan asing membuatku sadar sepenuhnya.      Kepalaku bergerak ke kiri dan kanan berkali-kali, mengitari pandangan ke seluruh ruangan itu dengan heran. Ini bukan ruangan kantorku! Aku menunduk, mengamati mejaku sendiri. Mejaku berbeda. Meja itu berbentuk L dan lebih lebar dari yang kupunya. Komputer berada di sebelah kiri tepat di sudut L dari meja itu, sedangkan di sebelah kanan berjejer dua box file dan juga rak dokumen. Ada tanaman hias plastik kecil di depannya. Fotoku juga terpajang dalam bingkai berwarna hitam, di batas antara komputer dan rak dokumen. Sedang tersenyum senang dengan kedua tangan terbentang entah di mana. Dari pemandangannya seperti ada di gunung, tapi aku tidak ingat pernah ke tempat seperti itu. Di sisi lain meja, sisi kiri, cenderung kosong. Hanya ada gelas kopi, setoples biskuit, kotak tisu, beberapa berkas, dan juga telepon. Namun, dinding sebelah kiri kubikel dipenuhi tempelan catatan. Aku hanya bisa melongo melihat semua itu. Ini bukan mejaku!     Dengan panik, aku buru-buru berdiri. Sekilas, aku melihat nama Bianca Marisa terpasang di atas papan pembatas kubikel. Itu namaku. Hanya saja, sudah tidak bisa kuhiraukan lagi. Kakiku berlari-lari kecil mengelilingi ruangan. Barangkali saja ada orang yang bisa kutanyai kenapa aku ada di sini atau ini di mana. Hasilnya nihil. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ruangan itu kosong. Begitu pun saat aku memasuki pantri yang ada di ruangan itu. Ke mana perginya semua orang.     Karena terlalu kaget, aku bahkan baru menyadari kalau hari masih siang, bukannya malam seperti terakhir kali aku mengingatnya sebelum tidur. Jendela besar di ruangan itu menampilkan langit cerah berawan di luar sana. Masih siang. Dengan gelisah, aku berjalan kembali ke kubikelku, mencari jam, ponsel, atau apa pun itu yang bisa menunjukkan waktu. Aku menemukan ponselku di atas tumpukan berkas. Telunjukku menekan tombol samping. Layarnya langsung berubah cerah dan aku kembali heran. Lockscreen ponsel itu bukan foto pemandangan pantai seperti yang kupasang di ponselku. Cuma, ponsel itu pasti milikku karena menampilkan foto menyampingku yang lagi-lagi entah di mana.     Untuk saat ini, aku berusaha mengabaikannya dan melihat angka-angka yang tertera di layar. Pukul 12:15. Hari Selasa, 8 Desember 2020. Sehari setelah aku tertidur. Aku menempelkan jari untuk membuka kunci ponsel tersebut. Untung saja berhasil. Sebaiknya aku menghubungi seseorang. Nama yang pertama kali lewat di otakku adalah ibuku. Namun, aku tidak menemukan kontaknya di ponselku ini. Begitu pun nomor ayah. Jemariku lalu bergerak cepat membuka aplikasi chat. Isinya dengan orang-orang yang tidak aku kenali. Bahkan, chatku yang terakhir, chat di mana aku memesan makanan pada Mas Setyo, tidak ada. Aku berganti ke riwayat panggilan, berharap ada nama Medusa di sana. Ternyata sama saja. Nihil. Tidak ada nama yang kukenali di riwayat panggilanku.     Ada apa sebenarnya ini? Kenapa semuanya berbeda? Apa ini mimpi?     Refleks aku mencubit pipiku sendiri. "Aw!" Aku mengerang lantaran merasakan nyeri. Kalau mimpi, tidak mungkin aku merasakannya, kan? Namun cubitan itu sangat terasa. Aku bahkan masih merasakan sakitnya setelah tanganku terlepas. Jadi, ini bukan mimpi!     Rasa mual mulai menghampiriku. Selalu seperti ini saat aku panik. Tanganku mulai bergerak untuk mengelus perut. Ada sesuatu yang mengganjal. Tanganku merasakan hal lain. Saat menunduk, netraku menangkap benda yang menggantung itu. Name tag. Aku mengangkatnya untuk melihat lebih jelas apa yang terpampang di sana. Selain nama dan fotoku, ada dua hal lagi yang menarik perhatian. Daniswara Group. Divisi Marketing.     Jadi, aku bekerja di Divisi Marketing, bukan Editorial. Lalu ruangan ini, perusahaan ini, adalah perusahaan bernama Daniswara Group, bukan WeriWara Publisher. Aneh. Ini aneh.     Aku tidak tahu ada perusahaan bernama Daniswara Group di Jakarta. Namun, kenapa nama itu terdengar tidak asing? Di mana aku pernah mendengarnya?     Setelah berpikir cukup lama dan tidak menemukan jawaban, aku menyerah. Aku harus mencari seseorang untuk mendapatkan penjelasan. Apa pun itu.     Bergegas aku melangkah ke luar ruangan. Menilik dari jam, sepertinya orang-orang sedang istirahat makan siang. Tujuanku sekarang adalah kantin. Aku yakin akan banyak orang di sana. Hanya saja, di depan lift, aku kembali kebingungan. Ada papan informasi berisikan daftar ruangan divisi berikut lokasinya, tapi aku tidak menemukan kantin di lantai berapa. Pada akhirnya, kuputuskan untuk pergi ke lobby di lantai dasar.     Lift di hadapanku berdenting saat panelnya menampilkan angka delapan, lantai tempatku berada ini. Badanku sigap hendak memasuki lift cepat-cepat. Saat pintunya terbuka, aku kaget mendapati ada orang di dalamnya. Refleks, aku mundur beberapa langkah. Seorang wanita berpenampilan modis keluar dengan kepala menunduk menekuni ponsel. Mungkin menyadari keberadaanku, ia menengadah dan seketika terlihat antusias.     "Oh, Bi! Kamu belum pergi makan siang ya?" tanyanya dengan suara melengking.     Dengan bingung aku menunjuki diri sendiri. Yang dia maksud aku? Aku menoleh ke berbagai arah. Tidak ada orang lain selain aku dan dia, sih.     Kebingunganku lalu dijawab dengan tangannya yang menyentuh sikuku.  Dia menarikku menjauhi lift, menuju pintu kaca tempat keluar-masuk ruangan Divisi Marketing. Oh, sepertinya dia mengenalku.     "Untung saja kamu masih di sini. Bos besar minta laporan yang kemarin kita buat," katanya sembari kami berjalan. Bunyi dari stilleto berwarnah merahnya menghiasi percakapan kami.     "La—laporan yang mana?" tanyaku takut-takut. I'm lost here. Kemarin aku menyunting naskah, bukannya membuat laporan. Aku bahkan tidak kenal dia siapa.     Matanya yang sipit dan dihiasi eyeliner tebal memicing heran. "Laporan pemasaran restoran cepat saji baru itu, Delizioso!"     Aku yakin alisku yang bertaut makin rapat menggambarkan dengan jelas makin bingungnya aku. Dia memekik seakan-akan sedang bicara dengan alien.     "Aku tidak tahu kamu ini lapar atau bagaimana, Bi." Dia menukas dengan desahan napas kasar. "Pokoknya kamu ambil laporan itu di mejaku, lalu bawa ke atas, ke ruangan bos besar! Ingat, yang di atas meja! Map laporan itu satu-satunya yang ada di mejaku. Jangan mengambil map lain di box file atau di mana pun." Telunjuknya yang berhiaskan kuku palsu panjang berwarna merah mengarah ke ruangan di dalam. Entah meja mana yang ditunjuknya.     "Siang ini aku ada janji temu dengan mantan suamiku. Kamu tahu, kan, menyebalkannya dia seperti apa. Kalau aku nanti terlambat, dia bisa membahas lagi alasannya menceraikanku. Karena aku tidak pedulian lah, tidak menghargai dia lah, bla bla bla ... Makanya aku minta kamu yang bawakan laporan itu. Aku perlu secepatnya pergi ..." Sementara dia mengoceh, untuk mengatahui identitasnya, aku lekas melirik name tag yang tergantung di tubuhnya. Mellisa Adi Gunawan. Marketing Manager. Kayaknya dia atasanku di tempat ini.     "Bi, did you hear me?"     Aku tergagap kaget saat dia menegurku. "Eh? I—iya. Bawa laporannya ke ruangan bos besar."     Wajah Mellisa tampak skeptis mendengar jawaban itu. Namun, tak lama dia pasrah dan menepuk bahuku dua kali. "Baiklah, aku tinggal ya, Bi. Ingat, bawakan dia sekarang. Kamu tahu, kan, bos tidak suka menunggu lama," pesannya.     Melihatku mengangguk, dia melambaikan tangannya lalu berbalik pergi.     Tiba-tiba aku tersadar kalau belum tahu siapa 'bos besar' yang dimaksud orang bernama Mellisa ini. "Mbak, tunggu!" seruku sebelum dia sempat memencet tombol lift.     Mellisa menoleh dengan horor. "Mbaaaaakkkk? Seriously, 'Mbak'?"     Aku melongo. Sepertinya aku salah bicara. Wajahnya menampakkan ketidaksukaan yang kentara. Dia bersedekap. "Sejak kapan kamu panggil saya 'Mbak'? Di sini, kita sudah sepakat untuk memanggil nama, apa pun jabatannya."      "Mellisa?" Aku memanggil ragu, tapi dia malah mendengkus.     "Lucu kamu!" sergahnya. "Mell! Aku di sini dipanggil Mell, Bi! Sama kayak kamu dipanggil 'Bi' dan bukan 'Bianca'!"     "Ah, iya, maaf, Mell." Aku mengelus tengkuk serba salah. Mana kutahu nama panggilannya itu. Kami saja baru pertama kali bertemu hari ini.     "Jadi kenapa kamu manggil? Buruan, saya nanti telat, nih!" Mellisa mengetuk-ngetukkan kakinya dengan tidak sabar.     "Eh, itu, Mell ..." Jeda sesaat untukku menelan ludah. Sepertinya pertanyaanku ini akan kena damprat lagi. "Kasihnya ke bos besar siapa ya?"     Mellisa memelotot. "Bos besar Pak CEO, duh!" Dia menelengkan kepala, menatapku dari bawah sampai atas. "Kamu aneh, Bi."     Tepat saat itu, denting lift mengalihkan perhatiannya. Pintu lift terbuka dan dia melepaskan lipatannya tangannya. Sambil berjalan memasuki lift, dia menuding ke arahku. "Pergi ke lantai lima belas dan berikan laporannya ke bos. Setelah itu kamu pergi makan." Dia sudah masuk ke dalam lift, tapi masih saja mengajakku bicara. "Kamu sepertinya kekurangan gula, Bi. Hipoglikemi!"     Pintu lift akhirnya menutup rapat. Mellisa telah meluncur ke lantai bawah dengan kotak besar itu.     Helaan napas panjang sontak melesat dari bibirku. Bukannya mendapatkan jawaban mengenai eksistensiku di sini, aku malah mendapat tugas. Sial betul.     Namun, meski mendumel dalam hati, aku tetap berusaha mengerjakan suruhan Mellisa. Kali saja di atas, jawaban bisa kudapatkan. Semoga aku bisa mendapatkan orang yang sabar dan tidak semenakutkan Mellisa. Aku butuh penjelasan, bukannya ocehan panjang atau pun tatapan mengintimidasi.     Langkahku terhenti di samping kubikel dengan papan yang bertuliskan nama Mellisa. Di mejanya ada satu map hitam teronggok. Pasti ini laporan yang dimaksud Mellisa. Tanpa pikir panjang, aku mengambilnya.     Di dalam lift, aku menekan tombol lima belas, lantai teratas gedung ini.                                                                                                                                                                 x-x-x
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN